logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Usaha

"Saya mau ketemu Bapak Panji," ucapku saat bertandang ke sebuah kantor pemerintahan yang terletak di tengah kota.
"Maaf, tapi Bapak sedang ada rapat. Apa bisa menunggu?" tanya seorang resepsionis sembari menatapku lekat.
"Berapa lama?"
"Satu jam lagi sepertinya."
Aku duduk di sofa lobi dengan gelisah sembari berdoa agar papa mertuaku mau bertemu. Setiap kali aku datang ke rumahnya, mamanya Riska selalu mengusirku dengan tameng security.
Aku tak tahu bagaimana perasaan Riska ketika kami berpisah karena tak ada komunikasi sama sekali. Apakah dia juga merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan? Rindu yang begitu menggebu hingga memenuhi rongga hati dan ingin membuncah tak terkendali.
Tiga puluh menit berlalu dan aku masih menunggu, menatap ponsel dengan gamang dan mencoba menelepon Riska. Ada banyak cara yang aku lakukan untuk berjumpa, salah satunya menghubungi karyawan butik dan hasilnya nihil.
Mereka mengatakan tidak tahu apa-apa. Infonya Riska meminta maaf karena akan merumahkan semua pegawai dan menutup butik tanpa alasan jelas. Ada juga yang mengatakan bahwa istriku sakit dan akan berobat sehingga usahanya ditutup sementara waktu.
"Pak Panji sudah selesai rapat. Jika Bapak ingin bertemu sudah bisa. Tapi mohon diisi dulu datanya."
Sebuah buku dan pulpen disodorkan beserta senyum manis darinya. Aku menuliskan nama dan apa keperluan berkunjung ke kantor ini. Lalu membubuhkan tanda tangan di bagian akhir.
"Apa boleh masuk sekarang? Setelah ini saya mau kerja," ucapku memohon karena sudah berjanji kepada pemilik bengkel akan datang setiap hari.
"Baik, Pak. Mohon tunggu sebentar."
Sepuluh menit aku menahan gelisah hingga akhirnya sosok paruh nan gagah itu membukakan pintu ruangannya.
"Rahman? Ada apa, Nak?" tanyanya sembari mempersilakan aku duduk di sofa dan mengambilkan sebotol air mineral.
"Riska, Pa."
"Dia di rumah, kan? Kenapa gak temui langsung?"
Deg!
Aku tersentak mendengar itu. Sandiwara apalagi yang mereka mainkan kali ini. Setelah mama berulang kali  mengusirku, kini papa berpura-pura tidak tahu?
"Aku gak boleh ketemu Riska, Pa. Mama mengusirku."
Kulihat ada yang berbeda rona di wajah papa, lalu beliau menarik napas panjang.
"Setelah kejadian itu, papa ke luar kota. Baru tiba kemarin malam terus langsung masuk kerja hari ini," jelasnya.
"Jadi?"
"Ada banyak hal yang ingin papa bicarakan dengan kamu. Tapi sekarang belum bisa karena pekerjaan papa lebih utama."
Aku tertunduk lemas dan mengangguk sembari mendengarkan ucapan beliau dengan seksama.
"Riska sakit. Jadi butik ditutup untuk sementara waktu. Baiknya kamu pulang. Temui papa besok. Kita bicarakan lagi."
"Tapi tiap kali aku ke sana, sikap Mama--"
"Papa tahu, tapi saat ini suasana masih panas. Baiknya kamu pulang dulu. Tenangkan diri. Ini tidak bisa dipaksakan."
Aku mengusap wajah berulang kali, lalu berpamitan ketika seseorang masuk dan menyerahkan setumpuk berkas untuk papa tanda-tangani.
Aku mencium tangan beliau dengan khidmat dan kami saling berpelukan erat. Sekalipun hanya mertua, aku merasa dia seperti orang tua kandung. Papalah yang selama ini mendukung tanpa banyak bicara.
"Assalamualaikum," ucapku sebelum menutup pintu.
Kulajukan mobil menuju bengkel karena sudah terlambat. Tadi pagi sebelum ke kantor papa, aku sudah meminta izin kepada pemilik bengkel dengan alasan ada keperluan keluarga. Sebenarnya ini memalukan karena aku terhitung baru dua hari bekerja.
"Pagi, Pak," sapaku.
"Sudah siang ini, Mas," canda karyawan yang lain.
Aku tergelak dan berbasa-basi sebentar dengan mereka, lalu mengganti pakaian dengan kaus dan mulai bekerja. Motor grand butut kemarin masih memererlukan perbaikan sehingga aku hanya diminta mengerjakan itu saja.
Tiga jam aku berkutat dengan berbagai alat hingga tak terasa hari mulai siang.
"Ayo, shalat dulu, Mas. Ada musala di sana," ajak salah satu karyawan.
Kami mencuci tangan lalu mengganti pakaian dan berwudu di air keran yang terletak di belakang bengkel.
Bagiku, menghadap Sang Pencipta adalah sebuah kebutuhan, sekalipun kelak akan dimintai pertanggung jawaban. Inilah wujud dari rasa syukur kepada-Nya atas berkah hidup yang telah diberi.
Lantunan azan yang sangat merdu membuat tubuhku gemetaran. Bayangan atas dosa yang aku lakukan dulu kembali menari di benak. Tak dapat aku bayangkan himpitan alam kubur juga berjuta pertanyaan di hari pembalasan kelak.
Aku membentangkan sajadah dan mengambil mengambil posisi di belakang sebagai makmum. Setelah menunaikan empat rakaat, Aku mengucap salam dengan penuh khidmat lalu melipat kembali sajadah.
"Makan siang di mana, Mas?"
"Saya mau keluar. Mau antar motor yang kemarin jatuh di bengkel," jawabku.
Kami diberi waktu satu jam secara bergantian untuk beristirahat. Aku akan mengembalikan motor gadis itu sekaligus mencari makan siang, lalu kembali ke bengkel dengan menumpang ojek online.
"Oh, gitu. Ngomong-ngomong, Mas ini sepertinya dari keluarga berada. Kenapa mau kerja di bengkel?"
Aku tersenyum menanggapinya, lalu berkata, "Panjang ceritanya, Mas. Doakan saja yang terbaik untuk saya."
Setelah meminjam helm salah satu pegawai bengkel, aku mengambil motor dan menuju kediaman gadis itu.
Maira, sayup-sayup nama itulah yang disebutkan ayahnya kemarin. Dia masih belia, bahkan lebih muda dari Dina. Aku menganggapnya seperti adik ketika melihat sifatnya yang manja.
"Assalamualaikum."
Kuketuk pintu rumah yang terlihat sepi itu. Hawanya terasa cukup sejuk karena banyak ditanami pepohonan.
"Waalaikumsalam."
Aku menyunggingkan senyum ketika seorang wanita paruh baya keluar dan membukakan pintu.
"Saya mau kembalikan motor, Bu," ucapku sembari menyerahkan kunci.
"Oh ini yang nolongin Maira kemarin, ya."
"Benar, Bu."
"Ayo, masuk dulu, Nak."
"Tidak usah, Bu. Saya mau cari makan siang," tolakku halus.
"Belum makan?"
Aku mengangguk karena malu.
"Naik apa nanti pulangnya?"
"Ojek."
"Tunggu sebentar. Ibu panggil Maira dulu."
Aku memilih berdiri di depan pintu dan menunggu agar tak usah berlama-lama.
"Halo, Om."
Begitulah sapa Maira ketika muncul di hadapanku dengan kaki pincang. Kali ini dia terlihat manis dengan memakai hijab berwarna hijau. Gamisnya begitu panjang hingga menutupi kaki. 
"Udah baikan?"
"Lumayan, Om."
"Syukurlah," ucapku lega.
"Ayo masuk dulu. Kata Ibu, Om belum makan," ajak ya sembari menarik ujung kemejaku.
Entah mengapa, kali ini aku tak dapat menolak dan mengikutinya. Aku merasa seperti pulang ke rumah sendiri ketika melewati setiap ruangannya.
"Duduk sini, Om," tunjuknya sembari menarik sebuah kursi. Lalu, aku melihat ibunya tergopoh-gopoh menyiapkan makanan.
Aroma harum sayur santan dan ikan goreng membuat perutku berbunyi. Maira tertawa sembari menutup mulut saat mendengarnya.
"Ayo dimakan. Ibu udah siapkan ini dari pagi, loh. Dikira kamu gak datang."
"Datanglah, Bu. Kalau gak motornya gimana?"
"Tadi Bapak mau ambil ke bengkel, tapi dilarang Maira. Katanya tunggu kamu datang," jelas Ibunya Maira lagi.
Aku menatap Maira yang tertunduk malu. Kami makan dalam diam. Hanya denting sendok dan garpu yang terdengar memecah kesunyian.
"Bapak kemana, Bu?" tanyaku memecah kesunyian.
"Kerja. Tadi pagi marah-marah. Katanya kamu penipu karena belum nganterin motor."
"Bisa saja saya memang menipu, kan, Bu?"
"Ya gaklah. Kamu bawa Maira berobat, jadi gak mungkin begitu."
Suasana kembali canggung. Dengan cepat aku menghabiskan setiap suapnya. Setelah selesai, kulirik wajah Maira yang sejak tadi menunduk.
"Saya pamit ya, Bu. Terima kasih makan siangnya," ucapku setelah membersihkan mulut.
"Om naik ojek?" tanya Maira.
"Iya, mobil di bengkel."
"Makasih ya, Nak. Udah nolongin Maira. Dia ini memang ceroboh. Mungkin nanti kalau sudah menikah bisa dijagain sama suaminya."
Kulihat Maira melototkan mata kepada ibunya, yang dibalas dengan gelak tawa.
"Iya, sama-sama."
"Eh, iya. Anak ini namanya siapa? Dari tadi ngoceh terus kok kita belum kenalan. Maira ditanya juga bilangnya gak tau."
Kulihat Maira mengerucutkan bibir setelah mendengar ucapan ibunya.
"Rahman, Bu."
"Ah, Nak Rahman. Hati-hati di jalan. Kamu ini baik sekali suka menolong. Semoga nanti Maira dapat suami seperti kamu."
"Saya sudah menikah, Bu," jawabku cepat.
"Wah sayang sekali. Padahal kalau dapat menantu baik itu namanya rezeki."
Aku tergelak mendengar itu, lalu mengambil ponsel dan membuka aplikasi untuk memesan ojek online.
"Pulang dulu, ya," ucapku saat melambaikan tangan kepada Maira sembari mamasang helm.
"Hati-hati, Om. Semoga bisa ketemu lagi."
Jantungku berdetak kencang saat mendengar itu. Entah mengapa ada sesuatu yang berbeda dari nada suaranya. Aku hendak membalas ucapannya ketika mesin dinyalakan, lalu motor melaju meninggalkan rumah itu.

Komento sa Aklat (360)

  • avatar
    Sri Sunarti

    keren banget thor 👍👍👍

    3d

      0
  • avatar
    Gondo KusumaYuliawati

    bagus , happy ending..

    29d

      0
  • avatar
    Selamit Selamit

    bagus banget🫰🫰🫰🫰🫰🫰

    21/01

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata