Bunga berjalan dengan penuh semangat yang membara. Kini dia telah berdiri tepat di depan rumah yang cukup megah. Bahkan rumah milik Pak Davin si Pemilik Sekolah pun tidak apa-apanya dibandingkan rumah ini. Bunga tak menyangka, jika ibunya tinggal di tempat ini, dan hidup bergelimpangan harta. Sementara dia hidup susah bersama ayah tirinya. Amarah dalam hati Bunga mulai memuncak dan ingin meledak saat ini juga. Namun dia tidak bisa melakukan itu, karena ada tujuan yang jauh lebih penting. ‘Aku harus bisa menjaga sikap, aku tidak boleh gegabah!’ bicaranya di dalam hati. Belum sempat ia menekan bel, tiba-tiba ada sebuah mobil hendak memasuki gerbang itu. Secara otomatis gerbang pun terbuka, dan tampak seorang wanita cantik yang keluar dari dalam mobil itu. Bibir Bunga tersenyum bahagia, dia tak menyangka dapat melihat wajah sang ibu secara langsung. Gadis itu berlari menghampiri Asri, namun seorang Satpam menghentikannya. “Hei, kamu mau kemana?” teriak Satpam itu mencengkram tangan Bunga. “Ma-maaf, Pak. Tapi saya ingin bertemu dengan wanita itu!” jawab Bunga. “Memangnya kamu itu siapa?” “Saya anak—” Bunga langsung membungkam mulutnya sendiri yang hampir keceplosan. “Maksudnya, saya adalah rekan kerjanya, dan sedang ada urusan penting dengan beliau,” jawab Bunga. Satpam itu tak percaya begitu saja dengan ucapan Bunga. Netranya menatap tubuh Bunga dari ujung kaki hingga ujung rambut. “Nyonya saya tidak mungkin punya rekan kerja seperti kamu!” cercanya. Bunga tak menghiraukan ucapan Satpam itu, dia malah berteriak dan mengejar wanita itu yang sudah hampir masuk ke dalam rumah. “Bu Asri!” teriaknya. Satpam pun mengejarnya, dan kembali meraih tangan Bunga. “Hei, kamu jangan kurang ajar!” pekik Satpam itu. Asri menoleh, dan ia menghampiri Bunga yang saat ini tengah dicegat oleh Satpam rumahnya. “Lepaskan dia,” ucap Asri. “Baik, Nyonya,” Pak Satpam langsung menurut. “Siapa kamu?” tanya Asri pada Bunga. “Sa-saya, Bunga Putri Sumardi!” jawab Bunga terbata-bata namun di akhir suaranya terdengar tegas dan lantang. “Apa?!” Kedua mata Asri langsung menajam. “Gak mungkin!” Asri menggelengkan kepalanya dan seakan tak percaya. “Pergi kamu! Saya gak kenal kamu!” bentak Asri. “Tapi saya kenal sama Anda!” sahut Bunga. Dia tahu jika hal ini pasti akan terjadi, ibunya tidak akan mau mengakuinya. Namun ia sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi Asri. Dia tidak mau usahanya gagal. Dia ingin mendapatkan apa yang ia inginkan. Yaitu membalas semua perbuatan teman-temannya. “Bu Asri Widyawati! Saya sangat mengenal Anda, dan pasti Anda sangat mengenal saya, kan?” ucap Bunga seraya tersenyum sinis. Mulut Asri seakan terbungkam, dia tak tahu harus berbuat apa. Di sisi lain ia takut jika Bunga akan membongkar rahasianya. Akan tetapi, ia juga merasa bersalah terhadap gadis itu. Karena telah menelantarkan Bunga sejak kecil. Asri menundukkan kepalanya, dengan kedua mata yang berkaca. “Kenapa? Apa Ibu sudah mengingat saya?” tanya Bunga dengan nada menyindir. Asri mengangkat kembali kepalanya, dan dia menoleh ke arah Satpam. “Tolong keluarkan mobilnya lagi, saya mau pergi sama gadis ini sekarang!” ujar Asri. “Baik, Nyonya. Biar saya panggilkan Sopir dulu,” “Jangan! Biar saya pergi sendiri, dan tolong rahasiakan ini dari suami saya!” ucap Asri. “Baik, Nyonya,” Satpam itu menundukkan kepalanya. “Ayo, kamu ikut saya!” ajak Asri. Bunga berjalan mengikuti ajakan wanita itu. Dan bibirnya kembali tersenyum, dia tidak pernah merasa sebahagia ini. Rupanya dengan sedikit gertakan, dia mampu membuat ibunya tunduk. ‘Hah, kalau tahu bakalan semudah ini, kenapa aku tidak melakukannya sejak dulu?’ ‘Pokoknya, mulai sekarang aku akan mengubah seluruh sifat Bunga yang polos dan bodoh itu, menjadi Bunga yang cerdas dan sangat ambisius!’ ‘Yah, aku akan menggapai semua keinginanku. Dan akan aku pastikan mereka semua sengsara!’ Bunga terus berbicara di dalam hatinya, sambil membayangkan ketika ia telah berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan. *** Asri mengajak Bunga di suatu tempat yang cukup jauh dari kediamannya. Ini adalah salah satu rumah milik sang suami, tetapi cukup lama tidak disambangi. Dia mengajak Bunga datang kemari karena merasa bahwa tempat ini sangat aman. CCTV pun juga sedang dalam perbaikan. “Duduk!” suruh Asri pada Bunga. Gadis itu masih mengedarkan pandangannya mengitari ruangan. “Sampai setakut ini rupanya?” tukas Bunga. Asri mendengus kesal mendengarnya. “Katakan apa yang kamu inginkan?” sengut Asri tanpa berbasa-basi. Bunga tersenyum sinis, dia pun juga tak mau berbasa-basi lagi. “Aku butuh uang yang banyak!” jawabnya. “Berapa yang kamu minta?” “Aku gak bisa sebutin nominalnya, Bu. Tapi aku ingin Ibu mengira-ngira sendiri berapa jumblah yang aku butuhkan!” “Memangnya akan kamu gunakan untuk apa uang itu?” tanya Asri. Bunga menghela napas sesaat, lalu menyebutkan apa saja yang ia ingin lakukan. “Aku butuh uang untuk biaya oprasi plastik, sedot lemak, biaya sekolah, tempat yang layak, dan juga uang jajan bulanan!” jawab Bunga. “Cih! Bapak kamu tidak bisa membiayayai kamu lagi, ya?” Asri bertanya dengan ekspresi menghina. “Yah, karena dia sudah meninggal!” jawab Bunga dengan tegas. Asri langsung memalingkan wajahnya dengan ekspresi kaget. “Kenapa? Apa permintaanku telalu menyusahkan, Ibu? Ibu keberatan, ya?” “Diam, jangan sebut aku Ibu. Aku tidak mau—” “Kenapa? Ibu, tidak mau mengakuiku?” tanya Bunga memotong kalimat Asri. “Iya, karena kamu—” “Karena aku jelek? Aku gendut? Atau karena aku Anak Haram?” Seketika Asri menelan salivanya dengan kedua mata menajam. Ucapan Bunga seperti sebuah tombak yang menghunjam dadanya. “Bu, Bapak Sumardi itu bukan ayah kandungku loh! Tapi dia menyayangi aku dengan tulus, dia tidak menganggapku sebagai anak tiri. Sedangkan Ibu, yang jelas-jelas Ibu kandungku malah tidak mau mengakuiku!” Dalam sekejap kedua mata Asri langsung dibanjiri dengan cairan bening. Wanita itu tak bisa menahan kesedihan, atas rasa bersalahnya terhadap Bunga. Dia memang kejam, telah melupakan anak dan suaminya, dan memilih dengan pria kaya dan hidup berkelimpahan harta. Semetara ia tak mau tahu tentang kehidupan Sumardi dan juga Bunga. “Bunga, maafkan saya. Saya memang salah sama kamu dan Bapak kamu,” tukas Asri dengan suara bergetar. “Maaf udah gak penting lagi, Bu! Yang aku butuh saat ini uang. Aku malu punya wajah jelek. Karena wajah jelek dan tubuh yang gak menarik ini, aku jadi langganan olok-olokkan teman-teman!” tegas Bunga. “Baik, Ibu akan penuhi semua keinginan kamu. Tapi Ibu mohon sama kamu ... tolong jangan bongkar masalah ini, tolong rahasiakan ya ....” Pinta Asri dengan wajah memelas. Mendengarnya Bunga menyeringai, “Soal itu Ibu tenang saja! Selama kebutuhan hidupku tercukupi, aku siap merahasiakan semua ini,” jawab Bunga. Asri merekahkan senyumannya, di antara rasa bersalahnya, terselip sebuah rasa rindu. Mendadak wanita itu ingin memeluk Bunga, hal yang selama ini tak pernah ia lakukan sebelumnya. Namun, saat tangannya hendak menyentuh tubuh Bunga, gadis itu malah menepisnya. “Maaf, tolong jangan peluk aku!” sengut Bunga. “Kenapa? Aku ini Ibu kamu, Bunga!” tukas Asri. “Aku tahu, tapi aku tidak terbiasa mendapatkan pelukan dari seorang ibu. Jadi aku butuh waktu untuk terbiasa.” Jawab Bunga. Bersambung.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 26 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (119)
NuryatiNuryati
cerita nya sangat menyentuh dan bikin saya menyukainya terimakasih
cerita nya sangat menyentuh dan bikin saya menyukainya terimakasih
06/02
0ceritanya menegangkan
26/09
0bagus bangat
18/06/2025
0Tingnan Lahat