Total : 73Bab 1 Keputusan Ayah
Kepala seorang Ayra Shirly Alnaira menunduk dalam. Ia yang biasanya berwajah ceria, senyum lebar men
readmore Bab 2 Hari Terakhir
Hari ini, tepat pukul sebelas siang, Ayra sudah berdiri mematung di depan gerai Starbucks. Kepalanya
readmore Bab 3 Lingkungan Baru
Berjam-jam sudah Ayra habiskan dengan duduk di mobil dan menatap layar ponsel dengan cemas. Berharap
readmore Bab 4 Pertemuan
Ajeng menghela napas berat setelah berulang kali mengguncangkan tubuh Ayra agar bangun, tapi hasilny
readmore Bab 5 A New World
Hampir satu jam Ayra terduduk di kelas bersama yang lain sembari menahan kantuk. Sesekali ia menguap
readmore Bab 6 Pasangan
“Ayra!” teriak Mbak Nana dari luar. Ayra yang tengah tertidur di balik selimut warna biru itu pun han
readmore Bab 7 Takziran
Di tengah teriknya matahari, Ayra harus berjalan dari kelas melewati aula, koperasi lalu asrama satu
readmore Bab 8 Eh, kok Nyebelin?
Baru saja mushaf bersampul hijau tua tersimpan rapi di rak, tubuh Ayra limbung hampir jatuh kalau ti
readmore Bab 9 Rodi Ala Santri
Suara tawa Ajeng menggema di penjuru kamar. Ia sampai terpingkal-pingkal setelah mendengar cerita Ay
readmore Bab 10 Pengakuan Hasan
Dengan handuk yang menutupi kepala, wajah Ayra tertekuk sejak keluar kamar mandi sampai kamar. Ia ta
readmore Bab 11 Izin Pulang
“Han, kamu mau ikut Mbak, nggak?” tanya Ajeng, membuat Hana yang tengah tiduran di ranjang, langsung
readmore Bab 12 Bodyguard Dadakan
Sekitar pukul lima sore, mereka semua sudah duduk di kursi kereta kelas ekonomi. Hanya tinggal menun
readmore Bab 13 Hana's House
“Kalian beneran nggak akan ikut, kan?” tanya Bila kesekian kalinya untuk memastikan kalau Arfan dan
readmore Bab 14 Rencana Gagal
Pada akhirnya, mereka tidak pergi ke mana-mana. Diam di rumah sambil menonton TV. Sempat pula mengac
readmore Bab 15 Tentang Ajeng
Selepas salat isya, Umi Diah mengajak Bila dan Ayra ke dapur untuk membuat bolu. Besok ada acara san
readmore Bab 16 Santunan Anak Yatim
Tepat pukul delapan pagi, Ayra, Ajeng, Hana dan Bila sudah berada di sekitar pesantren depan rumah,
readmore Bab 17 Halo, Semarang
Bila rasanya lega saat keluar dari gerbang pesantren milik Hasan itu. Dia menyeberang lebih dulu saa
readmore Bab 18 Dalam Satu Bingkai
“Mas, Sini!” teriak Bila pada kedua lelaki yang duduk berdampingan di bawah payung. “Sini, ih!” Bila
readmore Bab 19 Kisah yang Sama
“Loh, Ning. Matanya bengkak? Habis nangis?” tanya Ajeng, orang yang pertama kali menyadari mata semb
readmore Bab 20 Puzzle Peaces
“Seindah apa pun huruf terakhir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti ji
readmore Bab 21 Gagal (Lagi)
“Tak selamanya rencana berjalan dengan mudah. Tak selamanya yang tak selaras dengan keingan adalah h
readmore Bab 22 Kembali
Beruntungnya demam Ayra tidak naik lagi. Sehingga, mereka memutuskan untuk pulang ke Kediri tepat pu
readmore Bab 23 Ulang Tahun Ayra
“Kedewasaan seseorang tidak hanya diukur dari usia, akan tetapi juga dari bagaimana ia menyikapi seg
readmore Bab 24 Alergi Ayra
“Ketika seorang lelaki telah memelihmu, artinya dia bertaruh dengan semua hidupnya untuk menjagamu.
readmore Bab 25 Gus Suka Sama Saya?
Gus, Suka Sama Saya? “Cinta itu seperti angin. Kau tak bisa melihatnya, tetapi bisa merasakannya.” (N
readmore Bab 26 Harapan
“Salah jika kita berharap pada manusia, karena selalu berbuah kosong. Tetapi pada Allah, Dia tidak p
readmore Bab 27 The Truth
“Berani jatuh cinta, harus berani sakit hati. Semua pasti ada konsekuensinya, entah pahit atau manis
readmore Bab 28 Aku ... Pamit
“Orang yang merasa paling benar, justru dialah yang melakukan salah kepada orang lain.” (Anonim) ... L
readmore Bab 29 Kisah Sebelum Akad
“Jangan dulu berharap sebelum akad dan jangan pernah mencintai orang lain sebelum kamu mencintai dir
readmore Bab 30 Sisa Rasa
Tersisa Hana dan Hasan di koperasi sepeninggalnya Ayra dan Ajeng. Keduanya duduk agak berjauhan, mas
readmore Bab 31 Keegoisan Abi
"Saya setuju dengan ucapan Mbak Ayra," cetus Arfan tiba-tiba memecah keheningan beberapa saat. Ayra t
readmore Bab 32 London
“Tetapi maaf, orang yang baru kamu sadari kehadirannya penting itu sudah pergi jauh, mendapatkan tem
readmore Bab 33 Pohon Mangga
“Jangan buang-buang waktu untuk orang yang salah apalagi jagain jodoh orang. Dan satu hal lagi, bene
readmore Bab 34 The Choice
“Hidup adalah pilihan, tetapi semua harus dipirkan matang-matang mana yang lebih sedikit risikonya.”
readmore Bab 35 Jawaban
“Niat menikah itu ibadah, bukan? Urusan ibadah memang tidak boleh ditunda, tetapi terburu-buru juga
readmore Bab 36 Penantian Panjang
Dua tahun berlalu. Tak terasa waktu bergulir begitu cepat. Itu yang dirasakan Ayra. Dia masih tak me
readmore Bab 37 Pelabuhan Terakhir
“Nggak ada istilah jodoh datang terlalu cepat atau telat. Semua sudah diatur sebagaimana mestinya.” .
readmore Bab 38 Rumah yang Sebenarnya
01-Ultimatum Suara bariton terdengar begitu merdu ketika mengalunkan ayat-ayat Al-Quran di ruang tamu
readmore Bab 39 Rumah yang Sebenarnya
02-Perjodohan "Yasna!" Suara cempreng menggelegar di penjuru ruangan. Gadis berjilbab menoleh ke amban
readmore Bab 40 Rumah yang Sebenarnya
03-Lamaran Yasna terduduk menghadap cermin sembari menatap pantulan wajahnya yang masih polos tanpa s
readmore Bab 41 Rumah yang Sebenarnya
04-Titip Baik-baik Malam telah berganti pagi, rembulan sudah bersembunyi, mentari perlahan muncul ke
readmore Bab 42 Rumah yang Sebenarnya
05-LDR Seminggu waktu yang cukup untuk Yasna berdiam diri di rumah, melepas rindu setelah enam bulan
readmore Bab 43 Rumah yang Sebenarnya
06-Without You Aroma tanah yang basah terkena guyuran hujan berkali-kali Yasna hirup. Ia suka, apalag
readmore Bab 44 Rumah yang Sebenarnya
07-Kembali? "Siapa dia, Had?" tanya Abi Rasyid. Wajahnya sudah kecut begitu melihat kalau Fahad datan
readmore Bab 45 Rumah yang Sebenarnya
08-Failed Mata Salwa membulat begitu melihat Yasna tengah duduk di pojok kamar dekat tumpukan bantal,
readmore Bab 46 Rumah yang Sebenarnya
09-Janji yang Tertunda Senang rasanya bisa menghabiskan malam kali ini di kosan daripada di rumah sak
readmore Bab 47 Rumah yang Sebenarnya
10-Tentang Merelakan Kenapa saat manusia bahagia, seolah lupa siapa yang memberi kebahagiaan itu? Ket
readmore Bab 48 Rumah yang Sebenarnya
11-Mencoba Tersenyum Seperti mendapat angin segar di tengah gempuran panas matahari. Seperti menemuka
readmore Bab 49 Rumah yang Sebenarnya
12-Tegar Semua tak ada yang berubah, kecuali hati. Bangun pagi, salat tahajud, tadarus Al-Quran semba
readmore Bab 50 Rumah yang Sebenarnya
13-I’m Ok Langit senja dihiasi dengan gumpalan awan-awan kecil, terpatri indah di langit Kudus. Siapa
readmore Bab 51 Rumah yang Sebenarnya
14-Bisakah Aku? "Masak di mana?" Kepala Yasna menoleh dari cermin menatap Salwa. Setengah wajah gadis
readmore Bab 52 Rumah yang Sebenarnya
15-Dukungan Keluarga Terdengar suara deru mesin mobil di garasi samping rumah tepat saat azan isya be
readmore Bab 53 Rumah yang Sebenarnya
16-New Momment? Angin pagi semilir seperti biasanya, hilir mudik santriwati dengan baju panjang, dan
readmore Bab 54 Rumah yang Sebenarnya
17-Dia, Maya Bulan yang bulat sempurna nan cantik menghiasi langit malam. Siapa pun akan takjub, dan
readmore Bab 55 Rumah yang Sebenarnya
18-Kesabaran Usai menunaikan salat asar berjamaah di musala, Yasna buru-buru kembali tanpa ikut berzi
readmore Bab 56 Rumah yang Sebenarnya
19-Keputusan Akhir Pintu kamar rawat inap 501 terbuka lebar. Menampilkan pasangan suami istri yang di
readmore Bab 57 Rumah yang Sebenarnya
20-Perang Dingin Gerimis tiba-tiba turun menghujam bumi Allah yang semula gersang. Langit tak menghit
readmore Bab 58 Rumah yang Sebenarnya
21-Say Good Bye “Assalamua’laikum,” sapa Salwa. Dia langsung mendekati Umi Fara dan mencium tangannya
readmore Bab 59 Rumah yang Sebenarnya
22-Keluarga Sejak kepulangan Yasna dari pesantren, gadis itu sering menghabiskan waktu duduk di ayuna
readmore Bab 60 Rumah yang Sebenarnya
23-Kisah Baru, Tempat Baru "Abi, Umi, Yasna pamit dulu, ya. Kalau nggak lagi sibuk, Yasna pulang ke r
readmore Bab 61 Rumah yang Sebenarnya
24-Berjumpa Kembali Ketika langit berubah warna menjadi jingga, sayup-sayup suara tadarus Al-Qur’an d
readmore Bab 62 Rumah yang Sebenarnya
25-Rahasia Maya (1) “Sejak Mbak Yasna keluar dari pondok, Mas Fahad juga ikut pindah. Aku juga baru t
readmore Bab 63 Rumah yang Sebenarnya
26-Rahasia Maya (2) “Jadi, katakan semuanya. Kenapa kamu bisa ada di sini, May? Kenapa? Kamu sudah ja
readmore Bab 64 Rumah yang Sebenarnya
27-Istri Kedua? Yasna duduk sila di atas tikar sambil bersandar ke dinding. Sesekali kepalanya terkan
readmore Bab 65 Rumah yang Sebenarnya
29-Mencoba untuk Dekat Selepas pulang dari Kudus tempo hari bersama Yasna, Syafiq semakin gencar mend
readmore Bab 66 Rumah yang Sebenarnya
30-Lamaran (lagi) Sebulan berlalu sejak terbongkarnya rahasia Maya, Yasna mengambil jatah libur kulia
readmore Bab 67 Rumah yang Sebenarnya
31-Alumni Kembali ke rutinitas di mana penuh dengan tugas, memang menjemukkan. Berkali-kali mengeluh
readmore Bab 68 Rumah yang Sebenarnya
32-Kisah yang Sama “Salwa,” panggil Yasna dari batas pintu. Begitu Salwa menoleh, tubuh Yasna mendadak
readmore Bab 69 Rumah yang Sebenarnya
33-Ketiga Kalinya Yasna dan Maida masih mematung di luar, menunggu tamu terakhir di ndalem Umi Azri s
readmore Bab 70 Rumah yang Sebenarnya
34-Family Talk Maida menarik napas lega saat dokter menjelaskan kalau kondisi mertuanya tidak terlalu
readmore Bab 71 Rumah yang Sebenarnya
35-Titip Salwa, Kang Zain Rencana awal, Yasna akan datang ke rumah Salwa dua hari sebelum acara perni
readmore Bab 72 Rumah yang Sebenarnya
36-The Wedding Waktu sebulan cukup singkat untuk mempersiapkan acara pernikahan yang dibilang sederha
readmore Bab 73 Rumah yang Sebenarnya
37 After Wedding Begitu masuk kamar sepulang dari masjid berjamaah solat subuh, Syafiq mendapati istr
readmore
bagus ceritanya
26/02
0bAgus dan aku Suak
13/12
0saya suka dengan novelnya
13/12
0ceritanya bagus
25/11
0sangat menghibur dan jga bermanfaat bagi kehidupan
23/11
0sangat bagus dan menarik sekali cerita nya
23/11
0MasyaAllah baguss bgtt novel nya
11/09
0bagus banget 🤩🤩
05/09
0suka dengan ceritanya islami penuh makna
03/09
0bagus
11/06
0