logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Bab 7

Setelah mandi, aku mengurung diri di kamar. Aku masih bingung dengan kejadian di tepi sungai tadi. Aku menepuk-nepuk pipiku sendiri. Meski jiwaku berusia 45 tahun tapi tubuhku masihlah seorang gadis kecil berumur 12 tahun. Tentu saja aku tidak bisa bersikap santai jika suatu hari nanti bertemu dengan Ding Xie lagi.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu dan menyadarkanku dari lamunan. Segera kubuka pintu, nampak Yin Mei menatapku dengan mata polosnya.
"Jiejie, ayah memintamu untuk keluar menemui kepala desa." Yin Mei menarik lenganku dan mengajakku keluar dari kamar.
Ah, rupanya keluarga Ding datang juga menggunjungi rumah kami. Aku sudah tahu tujuan mereka. Rupanya takdir masih berjalan di relnya.
Aku hanya mengangguk dan mengikuti adikku itu ke ruangan depan. Nampak ayah dan ibu tengah duduk di kursi kayu. Sedangkan duduk di depan mereka adalah Tuan dan Nyonya Ding serta Ding Yuan.
"Ming Yue, Yin Mei duduklah di sini." melihat kami berdua, ayah segera menyuruh kami duduk di dekat mereka.
"Ming Yue, kepala desa kemari untuk mengucapkan terimakasih karena kalian telah menyelamatkan Tuan Muda Kedua Ding."
Ayah menjelaskan pada kami maksud kedatangan kepala desa. Aku hanya mengangguk dan menundukkan kepala. Yin Mei pun mengikuti tindakanku.
"Ming Yue, aku sungguh-sungguh berterimakasih karena kau telah menyelamatkan Yuan'er. Ular itu sangat berbisa dan sangat sulit untuk mendapatkan penawarnya. Jika kau tidak bertindak tepat, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada putraku."
Kepala desa menghela nafas lega seakan-akan dia menyaksikan sendiri keadaan putranya saat itu. Lagi-lagi aku hanya menundukkan kepalaku.
"Yuan'er, kau harus berterima kasih pada Ming Yue," Nyonya Ding menepuk tangan putranya dengan lembut. Ding Yuan menganggukan kepalanya.
"Ming Yue terima kasih atas pertolonganmu. Maaf baru hari ini aku bisa menemuimu. Kakiku yang terluka membuatku sulit bergerak."
Ding Yuan tersenyum ramah padaku. Saat ini senyumnya terlihat tulus dan hangat. Namun aku teringat sikap dinginnya kepadaku di kehidupan lalu. Rasanya aku ingin menampar wajah tampannya itu. Aku mencoba menahan diri dengan menggenggam tanganku erat-erat.
"Tidak apa-apa Yuan Gege, Itu bukan masalah. Bukankah kita harus saling tolong menolong?"
Aku mencoba bersikap sealami mungkin di depan semua orang. Aku tidak ingin memperlihatkan kebencianku pada Ding Yuan, karena saat ini aku tidak memiliki alasan untuk membencinya.
"Tang Wu Di, aku sungguh-sungguh bersyukur atas tindakan putrimu itu. Karena itu aku dan istriku mengunjungimu bukan sekedar untuk berterimakasih. Tapi kami ingin mengikat perjodohan di antara putra-putri kita. Bagaimana menurutmu? "
Akhirnya pernyataan itu terdengar juga dari mulut kepala desa. Aku gelisah mendengarnya. Aku berharap ayah akan menolaknya. Di kehidupan lalu ayah dengan senang hati menerima proposal kepala desa.
"Perkawinan bukanlah hal yang bisa dibicarakan dengan santai Xuan'er!"
Tiba-tiba Nyonya Tua Ding menyela pembicaraan kami. Wanita tua itu berdiri di depan pintu diikuti nenek, bibi ketiga dan Zhiyin.
Haiya, rombongan pengacau telah datang ke rumah kami. Mereka pasti akan menciptakan keributan besar di rumahku.
Ternyata takdir bergeser meski sedikit. Di kehidupan lalu tidak ada gangguan dari mereka saat kepala desa mengajukan proposal pernikahan pada ayahku. Namun pada akhirnya Zhiyin menyabotaseku dan menghancurkan pernikahanku dengan Ding Yuan.
