Jingga seringkali mengalami patah hati. Kesakitan-kesakitan yang dialaminya mengajarkan untuk tak lagi gampang membuka hati bagi lelaki. Ia lebih memilih untuk hidup sendiri meski dengan konsekwensi harus menahan perih setiap kali orang-orang mempertanyakan perihal kapan menikah.
Ketika sosok Angkasa yang juga memiliki luka masa lalu yang sama hadir dalam kehidupannya, Jingga menjadi dilema. Haruskah ia tetap mempertahankan prinsipnya untuk sendiri, atau mencoba memberi kesempatan bagi mereka berdua untuk saling sembuhkan luka dan ciptakan satu rasa bersebut cinta?
Sebuah kisah tentang self healing seorang wanita yang berjuang mengatasi trauma masa lalunya dan akhirnya dipertemukan dengan pasangan sejati lewat cara yang luar biasa.
Ketika kita mengalami trauma yang sangat terpenting adalah menyendiri untuk memberikan waktu dan mengendalikan diri, juga ketenangan dan kepercayaan dalam dirinya untuk bangkit.
04/02/2022
11
SonjayaTrisna
bagus
26/11
0
argamoch
efesdd
25/11
0
DesaiNoni
menarik
24/11
0
EmMah Salmh Emah
mantap seru ceritanta
23/11
0
JayaMikho
sangat bagus
23/11
0
BaruCakuduk
bagus
23/11
0
GhazaliImam
Mantap
23/11
0
Anan Nnn
lovee😻
20/11
0
SyafirullohDwi
mantab
15/07
0
Total: 85
Bab 1 From The Bottom of Her Broken Heart
"Cukup!" Satu tangannya terangkat sebagai tanda ia tak ingin lagi mendengar alasan apapun. Diambilnya
Bab 2 Elegi Cinta Jingga
Tampak olehnya sang ibu berjalan ke arah pintu tepat di mana ia tengah ditahan oleh Nila. "Udah pula
Bab 3 Jingga dan Nila
Jingga Kartika Putri, begitu ayahnya memberi nama anak sulung yang lahir di tanggal 11 bulan Juli 19
Bab 4 Workaholic
"Jingga, bisa tolong ikut ke ruangan saya sebentar?" Bu Tutik, sang Kepala Bagian menghampiri meja k
Bab 5 Campur Tangan Imel
"Udah sampai mana, Ndy?" Jingga mengawasi sebentar pekerjaan Nindy di meja cek bahan di mana biasany
Bab 6 Tak Cukup Kata Maaf
Rentetan notifikasi pesan dan daftar missed call segera saja memenuhi layar bagian atas HP Jingga se
Bab 7 Luka Tak Berdarah
"Nak," Jingga berjengit terkejut mendengar suara lembut ibunya yang entah sejak kapan berada di situ
Bab 8 Perseteruan di Tempat Kerja
Bu Setyowati yang duduk di sebelah Jingga segera menuangkan air putih dari teko ke dalam gelas dan m
Bab 9 Masa Lalu Kelabu
Hari-hari kemudian dilalui Jingga hanya fokus kepada pekerjaan. Beberapa pandangan mencibir dan mere
Bab 10 Mencoba Bersahabat
Nila kesal sekali pada dirinya sendiri. Ia tadi sampai kelepasan bicara kalimat yang mungkin akan sa
Bab 11 Bersahabat dengan Nindy
Tanpa merasa bersalah, Nindy berjalan terus ke belakang. Tak memedulikan temannya yang mengaduh-aduh
Bab 12 Pacar Nila Datang
Saat akhirnya Jingga pulang dari rumah Nindy, ia benar-benar mampir ke minimarket untuk membeli minu
Bab 13 Intrik Dalam Tim Kerja
Malam itu Jingga tak dapat tidur dengan nyenyak. Beberapa kali ia bermimpi buruk dan menangis tersed
Bab 14 Rencana Perjodohan
"Jam 5 Bu, lembur dua jam. Ada apa memangnya?" Jingga bertanya heran saat Bu Setyowati tak biasanya
Bab 15 Perkenalan
"Nah, ini putri sulung kami, yang kuceritakan biasanya, Hilman," ucap Pak Suhariadi memperkenalkan J
Bab 16 Gunjingan Tetangga
Saat akhirnya Ibaz sekeluarga pamit pulang, Jingga yang merasa harus segera menyampaikan pembicaraan
Bab 17 Nyablak vs Baper
"Alhamdulillaaah ...," Jingga, Nindy dan juga Via berseru histeris bersamaan. "Ya Allah, lega banget
Bab 18 Sosok Asing
Di sisi lain di kota Batu, Malang. "Jadi gitu? Hmm ..., oke, aku nurut apa kata kamu. Beneran bantuin
Bab 19 Terjadi Sesuatu
Tanpa sadar, Jingga memandangi pria di hadapannya dengan intens. Netranya memperhatikan dengan seksa
Bab 20 Cinta Buta
Nila memandangi perubahan air muka kakaknya. Ia sudah paham kini bahwa Jingga selalu baper setiap ka
Bab 21 Bakso Hitz
"Hahaha, jadi gandrung ama tu bakso beneran, kan?" Nindy terbahak senang mendengar penuturan Jingga
Bab 22 Pria Misterius
Jingga sekeluarga terus mengobrol seru sembari menunggu pesanan mereka datang ketika sebuah suara as
Bab 23 Kartu Ucapan Kedua
"Iya, Ndy. Aneh nggak sih, menurut kamu?" "Ciyyeeee yang barusan dapet kembang, aiiiihh ...." Nindy
Bab 24 Kemunculan Angkasa
~ Terima kasih untuk kesan yang kau tinggalkan. Semenjak melihatmu, hariku yang biasanya kelabu menj
Bab 25 Terungkap
"Jadi bener dugaan awalku kalau ini semua rekayasa Nindy?" Angkasa tampak tersentak, "Bukan rekayasa,
Bab 26 Jinak-Jinak Merpati
"Maaf, ya, Ngga. Jangan diem gitu, dong. Kan aku jadi nggak enak, nih." Nindy mati-matian membujuk J
Bab 27 Rasa yang Tak Biasa
Desiran dalam hati Jingga tak terkatakan, menderas bak air bah yang terjun dari ketinggian. Ia memba
Bab 28 Jodoh Pasti Bersatu
"Iya, yuk, ah, Mbak." Nila sedikit menggeret kakaknya untuk segera masuk sambil bolak-balik cemas me
Bab 29 PDKT
Siang itu berlalu dengan penuh kebahagiaan. Nila dan Nindy yang asyik makan bakso sambip tak lupa te
Bab 30 Kunjungan ke Rumah
"Haah? Jadi cuma gara-gara dengerin becandaan kami?" Jingga terperangah. Angkasa mengangguk pasti di
Bab 31 Bertemu Calon Mertua
Angkasa memarkirkan mobilnya di luar pagar rumah Jingga. Setelah mobil itu terparkir rapi, laki-laki
Bab 32 Kencan
Makanan telah siap. Ibu Jingga memberikan isyarat pada anak gadisnya untuk memanggil Angkasa dan aya
Bab 33 Cemburu Buta
Seorang wanita bertubuh sintal dan berambut pendek datang menghampiri Angkasa dan Jingga ketika sepa
Bab 34 Perjalanan ke Malang
Pagi hari setelah pertengkaran semalam, Jingga bangun dengan mata sembab. Dia menangis karena merasa
Bab 35 Mama Papa Angkasa
Hari sudah siang. Perut Jingga mulai lapar. Akan tetapi, dia masih merasa takut berbicara dengan Ang
Bab 36 Back to Work
Waktu baru menunjukkan pukul 05.00 ketika Jingga bersiap untuk pulang ke Jombang. Dia sudah berdanda
Bab 37 Taktik Ulfa
"Sialan si Jingga! Makin songong aja dia. Seenaknya ambil cuti sementara yang lain kelabakan." Berka
Bab 38 Terfitnah
"Loh? Kok ini pada banyak bahan rusak yang masuk ke Line, sih?" Seseorang di Line yang sedang menjah
Bab 39 Taktik Baru
Ulfa akhirnya dapat masalah besar atas perbuatannya. Ia mencoba menyabitase bahan dengan menyayatnya
Bab 40 Miko feat Ulfa
Malam itu—untuk kedua kalinya—kencan Angkasa dan Jingga tidak berjalan lancar. Angkasa masih sangat
Bab 41 Lagi-Lagi Bertengkar
Jingga duduk termenung di kasur. Tidak biasanya Angkasa tak mengirim pesan seperti pagi itu. Hanya u
Bab 42 Terbentang Jarak
Sejak kedatangan Miko ke rumah Jingga, semuanya berubah. Jingga dan angkasa memang masih saling berh
Bab 43 Melia Sang Mantan
Angkasa berdiri. Dia dan wanita yang tadi menyapanya kini saling berhadapan. Angkasa sempat kagum de
Bab 44 Distorsi Rasa
Jingga sudah sampai di Terminal Arjosari. Dia segera menepi dan mengambil ponselnya untuk memanggil
Bab 45 Bimbang
Jingga terpaksa menuruti keinginan ibu Angkasa untuk menginap. Kebetulan, dia memang sangat lelah. J
Bab 46 Putus
Waktu menunjukkan pukul 03.00 ketika Jingga terbangun dari tidurnya. Dia tiba-tiba teringat tentang
Bab 47 Lagi-lagi Miko
Sebuah pesan masuk di ponsel Jingga. Gadis itu membuka pesan dengan malas ketika tahu bahwa si pengi
Bab 48 Aksi Nila
Malam sudah makin larut. Semua karyawan sift sore sudah keluar dari ruang produksi. Beberapa di anta
Bab 49 Nindy Turun Tangan
Angkasa menyeruput es tehnya sedikit demi sedikit. Jantungnya berdetak lebih kencang, tetapi dia mas
Bab 50 Tingkah Ulfa
"Baiklah. Kali ini, lakukanlah apa yang kamu pandang baik, Jingga. Aku akan menunggu." . "Terima kasih
Bab 51 Menghasut Nindy
Semenjak kejadian penolakan Angkasa di kafe tersebut, Ulfa semakin membenci Jingga. Dia memikirkan s
Bab 52 Konfrontasi
"Dia benar-benar sedang mencari muka kepada pengawas. Lihat itu, hampir semua kerjaan teman yang lai
Bab 53 PDKT via Nindy
Setelah kejadian pelabrakan oleh Nindy tersebut, Jingga menjadi seorang yang lebih pendiam. Dia tak
Bab 54 Curhat ke Nila
"Kenapa mukanya ditekuk gitu, Mbak?" tanya Nila sambil duduk di samping Jingga.
"Bete banget. Ternya
Bab 55 Ambil Cuti
Jingga yang merasa kesepian akhirnya memutuskan untuk mengambil cuti dan pergi ke rumah sang Nenek.
Bab 56 Disusul Nila
Ketika Jingga hendak memasukkan pisang goreng yang ketiga dalam mulutnya. Terdengar suara seseorang
Bab 57 Hadirnya Angkasa
"Ngapain berdiri di situ? Sana ikut ngobrol," ucap sang Nenek mengangetkan Jingga. "Nggak! Aku cuma h
Bab 58 Ungkapan Angkasa
Nila kemudian mendorong Angkasa sambil berbisik, "Buruan Mas, mumpung dia di sini, cepat ajak ngobro
Bab 59 Kembali Pulang
Selama berlibur di rumah sang Nenek, Jingga bukannya merasa nyaman dan tenang, tetapi dia mendapatka
Bab 60 Usaha Nila
Nila dengan semangat mulai menyelidiki foto-foto yang ada di galeri ponselnya tersebut. Selain mempe
Bab 61 Ide Gila Nila
Nila sebenarnya tak begitu punya tujuan, dia hanya ingin merefresh pikirannya dengan berjalan-jalan
Bab 62 Rencana Nila
"Kenapa Mbak harus ikut campur dengan rencanamu, sih?" tanya Jingga kesal setelah Nila menceritakan
Bab 63 Pernikahan
Suasana meriah tampak terlihat di rumah Jingga, hiasan berwarna gold berpadu padan dengan wana putih
Bab 64 Paska Menikah
Setelah selesai akad nikah, seperti pasangan pengantin pada umumnya, Jingga dan Angkasa kemudian men
Bab 65 Honeymoon
"Semuanya sudah siap, Sayang?" tanya Angkasa kepada Jingga.
"Sudah."
"Nggak ada yang tertinggal, kan
Bab 66 Hunting Rumah
"Jadi, Sayang, setelah sekian banyak rumah yang kita lihat, apakah ada yang kamu sukai?" tanya Angka
Bab 67 Life After Marriage
Jingga, Angkasa, dan Nila telah sampai di sebuah tempat yang rencananya akan dibangun perumahan. Di
Bab 68 Miko Kembali Berulah
Jingga mematut dirinya di cermin. Seperti biasa, dia memilih sebuah kaus kasual dengan celana pendek
Bab 69 Sang Suami
Senyum licik mengembang di bibir pria itu. Ada kepuasan tersendiri ketika ia telah membagikan sebuah
Bab 70 Jingga Hamil
Pucat pasi menghiasi wajah ayu Jingga. Sejak pagi tadi, badannya memang terasa aneh. Dia ingin tidak
Bab 71 Hamil Muda
Jingga berbaring di kasur yang sedikit keras dan berwarna putih itu. Di depannya terdapat sebuah lay
Bab 72 Wisuda Nila
Sebuah benda kotak dengan layar monitor yang bergerak-gerak menerbitkan senyum di wajah sepasang sua
Bab 73 Dilamar
Kedua pasang mata itu saling berhadapan dan memancarkan sesuatu yang begitu intim serta bahagia. Ada
Bab 74 Sosok Bima
Siang itu terasa begitu terik. Truk-truk pengangkut barang, serta kendaraan-kendaraan besar lainnya
Bab 75 Love at the First Sight
Dua orang itu saling memandang. Mata mereka saling beradu. Wajah mereka menampakkan sebuah kekaguman
Bab 76 Keseriusan Bima
Hari telah menjelang sore, tetapi hujan yang turun sejak pagi belum juga reda. Sementara dua orang l
Bab 77 Bed Rest
"Kita pulang sekarang, ya, Sayang," bujuk Angkasa ketika melihat Jingga yang kelelahan. Wajah Jingga
Bab 78 Ngidam Ajaib
Setelah sampai di rumah, Jingga langsung disuruh beristirahat oleh suaminya. Jingga tentu saja tidak
Bab 79 Keinginan Bumil
Hanya setetes air mata yang terjatuh dari sudut mata Jingga, tetapi dapat meluluh lantakkan semua pe
Bab 80 Bumil Memburuk
Beberapa hari ini Angkasa terlihat sangat lelah. Dia memang menggantikan sang istri untuk mondar man
Bab 81 Menjelang Persalinan
Menatap Jingga yang sedang tertidur dengan pulasnya, membuat hati Angkasa terenyuh. Bagaimana tidak?
Bab 82 Opsi Kelahiran
Akhirnya setelah melalui beberapa kali diskusi, bukan hanya antara Jingga dan juga Angkasa. Sepasang
Bab 83 Senja Nurinda
Angkasa menggendong dan menciumi bayi perempuan yang cantik serta lucu itu. Setelah mengazaninya, di
Bab 84 Kunjungan Nindy
Jingga mulai merasa bosan hanya berdiam diri di rumah saja. Semua karena dia sedang berada dalam mas
Bab 85 Happy Family
"Jangan lari-larian, Sayang. Nanti jatuh." Jingga berusaha mengejar Senja yang asyik berlarian di ten
Ketika kita mengalami trauma yang sangat terpenting adalah menyendiri untuk memberikan waktu dan mengendalikan diri, juga ketenangan dan kepercayaan dalam dirinya untuk bangkit.
04/02/2022
11bagus
26/11
0efesdd
25/11
0menarik
24/11
0mantap seru ceritanta
23/11
0sangat bagus
23/11
0bagus
23/11
0Mantap
23/11
0lovee😻
20/11
0mantab
15/07
0