logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Bab 8

Ah meski rumahku, sempit tapi masih cukup menampung kami semua. Namun kehadiran Ding Xie membuat suasana rumah terasa sesak. Entah karena sosoknya yang tinggi besar atau karena auranya yang terasa mendominasi kami semua.
"Xie'er untunglah kau datang. Masalah ini sungguh membuatku bingung."
Nyonya Ding tampak lega dengan kedatangan putra sulungnya itu. Ditepuk-tepuknya tangan putranya itu.
"Ibu sebenarnya masalah ini tidak akan membingungkan seandainya kau dan ayah tidak mengajukan proposal pernikahan pada Paman Tang. Bukankah begitu Zhiyin?"
Ding Xie menyipitkan matanya saat menatap sepupuku yang terlihat mulai gelisah. Dia menundukkan kepalanya tak berani menatap siapa pun.
"Xie'er apa maksudmu?" Nyonya Tua Ding menatap cucu kebanggaannya itu dengan heran.
Di antara cucu-cucunya, Ding yuan6 adalah kesayangannya, Ding Yue adalah mutiara di telapak tangannya sedangkan Ding Xie adalah kebanggaannya.
"Nenek coba kau pikirkan dengan baik-baik. Yuan'er mengalami kecelakaan seminggu yang lalu. Kita semua tahu Ming Yue dan Yin Mei-lah yang menolongnya. Dan selama satu minggu ini tidak ada masalah yang terjadi berkaitan dengan hal ini. Namun saat ayah berniat mengajukan proposal pernikahan tiba-tiba Zhiyin mengaku ada di tempat kejadian saat Yuan'er kecelakaan."
Ding Xie berhenti sejenak dan mengedarkan pandangannya berkeliling. Ditatapnya setiap orang yang ada di ruangan ini.
Yin Mei dan Zhiyin adalah dua orang yang langsung menundukkan kepalanya, tidak berani membalas tatapan Ding Xie. Meskipun alasan mereka bertindak seperti itu berbeda.
Para tetua menatap Ding Xie dengan penuh tanda tanya. Dan aku masih terisak pelan di pelukan ibuku.
"Nenek kapan kau tahu Zhiyin juga terlibat dalam menolong Yuan'er?"
Ding Xie menatap neneknya dengan tenang. Haih dia tidak seperti sedang menatap nenek yang disayanginya. Tatapan itu terlihat asing dan dingin.
"Dua hari lalu. Saat itu Zhiyin dan nenek serta ibunya mendatangiku. Mereka menceritakan semua kejadian hari itu dan juga segala kelicikan gadis itu!"
Nyonya Tua Ding kembali melemparkan tatapan kebencian padaku. Aku tak pernah mengetahui akar kebenciannya padaku.
"Aku mengerti. Ayah kau tak perlu mengajukan proposal pernikahan cukup berikan beberapa perak pada Ming Yue dan Zhiyin. Aku yakin itu akan menyelesaikan masalah."
Ding Xie menatap ayahnya, sejenak mereka berdua saling bertatapan. Kepala desa mengangguk setuju dengan saran putra sulungnya itu.
"Kepala desa bagaimana bisa begitu. Saat kau tahu Ming Yue yang menyelamatkan putramu kau mengajukan proposal pernikahan sebagai balas budi, namun saat kau tahu keterlibatan Zhiyin kau hanya akan memberinya perak. Ini sangat tidak adil!"
Nenek langsung menolak saran Ding Xie. Dia terlihat jengkel dengan saran itu.
"Nyonya Tua Tang, aku melakukan ini untuk kebaikan dua gadis ini. Bukankah mereka berdua cucumu? Sebagai tetua, aku tidak ingin melihat dua bersaudara bersitegang karena masalah ini. Karena itu aku akan memberikan perak pada dua cucumu."
Kepala desa menatapku dan Zhiyin bergantian.
"Kepala desa kau tidak perlu melakukan apapun. Tidak perlu proposal pernikahan atau pun perak. Menolong itu sudah menjadi kewajiban. Mungkin suatu saat nanti kami membutuhkan pertolonganmu." Ayah yang sedari tadi diam menyela ucapan kepala desa.
"Tentu saja kau berkata seperti itu karena kau khawatir kelicikan putrimu terbongkar bukan?"
Nyonya Tua Ding sepertinya masih tidak puas. Dia masih mengejar kebenaran masalah ini.
"Ibu sudahlah. Jika kau bersikeras mengejar masalah ini maka akan ada pihak yang dipermalukan. Itu tidak baik untuk masa depan kedua gadis ini."
Nyonya Ding mencoba membujuk ibu mertuanya untuk tidak mengejar masalah itu. Namun Nyonya tua itu sangat keras kepala.
"Aku tidak peduli. Itu bagus kalau bisa membuat yang berbuat licik merasa malu." Wanita tua itu mendengus jijik padaku dan ibuku.
"Baiklah kalau nenek bersikeras. Tapi sebelumnya, aku ingin nenek berjanji satu hal pada kami semua. Jika kebenaran terungkap nenek harus mengakuinya tanpa keberatan sama sekali. Bisakah nenek?" Ding Xie memandangnya dengan acuh tak acuh.
"Baiklah, aku berjanji," wanita tua itu mengangguk setuju.
"Zhiyin tadi siang di tepi sungai apa yang kau bicarakan dengan Ming Yue?"
Ding Xie mengajukan pertanyaan dengan santai, namun Zhiyin terlihat kaget dengan pertanyaannya itu.
"Aku tidak berkata apa pun. Aku tidak menemui Ming Yue siang ini," dengan takut-takut dia menjawab pertanyaan Ding Xie.
Ding Xie mengeluarkan mini tape recorder dari sakunya.
"Lalu apa ini?" Ding Xie memutar kaset di dalamnya. Dan kemudian terdengar pembicaraanku dengan Zhiyin siang tadi di tepi sungai.
Rupanya Ding Xie merekam pembicaraan kami saat dia berada di atas pohon plum itu. Haih seseorang yang mendapat pendidikan militer memang berbeda dalam bertindak.
Mendengar rekaman itu Zhiyin tampak pucat pasi, begitu juga nenek dan bibi ketiga. Nyonya Tua Ding tampak setengah tak percaya. Sedangkan ayahku terlihat sangat geram.
"Kalian sudah mendengar bukan? Semestinya kalian tahu siapa yang jujur, siapa yang berbohong."
Ding xie mematikan mini tape recorder itu dan memasukkannya ke dalam sakunya lagi.
"Ibu semua sudah jelas, aku harap kau bisa mengakui kebenaran. Sebaiknya kau kembalilah kerumah lebih dulu dengan Ding Yuan."
Kepala desa memberi isyarat putra keduanya untuk membawa neneknya pulang. Nyonya Tua Ding tidak berbicara apa-apa lagi. Dia pergi dengan digandeng Ding Yuan.
"Tang Wu Di, aku sangat menyesal dengan sikap ibuku. Aku minta maaf atas namanya."
Kepala desa terlihat sangat tidak enak hati pada ayah. Ayahku hanya tersenyum mendengarnya. Dia memahami situasi kepala desa. Dia sendiri sering menghadapi masalah yang sama.
"Kepala desa itu bukan masalah. Mengenai masalah ini kita bicarakan nanti. Ming Yue masihlah anak kecil. Biarlah semua berjalan sesuai jalur."
"Baiklah. Kalau kau membutuhkan sesuatu jangan segan datang padaku."
Kepala desa menepuk bahu ayah dengan ramah. Sementara itu Nyonya Ding menatapku dan Zhiyin dengan serius.
"Zhiyin kemarilah. Duduk di dekatku. Ada beberapa hal yang harus kukatakan padamu."
Zhiyin dengan takut-takut mendekati Nyonya Ding dan duduk di sebelahnya. Bibi ketiga mengikutinya dengan cemas.
"Zhiyin dengarkan aku baik-baik. Kau masih sangat muda. Aku berharap kejadian hari ini bisa kau ambil sebagai pelajaran. Berbohong akan mengakibatkan masalah yang tidak ringan. Apalagi kebohonganmu kali ini menimbulkan kesalahpahaman yang fatal."
Nyonya Ding berbicara dengan lembut namun tegas. Karakternya sebagai kepala sekolah terlihat sangat menonjol hari ini.
"Jika keluarga Ding percaya dengan kebohongan ini maka akan menimbulkan irisan di antara keluarga Ding dan Tang. Dan juga antara ayahmu, pamanmu dan nenekmu. Zhiyin tidak semua hal harus kau miliki dan tidak semua hal harus berputar di sekelilingmu. Kau dan Ming Yue masih bersaudara, seharusnya kalian saling mendukung. Bukan saling mendorong. Aku harap kau mengerti kata-kataku ini."
Zhiyin hanya menangis terisak-isak saat mendengarkan perkataan Nyonya Ding. Aku tak tahu untuk apa dia menangis. Karena malu, bersalah atau marah. Aku tidak peduli.
"Zhiyin apa kau tidak berpikir kebohonganmu ini bisa mencelakakan banyak orang? Terutama jika adikku mempercayainya. Bisa dibayangkan seperti apa kehidupan pernikahan Yuan'er dan Ming Yue kelak. Kau masih muda namun hatimu sangat ganas. Itu bukan kebohongan pertamamu bukan?"
Ding Xie menatap tajam Zhiyin. Aku terkejut mendengar perkataannya. Benar yang dikatakan Ding Xie, kebohongan Zhiyin telah mencelakaiku. Tapi banyak orang yang celaka? Apa maksudnya ?
"Ibu Zhiyin, aku tahu kau kecewa Zhiyin tidak mendapatkan beasiswa karena kau beranggapan Zhiyin lebih pandai dari Ming Yue bukan?" Nyonya Ding kini menatap Bibi ketiga dengan serius.
"Nyonya Ding bukankah memang itu yang terjadi? Nilai-nilai Zhiyin jauh lebih bagus dari Ming Yue, tapi gadis itu dengan licik merebut beasiswa yang seharusnya diterima Zhiyin. Bukankah putraku juga menerima beasiswa? Zhiyin juga harus bukan?"
Bibi terlihat emosional saat berbicara dengan Nyonya Ding. Ah bibiku ini memang benar-benar bodoh namun kebodohanya itu tidak mengurangi kelicikanya sedikit pun.
"Ibu Zhiyin, ada dua macam beasiswa di sekolah kami. Yang pertama adalah berdasarkan nilai dan prestasi sedangkan yang kedua merupakan beasiswa dari militer yang diperuntukkan putra-putri para prajurit yang berprestasi dan berbakat."
Nyonya Ding berhenti sejenak dan menatap Zhiyin, Bibi ketiga dan Nenek bergantian.
"Dengan nilai-nilai Ming Yue dari tahun pertama hingga sekarang dia bisa memperoleh kedua beasiswa itu. Namun ayahnya memutuskan untuk mengambil beasiswa dari militer agar siswa lain berkesempatan untuk memperoleh beasiswa juga. Dan Zhiyin tidak memenuhi syarat untuk kedua beasiswa itu karena dibawah Ming Yue adalah Gu Chenglan, sehingga dialah yang menerima beasiswa itu."
Bibi ketiga terdiam mendengarkan penjelasan Nyonya Ding. Meski tidak bisa menerima dia tidak dapat meragukan penjelasan itu, karena Nyonya Ding adalah kepala sekolah.
"Ibu, Kakak ipar, kalian berdua sudah mendengar penjelasan Nyonya Ding. Aku harap kalian mengerti dan tidak lagi menyebarkan rumor Ming Yue telah merebut beasiswa Zhiyin. Ibu seharusnya kau bisa mengarahkan menantu dan cucumu jika mereka berada di jalur yang salah. Jangan menyalahkan Ming Yue untuk setiap kegagalan Zhiyin!"
Ayah menatap Nenek dan Bibi ketiga dengan tajam dan muram. Karena persoalan beasiswa ini Nenek membuat keributan besar di rumah kami.
"Tang Wu Di ini sudah larut, aku dan istriku serta Ding Xie harus kembali ke rumah. Maafkan aku jika kedatanganku merepotkanmu."
Kepala desa bangkit dari duduknya dan mengajak istrinya dan Ding Xie untuk kembali ke rumah mereka. Ayah mengantarkan mereka sampai ke pintu gerbang. Sepertinya mereka berbincang-bincang sebentar di luar.
"Apa sekarang kau senang telah mempermalukan Zhiyin, gadis licik!"
Tiba-tiba nenek mendorongku dan membuatku yang tidak siap dengan tindakannya yang tiba-tiba terjerembab ke lantai. Ibu berteriak kaget dan segera menolongku.
"Ibu apa yang kau lakukan? Zhiyin yang berbohong dan membingkai Ming Yue, kenapa Ibu menyalahkannya?"
Ibu membantuku berdiri. Baru kali ini aku mendengar ibu membantah dan melawan nenek.
"Aku tak peduli. Apakah Zhiyin salah atau benar. Apa pun yang dilakukan putri-putrimu tidak ada baiknya bagiku. Mereka hanya dua orang miskin yang mengganggu pandanganku. Ming Yue lihat saja kau akan menyesal karena telah mempermalukan Zhiyin, cucuku!"
Nenek terlihat sangat ganas. Dia mendekatiku dan ibu. Tangannya maju hendak menjambak dan mencakar wajahku. Namun sebuah tangan kekar telah terlebih dahulu menahannya.
"Hentikan wanita bodoh. Berani kau sentuh cucuku akan kupastikan kau tidak menjadi bagian keluarga Tang lagi!"
Kakek berdiri di samping nenek. Dia menatap nenek dengan tajam. Kakek terlihat muram, marah dan kecewa.
Kami semua terkejut dengan kedatangan kakek. Nenek terpana dengan ucapan kakek tadi. Apakah kakek bersungguh-sungguh dengan ucapannya?
Sementara itu ayah dan Tang Zhou Yang berdiri di depan pintu dengan linglung. Mereka saling berpandangan.
"Ayah jaga emosimu. Janganlah marah. Mari kita duduk dan bicarakan semuanya dengan baik-baik." Ayah membujuk kakek.
Namun kakek hanya menggelengkan kepalanya. Kakek mengangkat tangannya. Mengisyaratkan kami semua untuk mendengarkannya.
"Aku memiliki empat orang putra, di mataku tak ada putra yang lebih kusayangi dari lainnya. Begitu pula dengan cucuku, Ming Yue dan Zhiyin, mereka semua adalah cucuku. Jika kau sebagai nenek mereka bersikap bias maka aku akan memberimu pilihan, kita berpisah atau pemisahan keluarga harus kita lakukan!"
Kakek menatap tajam berkeliling. Ayah tak berani membantah, begitu juga dengan Ibu, Nenek dan Bibi ketiga. Aku tersenyum dalam hati.
Dalam kehidupan lalu Kakek jarang berinteraksi denganku, namun aku tahu dia sangat sedih dengan kematian Ayah dan Paman pertama. Tak lama kemudian kakek pun menyusul mereka berdua.
Ternyata kakek pun jengah dengan sikap nenek yang bias, tidak masuk akal dan terkadang konyol dan bodoh.
"Tang Wu Di, kau atau kakak ketigamu boleh berdiskusi untuk memisahkan keluarga. Kalau tidak aku akan menceraikan wanita tua konyol dan bodoh ini. Pikirkan itu. Zhou Yang bawa ibu dan adikmu kembali kerumah!"
Tanpa menoleh lagi kakek membawa nenek pergi meninggalkan rumah kami. Zhou Yang mendekati bibi ketiga dan Zhiyin.
"Paman dan Bibi maafkan sikap Zhiyin dan ibu. Ming Yue maafkan Zhiyin."
Zhou yang sepupuku yang tampan dan cerdas itu membungkukkan badannya di depan kami. Ayah langsung memegang pundaknya.
"Zhou Yang tak perlu seperti itu. Sudahlah kita bicarakan lain kali. Sekarang pulanglah!"
"Baik Paman, terimakasih." Zhou Yang mengajak ibu dan adiknya untuk pulang. Aku menatapnya dengan sedih.
Ah Zhou Yang Gege, kau satu-satunya sepupuku yang mengunjungiku di panti dalam kehidupan lalu. Kau menghiburku dan bahkan membawa keluarga kecilmu untuk menemaniku. Kau juga yang meminta maaf atas perbuatan Zhiyin, Bibi dan Nenek.
Namun kau harus meninggalkan negara ini dalam tugasmu, entah apakah kau mendapatkan kabar tentang kematianku? Dengan sendu kutatap kepergian sepupuku itu.
Setelah semua orang pergi, ayah mengajak kami beristirahat. Namun aku tahu malam ini menjadi malam tanpa tidur bagi banyak orang.
Ayah dan ibuku, paman dan bibi ketiga, kakek dan nenek, dan mungkin keluarga Ding pasti terlibat dalam diskusi mengenai kejadian hari ini dan juga ancaman kakek.

Bình Luận Sách (76)

  • avatar
    Patricia Lanase

    🙏🙏 Tolong di update cepat ceritanya. ceritanya sangat menarik tidak sabar apa kelanjutannya.

    20/12/2021

      0
  • avatar
    Mirnaa

    seru bgt crita ya

    30/04/2025

      0
  • avatar
    10Bayu

    bagus

    04/04/2025

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất