“Hai. Ngelamun saja.” ucap seorang wanita mengagetkan temannya yang melamun sambil memegang sendok. “Hai. Apa-apain sih kamu Ris?” tanya Airin yang kaget setelah ditepuk bahunya oleh Riska. “Iya, gak apa-apa. Lagian kamu ngelmun saja, jadi aku kagetin deh.” jawab Riska cengengesan sambil mengambil tempat duduk di depan Airin. Airin melanjutkan makannya yang tertunda dan bertanya pada Riska, “Bagaimana bimbingannya?” “Nih.” jawab Riska sambil menunjukkan lembar-lembar kertas yang sudah dibendel tebal. “Banyak coretannya dan banyak kata dan tanda baca yang gak sesuai EYD.” sambung Riska dengan nada bicara agak kesal. “Makanya kalau ada mata kuliah bahasa Indonesia itu diperhatikan dan dipahami.” ucap Airin. “Sok tahu saja kamu Ai, aku sering gak memperhatikan. Tapi memang iya sih. Kan ngantuk.” jelas Riska. Dasar Riska ini memang. “Iya sudah deh, gantian aku yang mau bimbingan dulu. Sudah jam segini. Takut ditungguin pak Radit.” ujar Airin sambil bangun dari duduknya. "Heh Ai. Kok aku ditinggal? Kan aku baru duduk." ujar Riska sambil merajuk. Airin tersenyum dan tidak memperdulikan sahabatnya yang merajuk itu. Ia melanjutkan kakinya setelah sempat terhenti. *** Tok tok tok “Masuk.” pinta seseorang di balik pintu. Setelah diizinkan masuk, Airin membuka pintu ruang dosen. “Permisi, Pak. Saya hari ini ada bimbingan skripsi dengan bapak.” ucap Airin setelah berdiri depan dosennya. “Silakan duduk dulu di sofa sana! Ada yang harus saya selesaikan.” suruh Pak Radit dengan suara khasnya. “Baik, pak.” balas Airin dan menuju sofa berwarna abu-abu tua. Airin membuka tasnya dan mengambil bendel skripsinya. Ia membaca dan meneliti tugas akhirnya yang telah dibuat dengan susah payah. “Semoga gak banyak yang direvisi.” batin Airin berharap. Sudah cukup lama Airin menunggu pak Radit yang entah sedang menyelesaikan apa dan itu membuatnya bosan. Airin memandang pak Radit yang sedang berkutat dengan laptopnya. Pria berumur 27 tahun dengan perawakan tegap. Rahang kokoh yang membuat pria itu enak dipandang. Rambut yang sedikit ikal. Alis yang tebal. Mata jernih yang meneduhkan. Hidung yang mancung. Bibir yang tipis berwarna merah muda. Sungguh sempurna ciptaan Tuhan di depannya ini. Kenapa baru sekarang Airin sadar bahwa dosennya ini memiliki tampang yang sangat tampan. Pada saat pak Radit mengajar, Airin hanya memperhatikan materi yang disampaikan tanpa memperhatikan dosennya yang tampan. Ah, apaan sih Airin. “Gak, gak, gak. Gak sopan. Masa aku harus memperhatikan dosennya bukan materi kuliahnya.” batin Airin sambil geleng-geleng kepala. “Tapi bener juga sih pak Radit itu tampan. Pantas saja cewek-cewek di kelas, termasuk Riska tergila-gila banget mengagumi ketampanan laki-laki ciptaan Tuhan yang sempurna, seperti pak Radit.” lanjut Airin membatin. “Kenapa kamu kenapa geleng-geleng kepala seperti itu?” tanya pak Radit kebingungan. “Eh, kenapa pak?” tanya Airin balik. “Kamu itu kenapa dari tadi geleng-geleng kepala sambil memandangi saya begitu?” tanya pak Radit kembali. “Oh, itu pak. Bapak kenapa lama ya? Saya nunggunya sampai bosan. Kalau bapak masih sibuk, bimbingannya bisa diundur besok lagi saja pak.” ujar Airin. “Tidak perlu. Sini skripsi kamu. Silakan duduk depan saya.” tegas pak Radit. “Baik, pak. Ini skripsi saya.” ucap Airin setelah duduk di depan pak Radit. Airin memperhatikan dosen dihadapannya dengan serius. Tangan pak Radit dengan lincah mencoret-coret kertas demi kertas miliknya. Perasaan Airin sudah mengerjakan dengan benar, tetapi masih saja direvisi. "Kamu sepertinya banyak pikiran. Di halaman ini, data kamu diberi tabel. Akan tetapi, data lanjutan di halaman berikutnya tidak. Perbaiki lagi skripsi kamu!" jelas pak Radit setelah merevisi skripsi Airin. "Duh. Ceroboh banget kamu Airin." batin Airin sambil mengambil skripsi yang tadi diserahkan pak Radit. "Baik, pak. Akan saya perbaiki." ujar Airin. "Oke." "Kalau begitu saya permisi dulu, pak." pamit Airin sambil bangun dari duduknya. "Tunggu." Langkah Airin terhenti dan menunggu pak Radit melanjutkan ucapannya. "Hati-hati." ucap pak Radit dan tersenyum manis kepada Airin. Deg deg deg. Kenapa jantung Airin mendadak berdetak kencang? Apa ia sedang mengalami gejala penyakit jantung? Rasanya tidak karuan. Pipi Airin mendadak panas dan perutnya seperti dikelitiki banyak kupu-kupu.
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
bagus juga, 👍
14d
0empat aja dulu yo
19d
0good
26/05
0Xem tất cả