logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Bab 3 Aneh

Dua perempuan sudah berkumpul di kamar Rahel. Sedang sang empunya kamar tengah di dapur. Rahel sibuk menyiapkan minum untuknya dan adik serta temannya.
"Gila! Gila! Gila ...! Nih cowok ganteng amat sih ... nggak bisa tidur malem kalau kayak gini mah ... parah ih!" teriak Rika heboh melihat seorang laki-laki tampan. Rambut model undercut panjang dengan tubuh berisi tanpa lapisan kaos, tengah terpampang sangat jelas di layar ponselnya.
Nica yang penasaran pun mengintip. "Ealah ... panteslah kalau modelnya begituan. Selebgram mah udah biasa ... mau ganteng, cantik, nggak kaget gue," komentarnya setelah melihat foto laki-laki yang dimaksud oleh teman kakaknya itu.
"Iya, sih. Kalau nggak gitu, ya nggak bakalan deh terkenal. Modal utama juga harus keren," balas Rika mengiyakan.
"Bisa sih kalau mau terkenal meskipun nggak keren. Asal lo lucu aja, Kak. Dari muka udah lucu, sekalian video yang lo upload juga lucu. Ntar kan viral sendiri, hehe..." jelas Nica memberikan masukan. Nica sudah bisa menjamin, itu pasti bekerja.
"Hadeh ... iyain deh biar seneng. Dari pada debat mulu nggak kelar-kelar. Gue harus ngalah karena gue kan waras," ucap Rika sekenanya.
"Emang gue nggak waras, ya, Kak?" tanya Nica ke Rika dengan cengiran andalan.
"Huh. Menurut, lo?" tanya Rika balik dengan memutar bola mata jengah.
Tiba-tiba saja yang punya kamar menyelonong masuk tanpa mengetuk pintu. "Nih, diminum dulu. Lo, kalau mau makan bilang adek gue aja. Kalau bisa suruh sesuka lo. Gue mandi dulu," sela Rahel sambil membawa es coklat yang baru saja ia buat di dapur. Pandangannya tertuju ke arah Rika, tidak melirik sang adik sedikitpun.
"Oke. Siap! Hehe, makasih," balas Rika tulus dan segera turun dari duduknya, mengambil salah satu gelas yang dibawakan Rahel. Dia sudah haus sedari tadi sejak sampai di rumah temannya itu.
"Loh, lah! Kok bilang ke gue, Kak? Itu kan temen lo, bukan temen gue. Masa iya gue yang nyiapin makan? Awas aja kalau berani jadiin gue babu, ya! Gue nggak terima!" protes Nica pada kakaknya yang justru sedang sibuk mencari baju rumahan untuk ia pakai nanti sehabis mandi.
Tanpa menoleh dia memberi jawab, "Ya lo lah Nic," singkat saja, karena ia masih bingung mencari baju rumah. Entah kemana baju-baju sederhana tapi layak pakai. Lucu, mendadak kesulitan untuk mencari.
"Kok gue?! Kan Kak Rika itu temen lo, Kak! Ish, susah deh jelasin ke Kakak," sahut Nica sedikit kesal, emosinya masih ditahan. "Kakak lemot, deh ...," ejeknya berbisik pelan, agar tak terdengar oleh Rahel.
"Hari ini kan jadwal lo, Nic. Masa iya gitu aja lupa? Perasaan baru tadi pagi buatin sarapan," balas Rahel sambil berjalan menuju pintu kamarnya.
"HA--Eeh?! Hehe, iya juga, ya?" Nica nyengir sambil menggaruk kepalanya. Malu sendiri karena ternyata dirinyalah yang lemot. "Oke deh, gue buatin sekarang aja," putus gadis itu setelah meletakkan gelas yang baru saja ia minum.
Rahel yang geleng-geleng kepala pun lekas memilih bersih-bersih badan, masuk ke salah satu kamar mandi rumahnya.
"Gue ikut ke dapur, Nic. Sekalian mau belajar masak ...!" teriak Rika tiba-tiba dan berlari mengikuti Nica ke dapur. Berniat untuk menemani Nica masak.
"Lo beneran nggak bisa masak, Kak?" tanyanya heran.
"Hehe. Bisa, dikit sih Nic. Ya ... palingan cuman itu-gitu ajalah,"
"Ya udah. Gini, tolong lo siapin airnya dulu, Kak. Gue mau nyiapin bakso sama sosisnya," ujar adik sahabatnya itu minta tolong, karena dia sendiri sudah menuju kulkas untuk mengambil barang yang ia perlukan.
"Oke." Rika benar-benar patuh, menjawab sambil merebus air yang akan dipakai Nica nanti.
"Kalau udah, lo tolong bantuin gue potong sosisnya ya, Kak ...!" pinta Nica sambil mencuci bakso yang ada di genggamannya.
"Emang mau masak apaan sih?" tanya Rika penasaran.
"Masak mie. Terus gue mau goreng sosis sama bakso ini," jawab Nica menunjukkan bakso yang digenggamnya lalu mencari mie yang akan direbus.
"Kalau itu sih gue juga bisa. Kirain masak apaan lo! Tahu gitu nggak usah gue temenin," pekik Rika kesal dan melangkah menjauhi dapur. Rika mengayunkan kaki ke ruang televisi yang tidak jauh dari dapur rumah Rahel.
"Hehe ... Ya sudah ...! Gue nggak masalah, biasanya juga gue menjalaninya dengan kesendirian. Tanpa ada orang di samping gue. Seperti lagu ... masak-masak sendiri, cuc- " balas Nica dengan tampang kesedihan yang dibuat-buat.
Lalu dipotong oleh suara Rika. "Curhat lo neng?" tanya Rika enteng.
"Nggak juga, sih. Ngapain gue harus curhat? Gue masih kuat mengangkatnya sendiri, kenapa harus minta bantuan orang lain," ucap Nica santai.
"Iyain biar kelar. Ngomong belum lancar gayaan mulu."
"Nah itu tahu, pintar! E-eh...! Enak aja," jawab Nica dengan senyum bangga namun luntur karena sadar akan kalimat terakhir, ejekan Rika untuknya.
Rahel yang sedang melangkahkan kaki keluar dari kamar mandi hendak ke lantai atas, lantas mendapat laporan, "Adek lo gitu amat deh, Hel!"
"Biasa," balas Rahel enteng.
Mendelik, Rika mendesah frustrasi. "Enggak adek nggak kakak sama aja, bisa miring nih gue lama-lama! Astaga!," kesal Rika sambil menatap tv yang baru saja ia nyalakan.
Nica terkekeh saja, ia berjalan sebentar dan memanggil Rika. "Ini, Kak Rik. Tolong bawa ke meja ruang tv depanmu itu," pinta Nica sambil menyodorkan piring berisi mie yang baru saja matang dari dapur.
"Cepet amat perasaan. Gue baru aja duduk," jawab Rika pasrah, ia kembali ke Nica yang masih di area dapur. Ia menerima sodoran piring itu.
"Hehe. Cepetlah, ngapain dilama-lamain?" tanya gadis cerewet pakai banget itu.
Sudah tak terhitung Rika menghela napas karena menghadapi Nica yang cerewet dan membuatnya jengah. "Serah deh," respons Rika membekas singkat dan cepat dengan tangan membawa mie menuju tempat yang ia duduki tadi.
***
Tiga gadis remaja yang sendirian di rumah itu sedang berkumpul di ruang televisi. Salah satu dari mereka memakan camilan dengan tatapan mata fokus pada TV. Sedang kakak beradik saling berbincang, mengabaikan sejenak sang tamu.
"Lo udah tanya sama mamah mau pulang kapan, Nic?" tanya Rahel penasaran.
"Gue sempet lupa. Tapi, tadi siang mamah bilang, mamah udah chat lo, Kak. Kata mamah ponsel lo malah nggak aktif. Terus mamah chat gue kalau pulangnya besok hari Minggu," jelas Nica sambil memakan kue kesukaannya.
"Oalah. Lumayan lama juga, ya, perginya," balas Rahel seadanya.
"Emang lo beneran nggak ngeaktifin ponsel lo, Kak?" tanya Nica penasaran dengan sang kakak.
"Iya," balasnya singkat.
"Oh...."
"Gue naik dulu, ya. Mau nyalin yang tadi pagi. Pinjem buku lo ya, Rik. Bukunya yang mana?" izin Rahel tiba-tiba ke keduanya.
"Iya. Ntar ke sini lagi, Kak. Cepet, ya! Semangat!" jawab Nica sambil memberikan senyum lebarnya ke Rahel.
Rahel menggeleng kecil pada sang adik. "Alay lo! Oh iya, buku lo di mana, Rik?" sambung Rahel ke Rika.
"Buku yang sampul ungu. Di tas bagian tengah," Rika membalas setelah menelan camilan yang dikunyah.
"Oke. Gue bawa dulu, ya, makasih," balas Rahel tulus.
"Iya."
"Lo nggak ngerasa aneh sama kakak lo, Nic?" tanya Rika setelah Rahel hilang dari tatapannya.
Nica mengerutkan dahi, otomatis. "Aneh gimana, Kak?" Nica bingung.
"Ya lo pikir aja. Kakak lo nggak nge-aktifin ponselnya. Padahal jarang banget dia jauh dari ponsel. Kalau dia belajarnya kenceng, ponsel juga sama kencengnya. Dia rajin pegang buku tapi rajin juga pegang ponsel, Nic, tapi … sekarang malah nggak diaktifin ponselnya," jelas Rika sambil menatap Nica lekat.
Nica merenungkan perkataan Rika, benar juga. "Iya juga ... nggak biasanya sih dia kayak gitu. Emang aneh."
"Ya udahlah. Kalau emang dia ada masalah, ntar juga cerita sendiri. Tunggu waktunya aja yang pas." kata Rika pasrah.
"Iya."
"Emang gue ngerasa ada yang aneh dari lo, kak. Lo udah berubah dari kemaren. Bahkan kak Rika juga ngerasain perubahan lo ... gue nggak tau apa yang udah nimpa lo. Pasti lo berusaha nutupin masalahnya karena nggak mau dikasihani kan? lebih baik lo nyiksa diri dari pada ngeliat tatapan kasihan dari orang lain, apalagi keluarga. Tapi gue berhak tahu karena gue orang yang peduli sama diri lo, kak," batin Nica yang mulai tidak tenang, namun mencoba santai.
"Semangat ya, Hel ... kalau memang lo belum mau cerita, nggak masalah, tapi kalau memang lo pengen banget berbagi, ngomong aja sama gue. Gue siap dengerin curhatan lo kok, Hel. Jangan lupa kalau gue sahabat lo, jangan ragu sama gue. Gue peduli sama lo, gue ikut sedih kalau lo sedih," ucap Rika panjang lebar, hanya di dalam hati. Ia sama tidak tenangnya seperti Nica. Menurutnya Rahel memang menyembunyikan sesuatu.
Waktu yang terus berputar tak terasa membuat langit semakin gelap. Membuat malam kian berwarna hitam pekat. Seperti hati seorang gadis yang takut akan kejadian mendatang di hidupnya nanti.
"Tumben gue jam segini udah ngantuk. Lo masih mau di sini atau mau ikut gue ke atas, Kak?" tanya Nica ke Rika yang hendak beranjak dari sofa.
"Ntar aja, gue. Masih pengen nonton tv. Lo kalau emang udah capek istirahat aja," jawabnya tulus.
"Oke, duluan ya, Kak. Selamat malam. Hati-hati kalau ada yang nemenin selain gue atau kak Rahel," balas Nica nyengir sambil berlari menuju tangga sekencang mungkin.
"Sialan lo!" jawab Rika kesal.
"Tapi ... nyeremin juga deh kalau sendirian," batin Rika ketakutan.
Ia kembali menatap benda hitam besar di depannya. Hingga suara derap langkah kaki menghampiri gadis itu. Sayang, gambar bergerak di depannya membuat Rika tetap fokus. Tiba-tiba suara seorang perempuan mengagetkannya.
"Lo nggak ngerjain tugas, Rik?" tanya Rahel secara mendadak itu.
Rika sampai mengelus-elus dadanya. "Sejak kapan lo di sini?" tanya Rika balik.
"Barusan. Serius amat lo nonton tv ... sampai gue dateng aja lo nggak tau," jawab Rahel. Ia sudah duduk di samping Rika persis.
"Hehe, iya. tugas gue udah selesai kok. Tadi waktu mapel tambahan gue nyoba buat ngerjain itu pe-er. Biar bisa nyantai malem nya, kayak gini," jelas Rika sambil memakan camilan yang ada di depannya.
Rahel mengangguk dengan senyum tipis membingkai di wajah. "Oalah, bagus deh. Buku lo udah gue taruh di tempatnya seperti semula. Makasih, ya." Jari-jarinya menggapai stoples berisi camilan berbahan dasar kentang.
"Iya, santai aja sih. Kayak sama siapa aja lo, Hel."
Manggut-manggut, Rahel membuka mulut dan memasukkan keripik gurih setelahnya, Kemudian dikunyah sedikit pelan. "Nggak maen ponsel?" tanyanya penasaran, tepat setelah menelan apa yang tadi ia kunyah. "Padahal biasanya maen instagram, lo, Hel."
"Males. Pengen liat tv aja, udah lama juga nggak liat tv." Rahel mengiyakan. Rika yang merasa ini adalah waktu terbaik untuk berbicara pun memanggil, "Rahel," cukup pelan.
"Iya, kenapa?" sahutnya pada Rika yang sedang menatapnya intens.
"Gue boleh tanya?" tanyanya hati-hati.
"Kenapa nggak boleh? Aneh-aneh aja deh," jawab Rahel yang heran dengan tingkah sahabatnya ini. "Emang tanya apa?"
"Emh, lo ada masalah?" tanya Rika takut-takut.
"Emang kelihatan kalau gue lagi ada masalah?" tanyanya balik.
"Gue rasa ada yang aneh dari lo."
Rahel sedikit terbelalak. "Menurut lo gue aneh gitu?!" tentunya Rahel pura-pura tersinggung.
"Bukan gitu juga, Hel. Kok lo nyebelin ya lama-lama," ucap Rika yang sudah cemberut, kesal.
"Ha ... ha ... udah malem nih. Kamar aja yuk," ajak Rahel sambil membawa cemilan untuk ia makan di kamar.
"Ya udah. Gue ambil minum dulu. Ntar gue nyusul."
"Oke!" jawab Rahel singkat dengan lantang karena sudah menaiki tangga. Detik itu juga Rika sangat sadar bahwa ada yang mengganggu pikiran ataupun perasaan sahabatnya itu.

Komento sa Aklat (25)

  • avatar
    RahmawatiAisyah

    kakk baguss banget

    13/04/2025

      0
  • avatar
    Putra bbo CityBadrun

    kasih 5bintang

    23/02/2025

      0
  • avatar
    ElzamzamiDastan

    enak

    15/02/2025

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata