"Mas, jangan ceraikan aku." Hani menepuk pelan pipi Rival yang tengah melamun, matanya masih merah seusai menangis. Rival tersadar dari lamunan masa lalunya, tentang Bu Sani, mamanya. "Aku belum mengambil hak sebagai suami, tidak ada yang dirugikan disini, kau masih gadis jika nanti menikah denga pria yang kau cintai." Rival melepaskan tangan Hani yang memegang tangannya. "Bukan itu yang kumau saat ini!" "Jangan khawatir, aku akan tetap membiayai kuliahmu ke Kairo." Rival bangkit dan berjalan menuju sofa. Hani ikut bangkit. "Serendah itukah aku dimatamu?!" Hani tertawa pelan. "Tak perlu diperpanjang, aku tak suka menyakiti seorang gadis. Kalau kau tak sanggup, pergilah!" usir Rival. "Aku sanggup!" Hani berlari dan memeluk Rival dari belakang. "Kau yakin?" "Yakin!" Hani menjawab cepat. Rival berbalik badan, tersenyum nakal dan menatap tajam. "Boleh aku mengambil hakku?" tanya Rival pelan namun bagai sambaran petir di telinga Hani. "Besok, masa cutiku habis, aku akan kembali ke kantor seperti biasa, sambil memecahkan kasus ini, jadi apa kau mengizinkanku mengambil hakku?" Rival tersenyum tipis, menawan. "Ta .... tapi ...., aku ...." Hani gugup, tidak menyangka akan secepat ini. "Hahaha." Rival tertawa, melihat tingkah istrinya yang menggemaskan ia mundur satu langkah dengan wajah memerah, dan bicara dengan bibir bergetar. "Kau pikir aku menyukai gadis kecil sepertimu? Aku bukan pedofil, mungkin nanti kalau kau siap." Hani menarik nafas lega. Tapi rasa malu karena tingkahnya tak hilang. ***** "Hari ini aku akan ke kantor, sambil menemui komisaris Han, hati-hati di rumah," pesan Rival setelah sarapan. "Hati-hati juga di jalan," ucap Hani. Rival pergi mengendarai mobilnya, ia sudah tak ingin memakai supir sejak semua supir diganti oleh Meta. "Apa yang bisa kulakukan untuk membantu suamiku, dia bilang tak boleh dengan kasar ya," gumam Hani pada dirinya sendiri. "Non, lagi mikirin apa? Kelihatannya berat sekali," tanya Bi Ijah, yang tiba-tiba ada di hadapan Hani. "Bi, apa Bibi tahu kalau Rival dalam kondisi sulit?" tanya Hani penasaran. "Maksud, Non? Sulit bagaiman?" BI Ijah nampak kebingungan. "Bibi pasti tahu kalau semua aset Pak Deris adalah milik ibunya Mas Rival, keluarga Demoris, kan?" selidik Hani. Bi Ijah nampak, memperhatikan sekitar, memastikan tak ada orang yang mendengar percakapan mereka. "Iya, Bibi tahu, dan Bibi juga sedikitnya tahu rencana busuk Meta dan anaknya, tapi bingung mau ngomong sama Tuan Rivalnya gimana, sekarang Bibi bisa ngomong sama Non," jelas Bi Ijah. "Soal apa, Bi? Rencana apa?" bisik Hani. "Meta menikah dengan Tuan Deris hanya mengejar harta, dan Meta adalah sekretaris Tuan Deris dulu. Mereka ingin merebut semua aset sebelum Tuan sadar dari sakitnya, Non," bisik Bi Ijah, terlihat sangat hati-hati. "Berarti Mas Rival harus bertindak cepat," bisik Hani. Terdengar serap langkah kaki, Bi Ijah menepuk pelan tangan Hani agar diam. "Sedang apa kalian?" tanya Widia sinis. "Membicarakan masakan kesukaan Mas Rival," jawab Hani, berbohong. "Kurang kerjaan sekali," ujar Widia sambil ikut duduk di meja makan. "Widia, apa kamu enggak ingin kerja gitu?" tanya Hani. "Untuk apa? Papaku kaya," jawab Widia. Tak lama kemudian Meta juga datang ke meja makan, ikut makan bersama putrinya. "Lagi apa kalian disitu?! Mengganggu selera makanku saja!" bentak Meta. "Oke, aku pergi, Nyonya!" pamit Hani dengan nada mengejek. Hani pergi ke kamar yang berada di lantai dua. Rasanya jenuh juga berada di rumah besar dan tidak melakukan aktivitas apapun. Hani duduk di sofa kamar sambil menonton televisi. Hanya sebatas raganya yang menonton, pikirannya melayang. 'Apa yang harus kulakukan? Memusuhi mereka atau mengambil hati mereka? Semua ada resikonya,' gumam Hani dalam hati. Hani berjalan keluar kamar barangkali menikmati pemandangan bisa menghilangkan kepenatannya. Mobil berwarna merah metalik, keluar dari garasi dan meluncur entah kemana. "Mau kemana mereka?" tanya Hani. ****** Sementara itu di kantor, Rival masih berkutat dengan tumpukan file yang tertunda sejak pernikahannya. Gawainya bergetar, rupanya ada telepon masuk dari komisaris Han. "Hallo, Pak Han, tadinya saya akan membuat janji untuk bertemu anda," ucap Rival sesaat setelah telepon terhubung. (Yang benar saja, kau tertinggal selangkah lagi dari Meta.) ucap Pak Han dari seberang telepon. "Satu langkah?" tanya Rival tak mengerti. (Cepat kemari, jalan Geger Kalong.) Telepon terputus. Rival bergegas menuju lokasi yang dikirim Pak Han. Jalanan cukup lengang karena masih jam kerja. Sesampainya di lokasi yang dimaksud Rival memarkirkan mobilnya. Sebuah ruko dua lantai bertuliskan "Akan Dijual" dengan nomor telepon milik Meta, disana ditulis juga bahwa ruko itu memiliki SHM (Surat Hak Milik). Pak Han sudah menunggu disana. "Kenapa ruko ini bisa sampai dijual?" tanya Rival. "Meta cerdik, entah bagaimana ia bisa sampai membalik namakan ruko ini atas namanya, dan hebatnya ini sah dan terdaftar," jelas Pak Han. "Shit! Aku kecolongan!" Rival mengumpat. "Segera bertindak!" "Aku sudah menikah, dan sedang memikirkan langkah berikutnya." "Jangan banyak berpikir!" bentak Pak Han geram. Dia telah lama dipercaya oleh keluarga Demoris dan sejak Bu Sani penerus satu-satunya meninggal, semuanya mulai dikacaukan oleh Meta. Meta bukan orang sembarangan, ia adalah sekretaris kepercayaan Pak Deris saat di salah satu perusahaan. Saat Bu Sani masih hidup ia tak pernah menunjukan gelagat membahayakan, tapi sejak kepergian Bu Sani, nampaknya Meta memanfaatkan keadaan untuk menggerus harta keluarga Demoris. Meta adalah orang yang cerdas hanya saja ia menyalahgunakan kecerdasannya. "Apa yang harus kulakukan? Papa masih di rumah sakit," Rival nampak sangat kebingungan. "Semua aset atas nama ibumu, karena ibumu telah meninggal seharusnya kamu bisa langsung proses balik nama dan jika ada pihak lain harus ada tanda tanganmu, tapi pertanyaannya kenapa bisa langsung jadi milik Meta?" "Apa mungkin sudah dibalik nama atas nama papa?" "Mungkin." "Saya masih ada keperluan lain, oh iya saya curiga kenapa Pak Deris belum juga sadar, apa mungkin ini juga ulah mereka?" "Ulah mereka?" "Meta." Pak Han kemudian memasuki mobilnya dan melaju pergi. Rival menarik spanduk bertuliskan "Ruko Dijual" itu dan membuangnya. Kemudian memasuki mobil dan kembali ke kantor. Sesampainya di kantor, ia langsung masuk ruangannya. Tak ada yang aneh. Hanya saja kenapa seperti ada bau parfum wanita. Rival berusaha setenang mungkin, ia duduk seperti biasa dan tak menunjukan gelagat aneh. Pelan-pelan ia buka laptopnya dan melihat tayangan cctv. Wanita itu rupanya Widia, yang sekarang bersembunyi di balik lemari buku. 'Apa yang dilakukannya disini? Apa yang dia cari?' gumam Rival dalam hati, kemudian berpura-pura tertidur. Benar saja, dengan sangat pelan dan hati-hati Widia keluar dari persembunyiannya menuju ke pintu keluar. Apa yang dicari Widia?
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
cerita nya menarik
08/07/2025
0baguss bgtt ceritanya
25/11/2024
0lanjut
31/10/2024
0Tingnan Lahat