Michael sama sekali tidak bersuara ataupun bergerak. Dia tetap pada posisi nya sejak awal, menelungkup di meja. Tidak ada yang peduli, bahkan guru membiarkannya seperti itu. Waktu istirahat tiba. Saat Alvin bimbang antara membangunkan Michael atau meninggalkan nya dikelas, Luciana datang menghampiri meja. Dia sama sekali tidak memandang Alvin, matanya hanya tertuju pada Michael yang tertidur. Alvin melirik sekilas pada apa yang dia bawa, itu terlihat seperti kotak makan siang. "Cael," suara Luciana berdering lembut, terdengar anggun dan baik hati. Awalnya inilah yang Alvin sukai darinya. Tapi setelah dia mempermalukannya, hati anak laki-laki itu menjadi dingin kearah Luciana. Michael tidak menanggapi. Kemudian Luciana memanggil lagi. "Cael, aku tahu kau tidak benar-benar tidur. Bangun dan lihat, aku membuatkan makan siang untukmu," Luciana berkata sambil tersenyum manis. Dia mengulurkan tangannya ke pundak Michael. Tetapi sebelum tangan Luciana benar-benar menyentuh pundak nya, Michael menghindarinya. Luciana terkejut oleh gerakan Michael yang tiba-tiba. "Apa yang kamu lakukan?" Michael menegur dengan dingin. Luciana menarik kembali tangannya. Senyum diwajahnya menjadi canggung, tetapi dia tetap berbicara dengan suara manis. "Aku membawa kotak makan siang ini untukmu. Aku memasaknya sendiri, jadi cobalah, lihat apakah kamu menyukainya." Michael tidak menjawab. Dia meraih tas nya kemudian berdiri. Melihat Michael yang berniat pergi, Luciana agak panik. Luciana spontan meraih tangan Michael untuk menahannya. "Tunggu. Ini, bawalah. Aku membuatnya khusus untuk mu, jadi ...." Luciana mendorong kotak makan siang yang dibawanya ke tangan Michael. "Terima ini, kamu pasti menyukainya." Michael mengerutkan keningnya. Dia melihat kotak makan siang ditangannya, kemudian dia mengibaskan nya seolah-olah kotak makan siang itu adalah hal kotor. Michael benar-benar tidak bersikap sopan sama sekali. Kotak makan siang yang diberikan Luciana jatuh, isinya berserakan di lantai. Luciana membeku. Bahkan seluruh kelas yang ribut juga ikut membeku. Mungkin mereka tidak menyangka bahwa Michael akan menolak kecantikan idaman ini dengan kasar. Sementara kelas menjadi sunyi, Michael pergi dengan santai seolah-olah yang baru saja terjadi tidak ada hubungannya dengan dia. Luciana masih terdiam ditempatnya sambil perlahan-lahan meneteskan air mata. Melihat dewi kecantikan menangis, beberapa siswa memberikan komentar sinis pada Michael. "Betapa kurang ajar orang itu! Berani sekali dia memperlakukan dewi kita seperti itu!" Seru seorang siswa bertubuh kurus dan tinggi. "Ha! Dia pikir dia sangat hebat? Hanya sedikit tampan, tapi sikapnya sangat kasar! Hmph!" "Biasalah, orang miskin sikapnya memang sangat kasar." "Ini pertama kalinya ada seseorang yang mempermalukan kecantikan seperti ini. Apa yang dipikirkan si Michael itu sih?" "Aku menduga dia tidak memiliki mata yang baik. Luciana, jangan memikirkan sampah itu lagi,oke?" Tidak tahan mendengar komentar yang semakin buruk, Alvin meninggalkan kelas saat itu juga. Alvin membawa bekal dan botol air, lalu mempercepat langkahnya menuju taman belakang. Sesampainya di bawah pohon, dia melihat Michael berbaring. Dia hanya berbaring disana, tapi tidak tidur. Alvin menggosok hidungnya dan berjalan mendekat dengan canggung. "Um ... hai," Alvin menyapa dia dengan canggung. Michael menggerakkan kepalanya menghadap kearah Alvin. Kemudian dia mengangguk sebagai jawaban. Alvin duduk diatas rumput. Dia meletakkan botol airnya disamping. Begitu dia membuka kotak bekal, aroma makanan segera menyebar di sekitar. Alvin tersenyum puas. Masakan ibu benar-benar yang terbaik. "Michael, jika kamu tidak keberatan, kemari dan makan bersama ku. Aku membawa bekal sedikit lebih banyak hari ini." Alvin menawarinya dengan murah hati, jadi, tidak mungkin dia akan tersinggung kan? "Tidak perlu." "Kenapa? Aku memiliki daging dan sayuran disini. Jika kau tidak suka sayuran, kau bisa memiliki semua dagingnya dan aku akan memakan sayurnya." Ucapan Alvin seharusnya tidak salah, tapi dia merasa agak aneh setelah di ucapkan. Mereka tidak sedekat itu untuk berbagi makanan. Tapi tentu Alvin tidak bisa mundur setelah dia mengucapkan kata seperti itu. Michael meraih kedalam tas nya, mengeluarkan sebungkus roti. Dia duduk menghadap ke arah Alvin. "Aku punya ini." Katanya. Roti yang sama seperti yang dia berikan pada Alvin waktu itu. Alvin menanggapi nya dengan 'oh'. Jadi seperti itulah. Michael memakan rotinya, sementara Alvin menyuap makanannya sesendok demi sesendok dengan canggung. Mereka belum selesai makan ketika seorang gadis mendekat. Alvin dan Michael sama-sama terkejut karena gadis itu datang tanpa suara. Gadis itu menepuk punggung Michael. Alvin membulatkan matanya. Gadis ini berani menyentuh Michael seperti itu dan Michael membiarkannya. Berpikir hubungan mereka pasti dekat. "Kenapa kau mematikan telepon mu?" Dia bertanya. Michael mengeluarkan ponsel nya dari dalam tas. Melihat nya sejenak sebelum menjawab. "Kehabisan daya." "Selalu saja tidak memperhatikan. Bagaimana jika ada sesuatu yang penting yang harus diberitahukan padamu secara mendadak? Akhir-akhir ini kau jarang datang ke sekolah. Aku pikir kau tidak datang juga hari ini." "Orang itu ada dirumah. Aku tidak bisa tidur." "Aku tahu kau memperlakukan sekolah hanya sebagai tempat tidur mu, tapi bisakah kau sedikit lebih serius? Misalnya masuk kelas setelah jam istirahat?" "Tidak ada gunanya juga meskipun aku belajar dengan serius. Kamu tidak perlu pedulikan aku, khawatirkan saja dirimu sendiri." Gadis itu mendengus agak tidak setuju. Dia melirik roti ditangan Michael. "Roti lagi," gadis itu berkata. Michael mengangkat bahunya, berekspresi tak berdaya. "Ini saja sudah cukup." "Apanya yang cukup? Kau bahkan nyaris tidak pernah memakan sarapan pagi, dan kau hanya memiliki roti untuk makan siang? Kau pikir kau tentara, huh?" Gadis itu duduk disamping Michael. Gerakannya alami tanpa kecanggungan. "Ini, makanlah." Gadis itu menyerahkan kotak makanan yang entah datang darimana karena tidak ada yang melihat dia membawanya dari awal. Michael menerima tanpa berpikir. "Lain kali tidak perlu repot." Gadis itu memberi tatapan bersungut-sungut pada Michael. Dibawah pengawasan gadis itu, Michael memakan makan siang pemberiannya. Sampai Michael menghabiskan hingga sepotong daging terakhir, barulah gadis itu terlihat lega. Alvin menyaksikan interaksi keduanya. Benar-benar sangat alami. Respon Michael juga cukup baik, sangat berbeda ketika dia menghadapi Luciana. Gadis ini, jika dibandingkan dengan Luciana, sangat jauh. Bukan berarti dia jelek, hanya saja dia menggunakan make-up smokey yang tebal. Gaya rambutnya juga sangat sederhana. Tingkah laku dan cara bicaranya agak kasar dan sama sekali tidak feminim. Gadis ini ... Tunggu. Mengapa Alvin merasa familier dengan gadis ini? "Siapa anak ini?" Tiba-tiba gadis itu berbicara. Alvin agak kosong sesaat. Tidak menduga bahwa dia akan menjadi topik berikutnya. "Hei bukankah kau anak yang menabrak ku hari itu?" Alvin terkejut. Dia akhirnya ingat siapa gadis ini. Dia adalah orang yang ia tabrak ketika dia melarikan diri dari Ryan. Dia bahkan menjatuhkan jepit rambut gadis itu. Gadis itu segera menampakkan aura tidak ramah dan memelototi Alvin. Alvin telah menyinggung dia tanpa sengaja. Gadis ini terlihat galak. Alvin menjadi khawatir karena Michael sedang menatapnya juga. Gadis itu beranjak berdiri, seolah akan memukul Alvin. Reflek, Alvin melindungi wajah dan kepala dengan kedua lengan. Alvin berpikir, dia boleh memukul dimana saja kecuali wajah dan kepala. Gadis itu memang berniat memukulnya tetapi ketika melihat cetakan jari disekitar leher Alvin, dia berhenti. Meskipun sebagian besar tertutup kerah jaket, namun dia yakin itu adalah bekas cekikan. "Kamu ...." - Luciana membawa kotak makan siang yang berantakan itu dan membuangnya ditempat sampah dibelakang gedung sekolah. Dia melemparkannya dengan jijik. Sesekali dia mencemooh pelan. Wajah ramah dan polosnya sudah lama menghilang. Dia hanya memiliki senyum menghina dibibirnya. "Michael sialan. Mempermalukan aku seperti itu, kau benar-benar berani, ya? Heh, kau kira kau sangat hebat? Hanya pemuda miskin yang mengandalkan wajah!" Luciana menendang beberapa kantong sampah didekatnya. Semakin dia mencemooh, semakin dia merasa lebih baik. "Lihat saja, jika aku sudah mendapatkan Ryan, aku akan mengembalikan perlakuan mu berkali-kali lipat! Hmph!" ***
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 26 diamante
Balanse: 0 brilyante β£ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (210)
Istianah01*Siti
sangat baguss,,sukses selalu untuk penulisnya ππππ
sangat baguss,,sukses selalu untuk penulisnya ππππ
04/06/2022
Β Β 3bagus banget kak
13/06/2025
Β Β 0bagus bnget novel nyaa KA hhuuπ₯²
03/06/2025
Β Β 0Tingnan Lahat