ทั้งหมด : 64Bab 1 | Hujan Februari
Februari, 1997 Sepasang insan berjalan dimalam hujan. Di antara jalanan sepi. Dalam kebisuan kata, ri
readmore Bab 2 | Pertemuan
Juli, 2015. Gadis itu duduk paling depan di kelas yang bising dengan kesibukannya masing-masing. Menc
readmore Bab 3 | Sepulang Sekolah
Kedua kakinya terus melangkah dengan tergesa, wajah datarnya menatap lurus ke arah jalan yang ia tuj
readmore Bab 4 | Lelaki itu
Sorot mata itu tampak tak asing... Terasa familier ... padahal aku yakin ini pertama kali kita bertem
readmore Bab 5 | Siapa Dia?
Mentari pagi yang hangat mengawali hari Zheyya. Gadis itu berjalan cepat, ralat, setengah berlari me
readmore Bab 6 | Ternyata benar dia
'kapan hari baik akan datang?' batin Zheyya sambil menadah tetesan air hujan di telapak tangannya. G
readmore Bab 7 | Sikap yang aneh
Minggu pagi yang sendu, langit tak begitu cerah tapi tidak juga mendung. kemungkinan siang hari akan
readmore Bab 8 | Sudut perpustakaan
Zheyya berjalan dengan penuh semangat. Membayangkan buku-buku yang tertata rapi di lemari dan rak. S
readmore Bab 9 | Bara Cinta
Kanha duduk bertumpang kaki dengan ujung kaki kanannya ia gerak-gerakkan. Memasang ekspresi dingin,
readmore Bab 10 | Plester luka
Motor berputar lalu terguling di seberang Zheyya. Spontan Zheyya melempar payung yang digenggamnya d
readmore Bab 11 | Over Protectif
“Zheyya?” Kanha menatap laki-laki yang baru saja datang dari balik pintu, sedangkan lelaki itu menat
readmore Bab 12 | Mimpi buruk
“I’m home Jack!” ucap Kanha saat menutup pintu. Tanpa membuka sepatu ia langsung masuk ke kamarnya, l
readmore Bab 13 | Drama Percintaan
Jenni berjalan di antara lorong kelas dengan lesu. Menuruni anak tangga sambil menyender di pegangan
readmore Bab 14 | Playing Victim
Melihat dua botol minuman dingin di atas meja Zheyya, Lisda mendekat lalu mengambilnya. “Biasanya Ka
readmore Bab 15 | Manipulatif Boy
Perempuan itu menyeret tubuhnya yang tadi menindih Kanha. Beringsut, sambil meringis menahan sakit d
readmore Bab 16 | Pelakor
Maurin meremas rambut Hendi, saat tangan pria beristri itu menyelusup ke dalam pakaiannya. Entah mun
readmore Bab 17 | Lost memori
Di dalam kelas Zheyya terduduk sendirian, menghela nafas berkali-kali, ia berpikir sangat keras meng
readmore Bab 18 | Karena itu aku mencintaimu
Jenni mengajukan diri untuk pergi ke UKS saat ia mendengar bahwa Kanha membawa Zheyya ke sana. “Mau
readmore Bab 19 | Gua hamil!
