logo text
Thêm vào thư viện
logo
logo-text

Tải xuống cuốn sách này trong ứng dụng

Part 7 | Kejutan

“Kejutan!” teriak pria tampan yang sedang memegang sebuket bunga mawar yang besar.
Dewi dan wanita paruh baya tersebut terpaku melihat sosok yang sedang berdiri di depannya. Sedetik kemudian, wanita paruh baya itu tersenyum lebar dan menutup mulutnya yang sedikit terbuka karena terkejut.
“Zean?” sebutnya pelan.
Pria yang disebut Zean itu mengangguk pelan, tapi tatapannya sesekali mengarah pada gadis berambut pendek yang berdiri di samping ibunya.
Sementara Dewi masih terpaku saat keduanya sudah saling berpelukan melepas kerinduan yang sejak lama hadir dalam hati masing-masing mereka. Dewi merasa bunga-bunga bermekaran di taman hatinya saat melihat wajah Zean yang rupawan itu.
“Kamu kenapa diam aja?” tanya wanita paruh baya itu membuyarkan semua khayalan indah yang baru saja dirangkainya.
“A-a ... Tampan,” gumamnya samar dan masih sedikit berada dalam khayalan.
“Apa?” tanya wanita tersebut karena tidak mendengar apa yang diucapkan oleh Dewi.
“E ... T-tidak apa-apa, Bu,” jawabnya gugup.
“Perkenalkan ini putra ibu, Zean.” Ucap wanita itu memperkenalkan anaknya. Sementara si pemilik nama tersenyum tipis.
“Oh ... Dewi, gue Dewi, maksudnya aku Dewi,” ujar Dewi seraya mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Zean. Namun, Zean hanya menangkupkan kedua tangannya seraya tersenyum.
Dewi yang menyadari Zean tak ingin bersentuhan pun ikut menangkupkan kedua tangannya. Dewi sepertinya akan sulit untuk bisa berkomunikasi dengan bebas pada Zean.
“Oh, Dewi, nama yang bagus, kita juga belum berkenalan, loh,” aku wanita yang telah melahirkan pria tampan seperti Zean.
“Dia siapa, Ma?” tanya Zean sedikit penasaran.
“Calon istri, lo,” tukas Dewi kebablasan.
Wanita paruh baya itu tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala dan berkata, “Dia itu keluarga baru kita, dia bakalan kerja di toko kue ibu besok,”
Zean hanya mengangguk mengiyakan, lalu meminta izin pada sang ibu untuk beristirahat duluan karena lelah setelah perjalanan jauh. Sementara Dewi masih terus menatapnya hingga sosok itu menghilang di balik dinding rumah yang menghalangi pandangannya.
“Nah, kamar kamu di sebelah kiri kamar Zean, di sebelah kanan itu kamar Nilam putri ibu — adiknya Zean, dia kuliah di luar kota jadi ngekos di sana, kasihan kalau harus pulang balik ke sini, jauh.” Jelasnya membuat Dewi merasa senang karena bersebelahan dengan pria tampan itu.
“Kedatangan dia benar-benar kejutan buat ibu, nggak bilang-bilang kalau mau balik ke Surabaya,” tuturnya membuat Dewi tersenyum dengan tatapan yang entah mengarah ke mana.
“Ini juga kejutan buat aku, Bu,” balasnya membuat wanita paruh baya itu mengerutkan dahi.
“Hmm ... maksud saya tempat tinggal yang bagus ini adalah kejutan buat saya dari ibu,” jawab Dewi dengan malu-malu.
“Besok kita buka toko jam tujuh pagi, ya,” ujar wanita itu dan berlalu meninggalkan Dewi yang masih berdiam diri di depan kamarnya.
****
“Bangun! Kebo banget, sih!” geram Zean sambil menarik-narik selimut yang masih melilit tubuh Dewi.
“Iya tunggu bentar lagi, Ma,” ujar Dewi masih setengah sadar.
“Gue bukan emak lo!” marah Zean dan menarik selimut itu hingga membuat tubuh kecil Dewi hampir terjatuh ke lantai, tapi Zean dengan sigap menahannya dan perlakuan itu membuat kedua mata Dewi sontak terbuka.
Pandangan mereka saling bertautan seperkian detik dan Zean mendorong tubuh Dewi bergeser ke kasur agar tidak jatuh dengan selimut yang masih menutup seluruh tubuh Dewi.
“L-lo ngapain di sini?” tanya Dewi gugup
“Banguni kebo,” jawabnya seraya berbalik untuk beranjak dari kamar gadis berambut pendek itu.
“Tunggu dulu, kenapa lo masuk kamar cewek cuma buat banguni gue?” tanya Dewi penasaran.
“Itu karena gue kasihan sama nyokap gue yang dari tadi ketuk-ketuk kamar lo, tapi lo nggak nongol-nongol. Lo itu niat kerja nggak, sih? Kalau lo bangun siang kaya gini bisa-bisa lo dipecat di hari pertama lo kerja,” tegas Zean membuat Dewi bergidik ngeri.
Jika sampai itu terjadi maka tamatlah riwayatnya, dia mungkin harus kembali ke Jakarta dan pulang ke rumah orang tuanya. Terpaksa menikah dengan jodoh pilihan orang tua. Hidup bersama laki-laki yang sama sekali tidak pernah dicintainya.
“Bagaimana kalau laki-laki itu ternyata kakek-kakek tua? Atau seorang duda, laki-laki yang pemarah, dan —“
“Hei! Kenapa kamu melamun? Cepatlah bersiap, karena sebentar lagi jam tujuh,” jelasnya membuyarkan semua mimpi buruk Dewi.
Namun, kehadiran Zean pagi ini membuat Dewi bersemangat. Biasanya dia akan tetap merasa mengantuk jika sudah dibangunkan, tapi melihat wajah Zean membuat kupu-kupu serasa sedang mengelilingi ruang kalbunya.
“Gue tahu kenapa lo ke sini, pasti lo naksirkan sama gue?” goda Dewi membuat Zean menatapnya dengan tajam.
“Gue nggak punya waktu buat candaan lo yang nggak penting itu,” ucap Zean dingin dan berlalu meninggalkan Dewi yang mendadak terpaku atas sikap Zean yang berubah dalam sekejap.
Setelah selesai bersiap, Dewi bercermin dan mengagumi dirinya yang tampak begitu cantik dengan kemeja putih dan celana pendek berwarna hitam yang dikenakannya saat ini. Saking pendeknya celana yang dia pakai hampir tak terlihat karena tertutup dengan kemejanya. Dia tidak tahu harus menggunakan pakaian apa, karena dia asal memasukkan baju waktu itu. Sehingga, setelan kemeja dan celana pendek inilah yang tampak bagus dia kenakan sekarang.
Dewi perlahan menarik kenop pintu dan mendorongnya hingga terbuka. Tidak lupa dia menutupnya kembali. Lalu, dia berjalan menuruni anak tangga dengan langkah yang cepat takut jika nanti dia sampai terlambat dan dipandang sebagai gadis yang tidak bertanggung jawab.
Setelah sampai di halaman depan, Zean yang melihat Dewi yang sudah ada di hadapannya pun langsung memalingkan pandangan.
“Ada apa?” tanya Dewi heran.
“Apa yang lo pakai itu?” Zean bertanya balik dengan posisi kepala menghadap ke belakang.
“Kenapa? Gue cantik, ya?” tanya Dewi dengan senyuman manisnya.
“Lo itu mau kerja apa mau jual diri? Pakaian lo itu kurang bahan tahu nggak!” sentak Zean membuat hati Dewi yang semula berbunga kini layu disiram kata-kata yang begitu kurang enak didengar, tapi Dewi kembali tersenyum mengabaikan perasaannya.
“Terserah gue mau pakai apa, bukan urusan lo juga,” balasnya ketus.
“Gue nggak mau ngantarin lo, gue pesenin taksi online aja, deh. Mama udah tungguin lo di sana.”
“Kenapa bukan lo aja, sih? Kan, biar cepat,” tanya Dewi penasaran.
“Punya hak apa lo menyuruh-nyuruh gue?” ketusnya membuat Dewi memilih menutup mulut.
Sadar akan ucapannya yang kasar membuat Zean sedikit merasa iba dan berkata dengan nada yang sedikit lebih halus, “Gue ada urusan jadi nggak bisa antarin lo ke toko,”
“Oh, iya,” singkat Dewi.
“Maaf,” ujar Zean pelan, tapi mampu membuat hati Dewi meleleh.
“Untuk apa?” tanya Dewi dengan menautkan kedua alisnya.

Bình Luận Sách (372)

  • avatar
    Rara Olivia

    bagus

    21/04

      0
  • avatar
    KusmiatiMia

    sngt sng dgn liat apliksi ini

    21/03

      0
  • avatar
    Fajar Fadilah

    seru

    09/03

      0
  • Xem tất cả

Các chương liên quan

Chương mới nhất