Tak terasa dua hari telah berlalu. Semenjak kepergian Sumardi, Bunga terus mengurung diri di dalam kamarnya. Gadis itu kehilangan semangat, ia terus meratapi kepergian sang ayah. Tok! Tok! Terdengar seseorang mengetuk pintu rumah. Bunga pun bangkit dengan langkah pelan yang terkesan malas. Ceklek! Pintu rumah telah terbuka, tampak wanita paruh baya menghampirinya. “Bunga, kamu sudah makan?” tanya wanita itu. Dan dia melirik ke arah meja ruang tamu. Tampak rantang berisi makanan pemberiannya kemarin masih utuh. “Kenapa gak makan?” tanya si wanita lagi. “Aku gak napsu makan, Bu,” jawab Bunga. Dengan sabar wanita itu membujuk Bunga agar mau menyatantap makanan yang baru ia bawa. Dia adalah tetangga yang boleh dibilang, paling perhatian kepada Bunga semenjak ayahnya meninggal. Mungkin karena wanita itu merasa bertanggung jawab atas Bunga. Dia adalah tetangga terdekat, sekaligus istri seorang RT di tempat ini. Nama wanita itu 'Rita' tapi lebih akrab disapa 'Bu RT' “Bunga, kamu makan ya! Kalau kamu terus-menerus begini, kamu mau jadi apa?” “Saya udah gak tahu harus bagaimana lagi, Bu. Udah gak punya semangat,” Gadis itu menundukkan kepalanya. “Gak boleh begitu, Bunga. Kamu itu masih muda, jalan kamu masih panjang. Apa kamu sudah tidak punya cita-cita?” Bunga menjwab pertanyaan Bu Rita dengan menggelengkan kepalanya. Sementara wanita bertubuh tambun itu menghela napas panjang. “Saya pernah dengar dari Bapak kamu, bahwa selama ini kamu ditindas di sekolahan. Apa itu benar?” tanya Bu Rita. Bunga menganggukkan kepalanya lagi, “Iya, benar. Dan itu pula yang membuat saya tidak punya semangat hidup. Ditambah lagi dengan kepergian Bapak,” jawab Bunga. Bu Rita merangkul pundak Bunga erat-erat. Dan menatap kedua mata Bunga dengan seksama. “Kalau begitu kamu jangan diam saja, Bunga! Kamu itu harus bersemangat. Raih mimpi kamu, dan tunjukan kepada mereka, kalau kamu bisa lebih baik dari pada mereka!” pungkasnya memberi semangat kepada Bunga. “Tapi ... itu tidak mungkin. Mereka semua orang kaya, sementara saya tidak punya apa-apa. Saya gak mungkin bisa sekolah lagi, kalau pun bisa ... di sekolah baru saya pun sudah pasti akan ditindas lagi,” jawab Bunga. “Maksud kamu itu apa, Bunga?” “Bu, mereka menghina fisik saya. Saya tidak mungkin bisa mengubahnya. Bahkan karena hinaan mereka, Bapak sampai jatuh sakit. Dan sekarang Bapak meninggal,” tutur Bunga. Tak habis pikir Bu Rita saat mendengar penjelasan dari Bunga. Ia tak menyangka jika kehidupan Bunga separah ini. Dan semua itu berawal hanya karena fisik. Memang tak dapat dipungkiri jika fisik adalah segalanya untuk saat ini. Bu Rita juga sering melihat orang-orang di kampung ini yang membicarakan Bunga. Mereka menertawakan fisik Bunga yang terbilang jelek dan tidak menarik. Awalnya ia pikir itu hal yang biasa, dan hanya terjadi di lingkungan rumah saja. Namun ternyata, di sekolah Bunga mendapatkan perlakuan serupa, dan justru malah lebih parah lagi. Dia sampai harus menjadi bulan-bulanan teman-temannya, hingga tak kuat dan memutuskan untuk berhenti sekolah. Dan yang lebih parahnya lagi, Sumardi sampai meninggal karena memikirkan nasib Bunga. Wanita bertubuh tambun itu kembali bersemangat, untuk membujuk Bunga, agar bangkit, dan melupakan kesedihannya. “Bunga, saya dapat merasakan apa yang kamu rasakan, dan saya harap kamu benar-benar harus bangkit! Jangan biarkan mereka terus menerus bersenang-senang di atas penderitaan kamu. Ayo balas mereka!” “Tapi bagaiamana caranya, Bu? Saya tidak bisa mengubah wajah saya. Jangankan untuk membalas perbuatan mereka, ada salah satu orang yang mau berteman dengan saya saja ... saya sudah seperti mendapatkan keberuntungan!” tanggap Bunga. “Kata siapa!? Semua ada jalan kalau kamu punya semangat, dan tekat yang kuat, Bunga!” Bu Rita mengepalkan tangannya. “Maksudnya?” tanya Bunga. Lalu Rita mulai menjelaskan maksudnya. Bahwa Bunga bisa mengubah nasibnya jika dia berhasil menemukan ibu kandungnya. Seperti yang ia ketahui, bahwa ibu kadung Bunga telah menikah dengan pria kaya raya. Mungkin Bunga bisa memanfaatkan ibunya untuk meminta sejumlah uang. Lalu menggunakan uang itu untuk biaya pendidikan, dan juga oprasi wajah, serta perawatan tubuh. Mungkin jika fisik Bunga menjadi lebih cantik, maka tidak akan ada orang yang akan menindasnya lagi. Dan gadis itu bisa kembali bersekolah serta meraih cita-citanya. Sampai ia hidup menjadi orang sukses, dan dapat membungkam mulut jahat para teman-teman yang pernah menindasnya. Bu Rita tak munafik, menurutnya ... selama ada uang, segala sesuatu akan menjadi mudah. *** “Tapi, bagaimana saya bisa menemukan ibu saya? Saya tidak tahu dia tinggal di mana?” tanya Bunga. “Saya tahu alamatnya yang sekarang!” jawab Bu Rita dengan tegas. “Terus, kalau dia menolak permintaan saya bagaiamana?” tanya Bunga sekali lagi, “karena saya yakin, dia tidak mau mengakui saya sebagai anaknya ....” Gadis itu menundukkan kepalanya. “Gak apa-apa dia gak mau mengakui kamu sebagai anaknya. Yang penting kamu dapat uangnya,” “Tapi ... gimana caranya, Bu?” “Kamu ancam saja dia! Kalau gak mau kasih kamu uang, kamu bakalan bongkar rahasianya, bahwa kamu adalah anak kandungnya! Pasti dia akan takut diceraikan suaminya, dan akan menuruti seluruh permintaan kamu!” jelas Rita. Sebenarnya Bunga agak ragu akan saran dari Bu Rita. Namun ia merasa jika ucapan wanita ini ada benarnya. Toh, selama ini ibunya tidak pernah mengurus atau memberinya uang sepeserpun. Kalau pun dia meminta, meski dengan cara yang mirip perampok pun juga tak masalah. Dia berhak mendapatnya. Bunga tidak mau terus terpuruk seperti ini. Dan dia juga berhak untuk bahagia. Bunga ingin membalas semua perbuatan orang-orang yang telah menyakitinya. Bukan tak hanya membalas dengan menujukkan kesuksesannya di depan mereka, tetapi Bunga ingin melakukannya dengan cara yang lebih ekstrim. Entah apa itu, yang jelas, kini bibir Bunga tersenyum, dengan tatapan aneh. ‘Yah, aku bakalan balas mereka! Kalau perlu aku akan buat mereka lebih menderita dari apa yang aku rasakan!’ bicaranya di dalam hati. Mendadak semangat pada jiwanya berkobar. Dia bukan hanya ingin membalas mereka dengan cara memamerkan kesuksesan hidupnya. Tetapi dia ingin melakukannya dengan cara lain. Melihat tingkah aneh Bunga yang mendadak menyeringai, Bu Rita sedikit khawatir. Dan takut jika Bunga mulai berpikiran lain, atau tidak sejalan dengan apa yang ia sarankan tadi. “Bu Rita, tolong kirimkan alamat ibu ke nomor saya sekarang!” pinta Bunga. “I-i-iya!” jawab Bu Rita terbata-bata. Setelah menerima alamat rumah ibunya, Bunga tersenyum tipis dan berterima kasih kepada wanita paruh baya itu. “Saya ucapkan terima kasih, Bu Rita. Karena berkat Bu Rita, saya jadi tahu apa tujuan hidup saya!” tukas Bunga. Bu Rita menganggukkan kepala seraya tersenyum paksa. “Yasudah, kalau begitu saya pulang dulu ya, Bunga. Dan makanannya jangan lupa dihabiskan,” “Iya, Bu Rita. Sekali lagi terima kasih. Kali ini pasti saya makan,” jawab Bunga. Bersambung.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 24 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (119)
NuryatiNuryati
cerita nya sangat menyentuh dan bikin saya menyukainya terimakasih
cerita nya sangat menyentuh dan bikin saya menyukainya terimakasih
06/02
0ceritanya menegangkan
26/09
0bagus bangat
18/06/2025
0Tingnan Lahat