“Maaf, Bu, saya pamit dan terima kasih atas bantuannya,” ujar Dewi setelah mengambil travel bag-nya dari kamar Rizka. “Ini sudah tengah malam, menginap aja dulu di sini. Kamu bisa ceritain masalah kamu sama kita. Siapa tahu kita bisa bantu atau nyari solusinya nanti. Saya minta maaf atas perlakuan anak saya yang mungkin kurang sopan tadi,” ucap Hanin tulus dari hati. “Nggak usah, Bu. Terima kasih. Awalnya saya memang mau menceritakannya dengan jujur setelah saya merasa lebih baik, tapi mungkin lebih baik ibu mengetahuinya saat ini juga. Lagi pula apa yang dikatakan oleh Rizka itu memang benar adanya. Kalau polisi berhasil melacak lokasi saya, mungkin saja ibu akan dapat masalah karena saya. Untuk itu terima kasih atas bantuannya dan maaf saya sudah merepotkan keluarga ini,” jelas Dewi seraya menunduk tanda permisi. Lalu, melangkah menuju pintu. “Tunggu dulu, Mbak. Biar suami saya yang mengantar mbak dan mencarikan mbak hotel atau penginapan malam ini,” sergah Hanin membuat Dewi kembali menoleh dan menghentikan langkahnya yang hampir mencapai pintu. Inilah yang diharapkan oleh Dewi sebelumnya, tapi harapan itu kini tidak lagi menjadi keinginannya. Lebih baik dia mencari tempat sendiri daripada harus diperlakukan tidak hormat seperti tadi. “Tidak usah repot-repot, Bu. Saya bisa sendiri. Cukup bantuan yang ibu kasih ke saya. Saya pamit dulu, selamat malam,” balas Dewi dan berlalu dari hadapan mereka semua. “Orang sabar disayang Tuhan,” gumamnya lirih. **** Suasana tengah malam ini begitu pekat. Namun, kendaraan masih ramai berlalu lalang di tengah jalan. Dewi tidak tahu ke mana dia harus melangkah dan sekarang dia ada di mana. Dewi tidak bisa mengaktifkan ponselnya saat ini untuk mengaktifkan GPS karena takut orang tuanya berhasil melacak dirinya yang berada jauh dari mereka. Awalnya Dewi begitu semangat karena bisa hidup mandiri, tapi ternyata tidak semua berjalan sesuai harapan-harapannya. Dewi memilih duduk di kursi besi yang terletak di pinggir trotoar dan menatap jalanan. Hari makin larut dan dia masih tetap duduk di sana. Sebenarnya terdapat hotel tidak jauh dari hadapannya, tapi terlihat dari bangunannya yang mewah, harganya pasti tidak sesuai dengan budget yang saat ini dimilikinya. Bukan karena dia tidak mampu, hanya dia perlu berhemat untuk keadaan darurat yang bisa terjadi kapan saja. Sebuah tangan menyentuh pundak kiri Dewi, dan membuatnya sontak terkejut saat dia menoleh ke si pemilik tangan yang berdiri tepat di dekatnya. Dia seorang wanita paruh baya mungkin sepantaran dengan Sintia. Dewi menatapnya dengan menaikkan sebelah alisnya karena merasa bingung. “Nduk?” sahutnya pelan. “Iya, Bu,” jawab Dewi singkat. “Kok malah ngelamun di sini? Ini sudah larut malam,” tanyanya penasaran. “Aku nggak punya rumah,” jawab Dewi seadanya. “Ya, udah, ikut sama ibu aja, yuk,” ajaknya yang tak langsung ditanggapi oleh Dewi. Takut kejadian seperti tadi terulang, Dewi memilih menggelengkan kepala menolak ajakan wanita paruh baya berkerudung tersebut. Lagi pula Dewi harus berhati-hati dengan orang yang tidak dikenal. “Kamu butuh kos-kosan, kan?” tanyanya membuat bola mata Dewi membulat sempurna. “Ibu pikir kamu butuh tempat tinggal, atau semacam kos-kosan karena membawa travel bag. Kamu juga terlihat seperti tidak tahu dengan daerah ini, kaya orang baru datang ke sini. Jadi, ibu menawarkannya padamu karena ibu lihat kamu kaya orang kebingungan gitu, dari tadi ibu lihatin pas selesai belanja di Alfa Midi,” jelasnya seraya menunjuk letak Alfa Midi yang berada di seberang jalan. “Jadi, ibu punya kos-kosan?” tanya Dewi dengan tatapan berbinar. Wanita paruh baya tersebut mengangguk pelan seraya tersenyum tipis dan membuatnya terlihat jadi lebih manis. “Per bulan berapa, ya?” tanya Dewi tanpa basa-basi. “Nggak usah bayar, justru kamu yang ibu bayar, kamu jadi karyawan saja di toko kue milik ibu, gimana?” ujarnya penuh senyum. “Sebenarnya, ibu nggak punya kos-kosan. Cuma kamar tamu yang kosong. Saya juga lagi butuh karyawan tambahan,” sambungnya lagi. Dewi benar-benar bahagia mendengar apa yang barusan wanita itu katakan padanya. Sungguh, ini jadi malam terindah baginya. “Tidak perlu bayar, justru gue yang dapat bayaran?, haha .... cuma orang bodoh yang mau tolak rejeki nomplok kaya gini,” gumamnya dalam hati. Dewi pun mengangguk seraya berkata, “Saya mau, Bu,” Wanita paruh baya itu tersenyum bahagia. Dalam hati dia merasa senang karena bisa membantu gadis yang sejak tadi diperhatikannya seperti orang yang kebingungan. Di lain sisi dia juga bahagia karena tidak akan kesepian di rumah. Suaminya sedang bertugas di luar kota, putrinya saat ini sedang belajar di luar kota juga dan tinggal jauh darinya, dan putranya juga bekerja di luar kota, lebih tepatnya dia ditempatkan di kantor cabang yang berada di kota lain, itu membuatnya merasa kesepian. Mungkin dengan kehadiran gadis yang saat ini dibantunya bisa mengisi kekosongan dalam rumahnya. “Rumah ibu dekat, kok, dari sini. Kita bisa jalan kaki,” ujarnya sembari menuntun jalan. Dewi mengangguk penuh senyum manis karena bahagia. Harapannya saat ini, semoga dia tidak mendapatkan masalah lagi atau bertemu dengan orang yang seperti Rizka. “Kenapa ibu kok belanja tengah malam begini? Itu juga sendirian,” tanya Dewi penasaran. “Karena ibu baru pulang dari rumah sakit. Jadi, ibu turun di depan Alfa sekalian deh belanja buat bulanan. Besok biar bisa santai-santai di rumah,” jelasnya membuat Dewi mengangguk-angguk. “Siapa yang sakit?” tanyanya penasaran. “Anak teman ibu, ternyata kamu kepo juga, ya?” Dewi tergelak dan menggaruk kepalanya yang tak gatal, “Itu karena ibu sendirian malam-malam begini,” “Kamu juga sendirian malam-malam begini,” kekeh wanita paruh baya itu membuat Dewi salah tingkah. “Tahu nggak, bu, kenapa aku dan ibu ini sama-sama sendirian?” tanya Dewi membuat wanita paruh baya itu menggeleng cepat. “Karena kita berdua berjodoh, Bu,” “Loh? Kok jodoh?” Wanita itu terkekeh dan juga kebingungan. “Iya, jodoh,” “Jodoh kamu itu laki-laki, bukan ibu,” kekeh wanita paruh baya itu hingga membuat pipinya sedikit memerah. Dewi kebingungan sendiri, dia tampak berpikir keras dengan apa yang sebenarnya dia maksudkan, sejenak kemudian, dia tersenyum lebar dan memukul jidatnya seraya berkata, “Astaga! Maksud aku sehati." “Haha ... ada-ada aja kamu,” ujar wanita berkerudung itu dengan tawa khasnya. “Nah, itu rumah ibu,” sambungnya sembari menunjuk rumah mewah yang berada tidak jauh di depan mereka. “Wah rumah ibu gede juga, ya,” puji Dewi merasa takjub dengan apa yang dilihatnya saat ini. “Ah, biasa aja, kok,” jawabnya sembari mengajak Dewi untuk masuk ke dalam rumah setelah sampai di depan gerbang. “Luas banget, rumah ibu,” “Ya, udah, yuk, biar ibu tunjukkan kamar kamu,” ajaknya saat pintu rumah sudah terbuka lebar. Dewi mengikuti wanita paruh baya itu ke lantai dua, tapi saat sampai di atas semua ruangan sangat gelap, di saat bersamaan lampunya menyala dan wanita paruh baya serta Dewi dihujani dengan kelopak bunga mawar yang masih segar karena aroma harumnya begitu menyengat hidung. “Kejutan!” teriak pria tampan yang sedang memegang sebuket bunga mawar yang besar.
Cảm ơn
Ủng hộ tác giả để mang đến cho bạn những câu truyện hay
bagus
21/04
0sngt sng dgn liat apliksi ini
21/03
0seru
09/03
0Xem tất cả