Dan di kehidupan ini mereka telah menyabotase dari awal, mungkin ini justru menjadi alasan bagiku untuk menolak proposal pernikahan dengan masuk akal.
"Nyonya Tua Ding silakan duduk. Ibu, kakak ipar juga duduklah. Zhiyin duduklah di dekat Ming Yue. "
Meski terkejut dengan kedatangan empat wanita itu, ayah berusaha untuk tetap tenang.
"Tidak perlu repot. Aku kemari hanya untuk mencegah putraku dan cucuku ditipu gadis cilik yang licik!"
Nyonya Tua Ding berdiri dengan memegang tongkatnya. Dia menatapku dengan ganas. Seakan-akan ingin membunuhku dengan tatapannya itu. Aku segera menggenggam tangan ayah dengan erat.
Ayah menepuk tanganku dengan lembut. Ayah mungkin mengira aku takut dengan Nyonya Tua Ding. Sebenarnya aku tidak benar-benar takut terhadapnya.
Toh di kehidupan lalu aku sudah sering melihat gayanya itu.
Namun saat ini jika seorang gadis kecil tetap tenang di bawah intimidasi wanita tua yang ganas itu akan aneh. Karena itu aku bersikap seolah-olah ketakutan. Aku harus terlihat sepolos gadis usia belasan tahun untuk membongkar warna asli Zhiyin.
"Ibu apa maksudmu? Siapa yang kau maksud dengan gadis kecil yang licik?"
Kepala desa menatap ibunya sambil mengerutkan kening. Dia tidak mengerti dengan sikap ibunya yang arogan. Meski sering marah namun ibunya jarang membuat keributan.
"Siapa lagi kalau bukan Ming Yue. Apakah kau kira benar-benar dia yang menolong Yuan'er? Apa kau tidak tahu kalau dia sudah merencanakan ini untuk mendapatkan simpatimu?"
Nyonya Tua Ding menunjukku dengan jari telunjuknya. Ayah dan kepala desa terkejut mendengar kata-katanya. Ekspresi ayahku langsung tenggelam.
Dengan hadirnya Nenek, Bibi ketiga dan Zhiyin, ayah Pasti sudah menduga mereka telah menghasut Nyonya Tua Ding.
Sedangkan kepala desa terlihat malu dengan sikap Nyonya Tua Ding. Begitu juga dengan istrinya. Aku tertawa dalam hati. Zhiyin pasti mengira semua orang sebodoh Nenek, Bibi ke-tiga dan Nyonya Tua Ding.
Seandainya Tuan dan Nyonya Ding sebodoh mereka bertiga tidak akan mungkin pasangan ini menjadi kepala desa dan kepala sekolah.
"Ibu, sudah jelas Ming yue lah yang telah menyelamatkan Yuan'er. Lagipula rencana seperti apa yang bisa dibuat olehnya? Dia hanya seorang gadis berusia sebelas tahun."
Kali ini Nyonya Ding yang berbicara.
Dia tersenyum lembut pada ibu mertuanya itu. Ah Nyonya Ding masih seperti dalam ingatanku. Dia tenang dan cerdas.
"Tentu saja itu yang dia katakan padamu. Zhiyin ceritakan semuanya pada mereka. Aku tidak mau keluargaku tertipu gadis licik itu!"
Nyonya Tua Ding menatap Zhiyin dengan lembut namun memberiku lirikan setajam pedang.
Zhiyin dengan gaya malu-malunya berdiri di sebelah Nyonya Tua Ding. Aku hanya tersenyum sinis melihat akting lotus putihnya itu.
"Kepala desa sebenarnya hari itu aku ada bersama Ming Yue. Saat melihat Yuan Gege dalam kesulitan, Ming Yue berlari meninggalkanku di hutan dan segera menolongnya. Aku ingin membantunya juga namun Ming Yue menyuruhku pergi. Dia mengatakan aku tidak boleh ikut membantunya dan menyuruhku pergi karena dia ingin mendapatkan pujian darimu. Dia mengatakan sudah menunggu kesempatan seperti ini."
Zhiyin berbicara dengan menundukkan kepalanya seakan-akan takut aku akan memarahinya.
"Zhiyin bagaimana bisa kau mengarang cerita seperti itu? Kau sama sekali tidak ada di sana. Yuan Gege pasti juga melihatmu bukan seandainya kau memang di sana?"
Suaraku sengaja kubuat gemetar sementara aku menatap Zhiyin dengan mata berkaca-kaca. Ah sepupu Zhiyin, mari kita lihat akting siapa yang lebih meyakinkan. Aku tertawa terkekeh dalam hati.
"Itu benar. Aku tidak melihatmu. Hanya ada Ming Yue dan Yin Mei."
Ding Yuan menatap kami bertiga dengan heran. Dia terlihat ragu dan bimbang.
"Yuan Gege sedang terluka, jadi tidak memperhatikan sekeliling dan tidak melihatku. Tapi aku memang di sana waktu itu."
Zhiyin kembali memamerkan gaya lotus putihnya yang murni, polos dan tak bersalah. Siapa saja yang melihatnya pasti akan mempercayainya. Namun kali Ini aku tidak akan membiarkan satu orang pun mempercayainya.
"Wuwuwuwu…! kenapa Zhiyin selalu berbuat seperti ini ayah. Dia selalu berbohong dan membingkaiku wuuwuuwu!"
Aku memeluk ayahku dan menangis tersedu-sedu. Air mata mengalir di pipiku dengan derasnya seperti pohon pir yang tertimpa hujan.
"Dulu Zhiyin memintaku berbohong tentang beasiswa, wuwuwuwu, beberapa hari yang lalu dia mendorongku hingga kepalaku terantuk batu dan terluka karena nilai-nilaiku lebih bagus darinya wuwuwu tapi dia mengatakan pada nenek dan orang-orang akulah yang mendorongnya wuuwuwuwu!" Aku berbicara sambil menangis.
Orang-orang tertegun melihatku seperti itu. Biasanya aku bersikeras setiap Zhiyin membingkaiku. Ini pertama kalinya aku menangis seperti itu.
"Wuwuwu tadi siang Zhiyin mengancamku akan meminta nenek membuat ibu dan Yin Mei menderita jika aku tidak mengatakan bahwa dia ada di hutan dan aku meninggalkannya demi untuk menolong Yuan gege. Wuwuwuwu Zhiyin juga mengatakan aku tidak boleh menikahi Yuan Gege karena dialah yang akan menikahinya!"
Aku menangis tersedu-sedu tak peduli air mata dan ingus bercampur mengotori wajahku. Ibu memelukku dengan sedih sedangkan Yin Mei pun ikut menangis bersamaku.
Ayah menatap nenek dengan tajam sementara kepala desa dan istrinya saling bertukar pandang. Kepala desa menghela napas dengan berat. Dia tahu persis sifat Nyonya Tua Tang dan ibunya sendiri.
Kedua-duanya adalah wanita kuno yang bodoh dan keras kepala. Sangat sulit melunakkan hati mereka meski kebenaran ada di depan mereka.
"Zhiyin sebaiknya kau mengatakan yang sebenarnya. Karena kebohongan tentang masalah ini akan berdampak pada kalian bertiga di masa depan. Pikirkan dengan baik Zhiyin."
Kepala desa menatap Zhiyin dengan lembut namun tegas. Dia tidak ingin membiarkan kedua gadis kecil itu ketakutan dan pada akhirnya mengacaukan semuanya.
"Kepala desa, Zhiyin tak mungkin berbohong. Putriku adalah gadis yang baik dan jujur. Dia sering menderita karena ulah sepupunya!"
Bibi ketiga menyela sebelum Zhiyin menjawab kepala desa, namun dia melirik kearahku dengan tajam.
"Oh ya? Benarkah dia gadis yang baik dan jujur? Jika begitu mari kita lihat seberapa jujur putrimu itu Bibi Tang." Tiba-tiba suara Ding Xie yang berat menyela pembicaraan kami.
Dia masuk ke dalam ruangan dan duduk di sebelah Ding yuan. Haiya kenapa rumahku terlihat sangat sempit setelah Ding xie masuk?

Bình Luận Sách (76)

  • avatar
    Patricia Lanase

    🙏🙏 Tolong di update cepat ceritanya. ceritanya sangat menarik tidak sabar apa kelanjutannya.

    20/12/2021

      0
  • avatar
    Mirnaa

    seru bgt crita ya

    30/04/2025

      0
  • avatar
    10Bayu

    bagus

    04/04/2025

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất