logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Berbicara Tentang Kelemahan

Menampilkan raut tengah berpikir, Yonna mengingat apa yang Rasia katakan mengenai apa ucapan Gisel sebelum nyawanya terenggut.
"Kamu tadi bilang apa, Yon?" tanya Akia yang tidak begitu mendengar jelas perkataan Yonna.
"Kalian ingat sama yang aku ceritakan waktu itu, nggak?"
Malilah membenarkan membenarkan posisi bantal yang dipeluknya. "Yang mana? Banyak yang sudah kau ceritakan ke kita, tahu! Ngomong yang jelas."
"Tentang Pertez," jawab Yonna.
Terlihat tertarik, Petunia mendekat saat menangkap tubuh Yonna mulai condong ke depan. Seakan hendak menceritakan satu hal yang begitu rahasia di dalam ruangan penuh, walau kenyataannya tidak ada orang selain mereka berempat di sana.
"Oh, waktu kita teleponan itu, ya?" terka Malilah.
"Iya."
"Ya-yang mana?" Petunia tidak pernah mendengar Yonna bercerita tentang Pertez.
Mersa tidak enak, Yonna meminta maaf pada Petunia. Karena waktu itu mereka tidak menambah Petunia dalam panggilan video mereka.
"Maaf, Petunia. Waktu itu kami lupa menambahkanmu ke dalam panggilan kami, aku sungguh lupa."
Tersenyum paham, Petunia membalas, "Ah, ti-tidak mengapa. S-saya mengerti, lagipula beberapa wa-waktu terakhir itu sa-saya memiliki pekerjaan di-di rumah."
"Maafkan kami, Petunia," mohon Akia berikutnya.
Mengangguk patah, Petunia pun berucap, "Ka-kalau begitu ceritakan y-yang tadi."
"Baik. Jadi waktu itu Rasia pernah dengar Gisel menyebutkan satu nama yang asing banget di telinganya. Begitu juga kami, kalau Rasia nggak bilang, kami pasti nggak akan tahu sampai sekarang."
"Dan… ," sambung Malilah, "satu nama itu adalah, Pertez."
Melihat perubahan di wajah Petunia, Akia mengerutkan dahi. "Kamu pernah mendengar nama itu, Petunia?" tanyanya kemudian.
Menggeleng cepat, Petunia mengaku tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya. "Sa-saya tidak pernah me-mendengarnya."
"Terus, kenapa kau kayak gitu mukanya?" interupsi Malilah.
"N-nama itu a-aneh sekali, s-saya tidak merasa n-nama itu cocok di-digunakan."
"Nah, karena itu kami bingung. Nggak pernah terdengar sebelumnya, bahkan dari pihak Gisel sekalipun nggak ada yang punya nama itu. Bukankah aneh kalau seseorang menyebutkan sesuatu yang nggak punya hubungan dengannya sama sekali?"
"Mu-mungkin dia tidak s-sadar?"
"Tapi kan, waktu Gisel masih sadar walau sudah sekarat," timpal Malilah.
"Mungkin maksud Petunia dengan tidak sadar itu seperti mengigau atau berkhayal. Secara kasatmata dia terlihat sadar, tetapi sebenarnya di bagian dalamnya sudah tidak teratur lagi. Seperti kita sekarang."
"Seperti orang yang nggak waras, Ki?" Malilah menatap pada Akia.
"Tidak menyerupai orang gila juga, Lil. Tetapi kurang lebih," koreksi Akia kemudian.
Melipat kedua tangannya di depan dada, Yonna menelengkan kepala. "Tapi setahuku orang yang mengalami itu, mereka yang sangat kekurangan stok oksigen. Sampai akhirnya kesadaran itu mulai berkurang, mangkanya ketika bertindak atau berbicara itu jadi nggak jelas."
Mengangguk setuju, Petunia kembali memakan biskuit yang sempat tidak dihiraukannya.
Ikut mengunyah biskuit, Yonna berucap lagi, "Ya, tapi setahuku aja, loh. Aku juga nggak begitu ngerti alasan orang jadi kehilangan kesadaran, bahkan waktu masih membuka mata."
"Tapi kan, Gisel memang rada aneh."
Mendapat pandangan dari ketiga temannya, Malilah melanjutkan, "Coba deh, kalian pikir. Apa alasan logis seseorang bisa bunuh diri di depan umum? Ada nggak? Nggak, 'kan?"
"B-biasanya kalau mau bu-bunuh diri, se-selalu cari tempat tertu-tutup."
Menepuk tangannya sekali, Malilah menunjuk Petunia sampai membuat murid pindahan itu terkejut.
"Nah! Itu yang aku maksud. Mau seberat apa pun masalah seseorang, nggak pernah tuh, aku dengar kasus bunuh diri di muka umum. Si roh Vasha aja deh, contohnya. Kurang berat apa masalah yang dia punya, tetap cari tempat yang sepi. Atau nggak misalnya, orang lompat dari atas gedung, tahu-tahu pas kita lewat ada orang jatuh," ucap Malilah panjang lebar.
"Betul juga, sih. Makin nggak masuk akal jadinya kalau kita mikirin gini." Yonna turun dari kasurnya, mengambil sebuah laptop.
"Kalau begitu, kita tidak perlu memaksakan diri berpikir. Biarkan semua ini menjadi urusan polisi dan pihak yang berwajib. Yonna, saya ingin pinjam toilet kamu."
"Masuk aja, Ki. Ternyata kau dari tadi nahan pipis," canda Yonna membuat Akia tertawa membenarkan.
Selepas Akia memasuki kamar mandi, Yonna meletakkan laptop di ujung ranjang. Ia meminta agar Malilah memilih sebuah film dari aplikasi tayang video berbayar.
"Kau kan, pintar milih film, Lil. Cari yang seru, dan pastinya menghibur."
Mengangguk setuju, Malilah mulai mengetikkan sejumlah kata. Membiarkan Malilah fokus pada pencariannya, Yonna mengajak Petunia mengobrol.
"Petunia, setelah lulus nanti kau ada rencana kuliah di mana?"
"Em, s-saya tidak yakin, Y-Yon. Papi sa-saya belum mengajak di-diskusi untuk itu."
"Kau maunya di mana? Maksudku atas pilihanmu sendiri."
"H-hukum," jawab Petunia singkat.
"Wow, keren! Jarang sekali aku mendengar ada yang mau masuk hukum," kagum Yonna.
"Siapa yang ingin masuk hukum?" tanya Akia yang sudah selesai dengan urusannya di toilet.
"Petunia, Ki. Aku nggak pernah kepikiran mau ambil hukum, takut banget. Pasti berat ya, masuk sana?"
"Lu-lumayan, Yon."
"Kalau boleh tahu, apa yang membuatmu tertarik untuk mengambil jurusan hukum, Petunia?" Akia duduk di samping Petunia.
Malilah yang sudah memilih, ikut menimpali, "Memangnya kita butuh alasan pasti buat masuk begituan?"
"Tentu, Lil. Alasan itu yang akan membuat kamu memiliki tekad kuat untuk menggapainya, jadi setiap kita merasa lelah, kita bisa kembali membuka lembaran alasan-alasan tadi. Supaya kita bisa membangkitkan semangat dan kembali berusaha."
"Oh, aku nggak punya alasan yang pasti buat lanjut kuliah. Tapi aku pengin jadi pembawa berita."
"Itu bisa jadi penguat, Lil. Kalau kau Petunia, alasan terkuat yang bikin kau terpikir untuk menyentuh hukum, apa?"
Menatap Yonna yang tengah bertanya padanya, Petunia terlihat merenung sejenak. "Sa-saya ingin m-menegakkan keadilan, i-ingin melindungi orang-orang y-yang saya sa-sayang."
"Sederhana, tapi tujuan kamu sungguh mulia. Saya kagum padamu. Jadilah penegak hukum yang adil dan bijaksana, Petunia," harap Akia tulus.
"B-baik!" balas Petunia semangat, senyum lebar tercetak jelas di wajahnya.
Namun, tiba-tiba saja keadaan di dalam kamar menjadi gelap gulita. Membuat Akia berteriak kencang, penuh kepanikan. Dadanya terasa sesak, peluh mengalir deras menuruni wajahnya. Kedua tangan Akia dingin dan bergetar, mencoba meraih tangan siapa saja yang dapat dijangkau.
Merasakan tangan dingin menyentuh permukaan kulitnya, Petunia mengerutkan dahi. Namun, tak ayal ia menerima tangan itu dan menggenggamnya menyalurkan kehangatan.
Dengan bantuan pencahayaan dari senter ponsel, Yonna mencoba turun ranjang dan memeriksa keluar kamar.
"Tolong … siapa saja hidupkan lampunya," lirih Akia.
Dengan tergagap, Yonna mencoba melangkah keluar dengan hati-hati. Keadaan rumah begitu gelap, tanpa cahaya setitik pun.
"Aish, kenapa aku lupa bawa ponsel tadi?" keluh Yonna, jika ia membawa ponsel dan menggunakan cahaya dari sana, ia pasti dapat melihat lebih mudah.
"Ma!" teriak Yonna mencari keberadaan mamanya.
Tidak berselang lama setelah panggilan tersebut, lampu di rumah mereka tiba-tiba menyala kembali. Seluruh isi ruangan dapat terlihat, hingga ke bagian sudutnya.
"Nak, kamu baik-baik saja?" Yulissa muncul dari arah dapur.
"Iya, Ma. Ini kok, tumben lampunya mati? Ada pemadaman listrik bergilir, ya?"
"Tidak, Nak. Sepertinya tadi Mama dan bibi menggunakan listrik terlalu banyak, jadinya mati. Tapi tadi Pak Gading sudah menghidupkan kembali listriknya, setelah kami kurangin beberapa perangkat," jelas Yulissa atas apa yang terjadi.
Membuka mulutnya membentuk huruf o, Yonna mengangguk lalu izin kembali ke kamar. Tiba di dalam, i ia mendapati Akia yang tampak kelelahan usai didera kepanikan.
"Akia, ada masalah?" tanya Yonna penuh khawatir.
Malilah menoleh pada kekasih Luther tersebut. "Sejak mati lampu tadi, dia sudah kayak gini kata Petunia," jawabnya masih mengelus lembut punggung tangan Akia.
mendengar namanya disebut, Petunia mengangguk membenarkan.
Berjalan cepat ke meja yang tak jauh dari pintu, Yonna mengambil segelas air mineral. Memberikannya kepada Akia, setelah perempuan itu merasa cukup tenang. Akia pun menyambutnya dengan tangan yang masih bergetar, namun, juga meneguknya hingga habis.
"Kelihatannya ketakutanmu pada kegelapan masih ada. Benar, Ki?" tanya Yonna menunggu temannya itu menjawab.
Akia mengangguk lemah, denyut jantungnya mulai normal. Ia membutuhkan waktu hingga beberapa menit untuk menetralkan diri setelah mendapatkan kembali penerangan. Menyeka peluh di dahi, Akia mengungkapkan rasa takutnya pada kegelapan yang sulit untuk hilang.
"Saya tidak tahu bagaimana caranya menghilangkan fobia ini, sudah mencoba beragam cara tetap saja masih merasa panik dan cemas berlebih. Tadi saja saya hampir menangis, beruntung lampunya segera menyala."
Petunia menyerahkan selembar tisu lagi pada Akia. "A-apa kamu su-sudah mengunjungi p-psikiater?" tanyanya sekaligus memberi saran jika memang Akia belum pernah menemui psikiater.
"Hanya sekali, saya tidak memiliki uang yang cukup untuk terus-menerus mendatangi ahli psikologis. Waktu itu juga saya sudah diberi obat anti depresan juga penenang, bila ketakutan saya semakin sulit diatasi," balas Akia.
"Ya, ampun, Kiya. Kenapa nggak bilang sih, sama kita?" seru Malilah frustrasi, "kau bisa bilang, pasti kami bantu," tambahnya lagi.
Mengangguk setuju, Yonna ikut menimpali, "Jujur, aku kira kau sudah nggak fobia gelap lagi, Ki. Kau nggak pernah kasih tahu kita, nggak pernah kelihatan juga. Sumpah, Ki, kami nggak tahu. Kalau aja kami lebih peka, pasti kami bantu."
"Ini yang saya tidak inginkan, teman-teman."
"Loh? Kenapa?" Malilah hampir menyatukan kedua alisnya.
"Saya tidak mau kalian jadi repot, saya tidak mau kalian jadi khawatir seperti ini-"
"Justru dengan begini, kau yang nggak bilang apa-apa kami malah makin khawatir, Ki," serobot Malilah.
"Betul! Justru kami merasa sudah gagal jadi teman, Ki. Di saat kayak gini, kami malah nggak tahu. Nggak bisa bantu," timpal Yonna.
Ikut peduli, Petunia bertanya, "Apakah o-obat itu masih a-ada, Akia?"
Mendengarnya, Akia menggeleng lemah. "Sudah habis, sejak satu bulan lalu. Tapi kalian jangan khawatir, sekarang sudah jauh lebih baik. Walau masih ada di dalam diri saya, selama saya juga memiliki kalian, semua akan baik-baik saja."
"Ti-tidak bisa begitu, K-Ki," tolak Petunia, usai membenarkan posisi bajunya yang tergeser, ia melanjutkan, "ba-bagaimanapun ini harus d-diobati. A-apa yang akan ka-kamu lakukan jika ti-tidak ada kami d-di sekitarmu saat f-fobia ini menyerang?"
"Nah! Betul itu," seru Malilah yang setuju.
"Tapi saya tidak ingin merepotkan kalian, semua ini sudah cukup bagi saya, teman-teman." Akia terus saja menolak.
"Ki," panggil Yonna, setelah Akia menoleh, barulah Yonna berucap, "aku sudah menganggap kau, Malilah, Petunia, seperti saudara sendiri. Aku yakin, kalian juga begitu. Wajar kalau kami peduli, Ki. Artinya kami sayang sama kau, jangan biarkan rasa sayang ini terbuang percuma. Biarkan kami terus menyalurkan kasih sayang, dengan saling membantu dan menerima."
"I-iya, mungkin saya o-orang baru bagi ka-kalian. Tapi s-saya juga sudah m-menganggap kita ini sa-saudara. Sa-saya tidak memiliki saudara l-lain, biarkan saya menunjukkan ra-rasa syukur itu, K-Ki."
Tersenyum haru, Akia memeluk Petunia, diikuti oleh yang lain. "Terima kasih banyak, semuanya. Saya beruntung punya kalian."
"Di antara kita, nggak perlu deh, bilang terima kasih. Yang kita lakukan juga bukan untuk mendapatkan balasan, murni karena rasa sayang," ujar Malilah bukan bermaksud bercanda.
"N-nanti saya akan me-membawa kamu ke p-psikiater lagi, Ki. P-Papi saya kenal sa-satu yang paling terkenal, k-kita bisa ke sana sa-saja," tawar Petunia sembari menggenggam tangan Akia dengan lembut.
"Boleh, nanti kau minta kontaknya sama papi kau. Biar Yonna yang buat buat janji, kita pergi pakai mobilku, gimana?"
Menatap Malilah, Yonna mengangguk setuju. "Setuju! Biar aku yang hubungi psikiaternya, buat janji untuk Akia. Dan kau, Ki, duduk manis nunggu hari perjanjiannya tiba. Masalah ini, nggak bisa kau abaikan gitu aja, harus ditangani."
Menatap ponselnya yang berbunyi, Petunia bebicara, "Saya s-sudah mendapatkan kontaknya u-untuk membuat j-janji, kamu m-mau diperiksa kapan, K-Ki?"
Melebarkan matanya takjub, Malilah senang melihat kerja Petunia yang begitu cepat. Ia sungguh tidak menyangka hal tersebut.
"Saya bisa membuat janji kapan saja, selama psikiaternya tidak masalah dengan itu. Kemarin, bos saya di restoran sudah menambah jumlah pramusaji. Jadi, saya bisa meminta izin cuti kapan saja, siang atau malam," jawab Akia tenang.
"Lenih cepat, lebih baik, Ki. Besok gimana? sepulang dari berkunjung ke pusara ayahku."
"Apa tidak apa?" tanya Akia yang tidak ingin mengganggu waktu Yonna.
"Kenapa harus jadi apa-apa? Tentu nggak papa, lah, Ki."
"B-biar saya s-saja yang menghubunginya, Yon. Ta-tadi Papi kirim pe-pesan, kalau mau ce-cepat pakai nama Pa-Papi saya sa-saja."
"Kalau gitu, silakan kau aja yang buat janji, Petunia. Kalau kau yang ngomong sendiri pasti enak, dokternya langsung setuju."
Merasa tidak nyaman sebab telah merepotkan, Akia meminta maaf. "Maaf sudah merepotkan kalian."
"Kau lupa apa gimana, ya, Kiya. Kan, aku sudah bilang, santai aja. kita ini sodara."
"Iya, Ki. Nggak perlu merasa nggak enak."
"Ngomong-ngomong soal fobia, aku juga punya satu, dan ini aneh banget."
Mendengar itu, Petunia ikut menoleh bersama yang lainnya.

Komento sa Aklat (26)

  • avatar
    ArifinFadhil

    apk nya bagus

    17/10/2024

      0
  • avatar

    jelek

    27/12/2023

      0
  • avatar
    RadiansyahRafi

    iya

    11/04/2023

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata