ทั้งหมด : 55Chapter 1
Dara menatap tajam pada sosok pria yang berada tak jauh dari dirinya. Pria yang duduk di sofa yang h
readmore Chapter 2
"Aku nggak akan minta kamu melakukan pekerjaan rumah, karena aku punya asisten rumah tangga yang aku
readmore Chapter 3
Disudut ruangan, Dara tertunduk lesu, selepas menerima panggilan telepon dari keluarganya. Bagaimana
readmore Chapter 4
“Selamat pagi, Papi." “Selamat pagi juga, Princess”. Kucium keningnya, kemudian kutarik kursi yang ber
readmore Chapter 5
"Al, masih pagi Kenapa muka loe sudah lecek gitu sih, gue setrika juga muka lu lama-lama." kata Dion
readmore Chapter 6
Bagaimana acaranya tadi Princess?" Tanyaku kepada gadis kecil yang saat ini duduk di sampingku. "Bagu
readmore Chapter 7
Mata ini masih menatap komputer di depan namun pikiranku berkelana entah ke dunia mana. Sedari tadi
readmore Chapter 8
Pagi ini aku bangun lebih awal, semalam aku mendapat sebuah bisikan aneh agar pagi ini aku saja men
readmore Chapter 9
Suasana di dalam mobil terasa canggung, tak ada yang memulai pembicaraan antara aku dan Dara hanya t
readmore Chapter 10
“Aku mencintaimu.” Dipeluknya tubuhku erat, bahkan kepalanya menempel sempurna di dada bidangku. “Dar
readmore Chapter 11
“Ini gulingnya nggak bisa di singkirkan, Ra?, barangkali kali butuh kehangatan dari tubuhku.” Ucap A
readmore Chapter 12
Waktu jam istirahat sudah terlewat beberapa menit yang lalu, tapi Dara sepertinya masih asyik berkut
readmore Chapter 13
Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti bulan. Seperti itulah sik
readmore Chapter 14
Membuka pintu mobil, aku menatap pemandangan sekeliling. Tak banyak yang berubah rupanya, pohon mang
readmore Chapter 15
Cahaya matahari yang masuk melalui celah- celah tirai jendela kamar tak membuat sepasang manusia yan
readmore Chapter 16
“Aku punya cara lain kalau kamu pengen cepat bangun in aku .” Ucap Alfan yang seketika membuat Dara
readmore Chapter 17
Setengah hari sudah Aku sibuk dengan berbagai kegiatan entah membantu para lelaki memindahkan bebera
readmore Chapter 18
Aku sedang berbaring di atas ranjang seraya memainkan gawai pintarku saat Alfan masuk ke dalam kamar
readmore Chapter 19
Sudah pernah dengar istilah jangan mengusik singa yang sedang tidur sebelumnya?, hal yang bahkan tid
readmore Chapter 20
Perjalanan ke kantor pagi ini di isi dengan keheningan. Tak ada yang mengambil alih suasana di mobil
readmore Chapter 21
“Ka... kamu.... mau apa. Hiks.” Dara menepis kasar tangan Alfan yang ingin meraihnya. Pandangan Dara
readmore Chapter 22
Tuhan apakah aku sudah jatuh cinta kepada Alfan dengan begitu mudahnya. Seseorang yang tak pernah ak
readmore Chapter 23
Pagi telah tiba, cahaya matahari yang masuk melewati celah gorden kamar mengusik tidur Dara. Dara me
readmore Chapter 24
Cuaca pagi hari ini terasa hangat karena matahari telah menyapa bumi dengan sempurna, namun berbandi
readmore Chapter 25
“Di mana sih mereka?” monolog Dara pada dirinya sendiri. Matanya mengedar sekeliling kantin perusaha
readmore Chapter 26
Dara yang sedang duduk di meja rias seketika menoleh ke arah Pintu begitu telinganya mendengar derit
readmore Chapter 27
Harusnya saat ini aku sudah mendapat jawaban tentang sosok Reyhan, namun sepertinya tuhan sedang ing
readmore Chapter 28
Butuh waktu lebih dari empat puluh menit bagi Dara untuk sampai ke tempat tujuan. Hujan yang turun t
readmore Chapter 29
Dara sedang duduk dengan bersandar kepala ranjang. Di tangannya terdapat gawai kesayangan. Gawai den
readmore Chapter 30
“A-aku.....” lidahku kelu, tenggorokan juga terasa serat hanya untuk menelan ludah. Pikiranku buntu
readmore Bab 31
Pagi itu, sinar matahari menerobos lembut melalui tirai kamar, membangunkanku dari tidur. Suara buru
readmore Bab 32
Malam itu menjadi awal dari pergulatan batinku. Setelah percakapan dengan Alfan, pikiranku seolah te
readmore Bab 33
"Kamu yakin itu semua sudah selesai, Fan?” tanyaku, mencoba mencari kepastian. Alfan mendekat, mengge
readmore Bab 34
Saat kami kembali ke rumah malam itu, suasana terasa sangat canggung. Aku belum bisa melupakan perte
readmore Bab 35
Aku duduk berhadapan dengan Sandra, berusaha menahan gemuruh dalam dada. Dari caranya memandangku, a
readmore Bab 36
Alfan menatapku dari seberang meja makan, senyumnya tenang seperti biasanya. Kania sedang sibuk deng
readmore Bab 37
“Alfan… apa kamu merasa ada yang berubah sejak kita menikah?” tanyanya pelan. Alfan menatap Dara seje
readmore Bab 38
Sejak pertemuan di taman kota, bayangan Sekar seakan tak pernah lepas dari kehidupan Dara dan Alfan.
readmore Bab 39
Sejak pertemuan terakhir dengan Sekar, pikiran Dara kacau. Bayangan hidup tenangnya bersama Alfan da
readmore Bab 40
Dara duduk memandang Alfan yang tampak tegang setelah percakapan telepon dengan Sekar berakhir. Mesk
readmore Bab 41
Dara hanya memandangi layar ponsel Alfan yang terus bergetar. Nama Sekar jelas terlihat di sana, mem
readmore Bab 42
Alfan menatap Sekar dengan serius, lalu mempersilakannya masuk. “Masuk dulu, Sekar. Kita bicarakan i
readmore Bab 43
Dara langsung menutup tirai dengan gerakan cepat, lalu berbalik ke arah Sekar yang masih duduk di so
readmore Bab 44
Alfan dan Dara langsung berpandangan, tak ada waktu untuk ragu. Mereka harus menemukan Sekar sebelum
readmore Bab 45
Alfan menarik napas dalam setelah kehilangan jejak Sekar di tikungan. Perasaan cemas bercampur marah
readmore Bab 46
Alfan dan Sekar saling menatap, mendengar kata-kata Dara yang penuh kepanikan. Ancaman ini nyata, da
readmore Bab 47
Ketegangan di dalam ruangan semakin tebal saat Alfan menyadari bahwa pria-pria di luar sana adalah a
readmore Bab 48
Bima, Alfan, Dara, dan Sekar saling berpandangan dengan perasaan was-was. Ancaman yang jelas melalui
readmore Bab 49
Udara malam terasa menyesakkan. Bau bensin dan asap mesiu bercampur di dalam mobil yang melaju kenca
readmore Bab 50
Ledakan pertama mengguncang pondok itu seperti gempa kecil. Kaca jendela bergetar, lampu gantung berg
readmore Bab 51
Jerit kecil Kania memecah pagi yang tenang. Dara langsung terbangun dari tidurnya, menoleh ke sisi ra
readmore Bab 52
“Papi, lihat! Ada kabut lagi!” Suara kecil Kania memecah kesunyian di dalam mobil. Di luar, jalan men
readmore Bab 53
Suara langkah kecil terdengar di tengah pagi yang sunyi. “Kania, jangan keluar sendirian, sayang,” su
readmore Bab 54
Hujan turun deras malam itu. Bulir-bulir air menghantam tanah lembah seperti ribuan jarum kecil, men
readmore Bab 55
Setahun telah berlalu sejak malam hujan itu. Malam ketika Embun mengorbankan dirinya di lembah gelap
readmore
bagus
30/08
0special
01/07
0bagus bangett sumpil
03/06
0suka
30/05
0Muito bom !
01/05/2025
0bagusss beutt
19/04/2025
0nice
22/03/2025
0sangat baik
16/03/2025
0bgs
16/03/2025
0keren
16/03/2025
0