Sudah lebih dari satu minggu semenjak aku menyelamatkan Ding yuan. Namun kepala desa tidak mengunjungi keluargaku. Aku merasa lega, setidaknya aku tidak harus berurusan dengan mereka sekarang. Aku masih memiliki kesempatan untuk mempersiapkan alasan untuk menolak permintaan kepala desa. Namun dengan berubahnya beberapa hal, ada kemungkinan beberapa peristiwa tidak akan sama persis seperti di kehidupanku yang dulu. Dalam satu minggu ini, aku sibuk membantu ayah dan sepupuku membuat kolam ikan. Selain itu aku juga mulai membuka buku-buku pelajaranku lagi. Meski cukup pintar, tapi pelajaran sekolah dasar ini sebagian sudah aku lupakan. Tentu aku tidak ingin ini mempengaruhi prestasiku. Aku harus tetap mempertahankan beasiswaku. Dengan beasiswa aku telah mengurangi beban keuangan keluargaku. Setidaknya ayah tidak terlalu pusing dengan biaya sekolahku. Hanya uang sekolah Yin mei dan kebutuhan sehari-harilah yang perlu diperhatikan ayah. Sore ini setelah seharian belajar di kamar, aku memutuskan untuk berjalan-jalan di sekeliling desa. Sejujurnya aku merindukan suasana pedesaan. Di kehidupanku yang dulu, setelah menikah dengan Ding yuan, dia membawaku pindah ke Yinchuan, ibukota provinsi. Dan setelah bercerai serta mengalami kecelakaan, aku tinggal di panti di pinggiran kota itu. Aku berhenti di tepi hutan. Aku duduk di bawah pohon plum yang tumbuh di tepi sungai. Aku duduk sambil merendam kakiku di sungai.Angin sepoi-sepoi dan air yang sejuk membawaku dalam kantuk. Kurebahkan tubuhku di atas rumput yang tumbuh subur di bawah pohon plum itu. Kupejamkan mataku dan kubayangkan lagi episode demi episode hidupku. Ada banyak hal yang tak bisa kulupakan meski aku telah melalui dua kehidupan. Namun ada juga beberapa hal yang tak bisa kuingat lagi. Terutama di masa kecilku hingga menjelang remaja. Aku harus kembali mengingat-ingat lagi masa-masa itu. Mungkin itu bisa membantuku untuk melalui kesulitan-kesulitan keluargaku di masa depan. Di tengah lamunan dan kantukku aku merasa ada seseorang yang memperhatikanku. Aku segera membuka mataku dan menegakkan badanku. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling. Namun tak ada seorang pun yang kulihat. Tiba-tiba aku merasakan tatapan tajam di dekatku, kudongakkan kepalaku ke atas. Ya Tuhan, aku hampir menjerit kaget. Ternyata Ding Xie sedang duduk dengan santai di atas sebatang dahan pohon plum. Entah berapa lama dia sudah berada di sana. Aku hendak mengatakan sesuatu. Namun tiba-tiba kudengar suara-suara di dekatku. "Ming yue rupanya kau di sini. Aku telah mencarimu kemana-mana." Sepupuku yang cantik, Tang zhiyin rupanya, yang memanggilku. Dia berjalan mendekatiku. Aku segera bangkit dari dudukku. "Ming yue, kenapa kau meninggalkanku di hutan saat Yuan gege mengalami kecelakaan?" Tang zhiyin tersenyum licik padaku. Ah rupanya sepupuku ini ingin mengambil kredit dalam penyelamatan Ding yuan. Aku mengerutkan kening sejenak dan menatap sepupuku itu pura-pura tak mengerti. "Zhiyin aku sengaja meninggalkanmu di hutan, agar aku bisa menyelamatkan Yuan Gege dan mendapatkan pujian sendiri. Apakah itu yang kau katakan pada bibi dan nenek?" Aku mengerti sekarang, rupanya inilah yang terjadi di kehidupan yang dulu. Tang zhiyin memberitahu semua orang bahwa aku meninggalkannya di hutan agar semua kredit menyelamatkan Ding yuan menjadi milikku. Aku tertawa