logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

7. Perjodohan

Wajah yang tadi begitu gembira kini berubah seketika seakan disihir untuk bersedih. "Tak tau pa, aku masih belum siap."
Hutomo membuka arsipan email dari Aldy yang mungkin sudah beribu-ribu kali dikirim. Bukan hanya pada email-nya, tapi disetiap sosial media yang ia punya.
"Kau lihat betapa dia merindukanmu?" Tunjuk Hutomo pada layar laptopnya.
Ara menatap nanar laptop papanya, disana sangat benyak pesan yang terkirim. Ara hanya diam, ia tak tau haris berkata apa, dirinya juga tersiksa dengan perasaan ini.
"Dia sangat mencintaimu, dia rela membujang selama sembilan tahun hanya demi menunggu kedatanganmu sayang."
Ara mengalihkan pandangannya kearah papanya. Ia tersenyum dengan mata yang akan meluncurkan air matanya. "Akan Ara pikirkan tentang hal itu."
Ara mengambil tangan Hutomo lalu menciumnya. Tak lupa ia juga mencium kedua pipi Hutomo.
Senyumnya kembali terbit. "Jangan pulang terlalu malam, Ara akan memasakkan papa rendang dan sate ayam. Bay papa!"
🇮🇩Indonesia 🇮🇩

Kedua orang tuanya berada di kamar Aldy. Aldy sudah tau kemana pembicaraan kedua mama papanya. Pasti soal Melly.
"Bagaimana dengan Melly?" tanya Elva menggoda. Sedangkan yang digoda hanya menatap datar.
"Dia bisa-bisa saja," jawab Aldy singkat.
"Kamu ini, lalu siapa yang tak biasa-biasa saja? Ara? Wanita tak berhati itu?"
"Ma, tolong jangan bilang Ara wanita tak berhati. Mama gak kenal Ara, Aldy yang kenal Ara!"
Faizal (papa Aldy) ia hanya diam, sejujurnya ia tak setuju jika Aldy dijodohkan. Aldy sudah dewasa ia berhak menentukan pilihannya. Namun, dari pada dirinya di amuki oleh macan betinanya, lebih baik dirinya iakan saja.
Faizal melihat kearah Aldy yang mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia tau putranya pasti sedang marah. Ia tak menyalahkan Aldy, ia juga tak menyalahi Ara karena meninggalkan Aldy. Semua pasti ada alasan di balik tindakan.
"Ayolah Al, move on dari Ara, ada Melly yang benar-benar bisa membuatmu bahagia."
"Apa mau mama?" tanya Aldy.
"Satu Minggu lagi, kau bertunangan dengan Melly."
"Ma, ayolah jangan seperti ini!" pinta Aldy. Bertunangan dengan Melly adalah hal di luar nalarnya.
"Bukankah itu terlalu cepat ma?" tanya Faizal yang juga bingung, karena dadakan. Apa lagi tak ada persiapan sama sekali.
"Papa tak perlu hawatir. Mama gak mau Aldy menjadi seperti ini pa. Sembilan tahun dia hidup hanya untuk menunggu wanita yang tak tau kapan datang itu."
"Oke fine. Aldy mau. Asalkan, mama stop bilang Ara wanita jahat. Stop ngejelekin Ara, Aldy gak suka!"
"Bagus!" Elva keluar dari kamar Aldy. Namun, tidak dengan Faizal.
Faizal berjalan kearah sofa, lalu menyuruh Aldy duduk disampingnya.
Aldy menurut ia duduk disamping papanya, sambil memijat pelipisnya yang berdenyut tak karuan.
"Kau tau hal yang paling sulit didunia ini lakukan?" tanya Faizal.
Aldy hanya menatap papanya, meminta penjelasan. "Bekerja?"
"Kesetiaan. Papa menemukan hal itu dalam diri kamu Al. Papa bangga sama kamu, tapi ucapan mama kamu benar, kamu harus hidup bahagia, kamu harus berubah, jangan sia-siakan hidup kamu."
"Tapi pa, Aldy tak menyukai Melly."
"Aldy, apa kau tak pernah merasakan sakit pinggang karena lelah duduk seharian?" tanya papanya dengan topik yang tak ada hubungannya menurut Aldy.
"Sering," jawab Aldy, meskipun dirinya tak mengerti.
"Memiliki istri itu nyaman Aldy. Sakit ada yang merawat, tidur ada yang mengeloni, makan ada yang memasakkan, kebutuhan sudah diatur. Lambat laun persaan itu akan datang, ketika kau mau membuka hatimu."
"Papa tak memintamu melupakan Ara. Coba kau simpan Ara sedalam-dalamnya dalam hatimu, hingga tak ada yang tau jika Ara ada dihatimu, dan beri ruang untuk Melly masuk kedalam hatimu, sedikit saja."
"Tapi pa?"
"Tak ada tapi Aldy. Papa tak bisa melawan kehendak mama, papa tak memiliki alasan, ucapan mamamu benar."
"Akan aku coba. Terima kasih sarannya pa."
Faiz bangun dari duduknya, mengacak rambut Aldy pelan. "Istirahatlah, besok kau harus temani Melly berbelanja, potong rambutmu," ucapnya lalu pergi.
"Ayolah kenapa dunia mempermainkan aku?" batin Aldy.
Aldy mengambil ponselnya, menekan nomer Ammar. Tak butuh waktu lama, ponsel pun tersambung.
Ditempat lain, Ammar sedang melakukan Vidio call dengan Ara, yang bercerita tentang penyakitnya yang sudah dinyatakan sembuh.
"Selamat Ra, gue ikut seneng, lo udah baik-baik aja sekarang."
"Makasih Ammar."
"Kapan lo balik ke indo? Gue gak tega liat pak Aldy Ra, dia tiap hari kerja ekstra hanya demi ngalihin pikirannya ke lo."
Bisa Ammar lihat, Ara terdiam, dengan tatapan kosongnya.
"Maaf kalo gue salah ngomong."
Ara menghapus ujung matanya karena sedikit berair. "Enggak aku gak papa kok."
Sebelum Ammar kembali bersuara, ponselnya berbunyi, ternyata yang menelponnya adalah Aldy.
Ammar mengarahkan ponselnya kerah layar laptop, supaya Ara melihat jika Aldy sedang menelepon. "Jangan di matiin," ucap Ammar, lalu mengangkat telepon Aldy dengan volume yang dinyaringkan.
"Selamat malam pak," ucap Ammar.
"Ammar, kamu batalin semua meeting dengan klien besok, saya tidak bisa masuk kantor besok."
Mendengar suara Aldy, Ara tak bisa menahan air matanya. Ia sangat merindukan suara itu.
Ammar tau jika Ara sedang sedih akibat mendengar suara Aldy. Ia mengisyaratkan Ara untuk menghapus air matanya.
"Kalo boleh tau kenapa pak? Supaya nanti jika klien bertanya saya bisa menjawab."
Terdengar helaan napas dari sebrang telepon. "Saya dijodohkan, dan besok saya harus mengantar wanita itu membeli gaun pertunangan."
Ammar membulatkan matanya, ia segera mematikan sambungan Vidio callnya.
"Baiklah pak, besok akan saya atur ulang skedulnya."
"Hmm," jawab Aldy dan panngilan pun terputus.
Ammar segera menghubungi Ara kembali, di panggilan pertama tak ada jawaban. Ammar semakin di buat bingung. Ia merasa bersalah, karena telah menyuruh Ara mendengarkan percakapannya dengan Aldy.
Namun, tiba-tiba, Ara sendiri yang menelepon Ammar.
"Ada apa Ammar?" tanya Ara.
"Lo gak pa-pa?" tanya Ammar khawatir.
"Aku baik-baik saja. Terima kasih telah menjadi teman, dan mau memberi tahu kabar kak Aldy."
Ara tersenyum dengan lebar. "Hari ini kau tak perlu lagi memberi tahu tentang kak Aldy kepadaku, semuanya sudah Ammar. Misiku berakhir."
"Ra, lo gak boleh gitu. Jangan goblok, pak Aldy masih sayang sama lo, dia paling di paksa sama Bu Elva."
"Udah Mar. Aku mau istirahat, dan aku mohon, jangan membicarakan kak Aldy lagi."
Ammar ingin membalas ucapan Ara, tapi sambungan vidio call sudah Ara matikan.
"Begok Ammar, begok!" rutuk Ammar pada dirinya sendiri.
Keesokan harinya Aldy sudah berada didepan pekarangan rumah Melly. Mamanya memang sangat cerdik dalam membuat ide. Ia satu mobil dengan papanya, alasannya ingin berpacaran, karena sudah lama LDR.
Jangan harap Aldy bersikap layaknya pasangan idaman. Ia tak masuk kedalam rumah Melly. Ia mengklakson mobilnya beberapa kali layaknya taxi online yang sudah sampai.
Aldy bisa melihat Melly yang keluar dengan baju berlengan pendek, dan celana hot pant dengan warna yag sama orange. Sangat mencolok mata.
"Apa dia tak memiliki baju sopan? Atau harus aku belikan? Terserah dia saja."
Melly duduk disamping Aldy, ia tersenyum lebar. "Pagi mas."
"Mas? Kenapa aku jijik dipanggil seperti itu oleh wanita ini," batin Aldy bergidik ngeri.
Aldy langsung pergi menuju tujuannya supaya cepat selesai.
Tiba-tiba tangan Melly berada di paha Aldy, mengelusnya. "Kita mau membeli baju dimana?"
"Singkirkan tanganmu dari pahaku," ucap Aldy tak suka.
"Kenapa?" tanya Melly tak setuju.
Aldy tak menjawab, ia menghempaskan tangan Melly dengan kasar dari pahanya. "Wanita agresif," rutuk Aldy, dalam hatinya.
"Aw, sakit mas," rengek Melly.
Bukannya menolong Aldy malah tak perduli. Ia tetap pada posisinya, menatap lurus, dengan tampang datar.
Setelah sampai. Aldy langsung keluar tanpa ada acara membukakan pintu untuk Melly.
"Dasar pria dingin!"
Jika pasangan lainnya akan memilihkan baju untuk pasangannya, Aldy berbeda.
"Mbak!" panggil Aldy pada salah satu karyawan butik.
"Jas hitam dan kemeja biru, untuk ukuran saya."
Aldy mengalihkan pandangannya kepada Melly. "Kamu ikut dengan dia, ambil apa saja terserah," ucapnya lalu membuka ponselnya.

Komento sa Aklat (209)

  • avatar
    Kha Thomas

    sangat bagus

    09/04

      0
  • avatar
    RendiIndri

    menarik

    22/01

      0
  • avatar
    febrianaandita

    terharu banget ka😻😻 sangat bagus sekali cerita nya

    01/07/2025

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata