"Aku tidak setuju, jika Zena harus di titipkan di rumah orang lain ketika kamu bekerja," tolak Dirga. "Kita tidak tahu kondisi ke amanan tempat tinggal teman kamu itu," Dirga mengutarakan alasannya. "Lalu, mau bagaimana?" tantang Serena menatap Dirga sinis. "Kita panggil pengasuh saja, untuk mengasuh Zena di rumah," kata Dirga memutuskan. Sontak Serena melebarkan matanya menatap penuh amarah pada Dirga, "Maksudmu, kamu ingin memanggil Ratna, janda yang membuatmu membentakku bahkan bersedia meminta maaf padanya padahal dalam mimpi pun kamu tidak pernah meminta maaf padaku," ucapnya tidak terima, ada rasa marah bercampur dendam jika mengingat wanita yang setelah kehadirannya rumah tangga Serena dan Dirga tidak lagi harmonis. Dirga menggigit bibir bawahnya, menyadari jika dirinya sudah salah bicara dengan mengungkit hal yang seharian tidak pernah mereka bahas lagi. "Silahkan bawa dia kembali kesini untuk me nga suh mu." Serena menekankan pada kata di akhir kalimatnya, "Dengan senang hati aku akan mendatangani surat perceraian dan membawa Zena keluar dari rumah ini," sambungnya. "Jaga ucapanmu! Jangan bicara sembarangan!" Dirga memberi peringatan. "Aku hanya ingin menjamin keamanan dan kenyamanan Zena. Bagaimanapun Zena adalah tanggung jawabku." Tambahnya merasa kesal karena istrinya itu mengucap kata perceraian yang sama sekali tidak pernah terpikir olehnya. Serena tersenyum sinis, rasanya dia ingin sekali tertawa. Sejak kapan Dirga ingat kenyaman Zena adalah tanggung jawabnya, jika selama ini dia tidak perduli rasa tidak nyaman Zena saat berada di rumah orang tuanya. "Jika kamu ingin tahu keadaan Zena, kenapa kamu tidak datang saja ke rumah Nurida agar kamu bisa lihat betapa senangnya putrimu disana. Ahh aku lupa kamu sangat sibuk, tidak punya waktu untuk hal yang tidak penting," sindir Serena yang langsung membuat hati Dirga terasa tercubit. "Atau kamu bisa tanya sendiri sama Zena, apa dia senang di rumah Nurida?" Serena memandang sok polos pada Dirga. "Tapi tunggu memang kamu tahu cara berbicara dengan Zena? Aku rasa tidak." kata Serena dengan ekspresi wajah sedih yang di buat-buat. Rahang Dirga mengeras mendengar serentetan sindiran yang istrinya itu lontarkan. Namun apa boleh buat apa jika semua perkataan Serena memang benar. Mau tidak mau Dirga hanya bisa menutup. mulutnya tanpa bisa menjawab satupun ucapan Serena. Sedangkan Serena tak lagi manahan diri karena hatinya sudah terlanjur panas dan terusik karena mengingat pengasuh yang dulu membuatnya sempat keluar dari rumah yang sekarang mereka tempati. "Bagaimana? Kenapa diam saja? Ahh apa aku saja yang menanyakannya untukmu," Serena berjalan menuju ruang tengah di mana putri berada. Dengan langkah lebar Dirga berjalan mengikuti di belakang Serena, "Zena sayang, berhenti dulu lihat youtube nya! Mama mau tanya sesuatu sama Zena," pinta Serena yang berdiri tidak jauh dari Zena. "Zena kalau di rumah tante Nur, ngapain aja?" tanya Serena pada Gadis kecil yang baru kelas satu SD itu. Gadis kecil itu seperti sedang mengingat sesuatu. "Pulang sekolah ganti baju lalu sambil nunggu Kak Al Zena mengerjakan Pr supaya tidak lupa, juga supaya malamnya bisa main sama Mama. Setelah Kak Al pulang, makan siang bersama sama Tante Nur sama Kak AL. Kadang disuapin sama Tante Nur kadang belajar makan sendiri. Setelah itu main sama Kak Al," celoteh Zena dengan ekspresi wajah yang menggemaskan yang tanpa sadar membuat Serena tersenyum lebar. "Main apa biasanya?" tanya Serena sambil melirik Dirga yang berdiri tak jauh darinya. "Main lego, main boneka barby, main pesawat kertas, emm kadang juga di ajarin menggambar sama Kak Al, kalau tadi aku bikin layangan sama Kak Al untuk di jual di toko tante Nur." Zena bercerita panjang lebar. "Princess nya Mama pinter banget, sudah bantuin Tante Nur cari uang," puji Serena yang langsung membuat senyum lebar nampak di bibir Zena. "Sekarang Zena masuk kamar dan ganti bajunya pakai piyama." Setelah Zena masuk kamar, Serena menoleh pada Dirga, Nampak pria itu tertegun sambil menatap pada pintu kamar putri mereka. "Aku sama sekali tidak keberatan keluar dari sini bersama Zena agar kamu bisa membawanya kembali," ujar Serena bersungguh-sungguh. Mendengar ucapan Serena sontak membuat Dirga mengalihkan pandangannya lalu menajamkan tatapannya pada Serena yang langsung berjalan hendak menyusul putrinya masuk ke dalam kamar. "Sudah aku bilang jangan bicara sembarangan!" Dirga mengulangi kalimatnya. "Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Ratna, saat itu aku hanya ingin semuanya baik-baik saja. Tidak ada yang sakit hati." Tambahnya menjelaskan. Serena memutarkan badannya menghadap Dirga, "Biar aku betulkan maksud kamu, kamu tidak ingin wanita itu tersakiti, tapi tidak masalah jika aku dan Zena yang tersakiti?" Serena mengoreksi ucapan Dirga. "Jangan membesar-besarkan masalah. Kalian tersakiti apa? Zena hanya di bilang tidak bisa bicara dan terjatuh beberapa kali, bukankah wajar anak kecil jatuh?" Dirga membela diri. Serena mengepalkan tangannya kuat, ucapan Dirga selalu saja membuatnya sakit hati. "Wajar? Itu wajar katamu? Aku benar-benar kecewa padamu." ucapnya lirih namun masih bisa di dengar laki-laki di depannya itu. "Kali ini aku benar-benar menyerah denganmu," ucapnya lalu memutar tubuhnya berjalan menuju kamar Zena yang juga sudah menjadi kamarnya lebih dari satu bulan ini. Dirga hanya terpaku menatap punggung wanita yang ia cinta hilang di balik pintu kamar putrinya.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
cerita nya menarik sekali
24/11/2024
0iya
04/08/2024
0bagus
02/08/2024
0Tingnan Lahat