Alvin menunggu, namun pukulan yang dinanti tidak datang. Kemudian dia mendengar gadis itu tertawa. "Hei, Cael, darimana kau mendapatkan teman seimut ini? Tampangnya benar-benar membuat ku ingin mencubit daging pipinya itu dari wajahnya!" "Eve, jangan mengatakan hal-hal seperti itu. Kamu bisa membuat nya takut." Michael berkata santai. Eve tertawa mengejek. "Sejak kapan kau peduli pada orang lain?" Alvin membuka matanya, sekali lagi mengamati gadis ini. Eve sangat berbeda dari para siswi disini. Postur tubuhnya tinggi, lebih tinggi dari kebanyakan gadis-gadis. Dia blak-blakan dan memiliki temperamen berapi-api. "Kemana kau arahkan tatapan mu, lemak kecil?! Aku pernah berkata bahwa aku akan mencongkel matamu jika kau berani melihat ku seperti itu lagi!" Kata Eve sengit. Baru saja Evelyn akan meledak lagi, namun Michael menahannya. "Eve, hentikan." "Apa ...?" Evelyn menatap Michael, heran. Michael mengerutkan keningnya. Melihat itu, Evelyn mendengus kesal. "Berhentilah marah-marah. Bukankah kau kelas tiga sekarang? Kau harus belajar ekstra agar dapat lulus nanti." Evelyn mendengus kesal sebelum berdiri dan melenggang pergi sambil menghentakkan kakinya. Alvin bingung. Gadis itu kelas tiga, apakah artinya Michael berpacaran dengan kakak kelas? Disaat Alvin sibuk memikirkan hal yang tidak penting, Michael telah beranjak pergi. - Malam hari, Seperti hari-hari sebelumnya, Luciana menyelinap masuk kesebuah klub malam dengan lancar. Tidak peduli sebesar apa nyalinya, dia sebenarnya agak canggung setiap kali pergi ketempat ini. Namun dia tidak punya pilihan lain. Dia harus memberikan laporan harian. Selain itu, ini adalah satu-satunya kesempatan dia untuk bertemu orang yang dia sukai karena ketika disekolah, itu tidak mungkin. Segera, dia menemukan kamar pribadi tertentu. Begitu Luciana masuk, aroma alkohol bercampur rokok menghantam indera penciumannya. Dia mengerutkan keningnya, agak terganggu. Setelah menyesuaikan cahaya di ruangan itu, Luciana mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. Didalam sangat berantakan. Ada beberapa orang, pria dan wanita, yang mabuk dan mulai bertingkah konyol. Bahkan ada yang melakukan hal tidak bermoral dihadapan yang lainnya. Luciana memutar pandangan sekali lagi, kemudian menemukan orang yang dia cari. Matanya langsung berbinar. "Ryan ...!" Baru saja Luciana merasa gembira, moodnya menjadi berantakan lagi ketika melihat seorang gadis menempel erat di lengan Ryan seperti permen karet. Luciana menjadi marah karenanya. Ryan tidak mempedulikan tatapan Luciana yang membara. Dia meliriknya acuh tak acuh, berbicara dengan nada yang santai. "Aku tidak berharap tinggi padamu. Tapi ketika kau gagal, aku merasa kecewa." Kegembiraan Luciana seketika menghilang. Sebaliknya, rasa bersalah membuatnya gugup. "Maaf, aku gagal lagi. Tapi, aku berjanji lain kali pasti berhasil. Pasti." "Lain kali?" Ryan menyesap alkoholnya. Luciana memandang wajah Ryan dengan obsesi yang dalam. Bahkan gerakan sederhana seperti itu, terlihat sangat menakjubkan bagi Luciana. "Sudah berapa kali, dan kau selalu gagal. Tapi kau masih menjanjikan lain kali padaku?" Ryan mengerutkan kening, menatap Luciana dengan tidak senang. Dia mencoba mengabaikan mata obsesif yang diarahkan padanya namun masih saja terasa mengganggu. "Lagipula, bukankah kau cukup cantik? Bagaimana bisa si Michael sialan itu menolak pesona mu? Membuat rencana ku gagal. Heh, jangan-jangan dia gay?" Entah itu pertanyaan yang perlu dijawab atau tidak, namun Ed, gay