“Temen?” tanya Galuh sambil mengenakan helm. Ratih melirik Zheyya lalu mengangguk cepat sambil menge
readmore Bab 20 | Gadis malang
Susi berjalan mendekat ke arah Hendi, dengan wajah merah padam ia bertanya, “ada apa ini?” Hendi meng
readmore Bab 21 | Bolehkah seperti ini
Zheyya terbangun tepat setelah azan subuh berkumandang, sudah menjadi kesehariannya bangun awal mesk
readmore Bab 22 | Rumor has it
“Cit, lo kemaren piket juga kan?” tanya seorang siswi pada Citra, gadis itu mengangguk sambil mengan
readmore Bab 23 | Khawatir
Waktu pun terus berjalan, tanpa terasa jam pelajaran terakhir sudah selesai. “Karena waktunya mepet,
readmore Bab 24 | Hati yang rapuh
Dalam diam, Jenni merasakan hangatnya tubuh Kanha, detak jantungnya yang teratur, berirama. Dan arom
readmore Bab 25 | Istri baru papa
“Tante ....” gumam Zheyya ia mengenali wanita itu. “Eh?” Wanita itu tersentak kaget melihat Zheyya. T
readmore Bab 26 | Seseorang yang peduli
Kanha terdiam, lalu tiba-tiba sudut bibirnya sedikit terangkat. Sebuah lampu bohlam menyala, seolah
readmore Bab 27 | Insting lelaki
Setelah melewati hari panjang yang menyesakkan, Zheyya merebahkan tubuhnya perlahan di sofa ruang ta
readmore Bab 28 | Tragedi hasrat
Cairan merah merembes dari bawah tubuh Gala. Darah segar mengalir kontras di atas seprei putih cerah
readmore Bab 29 | Cinta terlarang
Setelah beberapa kali interogasi yang pelik, Anhar ditahan sementara atas tuduhan pembunuhan. “Tolong
readmore Bab 30 | Trauma Zheyya
Zheyya mengabaikan botol minum dingin itu meski kerongkongannya terasa sangat kering. Zheyya pun mel
readmore Bab 31 | Gadis murahan
Seminggu berlalu setelah Zheyya masuk sekolah. Beberapa hari yang lalu suasana sudah mulai aman. Tak
readmore Bab 32 | Berapa hargamu?
“Kanha, kita jadi kan maen pulang sekolah nanti?” Jenni memiringkan wajahnya untuk melihat Kanha. “Hm
readmore Bab 33 | Bumerang sendiri
Tiba di rumah, Citra langsung menuju kamar lalu membanting pintu itu dengan kasar. Mamanya yang seda
readmore Bab 34 | Semuanya sama saja!
Kanha melajukan motornya dengan sebuah tujuan pasti di hatinya. Dengan ekspresi datar akhirnya ia me
readmore Bab 35 | Konspirasi Takdir
Jam menunjukkan pukul 8:40. Zheyya sudah terlihat rapi dengan mengenakan setelan kemeja putih, dan c
readmore Bab 36 | Teman palsu
Jenni duduk di pojok kelas, termenung menatap keluar jendela. Lalu Lisda dengan dua siswi lain datan
readmore Bab 37 | Menampik perasaan
Kanha mencekal lengan Zheyya lalu menyodorkan bando hitam padanya. Bukannya meraih bando itu, Zheyya
readmore Bab 38 | Rasa peduli
Kanha menepikan motor di tempat yang sedikit sepi. “Lu gapapa?” tanyanya lembut pada Zheyya. Khawatir
readmore Bab 39 | Memastikan perasaan
Hannah menatap intens gurat ekspresi di wajah Kanha. Mengartikannya dengan pengetahuan psikologis ya
readmore Bab 40 | Seseorang yang penting
Sementara Zheyya merasa bahwa waktu terasa cepat lantaran kini ia menjalani hari-harinya dengan rasa
readmore Bab 41 | Kenyataan yang pahit
“Siapa?” tanya Zheyya. “Kanha! Mama perlu bicara sama kamu. Tolong jangan menghindar lagi, ini pentin
readmore Bab 42 | Penyekapan Zheyya
Kanha menatap tajam Lara dari kaca spion, “jangan. Buat lelucon dengan menggunakan namanya. Tolong,”
readmore Bab 43 | Hujan Desember
Desember, 2015. Sepasang insan menempel tanpa jarak, di antara hiruk pikuk jalanan kota. Di atas kuda
readmore Bab 44 | Tidur berdua
Masih dengan jarinya yang mengelus-elus bekas luka di punggung Kanha, Zheyya juga menanyakan lagi lu
readmore Bab 45 | Happy Ending
“Jadi ... Udah berapa lama kalian pacaran? Bulanan? Mingguan? Atau ... Baru jadian?” tanya Hannah di
readmore Bab 46 | Diriku yang lainnya
Maurin mengusap memar keunguan di bahu Kanha, lalu menyentuh pelipisnya juga. “Pasti sakit banget ya,
readmore Bab 47 | Tak pantas untukmu
Setelah sehari semalam penuh Anis bergumul dengan batinnya sendiri, mengunci diri di kamarnya, ia pu
readmore Bab 48 | Pertemuan Pertama
[Kanha ...? Kamu Kanha?] lirih seorang pria dari balik ponsel. Membuat Kanha menautkan alis tak meng
readmore Bab 49 | Di depan mata
“Sebagai pelanggan saya boleh duduk santai kan?” tanya Kanha sambil menarik tali celemek yang meling
readmore Bab 50 | Putra sangat maestro musik
Zheyya membantu Kanha mengangkat gelas dan meneguk air di dalamnya hingga habis. “Maaf, ini pasti men
readmore Bab 51 | Melamar Zheyya
“Dih katanya masih bocah? Jangan dulu mikirin nikah? Malah mau langsung lamar aja? Papah aneh banget
readmore Bab 52 | Friendzone
“Kenapa Zhey?” tanya Kanha lembut. Zheyya memutar membelakangi Kanha yang tengah duduk berlutut di ba
readmore Bab 53 | Petaka bunuh diri
Tanpa bantahan, Kanha langsung membuka laci sesuai perintah Anis. Melihat benda yang berada di dalam
readmore Bab 54 | Kematian yang sia-sia
“Pah, ayo,” ajak Kanha sambil menarik bahu Anis yang terduduk lunglai tanpa daya. “Kita lapor polisi
readmore Bab 55 | Keyakinan yang lemah
"Pegangan Zhey, motornya butut soalnya," ucap Juna seadanya, tanpa sedikit pun ia berpikiran lain. "I
readmore Bab 56 | Panti asuhan
Ketakutan, dan gelisah, saat Nana menyadari bahwa wanita yang ada di dekatnya bukanlah menantunya. B
readmore Bab 57 | Pemuda yang aneh
Dengan tiba-tiba segerombolan anak kecil usia 5 sampai 10 tahun datang mengerumuni Zheyya dan juna.
readmore Bab 58 | Misi tersendiri
Sampai di depan gerbang panti asuhan, ia melihat-lihat sekitar. Lalu setelah memastikan keadaan aman
readmore Bab 59 | Kapal Pesiar
Dua tahun kemudian. Di sudut Indonesia lainnya. Di sebuah kota terbesar kepulauan Riau. Ferry Batam
readmore Bab 60 | Sudut Zheyya 1
Aku terpojok di relung asa. Tidak, bahkan asaku sudah pupus, entah dimana kini hasratku berada. Jela
readmore Bab 61 | Sudut Zheyya 2
Hari keberangkatanku tiba. Singapura, tempat kakiku akan melangkah selanjutnya. Semoga di sana kutem
readmore Bab 63 | Sudut Kanha 2
Zheyya berdiri tepat di belakangku. Saat aku hendak berlalu menjauh darinya dengan posisi membelakan
readmore Bab 62 | Sudut Kanha 1
Mentari lenyap ditelan lautan di ujung sana. Gelap. Tuntas lautan gulita, padam tanpa cahaya. Kuresa
readmore Bab 64 | The Ending
Berawal dari paras cantik nan rupawan seorang gadis, berujung dendam berkepanjangan. Pada dasarnya,
readmore
bagus
24/01
1lumayan
28/06
0novelnya asik bangett aku sukaa
27/04/2025
0baguss
02/04/2025
0baguss banget kak
20/03/2025
0top
24/01/2025
0bagus untuk di baca di waktu luang
15/01/2025
0sangat bagus dan menarik untuk di baca
24/12/2024
0saya sangat senang membaca ini dan seneng sekali
24/12/2024
0wooo
10/12/2024
0