logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Tersampaikan

"Bareng kita aja, ya, Tante?" Malilah menawarkan.
Menatap wajah teman Yonna itu, Yulissa mengangguk setuju.
Keadaan di dalam mobil sangat hening, tidak ada dialog sedikit pun yang tercipta. Bahkan bisikan pun tidak ada. Semuanya diam, seakan menikmati rintikan hujan yang mulai turun deras.
Di belakang, Luther mengikuti mobil Malilah. Hatinya tidak tenang, begitu khawatir akan kondisi Yonna.
"Kalian jangan pulang dulu, ya? Baju kalian basah, ganti pakai punya Yonna aja di kamar."
"Ayo," ajak Yonna meminta teman-temannya ikut ke kamar, kecuali Luther.
Laki-laki itu sadar diri akan gendernya, jadi dia memilih membuka jaketnya dan menunggu di sofa.
Memasuki kamar, Yonna langsung menerima pelukan dari ketiga temannya. Mendapati itu, ia kembali menangis.
"Aku- aku nggak tahu gimana masa depanku kalau sekarang aja, nasibku udah kaya gini," gumam Yonna di sela tangisnya.
Melepaskan pelukan, mereka mendudukkan Yonna di tepi ranjang. Petunia mengambil kardigan yang tergantung di belakang pintu, memasangkannya pada Yonna.
"Kamu jangan berpikir terlalu jauh dan buruk, Yon. Kita memang tidak tahu apa yang akan kita hadapi di masa depan, tetapi kita juga tidak diminta untuk berprasangka buruk akan nasib sendiri." Akia merapikan anak rambut Yonna yang berhamburan.
"Betul," tambah Malilah, "aku nggak tahu sesakit apa hatimu, aku juga nggak bisa bilang kalau kau atau kita semua bisa melalui ini dengan mudah. Aku cuma bisa bilang kalau kami selalu ada di sini, Yon. Kami nggak akan ke mana-mana. Kalau kau mau nangis, silakan. Mau teriak juga boleh, biar aku yang temani."
"Ya-yang tidak boleh ka-kamu lakukan i-itu, melupakan fak-fakta kalau ka-kami selalu ada di si-sini, Yon. Kapan saja ka-kamu butuh, sa-saya dan yang lain si-siap membantu." Petunia tersenyum manis menatap Yonna.
Malilah mengangguk mantap. "Nah, betul itu yang Petunia bilang. Jadi, jangan pernah anggap kalau kau cuma sendirian di dunia ini."
Terkekeh sebentar, Yonna menggerakkan kepalanya naik turun. "Iya, pasti. Sekarang, kalian buka aja lemariku. Pilih baju yang cocok sama kalian, aku ganti duluan, ya?"
"Iya, aman."
/////
"Sudah dilaporkan ke polisi, Bu?" Bibi meletakkan secangkir teh hangat ke atas meja.
"Sudah ada yang lapor. Orang-orang di sana juga bilang kalau beberapa hari sebelumnya sudah ada korban, belum ada yang tahu siapa pelakunya. Dan, Karlo ini kasus kedua," ucap Yulissa sembari memijat pelipisnya.
Menyeka setitik air matanya yang lolos, Bibi cuma sanggup berkata, "Bibi nggak tahu mau ngomong apalagi, Bu. Cuma minta Ibu sama Nona Yonna untuk sabar, tabah, menguatkan diri."
"Aku yang jauh lebih bingung, Bi. Yonna baru aja dengar perceraian kami, aku yang langsung ninggalin rumah. Sekarang dia langsung diserang kabar duka lainnya."
"Yonna masih muda, malah ditinggal sama ayahnya. Kenapa kasus pembunuhan sering terjadi ya, Bu? Bibi jadi takut kalau Nona ke mana-mana."
"Aku juga nggak ngerti, Bi. Nggak ada habis-habisnya. Tapi dari kabar yang tersebar itu, pemimpin kota ini katanya punya masalah sama pihak tertentu. Kabar burungnya, mereka ngancam orang itu lewat- lewat teror pembunuhan ini, Bi."
"Ya, Tuhan." Bibi mengelus dadanya.
"Kalau punya masalah pribadi, nggak seharusnya mereka bawa-bawa orang lain yang nggak ada kaitannya sama sekali," kesal Yulissa, tangannya mengepal menahan marah.
Ingin rasanya Yulissa mengutuk pembunuh juga pihak yang kabarnya bermasalah tersebut. Karena mereka, Yonna kehilangan sosok ayah selamanya.
"Bibi sudah siapkan jajanan untuk anak-anak?"
"Sudah, Bu. Luther juga sudah Bibi kasih pakaian kering. Nona sama teman-temannya masih ganti pakaian, mungkin sebentar lagi keluar."
Yulissa mengangguk. "Baguslah. Biarkan aja mereka bareng-bareng, kalau ada yang mau menginap, siapkan aja keperluannya. Yonna butuh teman."
"Iya, Bu."
/////
"Yonna, kamu nggak masalah kan, kalau kita menginap?" tanya Malilah mulai meminum jus mangga yang sudah disediakan oleh Bibi.
Akia menepuk paha Malilah, kemudian meralat ucapan gadis itu, "Em, maksudnya besok. Kami akan menginap besok malam, apa boleh?"
Meski bingung maksud Akia mengundur rencananya, Malilah tetap menunggu jawaban Yonna.
Tersenyum lemah, Yonna mengangguk. "Iya, kalian bisa nginap kapan aja, kok. Kayak biasanya. Aku senang kalau kalian juga ada di sini."
Luther menautkan kedua tangan mereka, lalu menarik Yonna agar bersandar ke dadanya. Dengan lembut, dia mengelus puncak kepala Yonna.
Di saat seperti ini, selain hiburan, Yonna juga tetap membutuhkan ruangnya sendiri. Agar semua rasa yang ingin keluar, tidak tertahan kemudian justru bertumpuk menjadi beban diri.
"Petunia, kau diizinkan menginap nggak nanti?" tanya Malilah takut Petunia tidak mendapatkan izin dari orang tuanya.
Terlihat berpikir, Petunia mengangguk pelan. "Saya a-akan coba bu-bujuk Papi. Saya sudah la-lama tidak menginap di- di rumah teman."
Malilah mengayunkan kepalanya, sembari memakan jajanan di sana. "Semoga dibolehin, ya. Nanti kita nonton bareng, pasti seru."
Akia tersenyum bersamaan dengan Yonna. Sedangkan Luther sibuk merapikan rambut kekasihnya, terlihat tidak begitu tertarik dengan pembicaraan para perempuan di sekitarnya.
"Nanti kau mau nonton apa, Yon? Biar aku yang cari filmnya." Malilah menggerakkan satu alisnya.
"Terserah aja, deh, yang penting komedi," jawab Yonna.
Malilah mengacungkan jempolnya, mengerti apa yang Yonna inginkan.
"Aku boleh nyalain tv, nggak?" Malilah mencoba mencari cara untuk mengalihkan pikiran mereka sejenak dari berita duka tadi.
"Nyalakan aja, Lil." Yonna menerima sodoran keripik dari Luther.
Menghidupkan televisi, mereka langsung menyaksikan tayangan dari saluran berita, berisi rekaman para korban pembunuhan di kota mereka. Sangat tidak tepat, terutama mereka menontonnya saat sisa kejadian di rumah selingkuhan Karlo ditunjukkan. Yonna yang berharap tayangan yang muncul adalah kartun, mendadak mengubah ekspresi. Hatinya kembali sakit mengingat sang ayah sudah tidak ada.
Memeluk Luther erat, Yonna menangis lagi untuk yang kesekian kali. Akia pun menepuk paha Malilah, merebut remote televisi kemudian mematikan layar.
"Maaf," gumam Malilah merasa tidak enak hati.
Keadaan menjadi canggung seketika, hening menerpa. Setiap individu di sana, sibuk dengan isi pikiran masing-masing.
/////
"Besok malam kami ke sini, ya? Menginap."
"Iya, Lil. Jangan lupa bawa makanan, biar makin seru kalau makanannya banyak," balas Yonna sembari membantu menutup pintu mobil Malilah dari luar.
"Siap! Kami pulang dulu, Dah!"
"Dah! Hati-hati!" Yonna melambaikan tangannya membalas ketiga temannya tersebut.
Setelah mobil Malilah meninggalkan halaman rumah, Yonna masuk ke dalam bersama Luther. Sekarang sudah pukul sepuluh malam, tetapi belum ada yang tidur.
"Yonna, belum mau tidur, Nak?" Yulissa menatap anaknya tersebut.
"Belum, Ma," jawab Yonna singkat.
"Cantik, aku ke toilet dulu," izin Luther yang langsung berjalan setelah Yonna mengangguk.
"Sini," panggil Yulissa, meminta anaknya duduk.
"Bi, boleh minta tolong buatkan cokelat panas, dua."
"Siap, Non."
"Kamu kenapa jadi diemin Mama terus?"
Melirik sang mama, Yonna menghela napasnya. "Kenapa baru pulang?"
"Mama butuh ketenangan, Nak. Perceraian itu bukan hal yang mudah, tidak semua perempuan sanggup menjalani situasi ini."
"Tapi bisa, 'kan, setidaknya kabarin aku! Yang ditinggal sama Ayah bukan cuma Mama, tapi Yonna juga."
"Mama tahu, Yon. Mama juga bukan santai-santai di sana. Mama nyambil kerja, tidak mungkin meninggalkan urusan kantor gitu aja, 'kan? Mama juga lakuin semua ini untuk kamu, harus bisa bagaimanapun caranya tetap mendapatkan uang cukup setelah perceraian. Mama selalu mikirin kamu, masa depan kamu, Nak."
"Bohong!" Yonna meninggikan suaranya satu oktaf.
"Kenapa kamu ngomong gitu, Nak?" Tatapan Yulissa berubah kecewa.
"Bukan masa depan aku, tapi demi keuntungan pribadi Mama! Kalau memang untuk aku, Mama nggak bakal ninggalin Yonna sendiri di rumah! Yonna nggak peduli kalau harus ngelihat kondisi Ayah sebelum memasuki kubur, yang penting Mama ada sama Yonna. Bukannya kayak gini!"
"Kamu tidak paham, Nak. Mama selalu menyiapkan semuanya untukmu. Ingat, 'kan, sebentar lagi kamu lulus? Semua itu harus disiapkan sejak awal, dan itu berat, Yon."
"Berhenti menganggap cuma Mama yang memiliki beban di sini! Yonna juga terluka, Ma. Yonna juga anak Ayah, kehilangan Ayah. Bukan cuma Mama! Berhenti mikirin diri sendiri." Air mata Yonna lolos mengaliri pipinya.
"Kamu ini bicara apa?! Siapa yang mikirin diri sendiri? Mama yang selalu mastiin makan kamu lewat Bibi, Mama yang siapin dana untuk semua kebutuhan kamu, bahkan ketika Mama harus menenangkan diri, tetap mikirin kamu, Nak! Mama juga manusia, butuh ruang sendiri. Lihat! Kamu masih punya teman-teman, pacar, sedangkan Mama? Mau lari ke siapa?"
Masih menatap Yulissa, Yonna terus menyapu bersih air matanya. Dadanya naik turun dengan napas berderu.
"Untuk semua yang sudah Mama berikan, apa Mama tidak bisa mendapatkan waktu sebentar saja untuk menyendiri?"
"Selama ini Mama ke mana? Pulang tengah malam, jarang di rumah, apa itu masih belum cukup?"
"Mama kerja, Yonna. Kerja!"
"Nggak perlu seberat itu, Ma! Yonna nggak pernah minta Mama pergi pagi, pulang tengah malam. Nggak pernah ada yang minta Mama bekerja sekeras ini. Ayah jarang di rumah, Mama juga sama. Malah justru Yonna yang terlalu banyak menyendiri di rumah."
Membersihkan tenggorokannya, Yonna melanjutkan, "Yonna nggak masalah harus berbagi waktu yang terlampau sunyi itu bareng Mama. Kita cuma nonton tv bareng, atau ngobrol di meja makan juga nggak papa. Asal itu sama Mama. Setiap pulang kerja, Yonna nggak pernah berani ngajak Mama ngobrol untuk waktu yang lama, karena Yonna tahu Mama capek."
Menundukkan kepala menatap jari-jari kakinya, Yulissa menggeleng lemah. "Kenapa kamu jadi sulit percaya sama ucapan Mama sih, Nak?"
"Yonna percaya, tapi Yonna nggak punya alasan buat terima semua ucapan itu. Sakit. Selama ini yang peduli sama Yonna di rumah ini, cuman Bibi."
"Yonna, Mama minta maaf. Satu hal yang harus kamu tahu, Nak. Mama sayang dan peduli sama kamu, lebih dari apa pun."
Mendengar itu, Yonna hanya mampu tersenyum miris. "Terlambat."
Dalam satu detik berikutnya, Yonna membalikkan tubuh dan berjalan cepat menuju kamarnya.
"Yonna! Apa yang Mama bilang itu kebenarannya, Nak. Yonna! Dengarkan Mama dulu!"
Teriakan demi teriakan yang dilontarkan Yulissa tidak diindahkan sedikit pun oleh Yonna, sang anak. Tubuhnya justru tersentak kaget saat Yonna menutup pintu kamar dengan keras, menghasilkan suara hantaman yang keras.
"Tante, aku," ucapan Luther menggantung, satu tangannya mengarah ke lokasi kamar Yonna berada.
Mengangguk cepat, Yulissa berkata, "Iya, kamu susul dia. Kalau Tante yang ke sana, pasti akan ribut lagi."
"Permisi," pamit Luther lalu melangkah menyusul Yonna, beruntung pintu kamar kekasihnya itu tidak dikunci.
Menjatuhkan tubuhnya ke sofa, Yulissa tidak dapat menahan tangisnya. Air mata meluruh begitu saja, di balik telapak tangannya yang mencoba menutupi wajah.
"Bi, apa selama ini aku salah mendidik anakku?" Yulissa menatap pantulannya di layar hitam televisi.
"Tidak, Bu. Itu sama sekali tidak benar. Ibu sudah mendidik Yonna dengan baik, buktinya selama ini anak itu bertingkah baik. Hari ini, dia pasti dalam keadaan yang sulit. Beberapa hari lalu hubungannya sama Nak Luther sempat retak, ketika semuanya mulai membaik, kabar duka tentang Bapak datang. Bibi pikir, ini bukan kesalahan Ibu," ujar sang bibi panjang.
Yulissa tertawa kecil. "Bahkan Bibi lebih tahu tentang Yonna daripada aku. Ucapannya benar, aku terlalu memikirkan diri sendiri."
"Jangan berkata seperti itu, Bu."
"Bibi tidur saja, sudah sangat larut. Aku mau berendam dulu." Yulissa bangkit dari duduknya.
"Mau Bibi siapkan air panas, Bu?"
"Tidak usah, biar aku sendiri saja. Bibi tidur, besok harus siapkan sarapan untuk Yonna."
Yulissa berlalu melewati bibi, jalannya sangat lesu. Bagai perempuan yang kehilangan seluruh tenaganya karena patah hati.
/////
"Yonna," panggil Luther lembut.
Perempuan itu berbaring tiarap, menyembunyikan wajahnya pada permukaan bantal. Luther yakin pacarnya tersebut menahan tangisnya di sana.
Melangkah mendekat, Luther mengelus lembut kepala Yonna. Luther merapikan rambut perempuan itu yang berantakan, dia tiba-tiba merasakan tubuh Yonna menubruk dirinya.
"Luther, kenapa makin ke sini, nggak ada yang bisa ngertiin aku?"
"Itu cuma perasaan kamu aja, cantik."
"Terus kenapa semua masalah harus datang beriringan kayak gini?" Yonna merapatkan wajahnya ke dada Luther.
Membenarkan posisi pelukan Yonna, Luther membawa pacarnya berbaring di ranjang sembari terus memeluk.
"Yonna."
"Iya?"

Komento sa Aklat (26)

  • avatar
    ArifinFadhil

    apk nya bagus

    17/10/2024

      0
  • avatar

    jelek

    27/12/2023

      0
  • avatar
    RadiansyahRafi

    iya

    11/04/2023

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata