Di atas kasurnya yang kumal, Bunga menangis sesenggukan. Ia meraih ponsel dari dalam sakunya. Ia menelpon sang ibu, untuk memberitahu apa yang ia alami hari ini. “Halo,” ucap Bunga. [Ada apa lagi? Apa uangnya masih kurang?] tanya Asri dalam panggilan telepon itu. “Bukan itu, Bu! Tapi aku butuh rumah baruku!” [Ibu sudah berjanji akan mencarikan kamu rumah, tapi tidak secepat itu, Bunga!] “Aku mohon percepatlah, Bu! Aku sudah tidak tahan lagi,” [Tapi apa alasannya, Bunga?] “Alasannya karena perlakuan buruk teman-temanku! Ayo tolong aku, Bu! Kapan lagi Ibu akan menjadi pelindungku? Setelah bertahun-tahun menelantarkan aku?!” Mendengar pernyataan Bunga, membuat Asri tak bisa membantah lagi. Ia pun mengiyakan permintaan sang putri. Ia hanya ingin menebus segala dosa-dosanya di masa lalu. Tentunya juga karena takut, apa bila Bunga membongkar rahasianya kepada sang suami. [Baiklah, Ibu akan usahakan, Bunga,] jawab Asri. Panggilan telepon pun diakhiri, dan Bunga kembali menaruh ponselnya ke dalam saku. Bunga masih tak tenang, ia terus menangis memikirkan kejadian yang tadi. *** Pagi telah berlalu, Bunga terbangun seraya mengusap kedua matanya. Di depan rumah, sudah terdengar ketukan pintu. “Pasti itu Bu Rita!” tebaknya. Bunga segera bangkit, lalu membukakan pintunya. “Bu Rita, ada apa?” “Saya bawakan kamu sup sama lauk, kamu sarapan dulu, ya!” Bu Rita menyodorkan makanannya. “Terima kasih banyak, Bu Rita. Cuma Bu Rita yang baik sama saya,” ucap Bunga. “Ah, kamu ini apa-apaan sih, Bunga! Saya ini tetangga dekat kamu, dan suami saya RT di sini, sudah sewajarnya saya melakukan ini!” sahut Rita. “Iya, tetapi kalau tidak ada Bu Rita, saya tidak tahu nasib saya selanjutnya.” Bunga menundukkan kepalanya, “kemungkinan saya sudah mati karena putus asa.” “Kamu jangan bicara begitu, Bunga. Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan. Sebagai sesama manusia, kita harus saling membantu,” Bu Rita terus merendah diri. Dia memang bukan tipe orang ria, dan yang suka mengungkit-ungkit kebaikannya. Apa yang ia lakukan selalu tulus dari dalam hatinya. Tak pernah ada pamprih sedikit pun. “Bu Rita, saya berjanji sama, Ibu. Pokoknya, setelah saya menjadi kaya dan cantik nanti, saya tidak akan melupakan Bu Rita. Saya akan membalas semua perbuatan baik, Bu Rita!” tukas Bunga dengan penuh kesungguhan hati. Bu Rita tak berkata-kata lagi, ia hanya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Tak lama wanita paruh baya itu meninggalkan rumah Bunga. *** Sembari menikmati sarapan paginya, Bunga mendapatkan panggilan telepon dari Pak Davin. Beliau ingin berbicara empat mata kepada Bunga. Sebenarnya, Bunga enggan menemui Pak Davin, namun pria itu terus memaksanya. Dan berkata, bahwa ini tentang tunjangan untuk mendiang Sumardi. Bagaimana pun, Sumardi sudah bekerja puluhan tahun di sekolah itu. Dan Sumardi adalah orang yang rajin, baik, dan juga sangat jujur. Menurut Davin, Sumardi berhak mendapatkan tunjangan, atas ketulusannya dalam bekerja. Selain itu, Davin juga berhutang Budi kepada Sumardi. Puluhan tahun lalu, Sumardi sempat mendonorkan darahnya kepada istri Davin yang bernama Tiyas. Kala itu, Tyas mengalami pendarahan hebat ketika melahirkan, dan membutuhkan golongan darah B. Sayangnya, stok darah di Rumah Sakit sedang kosong. Tyas tidak memiliki keluarga, dia anak yatim piatu. Sedangkan Davin memiliki golongan darah yang berbeda. Mereka mencari pendonor dari luar, namun mengalami kesulitan. Kebetulan Mardi memiliki golongan darah yang sama, dan tanpa ragu pria itu langsung mendonorkannya. Sumardi tidak meminta imbalan sama sekali, bahkan dengan sengaja ia menolak pemberian Davin. Ia melakukannya atas rasa kemanusiaan. Istri Davin pun akhirnya selamat, begitu pula dengan bayi yang telah ia lahirkan. *** Bunga akhirnya mau menuruti permintaan pria itu. Ia datang ke sebuah restoran mewah, yang letaknya tak jauh dari lokasi sekolahnya. Ia hanya ingin berbicara dengan pria itu, namun ia berjanji kepada dirinya sendiri, bahwa dia tidak akan sudi menerima bantuan dari Davin. Sepanjang perjalanan, Bunga terus berharap agar ia tidak bertemu dengan mantan teman-teman sekolahnya, khusunya Dona. ***** Bunga datang ke restoran mewah itu, dengan menggunakan pakaian yang serba tertutup. Celana panjang berwarna hitam, dipadu dengan Hoodie sweater berwarna senada. Wajah Bunga ditutup dengan masker dan kacamata. “Selamat siang, Pak Davin,” sapa Bunga. Pria paruh baya itu tampak kaget. “Kamu, Bunga?” “Iya,” Bunga membuka masker dan kacamatanya. “Kenapa berpakaian seperti ini?” tanya Davin. “Ceritanya panjang, Pak!” jawab Bunga. Kemudian, keduanya duduk sembari menunggu makanan yang dipesan datang. Awalnya Bunga menolak kebaikan Pak Davin yang hendak mentraktirnya. Namun pria itu terus memaksa Bunga, sehingga Bunga tak bisa menolaknya lagi. Pak David mengutarakan permintaan maafnya, karena tidak bisa datang dalam pemakaman ayahnya Bunga. Lantaran ia yang sedang berada di luar kota. Dan Bunga juga tak mempermasalahkan hal itu, yang menjadi masalah adalah ketidaktahuan Pak Davin selama ini. Ya ... pria itu memang tidak tahu mengenai penyebab kematian Sumardi. Begitu pula dengan segala perlakuan buruk Dona putrinya, kepada Bunga. Davin pun juga tak tahu mengenai alasan Bunga keluar dari sekolahnya. “Bunga, seperti yang kamu tahu ... bahwa hubungan saya dan Bapak kamu sangat dekat. Saya sudah menganggap Pak Mardi itu seperti keluarga saya sendiri. Maka dari itu, saya ingin memberi santunan kepada kamu. Semoga bermanfaat, ya,” tutur Davin seraya menyodorkan amplop coklat ke arah Bunga. Tentu saja isinya adalah segepok uang tunai untuk Bunga. Kebaikan Davin tidak perlu diragukan lagi. Pria itu sangat tulus, dan sifat baik, serta dermawannya berbanding terbalik dengan Dona. Tetapi Bunga tidak bisa menanggapi kebaikan Davin dengan bersenang hati. Tentu semua ini karena rasa takut, serta rasa bencinya terhadap Dona. “Pak Davin, tidak perlu melakukan itu. Saya benar-benar tidak mau menerima kabaikan Pak Davin, lagi!” sengut Bunga. Davin pun terlihat syok mendengarnya. Dia tak menyangka Bunga yang sedang dalam kesulitan ini, berani menolak bantuannya. “Memangnya kenapa?” tanya Pak Davin yang penasaran. Bunga tak menjawabnya, ia hanya mendengus kesal serayawa memalingkan wajah. Pertanyaannya Davin masih terus berlanjut. “Kenapa kamu tiba-tiba keluar dari sekolah, Bunga?” Lagi-lagi Bunga tak menjawab pertanyaan Davin. Gadis itu malah menangis. Ia tak tahan mengingat segala perlakuan kejam Dona dan kawan-kawannya. Melihat tingkah Bunga, membuat Davin menduga, jika ada sesuatu di balik dari semua ini. “Sekarang kamu jujur saja, Bunga. sebenarnya apa yang terjadi?” desak Davin. Bunga kembali menghela napas panjang, “Semua ini gara-gara Dona putri dari, Pak Davin!” jawab Bunga. Davin terlihat begitu syok mendengarnya, “Maksud kamu apa?” “Yah, Dona dan teman-temannya sering menindas saya. Mengurung saya di toilet, memukul, dan terus mempermalukan saya di depan umum!” jelas Bunga dengan nada bergetar penuh kemarahan. Baru kali ini, ia berbicara banyak dengan Pak Davin. Dan ia juga merasa lega, dapat mengungkapkan segala hal buruk yang ia alami. Selama ini ia hanya bisa diam, dan menutupnya rapat-rapat. Semua demi sekolahnya, karena sang ayah ingin ia tetap bertahan. Namun sekarang ia sudah keluar dari sekolah keparat itu, dan ayahnya pun juga sudah meninggal. Jadi Bunga tak perlu lagi menutupinya. Meskipun Bunga merasa was-was, dan takut jika ketika Dona mengetahui hal ini, maka dia akan membuat perhitungan kepada Bunga. Bersambung.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 26 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (119)
NuryatiNuryati
cerita nya sangat menyentuh dan bikin saya menyukainya terimakasih
cerita nya sangat menyentuh dan bikin saya menyukainya terimakasih
06/02
0ceritanya menegangkan
26/09
0bagus bangat
18/06/2025
0Tingnan Lahat