Hilir mudik dari para mahasiswa/i dan orang tua jelas terlihat di sebuah universitas di Jakarta. Mereka berpakaian rapi ala wisudawan/wati. Serangkain acara juga sudah dilewati. Putri Airin, dinobatkan sebagai mahasiswi terbaik satu fakultas. Ya, satu falkutas. Walaupun bukan satu universitas. Akan tetapi, Airin sedikit merasa bangga kepada dirinya. Ternyata beasiswa dan usahanya telah dilalui dengan baik. Kelulusan ini bagi Airin merupakan langkah awal menuju dunia kerja. Pastinya nanti akan ada persaingan antara pencari kerja tahun ini bahkan mungkin tahun sebelumnya yang belum mendapatkan pekerjaan. Dan tentunya akan dibutuhkan sebuah perjuangan lagi. "Ai, yuk kita foto di sana!" suruh Riska sambil menunjuk salah satu spot foto. Dari tadi Riska sudah kesana kemari berfoto dengan temannya, orangtuanya, dan bahkan dosen serta karyawan kampus ia ajak. Sifatnya yang humble dan ramah membuat Riska berteman dengan siapa saja. Sedikit berbeda dengan Airin yang tidak begitu bisa ramah seperti Riska. Airin menuruti kemauan Riska dan mereka berdua difoto oleh Anji yang tidak tahu sudah nangkir di sekitar spot foto dengan kamera canggih di tangannya. "Nanti hasil fotonya kirim ke aku ya." ujar Riska setelah berfoto dengan Airin. "Gantian kalian berdua foto bareng sana. Sini kameranya!" pinta Airin kepada Anji dan Riska. "Oh iya kita belum. Sini Ji, foto bareng!" "Hm. Oke. Nanti klik di sini ya Ai!" jelas Anji yang sedikit kikuk diperintah untuk berfoto bersama Riska. Airin tahu, dari gelagat-gelagatnya dari dulu emang Anji itu naksir sama Riska. Tetapi, tidak tahu bagaimana dengan Riska. Karena Airin saja tidak pernah membahasnya. Biarkanlah, jadi rahasia mereka saja. "Agak mepet dikit. Ji kamu kan mau foto bareng. Masa jauh-jauhan gitu". ucap Airin. Belum sempat Anji menjawab, Riska sudah mengapit tangan Anji untuk mendekat. "Satu, dua, dan tiga" Cpret cpret cpret "Eh. Papa, mama ayo foto bareng lagi sini!" pinta Riska ketika orang tuanya mendekat ke arah mereka. Anji, Riska, dan orang tua Riska berfoto bersama. Airin memandang hasil fotonya. Ia kadang merasa iri dengan keharmonisan keluarga teman-temannya. Tidak seperti keluarga Airin yang sekarang dirinya diwisuda saja mereka malah tidak datang. Melihat raut wajah Airin, Riska segera menyuruh Anji untuk memotret dirinya, Airin, dan kedua orang tuanya. Riska cukup paham dengan keadaan sahabatnya. Tanpa mendengar Airin bercerita ia sudah paham dengan keadaan Airin. Riska selalu menjadi pengamat dan pendengar yang baik untuk Airin, sahabatnya. Dari kejauhan, Airin melihat mama dan Pasha berjalan menghampirinya. Airin segera menuju ke arah mereka dan menuntun mama serta adiknya ke tempat yang agak sepi. Dari raut wajah mamanya yang sudah tidak bersahabat, membuat Airin tidak ingin mamanya membuat malu di acara wisuda. Terdengar Riska memanggil Airin sedikit mengkhawatirkannya. "Oh, ternyata kamu sudah lulus. Bagus, sekarang kamu cari kerja. Dan biayai kehidupan kami. Bayar semua yang sudah kami keluarkan untuk menghidupi kamu. Lagian papa kamu juga jatuh dari kamar mandi di tempat kerjanya dan sekarang di rumah sedang sakit." ucap Sinta menggebu-gebung dengan mata sedikit melotot. Airin tidak menyangka, mamanya seperti ini. Iya tahu sebagai anak harus berbakti kepada orang tuanya. Tapi, apa ada orang tua yang secara terang-terangan berbicara seperti itu? Bukannya memberi selamat atas kelulusannya anaknya, malah marah-marah seperti itu. "Iya ma. Nanti juga aku kerja. Semoga papa cepet sembuh. Sekarang gimana keadaan papa?" tanya Airin berusaha sabar dan tidak marah balik ke mamanya. "Iya sekarat di rumah. Ini juga aku ke sini mau memperingatkan kamu untuk kirim uang setiap bulan ke kami. Kalau tidak." ucap Sinta sambil menunjuk jari telunjuknya ke arah Airin. "Kalau tidak apa ibu?" tanya seseorang yang entah darimana sudah ada di samping mereka. "Siapa kamu? Pacar Airin ya? Kaya gak kamu? Kalau mau jadi pacar anak saya harus kaya, agar bisa menghidupi kita sekeluarga." ujar Sinta sambil gantian telunjuknya mengarah ke pak Radit. Niatnya tadi pak Radit ingin menghampiri Airin, tetapi karena ada keributan. Pak Radit tidak sengaja mendengar percakapan Airin dengan orangtuanya. "Mama cukup. Mama udah keterlaluan. Mama itu gak sopan." ucap Airin merasa muak dengan mamanya. Kesabaran yang selalu menyelimuti Airin sekarang tidak lagi. Ia benar-benar muak dengan sikap mamanya selama ini. Melihat Airin marah sambil menahan air mata, membuat pak Radit tidak tega dan menggandeng tangan Airin. "Ibu, jangan marah-marah di sini. Ini tempat umum sebaiknya ibu bisa bicara baik-baik." ujar pak Radit. "Saya tidak peduli." ucap Shinta lalu melenggang pergi. ***
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
bagus juga, 👍
7d
0empat aja dulu yo
12d
0good
26/05
0Xem tất cả