Ceklek! (Seseorang membuka pintu) “Bunga! Kamu mau apa?!” teriak Mardi. Pria itu dengan segera meraih gunting dari tangan putrinya. Dia memeluk tubuh Bunga dengan erat. Air mata yang tadinya tak terjatuh, kini kembali runtuh. Menetes, membasahi pipi gadis bertubuh tambun itu. “Bunga udah gak kuat lagi, Pak! Bunga mau mati aja!” “Jangan begitu, kalau kamu mati Bapak sama siapa, Bunga?” “Tapi, orang-orang benci sama aku, Pak!” “Tapi Bapak sayang sama kamu, Bunga! Kalau kamu pergi Bapak sedih, Bapak gak punya siapa-siapa lagi, kakek dan nenekmu sudah tidak mau mengenal Bapak!” “Itu karena aku, Pak! Kalau saja Bapak tidak merawatku, mungkin mereka akan tetap baik sama, Bapak!” Sumardi menggelengkan kepalanya. “Enggak, gak begitu!” ucapnya. Mardi terus membujuk Bunga untuk tetap bertahan. Bahkan dia sampai mengiba supaya Bunga tidak lagi melakukan tindakan bodoh itu. “Tolong jangan lakukan lagi, Bunga. Kalau kamu mati ... Bapak akan sebatang kara, Bapak sendirian. Kalau Bapak tua nanti, siapa yang akan merawat Bapak?” ucap Mardi. Bunga tidak tega melihat raut wajah sang ayah yang memelas. Ia juga tak dapat membayangkan betapa menderitanya jika ia pergi. Apalagi, untuk saat ini saja, Sumardi sudah sering sakit-sakitan. Bunga pun kembali mendapatkan semangat hidup. Dan dia hidup bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan untuk sang ayah. “Maafkan aku, Pak. Aku janji gak akan melakukan tindakan bodoh itu lagi,” bicara Bunga lirih. Mardi tersenyum bahagia mendengarnya. Melihat semangat di dalam diri Bunga, seperti mendapatkan secercah harapan. Setidaknya, ada orang yang membuatnya bersemangat untuk mencari nafkah, dan untuk berbagi keluh kesah. Keduanya kembali berpelukan, seraya menangis sesenggukan. Darah seakan mengalir dari sumber yang sama. Padahal, keduanya tak memiliki ikatan darah sama sekali. Namun, cinta kasih Sumardi layaknya seorang ayah kepada putri kandungnya. *** Malam itu kembali tenang, Mardi pergi ke kamarnya, dan Bunga juga mulai memejamkan mata di kasur kumalnya. Hingga tak terasa ... malam telah berganti pagi. Dan kokok ayam tetangga, seakan menjadi alarm untuk membangunkan Bunga dari tidur lelap. Gadis itu membuka jendela, sambil memandang indahnya pagi. Wajahnya kembali murung, setiap mengingat suasana sekolah ... hatinya selalu ketakutan. Teringat akan perlakuan buruk dari seluruh teman-temannya. Setiap kalimat mereka masih tersimpan dalam pikiran. Dan terus terulang-ulang hingga membuatnya tak tenang. Akan tetapi, dari semua hal yang tidak ia sukai di sekolah, Bunga tidak mau membuat sang ayah bersedih. Ia harus bertahan dalam neraka itu, paling tidak sampai ia lulus. *** Bunga memasuki gerbang sekolah, dan seluruh mata mulai mengarah kepadanya. Mereka mulai berbisik sambil menertawakan Bunga. Gadis itu hanya bisa diam dan menundukkan kepalanya. Sampai di dalam kelas, ia duduk di bangku pojok yang terletak paling belakang. Sembari mengeluarkan buku-bukunya, tiba-tiba Vero si Ketua Kelas datang. Pria itu menyapa seluruh teman-teman lelakinya. Tanpa segan ia mengobrol sambil bercanda, Vero terlihat sangat ramah. Bunga sangat kagum terhadap pria itu. Di antara teman-teman sekolah yang selalu mengganggunya, hanya Vero yang tak pernah ikut-ikutan. Bahkan Vero pernah menyuruh seluruh teman-teman di kelas agar tidak mengganggu Bunga. Ia tidak mau ada keributan. Vero melakukan itu bukan karena dia ingin membela Bunga, melainkan karena tak mau ada keributan di kelas. Karena dia yang bertanggung jawab atas kelasnya. Meski begitu, bagi Bunga hal ini sangat berarti. Dia menganggap Vero adalah orang yang paling baik di antara teman-temannya. Selain itu, Vero juga memiliki wajah yang sangat tampan. Dia bak pangeran di mata Bunga. Bahkan Bunga sering berkhayal memiliki pacar seperti Vero. Tak sadar ia tersenyum seraya memandangi wajah Vero dari kejauhan. Matanya nyaris tak berkedip. Dona melihat tingkah Bunga, dan gadis itu pun segera mengambil kesempatan. Dia meraih ponsel lalu merekam tingkah aneh Bunga. Sambil menahan tawa, ia mulai mengedit, dan menyebarkannya di media sosial. Tak butuh waktu lama, vidio itu pun menjadi viral. Terlebih Dona adalah gadis dengan jumlah pengikut yang cukup banyak di media sosial. Dibantu oleh teman-temannya yang juga para gadis berpengaruh di sekolah ini. Sehingga untuk membuat vidio ini menyebar pun tidaklah sulit. *** Sejak hari itu, orang-orang semakin menjadi-jadi dalam menghujat Bunga. Gadis itu tak menyadari, sampai pada suatu ketika ia membuka ponsel, dan kalimat hujatan sudah memenuhi kolom komentar vidio yang menandainya. [Dasar, udah jelek gak tahu diri!] [Gendut!] [Bagaikan bebek dan Pangeran! Jauh banget, Njir!] [Kalau aku jadi dia, tahu vidionya viral langsung nenggak racun serangga! Haha!] [Gila, malu banget pasti!] [Kasihan si Vero, pasti mimpi buruk terus nih, gara-gara ketempelan demit hahaha!] Dan masih banyak lagi hinaan yang sangat menyakitkan. Bunga tak tahan membacanya. Pada hari itu juga, ia langsung menutup seluruh akun media sosialnya. Bunga tak hanya mendapatkan komentar buruk dalam dunia maya saja, akan tetapi juga berlaku dalam dunia nyata. Rupanya Vero memiliki banyak penggemar di sekolah ini. Dan para gadis yang menyukai Vero tidak terima, lantaran Bunga menaruh rasa pada pria itu. Bahkan ada yang dengan sengaja mendatangi Bunga, lalu memakinya secara terang-tetangan. “Heh, Bunga! Kamu itu gak ngaca, ya! Kamu suka sama Vero? Vero itu gak pantes buat kamu tahu!” maki gadis bernama Jane. Dia barasal dari kelas lain, dan datang kemari hanya untuk menemui Bunga serta untuk membuat perhitungan. “Ma-maaf, Kak Jane. Tapi aku—” “Diam! Gak usah banyak bacot! Pokoknya, aku gak terima kamu lihat wajah Vero pakek muka mesum kayak gitu!” Jane menoyor kepala Bunga. *** Vidio itu benar-benar membuat hidup bunga di sekolah ini kian memburuk. Bahkan berita ini juga sampai pada Vero, dan pria itu tak mau lagi berinteraksi dengan Bunga. Apa pun yang terjadi di kelas, jika itu membahas tentang Bunga, Vero seakan menutup telinganya. Ia tidak mau tahu! Bahkan pernah sekali Vero menatap Bunga dengan ekspresi jijik. Karena sudah tak kuat lagi, akhirnya Bunga pun memutuskan untuk keluar dari sekolah. Ia tak bisa bertahan lebih lama, dia merasa jika terus berada di sekolah ini, maka kemungkinan baginya untuk bunuh diri akan semakin tinggi. *** “Bunga, apa kamu sudah yakin dengan keputusan kamu itu itu, Nak?” tanya Sumardi. “Yakin, Pak. Bunga udah gak tahan, maafkan Bunga, ya ....” Gadis itu menangis di hadapan sang ayah. “Kalau ini yang terbaik untukmu, Bapak tidak akan melarang lagi, yang penting kamu bahagia.” Ucap Sumardi. *** Meski Bunga sudah berhenti bersekolah, namun mereka masih terus membicarakan Bunga. Bahkan Sumardi mendengarnya secara langsung. Hal ini membuat Mardi merana, serta kasihan kepada putrinya. Sayangnya ... ia tak bisa berbuat apa-apa, dia juga tak berani mengadu kepada Pak Davin. Mardi tidak enak hati, karena sumber dari masalah ini berasal dari Dona, yang tak lain putri kandung dari Pak Davin. Mardi tidak mau membuat Pak Davin bertengkar dengan Dona, karena selama ini Pak Davin selalu berbuat baik kepadanya, terlebih kepada Bunga. Selalu memikirkan masalah yang menimpa Bunga, membuat kondisi kesehatan Mardi pun kian menurun, dan sekarang ia jatuh sakit. Bersambung.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 25 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (119)
NuryatiNuryati
cerita nya sangat menyentuh dan bikin saya menyukainya terimakasih
cerita nya sangat menyentuh dan bikin saya menyukainya terimakasih
06/02
0ceritanya menegangkan
26/09
0bagus bangat
18/06/2025
0Tingnan Lahat