logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Misteri Bulan Sabit Berdarah

Misteri Bulan Sabit Berdarah

Jovanna


Janji (Bagian 1)

Arwen Marine Raymon berbalik menuruni tangga. Tubuhnya dipenuhi gelayar kebahagiaan ketika Trinita, sang kakak memanggilnya untuk berbicara dengan orangtuanya di telepon. Dia turun menghambur seperti angin ribut menghampiri kakaknya yang sedang memegang gagang telepon sambil terus bicara.
“Mmm, baiklah. Nggak apa-apa. Aku mengerti kok, Pa. Salam buat Mama. Dan ini Arwen mau bicara.” Trinita memberikan gagang telepon kepada adiknya.
“Halo, Papa.” Arwen berbicara sembari nyengir ke arah Trinita.
“Arwen sayang, maaf baru bisa menghubungimu. Bagaimana dengan kabarmu?” jawab Papa dengan suara parau dari seberang sana.
“Aku baik-baik saja. Tapi kenapa dengan suara Papa? Papa sakit?”
“Papa… Papa baik-baik saja Arwen. Nggak usah khawatir.” Suara Papa terdengar makin seperti orang yang terkena flu. “Papa cuma mau bilang kalau Papa sama Mama pulang hari Rabu.”
“Rabu? Kenapa nggak hari ini saja? Dan di mana Mama?”
“Kami nggak bisa pulang hari ini. Nanti malam Papa harus terbang ke Medan. Ada sesuatu yang harus Papa kerjakan di sana. Setelah itu kami akan terbang ke Surabaya. Mama sedang sibuk berkemas-kemas. Salam sayang darinya.”
“Salam sayang kembali Mama. Omong-omong tumben pulang di hari biasa? Nggak akhir minggu?”
Papa tidak menjawab. Lama kemudian Papa berkata dengan tergesa-gesa.
“Arwen sudah dulu ya, tunggu kami di rumah. Kami akan menghubungi kalian lagi. Sampai jumpa.”
“Sampai jumpa,” jawab Arwen dan sambungan pun diputus.
Sejenak dia merasa kecewa karena pertanyaanya tidak dijawab. Arwen benar-benar ingin mendapat kepastian bahwa orangtuanya bisa menginap di rumah lebih lama. Mengingat kebiasaan orangtua mereka yang hanya pulang sebulan sekali pada akhir minggu dan kembali ke Jakarta esok harinya. Tapi kabar kepulangan orangtuanya yang lebih cepat dari biasanya membuat kekecewaan itu akhirnya lenyap.
Arwen beranjak mencari kakaknya. Di ruang keluarga Trinita sedang duduk bersama Oma sembari meminum teh.
“Trinita kita perlu belanja,” celetuknya.
Trinita memandangnya heran. “Belanja sekarang? Kan masih empat hari lagi mereka pulang.”
“Pokoknya kita belanja sekarang,” paksa Arwen. “Oma ikut, ya?”
Arwen dan Trinita hanya tinggal bersama Oma. Wanita tua nan rupawan yang membangkitkan rasa hormat pada setiap orang yang melihatnya. Meski begitu, Oma sudah tampak rapuh karena usia. Kesehatannya juga tidak sebaik dulu lagi. Jantungnya juga sering mengalami gangguan. Seolah sebuah kabar buruk saja mungkin bisa menghentikan detak jantungnya. Arwen dan Trinita selalu berhati-hati untuk berbicara padanya.
Mereka tinggal di sebuah rumah besar berpilar batu marmer, halaman berumput yang terawat, berpagar besi kokoh yang dililit sulur tanaman dan berlantai keramik mozaik yang antik. Pohon-pohon besar yang rindang pun tumbuh di halaman yang luas yang menciptakan kesan rumah yang asri dan tenang.
Lepas dari keindahan dan kemewahan rumah itu, keberadaan rumah mereka terlihat janggal. Entah kenapa orangtuanya membangun rumah seperti itu di kawasan perkampungan menengah ke bawah. Sewajarnya, rumah seperti itu berada di kawasan elit tengah kota dan berjajar dengan rumah- rumah yang sama mewahnya. Kadang-kadang Arwen juga sering bertanya-tanya mengenai hal itu, tapi Papa selalu bilang bahwa letak rumah itu strategis saja.
Arwen tak mengerti, apa yang membuat letak rumah di perkampungan itu strategis.
Trinita mengeluarkan mobilnya dari garasi dan memanasinya sambil menunggu yang lain muncul. Tak lama kemudian, Arwen dan Oma menghampirinya. Arwen duduk di jok belakang. Sedangkan Oma di depan bersama Trinita.
Arwen sibuk menata rambut pendeknya ketika dalam perjalanan di kaca spion mobil. Bentuk mata lebar dan dalam, kulitnya putih dan jangkung. Hidungnya tinggi, serta tubuhnya langsing dan menawan. Kakaknya, Trinita juga seperti itu. Mereka mendapat anugerah kecantikan itu dari darah Belanda sang Oma.
Arwen memulai percakapan ketika mobil mulai meluncur di jalanan yang padat dan macet. “Trinita, bagaimana perkembangan bisnismu?” Kakaknya baru saja merintis bisnis baru.
“Seperti biasa, aku mulai menyelidiki minat pasar. Rupanya mobil sport bekas dapat sambutan istimewa. Mobil sport import akhir-akhir ini menjadi tren. Aku nggak nyangka bakal ada banyak sekali peminatnya. Orderanku sekarnag lumayan banyak,” balas Trinita sambil terus fokus menyetir.
“Dari mana saja peminatnya?”
“Dari Jakarta dan luar pulau. Tapi kebanyakan cari bekas buat dimodif lagi. Jadi aku perlu usaha keras buat menyediakan permintaan pasar.”
Arwen mengerutkan keningnya.”Apa serepot itu mengurusi mobil bekas?”
“Repot mengurusi surat-suratnya. Aku masih belum mampu mengatasi semuanya. Karyawanku masih sedikit.”
“Aku ingin satu. Beri aku satu mobil sport.”
“Lulus kuliah dulu, dong” balas Trinata dan membuat Arwen mencibir. “Omong-omomg kita akan belanja di mana hari ini?” Trinita milirik Oma yang sedari tadi hanya diam mendengarkan cucunya mengobrol.
“Di tempat biasa saja. Toh, kita sudah dekat dengan lokasinya.” jawab Oma.
Sepuluh menit kemudian Trinita memarkir mobilnya di halaman parkir di sebuah pusat perbelanjaan di tengah kota. Arwen dan Oma turun terlebih dulu, kemudian disusul Trinita.
“Kita akan memasak apa hari Rabu nanti?” tanya Arwen sambil menarik troli belanjaan dari tempatnya.
“Bikin masakan kesukaan mereka saja,” jawab Oma kalem sembari mulai mengambil beberapa tomat kaleng.
Arwen tahu apa makanan kesukaan orangtuanya. Jenis makanan yang akan membuat Oma membeli banyak daging. Daging panggang mentega, nasi kebuli serta pai daging cincang akan menjadi pilihan menu mereka.
“Aku penasaran kenapa mereka pulang cepat. Tak biasanya mereka begitu,” celetuk Trinita. Dia berjalan di samping Arwen. Oma di depan sedang memilih-milih bahan makanan.
“Aku juga sempat memikirkannya,” sahut Arwen. “Jarang–jarang mereka memutuskan pulang cepat. Mereka selalu pulang terlambat, atau bahkan nggak pulang berbulan-bulan.”
“Mereka pasti sudah merindukan kalian berdua.” Oma menimpali sembari memasukkan beberapa batang keju ke dalam troli yang sedang didorong Arwen. “Sudah lama mereka nggak bertemu kalian. Pulang-pulang, kalian udah gede aja.” Oma tersenyum dan mereka berdua saling pandang dan nyengir.
“Betul. Lihat Trinita, rambutnya mulai putih.” Arwen menggoda kakaknya.
“Sudah waktunya Trinita memiliki pasangan hidup.” Oma yang bicara. “Dan ini pesanku, Trinita. Bersamalah dengan seseorang yang baik dan menikahlah.”
“Aku masih belum memikirkannya” jawab Trinita serius.
Setelah mengantri di kasir, mereka memutuskan makan siang di restoran dalam mal dan kemudian pulang ke rumah. Dua hari selanjutnya mereka menghabiskan waktu dengan membersihkan rumah dan menunggu kabar dari orangtuanya, kendati kabar yang ditunggu tidak datang juga. Mereka mencoba menghubungi mereka tapi ponsel mereka selalu tidak aktif.
Arwen pun mulai resah.

Komento sa Aklat (118)

  • avatar
    MunainiLisa

    baguss bangettt kakkk

    01/05/2025

      0
  • avatar
    SebastianAril

    ggggggg

    14/01/2025

      0
  • avatar
    FirdausRaihan

    cerita sangat bagus

    16/07/2024

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata