logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Pilihan

Aruna berjalan di koridor dengan sangat hati-hati seraya melihat kanan dan kirinya. Ia berdoa semoga hari ini tidak bertemu dengan Aryasa dan teman-temannya.
“Heh! Tengil!” ucap seseorang dengan keras dari arah belakang.
Langkah kaki Aruna terhenti. Ia menggigit bibirnya kuat. Ia sangat mengenali pemilik suara tersebut. Perlahan Aruna memutar tubuhnya, melihat ke arah orang tersebut yang tak lain adalah orang yang tidak ingin ia jumpai saat ini.
“Gimana jawaban buat pilihan yang gue kasih kemarin?”
Aruna menguras otaknya untuk memberikan jawaban yang akan membuatnya selamat.
Aryasa memegang tangan Aruna dengan keras. Membuat kulit putih gadis itu memerah.
“Gue kasih waktu lo tiga detik buat jawab.”
“Kok lo jadi pemaksaan gini sih?!”
“Satu..”
“Dua..”
“Tig..”
“Oke. Gue mau jadi pembantu lo,” ucap Aruna terpaksa.
Aryasa tersenyum puas. Ia berhasil membuat gadis itu menjadi mainan barunya. Ia melepaskan tasnya dan langsung melemparkannya ke arah gadis itu. “Bawain tas gue ke kelas,” perintahnya.
Nio dan Qausar ikut melepaskan tasnya. “Nih bawain juga.”
Aryasa melihat kedua temannya itu dengan tajam. “Si tengil cuma boleh ikutin perintah gue, dan tengil khusus jadi pembantu gue,” ucap Aryasa.
“Ih! Nama gue bukan tengil. Nama gue itu..” belum selesai Aruna menyebutkan namanya, jari telunjuk Aryasa sudah hinggap dibibir mungil gadis itu.
“Stt! Gue nggak peduli nama lo siapa, nggak ada benefit juga yang gue dapat kalau tau nama lo,” ucap Aryasa.
Aruna mendengus kesal dan menjauhkan tangan Aryasa dari bibirnya. “Ngeselin banget sih lo!”
“Lo nggak usah banyak omong, cepat bawain tas gue ke kelas,” suruh Aryasa.
“Kelas lo dimana? Gue kan nggak tau kelas lo,” ucap Aruna.
Aryasa menghela napasnya berat. Ia langsung menarik pergelangan tangan Aruna. "Ayo ikut gue."
Kedua mata Nio dan Qausar membulat,untuk pertama kalinya dalam sejarah, mereka melihat Aryasa menarik tangan seorang gadis untuk mengikutinya.
“Sejak kapan Aryasa nggak haram megang tangan cewek?” tanya Qausar bingung.
“Kalau disentuh Laura berasa bukan muhrim, langsung ditepis. Giliran si tengil malah Aryasa yang gandeng duluan,” sahut Nio.
Di sepanjang koridor nampak ramai, beberapa pasang mata melihat Aryasa yang menggandeng tangan Aruna dengan erat. Tak sedikit dari mereka merasa iri, karena belum pernah ada seorang gadis yang bisa bergandengan dengan pria itu. Jangankan untuk digandeng, didekati saja Aryasa sangat susah.
Laura yang melihat kejadian itu nampak kesal. Ia yang sudah jungkir balik depan belakang untuk mendekati Aryasa saja tidak pernah digandeng, kenapa malah anak baru yang membuat masalah dengan Aryasa bisa sedekat itu?
“Omaygat! Kok bisa Aryasa gandeng tangan tuh cewek?” ucap Ezlin heboh.
“Pemandangan langka banget bisa lihat si pacarable pegang tangan cewek. Ah, sweet banget kayak diwattpad-wattpad gitu,” ucap Ansel.
Laura mendesis seraya menghentakkan kakinya dengan keras ke lantai. Moodnya pagi ini rusak begitu saja karena pemandangan buruk yang membuat matanya iritasi. “Gue nggak terima liat tuh cewek dekat sama Aryasa!”
*****
Aruna melepaskan tangan Aryasa dengan kasar dan juga melemparkan tas pria itu ketika sudah berada di depan kelas. “Udah ya, bye!”
Aryasa kembali menarik tangan Aruna, membuat langkah gadis itu terhenti. Ia tersenyum penuh arti ketika melihat bibir Aruna yang maju beberapa sentimeter.
"Ih! lo hobi banget sih narik tangan gue!" oceh Aruna.
“Bodo!”
Aruna memutar tubuhnya, berniat untuk segera pergi dari hadapan pria yang menyebalkan itu. Namun, belum sempat melangkahkan kakinya, kerah belakangnya ditarik.
Aruna menoleh seraya mendesis. “Ih! Apalagi?!” decaknya.
"Bel istirahat bunyi, lo harus udah stay di depan kelas gue," ucap Aryasa.
“Mau ngapain sih?”
“Nggak usah banyak omong!”
Aruna mendesis pelan. “Iya! Nanti gue tunggu di depan kelas. Puas?”
“Udah sana!” usir Aryasa.
“Lo manusia paling ngeselin di bumi!” ucap Aruna penuh penekanan.
Aryasa tersenyum puas karena merasa senang mempermainkan anak baru itu.
*****
Ketika bel istirahat berbunyi para murid pun langsung merapikan buku mereka dan menuju ke kantin.
Berdasarkan perintah Aryasa tadi pagi, setelah bel istirahat berbunyi, Aruna langsung berlari menuju kelas pria itu.
Laura bangkit dan menghampiri Aryasa yang tengah sibuk memainkan ponselnya. Gadis itu pun merangkul pundak Aryasa, "Kita ke kantin yuk," ajaknya.
“So- sorry gue telat,” ucap Aruna dengan napasnya yang terengah-engah.
Aryasa melepaskan rangkulan Laura, lalu menghampiri Aruna yang berada di tengah pintu.
Aryasa melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Pria itu menatap Aruna sinis. “Lo telat lima menit,” ucapnya dingin.
“Telat dikit doang,” ucap Aruna melakukan pembelaan.
“Dikit? Itu namanya nggak disiplin!” sahut Aryasa.
“Tadi tuh macet,” ucap Aruna.
Aryasa menoyor kepala Aruna pelan, membuat gadis itu merapikan rambutnya. “Jarak dari kelas lo ke kelas gue nggak sampai lima menit!”
“Lo nggak usah banyak omong, ayo ke kantin,” ucap Aruna seraya menempelkan jari telunjuknya di bibir Aryasa.
Kedua mata Laura dan teman-temannya membulat saat melihat perlakuan gadis itu pada Aryasa. Terlebih lagi gadis itu pergi bersama Aryasa ke kantin. Biasanya Aryasa hanya ingin ke kantin dengan Satria, Nio dan Qausar.
Aryasa berjalan di depan Aruna. Gadis itu pun menuruti Aryasa dan mengikutinya dari belakang.
Para murid perempuan yang berada di kantin melihat ketampanan Aryasa yang semakin hari makin mempesona.
"Aryasa makin dipandang makin candu banget sih."
"Nggak mau sama cowok cuek, tapi kalau cowoknya kayak Aryasa bisa dibicarakan dulu sih."
“Pesenin gue bakso sama es teh,” suruh Aryasa.
“Ish! Pesen sendiri kek!”
Aryasa melihat Aruna dengan tatapan dingin. “Nggak usah banyak omong, cepet pesen!”
“Lo nggak kasian apa sama gue?” lirih Aruna seraya memasang raut wajah sedih.
“Nggak.”
Aruna memajukan bibirnya beberapa sentimeter. Ia merasa menyesal karena masuk sekolah ini dan bertemu pria menyebalkan yang akan menggangu hidupnya selama satu minggu.
“Cepat pesan.” Aryasa mendorong tubuh gadis itu pelan seraya memaksa gadis itu untuk memesankan makanan dan minuman untuknya.
Aruna menuruti perintah Aryasa dengan terpaksa. Ia berjalan menuju gerai bakso dan memesan.
Selang beberapa menit akhirnya Aruna mendapatkan bakso yang ia pesan. Dari kejauhan gadis itu tersenyum seraya menunjukkan satu mangkuk bakso yang ia bawa.
Prang!
Suara pecahan mangkuk terdengar jelas membuat para murid yang berada di kantin melihat ke sumber suara.
Seorang pria menabrak Aruna dan membuat bakso yang Aruna bawa terjatuh. “Ih! Lo gimana sih jalan nggak liat-liat,” omel Aruna pada pria itu.
Pria itu melihat Aruna dengan sinis, tidak ada merasa bersalah yang terlukis di wajah pria itu. "Lo liat nih! Gara-gara lo bawa bakso nggak benar, jadi kotor sepatu gue!"
Mata Aruna membulat saat mendengar ucapan konyol dari pria yang menabraknya itu. "Kok nyalahin gue? Lo yang nabrak kenapa malah lo yang marah?" ucap Aruna tak mau kalah.
"Nggak usah banyak bacot! Bersihin!" ucap pria itu.
"Nggak!"
"Bersihin!"
Aruna menarik napasnya panjang, lagi-lagi ia harus menuruti kemauan dari orang-orang emosional di sekolah ini, daripada ia menambah masalah di sekolah ini.
Aruna berjongkok seraya ingin membersihkan sepatu pria itu, tapi seseorang mencegah Aruna untuk melakukan hal bodoh tersebut. “Jangan bego jadi orang!”
Aryasa menarik tangan Aruna, membuat gadis itu berada di belakang tubuhnya.
"Lo nggak usah ikut campur," ucap pria itu pada Aryasa.
Aryasa melihat pria itu seolah ingin menghajar wajahnya. "Emang kenapa kalau gue ikut campur?"
Aryasa menarik tangan Aruna dan mengarahkan gadis itu kepada pria yang tengah menatapnya tidak suka. “Lo jangan mau kalah, lawan dong! Bakso lo jadi tumpah gara-gara nih orang.”
Aruna melihat Aryasa heran, pria yang berada disampingnya bukannya membela malah memperkeruh suasana.
“Yaudalah kalau lo nggak mau ngelawan, biar gue aja,” ucap Aryasa seraya menarik Aruna kembali ke belakang tubuhnya.
Pria itu malas berurusan dengan Aryasa yang pasti akan berakhir dengan perkelahian yang akan membuntut ke ruang BK.
“Bangsat!” ucap pria itu seraya berjalan meninggalkan Aryasa dan Aruna dengan emosi yang tertahan.
Aryasa menyenggol tubuh Aruna, membuat gadis itu melihatnya. “Apa?” tanya Aruna ketus.
“Lembek banget lo kayak tempe mendoan! Disuruh lap sepatu nurut! Orang kayak gitu tuh harusnya dilawan.”
Aruna hanya bisa menghela napasnya seraya melihat pria itu dengan lirih. “Gue nggak mau nambah masalah dan berurusan sama orang-orang emosional di sekolah ini.”
“Masalah lo di sekolah ini cuma sama gue, jadi siapapun yang kurang ajar dan memperlakukan lo nggak baik selain gue, harus lo lawan!”

Komento sa Aklat (265)

  • avatar
    Aura cantikaPasya

    bagusss banget aku sukaa bacanyaa

    17/09

      0
  • avatar
    Montekchou

    kereb

    31/07/2025

      0
  • avatar
    WahyudiImam

    bagus

    09/06/2025

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata