Semakin hari, kondisi kesehatan Sumardi semakin memburuk. Kurang lebih, sudah satu minggu ini Sumardi tidak berangkat bekerja. Jangankan bekerja, untuk bangkit saja pria itu tak mampu. Bunga sangat bersedih melihat keadaan sang ayah yang terkapar. Dia tidak tahu harus berbuat apa-apa, karena untuk membawa sang ayah pergi berobat saja, ia juga tak memiliki biaya. Sedangkan kakek dan neneknya tak mau tahu. Tempat tinggal mereka pun juga jauh di luar kota. “Bapak, bertahan ya, Pak! Aku mau beli obat,” tukas Bunga sambil menangis. “Udah gak usah, lagian Bapak gak apa-apa. Besok juga pasti akan sembuh,” ujar Sumardi. “Tapi sakit Bapak gak sembuh-sembuh, sebelumnya Bapak gak pernah sakit sampai selama ini!” “Udah, gak apa-apa, Bapak biar tidur saja, Bunga. Nanti juga sembuh .... ” “Tapi, Pak—” “Bunga, kamu lihat kan?” Sumardi menengok ke arah meja. “Stok obat-obatan warung masih banyak.” Ujar Sumardi mengakhiri obrolannya. Pria itu memejamkan matanya, sambil mendengkur lumayan keras. Bunga pun keluar dari dalam rumah. Gadis itu menggigit kuku jari di depan pintu. Raut wajahnya tampak tak tenang. Dia tahu jika ayahnya sedang tidak baik-baik saja. Sumardi hanya berpura-pura kuat, agar Bunga tidak khawatir. Namun hal itu malah membuat Bunga semakin bersedih. Karena di saat sang ayah sakit begini, ia tak bisa membawanya berobat ke tempat yang seharusnya. “Di mana aku harus mencari uang?” Gadis itu menggaruk-garuk kepalanya sambil berjalan mondar-mandir tak karuan. Tiba-tiba ia teringat dengan Pak Davin. Selama ini hanya pria itu yang selalu berbaik hati, dan mau menolong keluarganya, bahkan rela menyekolahkan Bunga di tempat yang bagus. “Apa aku ke rumah Pak Davin saja, ya?” “Tapi, bagaimana kalau aku bertemu dengan Dona?” “Pasti dia akan menggangu dan mengolok-olok aku? Apa lagi ini kan hari Minggu? Dia pasti ada di rumah!” Bunga menggelengkan kepalanya. “Enggak! Aku gak peduli soal itu! Kesembuhan Bapak, yang utama!” ujar Bunga. Tanpa berpikir panjang, Bunga bergegas pergi ke rumah Pak Davin. Harapannya begitu besar untuk mendapatkan bantuan dari pria itu. *** Sudah sampai di depan gerbang rumah bak istana, Bunga kembali ragu. “Apa orangnya ada di dalam?” “Ah, pasti ada!” Dia bermonolog untuk meyakinkan dirinya sendiri. Saat menekan bel pintu, tak lama ada seorang perempuan yang menemuinya. Wanita itu adalah Asisten Rumah Tangga di sini. “Maaf, sedang cari siapa, ya?” tanya wanita itu. “Saya mau bertemu dengan Pak Davin. Apa beliau ada?” sahut Bunga. “Oh, sebentar ya, saya panggilkan dulu,” Wanita itu masuk ke dalam lagi, untuk memberitahu Pak Davin. Tapi belum sampai di lantai atas, ia malah berpapasan dengan Dona. “Ada apa, Mbak?” tanya Dona. “Itu, Non! Ada yang nyari Pak Davin.” “Siapa?” “Gak tahu, tapi orangnya masih sepantaran, Non Dona,” jawab si wanita. Dona mengernyitkan dahinya. “Ciri-cirinya gimana?” “Orangnya agak pendek, gendut, berkulit hitam dan—” “Mukanya jerawatan, tongos, terus jelek?” sahut Dona memotong kalimat ART-nya. “Eh, i-iya, Non!” “Yaudah, biar aku yang menemui dia. Kamu balik kerja lagi aja! Gak usah ngomong ke Papa saya!” perintah Dona. “Tapi, Non—” “Udah, nurut aja sama saya!” Akhirnya Asisten Rumah Tangga itu pun menuruti perintah Dona. Ia kembali bekerja, sementara Dona berjalan menemui Bunga. *** Ketika Dona keluar dari dalam rumah, kedua mata Bunga menajam dengan raut ketakutan. “Heh, kamu ngapain ke sini?” tanya Dona dengan tatapan menghina. “Sa-saya, mau ketemu Pak Davin,” jawab Bunga terbata-bata. “Mau ngapain? Mau ngemis?” “Bu-bukan, tapi saya mau—” “Minta duit!” potong Dona. Bunga pun langsung berlutut di hadapan Dona. Ia membuang seluruh rasa gengsi. “Dona, saya mohon ... biarkan saya bertemu dengan Papa kamu. Saya butuh dia, Bapak saya sedang sakit. Kami tidak punya uang untuk berobat,” ujar Bunga. “Terus, apa hubungannya sama Papa aku? Memangnya kami ini bank? Udah pulang sana! Udah disekolahin gratis tapi masih gak tahu diri! Berani-beraninya minta uang ke Papa aku!” oceh Dona sambil menendang tubuh Bunga yang ada di bawahnya. “Tapi tolong saya, Dona! Bapak saya benar-benar butuh bantuan ....” Bunga masih merengek. Tetapi sayangnya Dona tidak mau tahu, dia sama sekali tak peduli, dan malah mengusir Bunga dari kediamannya. “Pergi! Atau kamu mau aku penggilingan Satpam?!” gertaknya. Bunga pun terpaksa pulang dengan tangan kosong. Lantaran ia tak berhasil bertemu dengan Pak Davin. Padahal jika ia tadi berhasil bertemu dengan Pak Davin, pasti dia akan mendapatkan pertolongan. Karena seperti yang ia ketahui, Pak Davin adalah pria kaya yang sangat baik hati. Dia terkenal dermawan, dan dia juga pemilik sekolah elit itu, sekaligus pengusaha makanan sukses. Selama ini ... dia sangat peduli kepada Sumardi beserta Bunga. Dia sering memberikan santunan. Dan tak segan berkunjung ke rumah reot mereka. Namun akhir-akhir ini, pria itu jarang mampir, karena sedang sibuk. Hingga ia juga belum sempat menengok Mardi yang sedang sakit. *** Bunga menangis sepanjang perjalanan pulang. Ia turun dari sebuah mobil angkot. Dan ketika ia memasuki gang rumahnya, tiba-tiba di sana sudah ada banyak orang yang berkerumun. Bunga tampak penasaran, ia berjalan mendekat dengan langkah yang cepat. “Ada apa ini, Bu RT?” tanya Bunga. “Bunga, kamu dari mana aja?” sengut wanita bertubuh tambun dengan daster gombrang. “Me-mangnya, ada apa, Bu?” “Bapak kamu meninggal, Bunga!” “Apa?!” Bunga berteriak histeris, ia berlari menghampiri jasad sang ayah yang sudah terbujur kaku. Kini ia tidak memiliki siapa-siapa lagi, satu-satunya orang yang peduli dengannya telah pergi untuk selama-lamanya. “Bapak, kenapa pergi, Pak! Aku sama siapa, Pak?!” teriak Bunga. Gadis itu mendadak kehilangan akal sehat, saking sedihnya bercampur marah, ia mengamuk dan membanting-banting barang-barang di sekitarnya. Sesekali ia kembali lagi memeluk jasad sang ayah sambil menangis, dan memelas. Gadis itu benar-benar tak rela ditinggal pergi oleh ayahnya. Dia masih berharap ada keajaiban, lalu Sumardi kembali bangkit. Namun sayangnya ... itu semua tidaklah mungkin. “Bapak, jangan pergi!” “Bangun, Pak! Bangun!” “Aku gak mau sendiri, Pak! Aku gak terima Bapak mati!” Orang-orang yang ada di tempat itu mulai menenangkan Bunga. Meski jumblah mereka banyak, namun tetap saja kewalahan. Mereka tampak heran melihat perubahan Bunga. Tak biasanya gadis itu berteriak, dan mengeluarkan suara sampai sekencang ini. Yang mereka tahu, Bunga adalah gadis yang pendiam dan sangat sopan. Baru kali ini, mereka melihat Bunga berteriak-teriak histeris, sambil membanting-banting barang. Mungkin karena kesedihan yang mendalam, sehingga gadis itu pun kehilangan kendali. Sampai mirip orang yang kesetanan. Para warga dapat memahami situasi yang sedang dialami oleh Bunga. Sebisa mungkin mereka membantu Bunga, agar bisa tegar melewati cobaan ini. Bersambung.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 25 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (119)
NuryatiNuryati
cerita nya sangat menyentuh dan bikin saya menyukainya terimakasih
cerita nya sangat menyentuh dan bikin saya menyukainya terimakasih
06/02
0ceritanya menegangkan
26/09
0bagus bangat
18/06/2025
0Tingnan Lahat