Total : 801
Abian Bimantara. Anak kamu, Adrian Bimantara. Oke. Ini mengejutkan. “Hah?!” Seluruh anggota keluarga B
readmore 2
“Ini, gendong Bian. Mama mau pergi. Duh, udah telat.” Nyonya Bimantara–Rosa menyerahkan begitu saja
readmore 3
Suara bel yang kencang terdengar di seluruh penjuru rumah. Tak memakan waktu lama pintu utama segera
readmore 4
“Ini kamar kamu,” ujar putra sulung Bimantara seraya membuka sebuah pintu yang di baliknya terdapat
readmore 5
Tangis bayi Bian tiba-tiba mereda–meski tidak berhenti menangis, tapi tangisnya yang kencang dan cuk
readmore 6
Sri yang sudah seperti kepala pelayan–karena tetap bersikap sopan terhadap Bia meski sesama pekerja
readmore 7
Seperti yang dikatakan oleh sang Ibu majikan, selagi bayi Bian tidur, Bia dipersilahkan membantu pek
readmore 8
Suara tangis bayi terdengar di penjuru rumah. Membuat para Bimantara yang sedang bersantai di ruang
readmore 9
Tak ada pembicaraan di dalam mobil. Adrian fokus menyetir, sedang si gadis biasa duduk di sebelah ku
readmore 10
Iris coklat bening milik seorang bayi bertubuh gembul sudah ditutup kelopak; matanya terpejam walau
readmore 11
Ada rasa syukur di hati sang Nyonya. Karena kehadiran Bian, Adrian sedikitnya berubah. Meski baru aw
readmore 12
“Rabia.” Si gadis biasa yang sedang berjalan menuju dapur sambil membawa pakaian kotor milik si gembu
readmore 13
“Bian~” melihat respon si bayi yang tertawa, Sarah makin gemas, “Boleh aku yang gendong? Please, Adr
readmore 14
Dikarenakan hari minggu; keluarga Bimantara tidak ada yang pergi bekerja. Semuanya berada di rumah.
readmore 15
“Bia, Bia.” Si gadis biasa segera berlari menghampiri sang Nyonya yang memanggilnya dari ruang tengah
readmore 16
Tepat setelah mengantar Bian ke kamar Adrian, Bia menghampiri ruang kerja sang Kepala keluarga. Dia
readmore 17
Bia yang hampir mencapai pintu keluar dari kitchen berhenti. Menoleh ke belakang dan mendapati seora
readmore 18
Seperti baru tersiram air, binar coklat milik si gadis biasa yang sebelumnya tampak kosong mulai ber
readmore 19
Agam bangkit dari kursi kerjanya membuat si gadis sedikit berjengit lalu membungkuk sembilan puluh d
readmore 20
Bia dipersilahkan masuk oleh Danu. Sedang pria besar dan tinggi itu menundukkan kepala di ambang pin
readmore 21
Adrian melihat-lihat alat bantu gendong yang diperlihatkan oleh si pramuniaga. Di matanya semua sama
readmore 22
Keduanya bingung. Berdiri mematung dengan pemikiran sama, namun tak saling buka suara. Beberapa deti
readmore 23
Pakaian, popok, susu–yang Bia ingat di rumah masih ada stok–tapi sudah terlanjur beli lagi–kereta ba
readmore 24
Ah, mungkin dia terlalu banyak berpikir jadi merasa begitu? Adrian menggeleng dan melanjutkan menikm
readmore 25
“Kalian udah siap?” Yang ditunggu tiba; sang Kepala keluarga serta pasangannya. Adnan dan Adrian bers
readmore 26
Bia memandangi Maulana yang memberikan arahan untuk bertukar posisi atau pose yang semuanya memperli
readmore 27
Sementara itu di dalam studio ... Agam tengah mengobrol dengan Maulana. Sedikit membahas masa lalu.
readmore 28
“Ayo, Bia,” kata Agam kemudian membuka pintu dan keluar dari kendaraan yang dia kemudikan hampir dua
readmore 29
Dua orang pria yang kini berada di sebelah ruangan yang mana ada anggota Bimantara lain duduk berhad
readmore 30
Rosa dan Bia kembali ke ruang tamu. Di tangan si gadis terdapat baki berisi mangkuk dan segelas air
readmore 31
Karena hampir tidak kuat menghadapi aura para Bimantara, sendok bubur yang mestinya ke mulut si bayi
readmore 32
Karena lelah memangku Bian akhirnya Adrian pergi ke ruang santai–ruangan yang memang di khususkan un
readmore 33
Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan bagi Adrian! Bagaimana tidak, seharian Bian tidak mau le
readmore 34
"Ha! Ha! Hiya~” si gadis menjerit ketika jemari si bayi gembul menyentuh tanaman. Mereka tampak asik
readmore 35
Sang Bimantara senior menghela. “Hm ....” Ya, bagaimanapun Adrian adalah ayah si bayi gembul nan lucu
readmore 36
Mereka pelan-pelan mendekati sumber suara yang mengarah ke kamar si putra bungsu. Kemudian melihat b
readmore 37
"Kamu kenapa?” Adnan bertanya. Menyentuh kening adiknya menggunakan punggung tangan, sementara tanga
readmore 38
Menghela napas sejenak, Agam menunjukkan ekspresi menyesal. “Maaf, karena nggak punya petunjuk, papa
readmore 39
"Ini Rabia, pengasuh Bian,” sang Nyonya Bimantara memperkenalkan si gadis. Khusus pada suami Sarah y
readmore 40
"Eh ... beneran~” walau berusaha untuk tidak bersorak, sang Nyonya Biman tak kuasa tidak berkomentar
readmore 41
Sudah beberapa menit berlalu sejak Bia menatap telepon rumah yang ada di atas lemari pendek–cuma sep
readmore 42
"Aduh, saya gemas!” Ujar sang Dokter dan langsung mencubit pipi Bian. Si gadis tersenyum. Dia melepas
readmore 43
"Rabia ....” Si gadis buru-buru menundukkan kepala sambil berucap, “Maafin saya.” Adnan menghela melih
readmore 44
Suasana pagi di kediaman Bimantara terasa cukup berat. Walau biasanya memang tidak ada yang bicara d
readmore 45
Walau tenggelam dalam lamunan, si gadis dapat mendengar bunyi derit pintu sehingga dia segera menole
readmore 46
Tiga puluh menit kemudian akhirnya Adrian bebas dari Adnan–yang entah bagaimana malah bercerita tent
readmore 47
Meski begitu, tidak ada perasaan kesal atau tidak senang di benak si pemuda Bimantara. Melihat dua o
readmore 48
Gagang telepon rumah berada dalam genggaman dan di dekatkan ke telinga, Rabia Anjasari sedang berbic
readmore 49
Belum terlontar sapaan manis nan mesra dari si sulung yang kepalang kesal, suara dari seberang line
readmore 50
Senyum terukir di bibir gadis muda yang sedang merapikan peralatan makan bayi sembari sesekali menat
readmore 51
Bayi Bian yang sudah mulai aktif kembali sedang bermain dengan boneka-boneka yang berada di karpet t
readmore 52
Kelopak yang menyembunyikan sepasang intan coklat pelan-pelan terbuka. Mengerjap beberapa kali sehin
readmore 53
Adnan Bimantara selaku paman dari bayi gembul nan lucu, imut, menggemaskan serta membuat geram–terka
readmore 54
"Aku pulang ....” Putra sulung Bimantara mengucap salam dengan nada tak bersemangat sembari berjalan
readmore 55
Cara dia memperoleh informasi soal si target bukan cuma dengan bertanya, pun dia bersosialisasi di l
readmore 56
Hari masih menjelang malam. Pukul lima. Jadi, mengajak si gembul keluar tidak apa-apa. Pun sudah mem
readmore 57
Deg-deg-deg-deg! Kira-kira begitu irama jantung Bia saat sang Tuan muda memegang kakinya–bukan cuma j
readmore 58
Mereka sudah siap untuk kembali. Posisi sudah berubah; Adrian menggendong si gembul dan dia yang aka
readmore 59
Luka Bia sudah tak terlalu sakit. Warna memar–biru keunguan–di punggung kaki serta pinggang sisi kan
readmore 60
Sewaktu di supermarket yang dia mendapat kecelakaan dari seorang anak kecil. Ada dua orang menghampi
readmore 61
"Aku nggak akan tertipu sama omong kosong kalian!” “Kenapa memangnya kalau partner Adrian kampungan?
readmore 62
Melihat reaksi mama, papa dan kakaknya, si Biman muda menghela. Dia tidak langsung menjelaskan maksu
readmore 63
"Jadi ... apa menurut kamu; dia cocok jadi mamanya Bian?” Adrian penasaran dengan jawaban si pengasu
readmore 64
“Juga ... kabar ini sengaja nggak kami sebar karena nggak mau menyebabkan rumor.” Agam menghela. “Ad
readmore 65
"Baik? Pengertian?” Hampir si bungsu Bimantara ini tertawa. Terlebih jika mengingat apa yang terjadi
readmore 66
Bayi gendut menggemaskan minta di cubit itu di ranjang sedang bertelungkup dengan bokong yang naik d
readmore 67
Gantian si muka teplon yang menghela. Banyak sekali mereka menghela hari ini. Memangkas keberuntunga
readmore 68
Onyxs kelam milik Adrian mengamati perilaku intim antara si gembul dan si pengasuh. Dari awal memang
readmore 69
"Naomi, ayo sini. Kamu udah sarapan?” tanya Rosa. Naomi menarik kedua ujung bibirnya. Tersenyum basa-
readmore 70
"Ah, oke,” Adrian merespon terkejut. Dia bangkit sembari mengangkat si gembul dari bak yang membuat
readmore 71
Hati si pengasuh mencelos begitu melihat warna kemerahan di sekitar pinggang Bian. Warna kemerahan y
readmore 72
"Aha!” Bian menjerit senang. Kepala bersurai halus ini terangkat. Mendongak menatap pria besar di de
readmore 73
"Iya. Saya baru aja pindah.” Senyum terukir di bibir Kemal. “Oh, maafin saya belum sempat nyapa.” Di
readmore 74
"Tadi pagi siapa saja yang bareng sama Bian?” Tanya sang Biman senior sembari membenarkan posisi baj
readmore 75
"Rabia nggak mungkin kayak gitu.” Adnan memberanikan diri bersuara. Agam menghela di tegangnya suasan
readmore 76
Dua pertanyaan yang diajukan dengan nada santai barusan membuat gadis berpakaian sederhana yang kebi
readmore 77
Bia terdiam. Mencerna perkataan si tuan muda. Mencoba mengingat kembali saat dia membawa Bian imunis
readmore 78
Hari ini hampir semua Bimantara berkumpul di rumah; hari minggu. Kecuali sang Nyonya yang sedang ada
readmore 79
Bia terharu. Sungguh. Dia tak mengira. Sang Bimantara senior bahkan mengingatnya dan meminta si phot
readmore 80
"Erm, Tuan.” Yang mau Bia sampaikan bukannya hal aneh, tapi si gadis kelihatan bingung. “Bilang aja,”
readmore
ini Sagan bagus
19/04/2025
0bagusss bangettt
18/03/2025
0bagus
06/12/2024
0sip bagus
02/12/2024
0masih setia nunggu kelanjutannya....
04/08/2024
0Lumayan baguss
04/08/2024
0semakin penasaran neh..apa jangan2 yang ngelamar baby siter itu ibu dr baby gembul ya..
23/06/2024
0boleh
27/05/2024
0ini mayan bagus tapi oke lah
22/05/2024
0I love this story, and I give u 10/10
07/05/2024
0