pahit dalam hati. Ya Tuhan, ternyata kepedihan hidupku dan hancurnya rumah tanggaku sudah dimulai dari usiaku yang ke sebelas tahun. Sungguh kebodohanku yang tak termaafkan karena tidak mengendus konspirasi ini dari awal. "Ya, itu yang kukatakan pada ibuku dan nenek. Ming yue kau harus mengatakan seperti itu pada kepala desa dan Yuan gege. Kau tidak boleh menikah dengannya, karena akulah yang akan menikahinya!" Tang zhiyin menatapku dengan angkuh. Dia terlihat percaya diri dengan ucapannya. Karena nenek dan bibi pasti akan membela dan mempercayainya. Lagi pula Nyonya tua Ding sangat dekat dengan nenek dan juga lebih mempercayai dan menyukai sepupuku ini daripada diriku. "Jika aku tidak mau bagaimana?" Dengan tenang kutatap sepupuku dengan pandangan mengejek. Aku memang tidak ingin menikahi Ding yuan dalam kehidupan ini, tapi aku ingin dia berterimakasih dengan tulus atas pertolonganku di kehidupan ini. "Coba saja kalau kau berani membantah. Akan kupastikan nenek membuat ibu dan adikmu menderita. Ming yue apa hakmu untuk bersaing denganku?" Tang zhiyin menatapku dengan jijik, seakan-akan aku adalah hal yang paling menjijikkan di dunia ini. Haaihh sepupuku yang cantik kau terlalu percaya diri. Rupanya sedari muda hatimu sudah bengkok. Hati yang bengkok itu suatu hari nanti akan terungkap dan menghancurkan dirimu sendiri. Di kehidupan sekarang, akan kupastikan semua orang mengetahui bengkoknya hati Tang zhiyin, sang bidadari desa ini. "Apa hakku? Lantas apa hakmu untuk mengancamku? Zhiyin kau kira siapa dirimu? Apa kau pikir semua orang sebodoh ibumu dan nenek?" Aku tertawa ringan mengejek sepupuku itu. Aku tahu dia pasti akan marah dan terprovokasi dengan kata-kataku. Itu memang tujuanku. "Tidak akan Ada yang mempercayaimu. Apapun yang kau katakan dan lakukan tidak akan merubah pandangan orang terhadapmu dan keluargamu. Karena nenek tidak akan membiarkan itu terjadi." Tang zhiyin berkeras untuk menekanku. Dia yakin nenek pasti bisa menekan ayah, dan pada akhirnya ayah akan memintaku untuk menuruti keinginan nenek. "Baiklah, Zhiyin lakukan saja apa yang kau inginkan. Aku tidak perduli apakah ada yang akan mempercayaiku atau tidak." Aku tidak ingin meladeninya lagi. Zhiyin tipe gadis yang menilai tinggi dirinya sendiri karena pola asuh bibi dan nenek yang salah. Dia selalu menganggap dunia hanya berputar di sekeliling dirinya. Dengan marah sepupuku yang cantik itu pergi meninggalkankanku. Tak lupa dia memberiku tatapan mengancam. Aku hanya mengangkat bahu. Setelah Zhiyin pergi, Ding xie turun dari pohon plum. Dia berdiri di depanku dan menatapku dengan penasaran. "Ming yue apa kau tidak takut dengan ancaman sepupumu?" Ding Xie menatapku dengan acuh tak acuh. "Kenapa aku harus takut? Bukankah Xie gege ada disana saat aku menolong adikmu?" Aku mendongakkan kepala memberanikan diri menatapnya. Ding xie setinggi 180 cm lebih, sedangkan aku hanya sekitar 140 cm. Haaaiiihh pria ini benar-benar seperti gambaran seorang model atau anggota boyband di abad 21. Wajah tampan, tinggi dengan kaki panjang, tubuh bagus dan seksi. Mungkin hanya suaranya saja yang diragukan. Aku tak pernah mendengar Ding Xie menyanyi jadi aku tidak tahu seperti apa kalau dia menyanyi. "Bagaimana kalau aku tidak membenarkan ucapanmu?" Suara berat dan seksinya mengejutkan lamunanku. Seharusnya menilik suaranya ini dia pantas menjadi anggota boyband. Namun apa dia bisa menari? Haiya Ming yue kenapa kau membayangkan yang bukan-bukan? Aku merutuk diriku sendiri dalam hati. Apa yang tadi dia katakan saat aku terhanyut dalam lamunan ? Dia tidak akan membenarkan ucapanku? Hohoho itu tidak mungkin. Aku tahu dia sangat tidak menyukai keluarga paman ketigaku. Terutama sepupuku yang cantik itu. "Itu terserah Xie Gege, apakah akan membenarkan ucapanku atau ucapan Zhiyin. Aku tidak berhak untuk mengaturmu." Aku menundukkan kepalaku. Sejujurnya aku tak pernah berani menatapnya berlama-lama, baik di kehidupan lalu ataupun sekarang. Entah mengapa aku selalu merasa Ding xie adalah sosok yang tak terjangkau. Dia begitu tinggi dan jauh. Namun aku tahu pasti dia tidak menyukai sepupuku. Itu pernah dia ungkapkan di kehidupan lalu. Saat Nyonya Tua Ding menyudutkanku atas hasutan Zhiyin, Ding Xie menegur keduanya. Dia mengisyaratkan bahwa neneknya telah salah mempercayai orang. Tiba-tiba aku merasakan sentuhan hangat di daguku. Aku terkejut dan mendongakkan kepalaku. Ding xie mencubit daguku dan memaksaku menatapnya. "Apa kau tidak ingin meminta bantuanku?" Ding xie mendekatkan wajahnya kearahku. Aku ingin mundur menghindarinya, tapi tak bisa. "Xie gege aku tidak layak meminta bantuanmu. Lagipula ini masalah keluargaku, tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu." Aku menjawabnya dengan suara lirih. Aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku. Aku tak pernah percaya diri menghadapinya. Tidak dulu mau pun sekarang. Dia seperti pangeran di mata penduduk desa termasuk aku. Lagi pula selisih umur kami cukup jauh. Aku hanya bisa mengaguminya dari kejauhan saja. "Ming yue dengarkan kata-kataku, mulai hari ini jangan biarkan siapa pun terutama sepupumu menggertakmu. Jika itu terjadi aku tidak akan berdiam diri. Ingat itu Ming yue." Ding xie melepaskan cubitan jarinya di daguku. Namun tanpa kuduga dia menundukkan kepalanya dan mengecup pipiku. Setelah itu dia pergi tanpa menoleh lagi. Dia meninggalkanku yang masih kebingungan. Aku menyentuh pipiku yang dikecupnya tadi. Kucubit keras-keras. Aku meringis karena itu sakit. Jadi ini nyata bukan mimpi. Ya Tuhan! ciuman pertamaku! Ding xie mencuri ciuman pertamaku. Aku meremas tanganku bingung dan gelisah. Apa makna ucapan Ding xie tadi? Dan kenapa Dia mencium pipiku? Haih ternyata Tuan muda sulung itu cabul dan mesum. Dia memanfaatkanku yang masih polos dan lugu. Dengan bingung dan linglung aku pulang ke rumah. Hari sudah menjelang sore saat aku tiba di rumah. Ayah telah kembali dari toko bangunan dan sekarang dia sedang mandi. Sedangkan ibu tengah sibuk di dapur menyiapkan makan malam. Dan Yin mei sedang menggambar di ruang tamu. Aku segera membersihkan diri dan membantu ibu di dapur. Namun karena masih bingung dengan tindakan Ding xie tadi aku justru mengacaukan dapur. Akhirnya ibu menyuruhku segera mandi dan beristirahat di kamar. Ibu mengira aku sedang tidak enak badan.
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
Chi phí 31 kim cương
Sự cân bằng: 0 Kim cương ∣ 0 Điểm
Bình Luận Sách (76)
Patricia Lanase
🙏🙏 Tolong di update cepat ceritanya. ceritanya sangat menarik tidak sabar apa kelanjutannya.
🙏🙏 Tolong di update cepat ceritanya. ceritanya sangat menarik tidak sabar apa kelanjutannya.
20/12/2021
0seru bgt crita ya
30/04/2025
0bagus
04/04/2025
0Xem tất cả