Kabuuan : 29Vonis
"Sebaiknya kita berpisah, Mas. Kamu kan, yang gak bisa ngasih keturunan." Aku terdiam saat Riska --is
readmore Flashback
Aku mengabaikan pesan dari Sinta, sedang tak berselera meladeninya. Juga beberapa pesan dari yang la
readmore Tak Disangka
Setelah kepergian Riska, aku menyalakan mesin mobil, lalu melajukannya menuju rumah Ibu yang terleta
readmore Teror
Sepanjang perjalanan pulang kami terdiam. Aku melirik Riska berkali-kali, menatap wajah cantik yang
readmore Nekat
Keesokan harinya. Kuparkir mobil bersebelahan dengan milik Riska di halaman butik. Kemarin aku menje
readmore Bertemu
Sesuai dengan permintaan Sinta, setelah bengkel tutup aku langsung menuju ke Kopi Tiam. Tempat itu b
readmore Resepsi
Riska meletakkan sebuah undangan mewah berwarna abu-abu dengan pita gold berhiaskan mutiara di meja,
readmore Pengakuan
Riska memandangku dengan tajam. Tangannya terlipat di dada dengan bibir ditekuk. Napasnya naik turun
readmore Pilihan
Semua mata menatap kami dengan heran, lalu bisik-bisik kembali terdengar. Aku merangkul Riska untuk
readmore Bangkrut
"Kebakaran! Kebakaran!" Suara teriakan warga sekitar menggema bersamaan dengan sirine mobil Damkar ya
readmore Prasangka
Aku menghela napas setelah Sinta pergi dan memintanya datang kembali untuk bertemu dengan Riska esok
readmore Ancaman
Hari ini aku bergegas ke rumah sakit hendak menemui Fredy untuk bertanya perihal foto-foto itu. Aku
readmore Terbongkar
Aku mengerjap berulang kali, lalu merasakan sakit di kepala yang begitu hebat. Pandanganku tampak sa
readmore Permohonan
Kulajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju kediaman mertua. Tadi pagi aku pulang diboncengi suam
readmore Perjuangan
Ini hari ketujuh aku berdiam diri di rumah dan merenungi nasib. Tidak ada kabar dari Riska, bahkan n
readmore Usaha
"Saya mau ketemu Bapak Panji," ucapku saat bertandang ke sebuah kantor pemerintahan yang terletak di
readmore Final
Dua foto itu diletakkan di meja. Aku menelan ludah dengan perasaan tak menentu. Barang bukti inilah
readmore Keadilan
'Assalamualaikum, Maira. Apa kabar?' Kuketikkan pesan itu dengan tangan gemetaran karena gugup. Ini s
readmore Keputusan
Selepas pulang dari pengadilan negeri aku melajukan motor menuju kosan. Aku meminta izin tidak beker
readmore Kesempatan
Aku menatap ayah Maira dengan lekat. Setelah pertemuan malam itu, selama beberapa hari ini, kami los
readmore Kenyataan
Hari berganti dengan cepat. Tak terasa sudah hampir satu tahun semua berlalu. Kini aku sudah memilik
readmore Perjodohan
Cuaca cukup sejuk hari ini karena mendung. Awan berarak menghiasi langit seperti gumpalan kapas empu
readmore Dari Hati Ke Hati
Kami saling mendiamkan sejak tiga puluh menit yang lalu. Sibuk dengan pikiran masing-masing dan keca
readmore Indah
Aku membuka pintu kamar dengan gemetaran. Setelah akad nikah, kami mendapatkan hadiah dari Papa untu
readmore Kasih Sayang Seorang Papa
Aku memeluk Fajar yang berlari sembari menangis. Hari ini aku yang bertugas menjemputnya di sekolah.
readmore Nasihat
Beberapa tahun kemudian. "Fajar, dengarin papa kamu bicara!" bentak Riska. Fajar sudah melakukan suat
readmore Prestasi
Aku melajukan motor dengan kecepatan tinggi melewati beberapa jalan agar segera sampai di tempat tuj
readmore Hari yang Dinanti
Hari yang dinanti oleh kami telah tiba. Fajar tampak gagah dengan memakai beskap berwarna putih. Aku
readmore Ziarah
Hari ini cuaca cerah. Aku menggandeng lengan Riska memasuki sebuah area pemakaman. Tadi kami sudah b
readmore
bagus , happy ending..
10d
0bagus banget🫰🫰🫰🫰🫰🫰
21/01
0bagus
20/11
0mantap kak
12/10
0aku ingin tobat
19/07
0baik banget komik nya
09/07
0mantap
19/06
0Seruuu
17/06
0mantaps
06/06
0Saya suka cerita ini saya Fatih,Ini sangat seru ceritanya, terimakasih
03/05/2025
0