"Aku mungkin nggak bisa menyembuhkan lukamu, cantik. Tetapi ingat, aku selalu berada di sini. Aku ngg akan pernah melakukan kesalahan yang sama dengan cara meninggalkanmu." "Aku tahu itu, Luther. Jika saja waktu itu aku nggak melakukan kesalahan, kamu pasti juga nggak akan marah." "Kesalahpahaman." "Iya, tetap saja." Luther menarik tubuh Yonna agar lebih merapat dengannya. "Seharusnya aku nggak menaruh curiga padamu, Yonna. Komunikasi dan kepercayaan itulah yang lupa untuk aku perhatikan." "Tak apa, ini wajar. Aku juga jadi berpikir kalau kamu marah, berarti kamu masih sayang padaku. Nggak mau kalau aku bersama laki-laki lain." Yonna meraba rahang Luther dengan lembut. "Siapa yang mau miliknya dimiliki oleh orang lain?" "Nggak ada." Keduanya tertawa kecil. Mencari posisi nyaman, Yonna menyembunyikan wajahnya di dada bidang Luther. "Besok, kamu jangan marah lagi sama Tante Yulissa, ya?" pinta Luther memancing Yonna untuk menghela napas. "Kenapa aku harus? Aku kesal sekali padanya, Luther," gumam Yonna menahan kesal. "Dia ibumu, cantik." "Nggak peduli! Ah, puas sekali rasanya aku bisa mengeluarkan semuanya tadi." "Nah, karena kamu sudah puas. Bisakah kamu mulai memaafkannya? Aku mengerti yang kamu rasakan ini bukanlah hal yang sederhana, tetapi apa nggak terasa lebih berat jika kamu begini. Hm?" Mendongakkan kepalanya menatap wajah Luther, Yonna memanyunkan bibirnya tak terima. "Ya… Memang nggak lebih baik dari sebelumnya, tapi aku masih marah!" "Cantik." "Kenapa mamaku tidak seperti mamamu saja? Tante selalu ada di rumah. Ketika baru bangun tidur kamu bisa melihatnya tengah membuat sarapan di dapur, sepulang sekolah kamu bisa menemuinya menyiapkan meja makan untukmu, dan malam kamu masih dapat melihatnya bahkan mengobrol bersama. Ah, aku iri padamu, Luther." Luther tersenyum manis, dielusnya puncak kepala Yonna. "Jangan iri, mamaku lebih sayang padamu. Dia selalu menanyakanmu, memintaku mengajakmu ke sana. Hampir setiap hari membahasmu. Seharusnya aku yang cemburu." "Benarkah itu?" "Iya, cantik. Bagaimanapun juga, mamaku akan menjadi mamamu." "Tapi-" "Setiap orang tua memiliki cara mereka sendiri dalam mengurus anaknya. Jika bagi tante Yulissa yang terpenting adalah masa depanmu, maka dapat dipastikan bahwa dia sudah berusaha keras demi hidupmu esok hari, cantik." "Mama mengumpulkan setumpuk uang, Luther. Lalu membuang-buang waktu yang masih bisa kami gunakan bersama." "Percayalah, dia juga nggak menginginkan ini terjadi. Apalagi setelah kamu mengucapkannya tadi. Setiap kata yang kamu keluarkan, pasti memberi pukulan untuknya." "Maksudmu aku sudah bertindak jahat? Kenapa kamu malah mendukung mamaku, Luther?" Yonna mendudukkan dirinya, diikuti oleh Luther. "Aku nggak mendukungnya, juga nggak menyalahkanmu. Saat ini, aku nggak berpihak kepada siapa pun, cantik. " "Kamu kejam! Aku pacarmu, seharusnya kamu mendukungku," gumam Yonna tidak terima. Menangkup wajah kekasihnya, Luther mengecup bibir Yonna kilas. "Jangan cemberut terus, dong. Baiklah, aku mendukungmu untuk berbaikan dengan tante Yulissa." "Luther!" "Shh, dia yang membuatmu tetap dalam keadaan cukup. Untuk melanjutkan hidup, terkadang kita nggak bisa terus menghindar, menolak apa yang sudah dihadapkan pada kita. Salah satunya ya, bersyukur, perbaiki, jalanin. Itu saja." "Aku- aku nggak menghindar, kok." "Mungkin, hanya saja waktumu akan semakin terbuang percuma jika terus seperti ini. Kamu sudah melampiaskan semuanya, 'kan? Sekarang saatnya memperbaiki, lakukan bersama. Lupakan yang kemarin." "Nggak semudah itu, Luther!" Yonna memukul dada Luther, tetapi tidak sampai membuat laki-laki itu mengaduh kesakitan. "Iya, itulah yang memang seharusnya kamu rasakan. Di situ letak ujiannya, cantik. Memang akan sakit, tetapi dengan usaha yang sudah kamu kerahkan, kamu pasti nggak bakal menyesal." "Kenapa kamu yakin?" "Aku pernah melaluinya, Yonna." Luther membawa Yonna untuk kembali berbaring, lalu melanjutkan, "rasanya teramat berat, bahkan sempat terpikir jika lebih baik mati saja. Namun, saat kamu memikirkannya sekali lagi, masalah yang tertinggal setelah kematianmu ternyata nggak ikut pergi bersamamu. Justru membebani pihak lain." "Jadi…," gumam Yonna meminta kesimpulan dari Luther. "Jadi, jangan buang-buang waktu dan tenagamu, cantik. Hidup kita masih lama, banyak tenaga yang dibutuhkan. Maaf, tapi dari segi darah, kamu hanya memilikinya sekarang. Kenapa nggak memanfaatkan kesempatan kedua ini?" "Bagaimana kalau Mama akan sering pergi lagi? Nggak ada alasannya untuk pulang, Ayah sudah nggak ada." "Kenapa kamu malah mikir begitu, sih?" tanya Luther lembut. "Ya, karena Mama cuman mentingin uang." "Aku bukan mama kamu, tapi aku bisa lihat betapa sayangnya dia kepadamu. Hanya saja caranya menunjukkan kasih sayang itu agak berbeda dari yang biasanya kamu temui. Yakinlah, tante Yulissa akan sering di rumah bersamamu." "Apa aku bisa memercayaimu?" "Apa perhitunganku selalu melenceng?" "Nggak." "Yasudah, sekarang kamu tidur. Besok kita pastikan apakah perhitunganku benar atau nggak." Yonna mengangguk setuju, dipeluknya perut Luther setelah laki-laki itu mengangkat naik selimut untuk menutupi separuh tubuh mereka. Usai mengecup kening Yonna, Luther tiba-tiba melenguh. "Jangan letakkan pahamu di sana," lirih Luther memejamkan kedua matanya. "Uh? Ini- keras?" cicit Yonna bertanya. "Kalau begitu, jauhkan kakimu." "Aku ingin memelukmu, Luther." Mendesah frustrasi, Luther memindahkan kaki Yonna agar menindih pinggangnya. Mengangkat pacarnya itu dengan posisi kepala yang setara dengannya. "Ini lebih baik," gumam Luther dengan suaranya yang mulai memberat. "Kamu nggak mau melakukannya?" tanya Yonna hati-hati. Mengarahkan wajahnya kepada leher Yonna, Luther berucap, "Jangan memancingku, cantik. Dalam posisi ini, aku bisa memasukimu kapan saja." "Em, lalu-" Luther mendesis. "Kamu mau?" Menggeleng cepat, Yonna merasakan kedua pipinya panas menahan malu. "Anu, maksudku bukan yang itu," tolaknya kemudian. "Terus, yang mana?" Suara Luther kian berat. "Nggak jadi, tidur saja!" Terkekeh, Luther memainkan lidahnya pada permukaan kulit Yonna. "A- Luther! Apa yang- eungh, aku mau tidur." "Tadi kamu bilang mau, 'kan? Jika bukan yang itu, maka yang lain," ujar Luther ambigu. Jemarinya kini sudah bergerak menelusuri punggung Yonna, kemudian turun pada paha kekasihnya tersebut. "Luther," panggil Yonna berharap Luther akan berhenti bermain di sekitaran lehernya. "Hm?" "Ti-tidur." Merasakan kalau Yonna menahan diri agar tidak mengeluarkan suara-suara yang dapat membangkitkan dirinya, Luther pun beralih ke bibir manis perempuan itu. Tidak dapat berbicara, Yonna akhirnya menerima perlakuan Luther tersebut. Ketika keduanya mulai kehabisan udara, Yonna mendorong dada Luther agar menjauh. "Aku mau tidur." "Lagi," rengek Luther, dia belum ingin tidur. ///// "Aku pulang dulu, kamu ingat yang kita bicarakan semalam, 'kan?" Luther mengacak rambut Yonna hingga berantakan. "Ish, iya. Aku bakalan coba." "Okay. Mereka jadi menginap malam ini?" "Harus!" "Kalau begitu, aku nggak berkunjung dulu, ya?" "Kamu ada rencana di luar?" "Hm, sama Clovis. Kalau Dovis tertarik, dia juga ikut." Menatap Luther khawatir, Yonna antara yakin dan tidak jika hubungan kekasihnya itu dengan Clovis sudah baik-baik saja. Seperti sebelumnya. "Aku sudah ngobrol sama Clovis, kamu nggak perlu khawatir. Dan rencana, lusa, kami akan ikut kamu berkunjung ke pusara ayahmu." "Terima kasih." "Aku pulang dulu, bye! Jangan lupa makan." Luther mengecup dahi Yonna, lalu melenggang menaiki motornya dan pulang. ///// "Ma," panggil Yonna menemui sang mama di dapur. "Iya, sayang? Kamu lapar? Mau Mama masakkan?" "Yonna mau buat roti lapis aja, Ma." Yonna hendak mengambil selembar roti tawar, tetapi Yulissa merebutnya. "Biar Mama aja yang buatkan, kamu duduk. Bi! Tolong siapkan Yonna susu cokelat hangat!" teriak Yulissa berikutnya. Tidak perlu menunggu lama, bibi keluar membawa segelas susu cokelat. Terlihat matanya sembap, bibi pasti teringat akan tuannya yang terbunuh tanpa sebab tersebut. "Teman-teman kamu menginap malam ini, ya, sayang?" Menarik napasnya dalam, Yonna mengangguk pelan. "Iya," jawabnya singkat. "Nanti Mama buat kudapan untuk kalian, jadi tidak perlu beli di luar." "Nggak usah, Ma. Nanti Yonna belanja sendiri aja." "Nurut aja, biar lebih sehat. Mama juga sudah sedia bahan-bahannya, kalau perlu kasih tahu mereka tidak usah bawa buah tangan kemari. Mereka sudah banyak bantu kamu selama Mama tidak di sini. Sekali-sekali, gantian." Yonna menatap roti lapis yang baru saja diletakkan oleh Yulissa ke atas piring di hadapannya. Lalu naik menatap sang mama sendu. "Ma," panggil Yonna kemudian. "Iya, Nak?" Yulissa menduduki kursinya. "Maaf, kemarin Yonna nggak bisa tahan ucapan sendiri. Yonna jadi marah-marah, tanpa mikir perasaan Mama gimana nantinya. Maaf. Yonna bener-bener nggak bisa menahan diri semalam." Menurunkan gelas yang hampir menyentuh bibirnya, Yulissa tersenyum tulus sembari meraih tangan Yonna. "Mama juga minta maaf, Nak. Akar masalahnya di sini adalah karena Mama, kamu tidak perlu merasa bersalah atas itu. Maafin Mama, ya?" Yonna mengangguk pelan, menatap ujung mata sang mama yang mulai berair. "Kamu mau kan, kalau kita mulai dari awal? Kita perbaiki semuanya. Mama sadar kita hanya memiliki satu sama lain, jadi tetaplah di sisi Mama, ya? Maafkan Mama," mohon Yulissa. "Iya, Ma. Maaf, Yonna sudah jadi anak yang nggak bersyukur." Yonna memeluk Yulissa erat. Bibi tersenyum simpul mendapati tuan dan nonanya sudah kembali akur, saling memaafkan dan menerima satu sama lainnya. "Maafin Ayah kamu juga, ya?" Air muka Yonna berubah menjadi murung, mengingat ayahnya. "Sebenarnya apa alasan orang-orang membunuh? Kenapa mereka menginginkan Ayah? Ada apa dengan kota ini, Ma?" Yulissa berlutut ke lantai, dengan Yonna yang menduduki kursi. Memegang tangan anaknya, Yulissa menghela napas lalu tersenyum. "Banyak faktor yang dapat menyebabkan seseorang ataupun sekelompok orang melakukan kejahatan itu, sayang. Tetapi untuk masalah yang terjadi akhir-akhir ini, Mama pun tidak dapat memikirkan apa alasan logis bagi mereka melakukannya," ucap Yulissa lembut. "Yonna nggak tahu, juga terlalu takut untuk mencari tahu. Apa cuma di sini aja, atau teror ini terjadi di tempat lain?" Menduduki kursinya, Yulissa meminta Yonna segera memakan roti lapisnya sebelum melanjutkan berbicara. "Setahu Mama, kota ini yang memiliki tingkat kematian lebih banyak dari kota lainnya. Jiwa mereka terlalu gelap untuk menghentikan aksi bejat ini, Nak." "Yonna takut kalau mereka nggak berhenti, apakah kita masih bisa selamat, Ma? Yonna nggak mau dipisahin sama Mama, Luther, teman-teman semua." "Mama juga sama, sayang. Siapa ingin dipisahkan dari orang-orang tersayangnya? Tidak ada." Yulissa terkekeh kecil, lalu melanjutkan, "kamu sepertinya lebih melankolis beberapa waktu ini." Menelan makanannya, Yonna mengedikkan bahu. "Nggak tahu, Ma. Akhir-akhir ini, Yonna banyak Takutnya." "Yasudah, jangan berpikir terlalu banyak. Nanti kamu bisa stres, loh." "Hehe, iya, Ma. Sekarang Yonna sudah jauh lebih tenang. Makasih, Ma." "Kalau begitu, mau bantu Mama buat kudapan untuk kalian nikmati nanti malam?" Mengangguk semangat, Yonna menyetujui ajakan sang mama. "Mau!" "Kamu habiskan itu dulu, nanti kita sama-sama buat. Dibantu Bibi juga, biar makin banyak yang bisa dimasak." "Malilah pasti senang, Ma." Yulissa tertawa, "Anak itu memang suka makan, tidak ada salahnya kita turutin kesenangan dia. Oh iya, perempuan yang satu itu, teman baru kamu?" "Yang mana, Ma?" Yonna membersihkan sekitar bibirnya dengan tangan. "Itu loh, yang kemarin banyak diam." Mengingat bahwa Petunia memang tidak pernah datang selain hari di mana Yonna tahu tentang ayahnya, ia akhirnya paham siapa yang tengah dibicarakan sang mama. "Oh! Dia Petunia, Ma. Anak baru, dia memang pendiam. Tapi baik banget orangnya." "Pantes Mama tidak kenal dia, kayak asing. Berteman yang baik, ya, Nak?" "Iya, Ma. Pasti." "Ayo, kita ke dapur." Tiba di dapur, Yonna membersihkan bekas sarapan mereka lebih dahulu. Barulah ikut Yulissa menyiapkan bahan-bahan di atas meja dapur. "Bi? Nanti saja, istirahat aja dulu," tahan Yulissa saat bibi hendak membantunya mengolah adonan. "Nggak papa, Bu. Cucian juga sudah selesai, daripada nggak ada yang dibuat, lebih baik ikut Ibu masak kudapan buat Non Yonna." "Kalau capek, istirahat ya, Bi." ///// Setelah memasukkan dua loyang berukuran sedang ke dalam oven, Yonna memandangi Yulissa dengan teliti. Wanita itu tidak lagi terburu-buru meninggalkan rumah, tidak lagi meminta bibi memasak makan siang hingga malam untuknya seorang. Kini, Yulissa tidak lagi membahas mengenai pekerjaan. Berpikir kalau sang mama tidak mungkin meninggalkan pekerjaan yang sudah menjadi kebiasaannya, Yonna pun mempertanyakan mengenai hal tersebut. "Mama, tidak pergi ke kantor?" Menoleh ke arah Yonna sebentar, Yulissa menjawab, "Mama izin cuti beberapa hari, Nak. Terlalu sibuk dengan dunia luar, Mama jadi mengabaikan apa yang seharusnya diperhatikan. Mama juga sedang merangkai kebijakan baru, untuk dapat bekerja pada waktu yang lebih ideal. Juga, agar bisa sesekali bekerja dari rumah. Doakan semoga berhasil ya, Nak?" Yonna sadar bahwa ia tidak mungkin meminta Yulissa berhenti bekerja, karena pada dasarnya mereka masih membutuhkan uang. "Ponsel kamu di mana?"
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
apk nya bagus
17/10/2024
0jelek
27/12/2023
0iya
11/04/2023
0Tingnan Lahat