Pagi itu sangat cerah, namun terasa mendung bagi gadis bernama Bunga. Ia tengah berada di dalam toilet dengan keadaan pintu yang terkunci. Pakaiannya yang kumal kini basah kuyup. Rambutnya yang ikal, dipenuhi oleh busa sabun pembersih lantai. Bunga menangis dalam ruangan yang kotor dan bau. Sementara di luar, terdengar gelak tawa para teman-teman kelasnya. Mereka dengan sengaja mengunci Bunga di dalam toilet, dan menyiram tubuh Bunga dengan air kotor bekas mengepel. Tak satu pun yang berani melaporkan masalah ini, seluruh siswa dan siswi takut kepada Dona, seoarang gadis paling berkuasa di sekolah itu. Lagi pula memang tak ada yang menyukai Bunga, atau pun sudi berteman dengannya. Mereka menganggap, jika berteman dengan Bunga sama saja mempermalukan diri. Bunga, gadis dengan tinggi 150 cm, memiliki berat badan 60 kg, berkulit hitam, dan mempunyai tanda lahir di bagian pipi. Dia selalu menjadi sosok buruk rupa di sekolah ini. Giginya agak sedikit tongos, wajahnya dipenuhi dengan jerawat. Ditambah lagi, dia terkenal aneh karena selalu gemetaran saat berhadapan dengan orang lain. Sehingga mereka menganggap Bunga layaknya sesosok Badut, yang hanya sebagai hiburan untuk ditertawakan. Bunga tidak pantas untuk dijadikan teman, tak ada yang bisa dimanfaatkan. Uang tak punya, dan otak pun juga pas-pasan. Ada banyak nama panggilan yang disematkan pada gadis ini. Si Monster, si Aneh, si Jelek, si Bunga Bangkai, dan masih banyak lagi. Bel masuk sekolah terdengar, pada saat itu gelak tawa mulai redam. Dona dan kawan-kawannya sudah kembali ke kelas, sementara Bunga masih terjebak di sini. Isak tangisnya kini menjadi alunan nada dalam kehampaan. Tak ada yang menemaninya. Hanya cicak, serta para kecoak, yang seakan-akan tengah memandanginya. Dia tak merasa jijik sedikit pun, karena sudah terbiasa. Dikurung dalam toilet oleh teman-temannya, bukan hanya satu atau dua kali ia rasakan. Namun sudah berkali-kali. Dia duduk di sudut tembok, dan memendamkan wajahnya di antara kedua lutut. Ceklek! Seorang pria tua membuka pintu toilet. Dia adalah Pak Mardi, penjaga sekolah di sini. “Bunga, kamu diganggu lagi?” tanya pria itu dengan tatapan iba. Bunga mengangkat sedikit wajahnya, lalu ia mengangguk masih dengan air mata berderai. Pak Mardi segera menolong gadis itu, dia membantunya bangkit. “Sabar ya, Bunga. Maafkan Bapak, kalau Bapak punya rezeki, Bapak akan sekolahkan kamu di tempat lain,” ujarnya. “Bunga gak mau sekolah lagi, Pak,” jawab gadis itu dengan lirih. “Jangan begitu, Nak. Kamu harus tetap bersekolah, masa depanmu masih panjang, Bunga. Jangan seperti Bapak yang cuma jadi Tukang Bersih-Bersih,” pungkas Mardi. Bunga dapat bersekolah di tempat ini, atas kemurahan hati Pak Davin si Pemilik Sekolah. Beliau yang menanggung semua biaya pendidikan Bunga, karena merasa kasihan kepada Pak Mardi. Pria tua itu tak mampu membiayai putrinya untuk bersekolah ditempat se-elite seperti ini. Selain itu, Davin juga memiliki hutang budi kepada Sumardi di masa lampau. Sehingga ia ingin membalasnya dengan membiarkan Bunga menuntut ilmu di tempat ini. Namun sayangnya, kebaikan hati Pak Davin tidak berdampak baik bagi Bunga. Justru gadis itu malah mendapatkan penderitaan. Dia juga tidak fokus dalam belajar, lantaran tak memiliki rasa percaya diri untuk membaur dengan teman-teman yang lain. Gadis itu memang seorang introvert, yang sejak kecil selalu menyendiri. Jangankan untuk membaur, berbicara dengan orang lain saja, ia tak berani memandang wajahnya. Bahkan perlakuan buruk sudah ia dapatkan sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Namun pada saat itu, perlakuan mereka masih terbilang dapat dimaklumi bagi Bunga. Puncaknya ketika ia baru memasuki Sekolah Menengah Atas. Mereka semakin brutal, bahkan boleh dibilang tidak manusiawi lagi. Bukan hanya hinaan yang ia dapatkan, tetapi juga kekerasan. Mereka selalu menghina fisik Bunga yang terbilang tidak cantik. Penampilan yang amburadul juga semakin membuat mereka menjadi-jadi saat mem-bully. Memang Bunga tak seperti gadis lain yang suka merawat diri dan menjaga penampilannya. Lagi pula, ia tak memiliki banyak uang untuk hal itu. Sejak kecil ia hanya hidup dengan ayahnya, ia tak pernah merasakan sentuhan seorang ibu. Konon Asri yang tak lain ibu kandung dari bunga, telah pergi dengan laki-laki lain. Ia meninggalkan Mardi karena tak mau hidup dalam kemiskinan. Sehingga ia memilih mengubah nasib, dengan menikahi pria kaya-raya. “Bunga, Bapak antarkan kamu pulang. Kamu istirahat saja, biar nanti Bapak bilang sama wali kelasmu,” ujar Mardi. Bunga hanya pasrah, saat sang ayah menuntun dan mengantarkannya pulang. Dia tak tahu sampai kapan ia akan terus mengalami hal yang jauh dari kata menyenangkan. *** Kini Bunga sudah berganti pakaian, dan tengah terbaring di atas kasur kumal. Ia memandangi foto sang ibu yang masih terpajang. Wajah wanita itu lumayan cantik, kulitnya putih bak kapas, dengan bibir merah berhiaskan lipstik. Sungguh, parasnya teramat sedap dipandang mata. Bunga meraih foto itu, dan merabanya. “Ibu, kenapa pergi? Kenapa tidak mau mengurusku? Apa karena aku jelek?” Bunga tersenyum sinis. “Awas ya, kalau bertemu nanti ... aku akan menuntut hakku!” Bunga sudah tahu jika ibunya bukanlah wanita baik-baik. Asri sudah memperdaya Mardi untuk mengakui bayi yang ia kandung. Ya ... Bunga memang bukan anak kandung dari Sumardi alias Mardi. Sebelum mengenal pria itu, Asri sudah hamil duluan dengan pria yang sampai detik ini masih disembunyikan identitasnya. Dan karena hal ini pula, Bunga memiliki rupa yang berbeda. Ia tak mirip dengan ibunya atau pun Mardi sang ayah. Kemungkinan dia mirip dengan pria yang telah menghamili Asri, dan yang sampai saat ini tak ia ketahui keberadaannya. Meskipun Mardi hanyalah ayah sambung, namun pria itu sangat menyayangi Bunga layaknya putri kandungmya sendiri. Ia tak pernah membahas setatus Bunga, justru bunga mengetahuinya karena tak sengaja mendengar neneknya mengobrol dengan seseorang, dan membahas tentang asal-usulnya. Saat itu hati Bunga benar-benar hancur. Tetapi, sekarang ia sudah dapat menerima kenyataan. Toh, takdir tak bisa diubah. Setidaknya, Bunga masih beryukur karena memiliki ayah seperti Mardi. Pria yang dengan tulus menyayanginya. Dan bunga juga sangat menyayangi pria itu, bahkan dia tak rela apa bila ada orang lain yang menyakiti Mardi. *** Berada di depan cermin, Bunga memandangi wajahnya sendiri. Lalu gadis itu bermonolog dengan penuh kebencian. “Sampai kapan aku begini? Apa aku akan begini sampai mati?” Dia menggelengkan kepalanya. “Enggak! Enggak mau!” “Apa aku harus mengakhiri semuanya?” “Mungkin memang baiknya begitu,” Bunga meraih gunting yang berada di atas meja belajar. Dia tersenyum masam, dan memandangi benda itu dengan detail. Ujungnya yang tajam seakan memerintahkan untuk segera menggunakannya. Perlahan dia mengangkat benda itu agak tinggi. Dia sudah membayangkan jika ujung gunting yang runcing akan mendarat pada ulu hatinya. Gadis itu memejamkan netra sesaat, tak ada air mata lagi. Yang ada hanya deru napas yang bergemuruh. Tubuhnya juga mulai bergetar. Bersambung.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 24 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (119)
NuryatiNuryati
cerita nya sangat menyentuh dan bikin saya menyukainya terimakasih
cerita nya sangat menyentuh dan bikin saya menyukainya terimakasih
06/02
0ceritanya menegangkan
26/09
0bagus bangat
18/06/2025
0Tingnan Lahat