yang sebenarnya, membantu menjawab. "Seharusnya dia tidak." Suara Ed bagus. Jadi mau tidak mau Luciana menoleh. Namun ketika dia melihat anak laki-laki di pelukan Ed, dia segera menunjukkan ekspresi jijik. "Dasar kaum menyimpang." Gumam Luciana mencemooh. Kemudian dia kembali menatap Ryan. Suasana hatinya langsung naik lagi. Memang, pria pujaannya adalah yang paling mempesona. "Kudengar kau selalu memberikan makanannya secara langsung, kan? Kalau begitu, lakukan lagi. Tapi, kali ini tidak masalah jika dia menolaknya. Semakin banyak yang tahu maka semakin bagus. Aku punya rencana, jadi jangan mengacaukannya lagi. Kau mengerti maksudku?" Tanya Ryan kepada Luciana. Untuk rencana ini, trik demi trik terbentuk di kepalanya. Luciana mengangguk. "Mengerti." "Bagus. Lalu pulanglah, persiapkan seperti biasanya. Kalau hasilnya membuatku puas, aku akan mengajakmu makan malam dengan suasana romantis." Luciana pulang dengan wajah tersenyum gembira. Satu-satunya yang dia pikirkan adalah janji Ryan tentang makan malam. Hingga pergi tidurpun, dia masih tersenyum. - Hari ini adalah hari libur. Karena ibu Alvin akan pulang terlambat, maka belanja bahan makanan adalah tugas Alvin. Supermarket di dekat apartemen tempat tinggal Alvin tidak begitu besar. Dia berpikir akan lebih nyaman berbelanja di toko yang lebih besar. Jadilah dia berjalan, memutar dan berbelok hingga satu jam berjalan kaki, hingga menemukan supermarket besar. Alvin segera masuk dan berbelanja dengan senang hati. Ketika dia akan menghitung belanjaan di kasir, Alvin agak terkejut. Dia tidak menyangka Evelyn bekerja sebagai kasir di supermarket ketika libur. Alvin menjadi canggung. Tetapi Evelyn menghitung belanjaannya seolah tidak pernah mengenal Alvin sebelumnya. Dia menyebutkan total harga belanjaan. Setelah Alvin menyelesaikan pembayarannya, dia segera keluar tanpa menoleh kebelakang. Evelyn memandang Alvin yang berjalan tergesa-gesa. Dia agak melamun ketika mengingat bekas cekikan di leher Alvin. Baru saja ketika Alvin berdiri dihadapannya, dia mencuri pandang ke leher anak itu. Melihat bahwa memar nya berkurang banyak, Evelyn tidak mengatakan apa-apa. Alvin memperlambat jalannya ketika sudah jauh dari supermarket. Dia tidak tahu mengapa dia canggung didepan Evelyn. Semakin dia memikirkannya, semakin ada yang berbeda dari Evelyn yang dia lihat disekolah. Namun dia tidak dapat menemukan perbedaannya. Separuh jalan, Alvin samar-samar mendengar suara seperti sesuatu yang dipukul. Dia menoleh ke sekeliling. Disepanjang jalan ini tidak ada siapapun kecuali dirinya. Tapi suara itu semakin jelas ketika Alvin berjalan maju. Tidak jauh, dia melihat gang kecil. Suara-suara itu berasal dari sana. Alvin menempelkan tubuh ke tembok di pinggir jalan, berusaha melihat apa yang terjadi di gang itu. Gang kecil itu agak gelap karena diapit oleh pagar tembok dan gedung tinggi. Tong sampah berjajar tidak teratur, dan sampah berserakan di sepanjang gang kecil itu. Agak jauh, beberapa orang berkerumun, tampak seperti mengelilingi sesuatu. Mereka sibuk memberikan pukulan dan tendangan pada objek ditengah mereka. Alvin menyipitkan mata, berusaha agar melihat lebih jelas. Samar-samar dia melihat seseorang tersungkur di tanah. Setelah mendapat pandangan yang lebih jelas, Alvin berniat segera pergi dari sini. Tapi entah kenapa kakinya tidak mau mengikuti perintah. Dia tetap berdiri ditempat, menyaksikan semuanya. Suara pukulan terus berlanjut. Sesekali cacian dan makian kasar keluar dari mulut mereka. Dia tidak bisa mendengar jelas apa yang mereka katakan karena jarak yang cukup jauh. Tidak lama kemudian, orang-orang itu berhenti. Mereka berbalik, berniat akan pergi. Namun, dibelakang mereka, orang yang mereka hajar sampai hampir sekarat tiba-tiba bangun. Dia berdiri dengan mantap, meskipun hampir seluruh tubuhnya terluka. Saat itulah Alvin melihat wajahnya dan mengenali nya seketika. Itu Michael! Michael tiba-tiba maju menyerang orang-orang itu seperti orang gila. Dia berhasil memberikan pukulan bagus pada dua orang. Tetapi jumlah orang orang-orang ini cukup banyak, sekitar tujuh atau delapan orang. Meskipun Michael mengalahkan dua orang, sisa yang lainnya segera mengepung Michael. Orang yang paling tinggi, mengambil tongkat besi bekas dari dalam tong sampah. Dia tertawa sambil mengayunkan tongkat itu didepan Michael. Sepertinya dia berniat menjatuhkan Michael apapun yang terjadi. Orang itu maju. Berulang kali mengarahkan tongkat besi ke kepala Michael. Tapi Michael selalu berhasil menghindar, yang membuatnya semakin marah. Teman-temannya yang lain mendekati Michael dengan tangan kosong. Kemudian salah satu dari mereka mundur sambil menekan perutnya. Michael mengacungkan pisau lipat berdarah di tangannya. Melihat Michael memiliki pisau, kelompok orang itu terkejut. Bahkan Alvin juga terkejut. Pemandangan ini benar-benar agak diluar dugaan. Ini pertama kalinya dia melihat sisi Michael yang lain. Melihat Michael bertarung dengan brutal, rasanya agak aneh mengingat Michael yang biasanya pendiam dan tenang. Alvin tidak tahu apa tepatnya yang dia rasakan. Dia takut tetapi juga khawatir. Kembali lagi, disana, orang-orang yang marah itu mencari benda-benda disekitar yang dapat digunakan sebagai senjata. Setelah mendapatkan masing-masing satu ditangan, mereka kembali mengelilingi Michael. Alvin langsung berkeringat dingin melihat mereka berkonfrontasi dengan tidak seimbang seperti itu. Michael sendirian dan hanya memiliki pisau lipat kecil. Tidak mungkin dia bisa menang, apalagi dia sudah terluka, kemungkinan menang akan sangat kecil. Alvin gemetar karena panik memikirkan cara tercepat untuk menolongnya, tetapi masih tidak mendapatkan cara apapun. Alvin semakin panik ketika kelompok orang itu bersiap maju. "ADA POLISI!!!" Alvin berteriak keras. Tempat yang semula ribut menjadi sunyi seketika. Michael dan orang-orang itu menoleh ke arah Alvin. Ada rasa heran pada tatapan ganas mereka. Alvin segera menyesali tindakan cerobohnya. Salah satu dari mereka bergerak ke arah Alvin. "Dimana polisi nya?" Tanya orang itu enteng. "Di ... di ... itu ... aku melihatnya sebelumnya ... dua ... dua blok dari sini ...." "Hah? Bicara yang jelas!" "Aku ...." Dia mengerutkan keningnya, antara kesal dan tidak sabar. "Kuberi tahu, polisi tidak pernah menyisir tempat ini saat patroli. Dengan kata lain, polisi tidak akan datang kemari bahkan jika ada yang mati hari ini!" Dia tiba-tiba bergegas ke arah Alvin. Tongkat besi ditangannya mengayun dengan kecepatan tinggi. Sedetik kemudian Alvin merasakan benturan di kepala. Dia merasa sangat pusing, kemudian pingsan di detik berikutnya. ***
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 31 diamante
Balanse: 0 brilyante β£ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (210)
Istianah01*Siti
sangat baguss,,sukses selalu untuk penulisnya ππππ
sangat baguss,,sukses selalu untuk penulisnya ππππ
04/06/2022
Β Β 3bagus banget kak
13/06/2025
Β Β 0bagus bnget novel nyaa KA hhuuπ₯²
03/06/2025
Β Β 0Tingnan Lahat