"Wah, model rupanya, pantas saja kau sangat cantik," puji Elva. "Mama ini apa-apaan? Cantik dari mana? Kayak ondel-ondel ia." Tentunya kata itu tak akan Aldy lontarkan, hanya dirinya dan tuhan yang tau. "Terima kasih Tante," jawab Melly malu-malu. "Oh ya va, kayaknya kita kesana dulu kalik ya, biar gak ganggu anak-anak," kata Yumna, yang disetujui oleh Elva. Keduanya pergi meninggalkan Aldy dan Melly. Tentunya mereka akan pulang, supaya keduanya saling berbicara, atau mungkin saling menyukai satu sama lain. Semoga saja. Aldy tetap diam, ia tak mau berbicara dengan wanita didepannya. Ia juga tak mau mengecewakan mamanya karena meninggalkan Melly. "Kau CEO di perusahaan Fathee grup kan?" tanya Melly sok akrab. "Ia," jawab Aldy singkat. "Kau umur berapa?" tanya Melly lagi. "Tiga puluh lima." "Oh, aku dua puluh tujuh tahun." Melly tersenyum dengan manis, supaya Aldy luluh dengannya. Nyatanya es balok itu tak akan mencair, sebelum mataharinya datang. Aldy hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan Melly dengan singkat. "Kenapa kau menerima perjodohan ini?" tanya Aldy tiba-tiba. Ia tau Melly sedang mencari topik basa-basi memuakkan kepadanya. Lebih baik ia hentikan dengan pertanyaan yang lebih berfaidah menurutnya. "Karena permintaan keluargaku," jawabnya. Bukan itu sebenarnya. Melly memiliki kekasih, ia hanya ingin harta Aldy bukan karena permintaan keluarga. Wanita mana yang kuat hidup dengan pria dingin dan arogan seperti Aldy, jika bukan karena harta? "Selain itu?" tanya Aldy lagi. Ia masih tidak percaya akan ucapan Melly. "Aku tertarik kepadamu." Dari segi paras, Melly tak bisa menampik, jika Aldy sangat-sangat tampan. Rahang kokoh, hidung mancung, bibir ranum, bahu yang lebar, dan jangan lupakan rambut yang sedikit memanjang, yang membuatnya terlihat sangat tampan. "Tertarik? Tapi aku tidak." Aldy tersenyum remeh, lalu meneguk jus yang sempat ia angguri tadi. "Sabar Melly, hidupmu akan nyaman jika bisa menaklukkan pria seperti Aldy," batin Melly. Melly tersenyum lembut. "Bukan sekarang, tapi suatu saat nanti, kau akan tertarik kepadaku." Aldy mengangkat satu alisnya tak percaya. Benarkah wanita di depannya ini mampu meluluhkannya. Aldy sudah sering melihat wanita yang lebih cantik dari pada Melly, tapi tak ada ketertarikan sama sekali dalam diri Aldy. "Kapan suatu saat nanti itu?" tanya Aldy remeh. "Entahlah, tapi pasti akan terjadi." "Kamu terlalu percaya diri." Aldy melihat kearah jamnya, yang masih menunjukkan jam sembilan malam. "Mungkin mama dan mamamu sudah pulang, biar aku antar." Tanpa menunggu persetujuan, Aldy bangun dari duduknya, dan pergi begitu saja. "Pria angkuh!" cemooh Melly. Di dalam mobil tak ada suara sama sekali, radio music pun tak Aldy hidupkan.
"Kamu memiliki kekasih?" tanya Melly tiba-tiba. "Bukan urusanmu." "Ini urusanku kamu calon tunanganku." Seketika Aldy menancap remnya mendadak. Ia menatap Melly tak mengerti. Calon tunangan apa maksudnya? "Ya, jika kau datang acara makan malam ini, itu artinya kau menerima pertunangan ini." Melly membuka ponselnya menunjukkan chat dari Elva. Aldy mengambil ponsel Melly. Benar saja, hanya datang karena makan malam, sama dengan menerima perjodohan. Sungguh tak masuk akal. "Terserah." Aldy bernafas panjang, lalu kembali melanjutkan menyetirnya. Sesampainya di rumah, Aldy langsung masuk kedalam kamar mamanya. Ia semakin dibuat tak mengerti. Papanya sudah datang, dan ada dikamar bersama mamanya. Aldy memundurkan langkahnya ketika melihat sepasang suami istri tengah saling berciuman. "Huh, harus kutunda acara marah ini," katanya lalu pergi meninggalkan kamar mamanya, tak lupa menutup pintu dengan rapat, tentunya tanpa sepengetahuan keduanya. Sebelum Aldy masuk kedalam kamar, Alfa datang menahan lengannya. "Gue mau ngomong." "Apa?" tanya Aldy. "Ikut gue kak." Alfa menarik Aldy hingga kini keduanya berada di teras belakang rumah didepan kolam renang. "Bagaimana dengan calon tunangan lo?" tanya Alfa. "Gue gak tau, gue pengen nolak, dia bukan tipe gue sama sekali fa," jawab aldy jujur. "Udah gue duga." "Lo pasti tau alasannya." "Dan lo gak tau betapa mama, mengharapkan semua itu terjadi. Dia menelepon papa, untuk segera pulang, karena akan mengadakan pertunanganmu dan wanita itu." Aldy menatap Alfa bingung. Jadi ini alasan papanya pulang. Biasanya papanya akan pulang sebulan sekali, tapi kali ini lebih cepat dari biasanya, dan alasannya adalah pertunangan aneh itu. "Gue gak bisa nyakitin Melly, karena perasaan gue ke Ara belum tuntas fa." Alfa mengangguk setuju. "Gue setuju sama lo. Tapi kadang ucapan mama benar. Lo harus berubah. Bukan hanya mama, tapi ini juga salah satu permintaan Ara ke lo kan?" Aldy memejamkan matanya, sejenak. "Apa gue harus meneriman perjodohan ini fa?" "Semua keputusan ada di lo, tapi gak ada salahnya lo mencoba buka hati buat Melly. Hargain aja dulu permintaan mama. Setidaknya lo gak nolak." "Lo bener fa, tapi, udahlah gue capek ngurisin masalah ini." Aldy bangun dari duduknya dan pergi meninggalkan Alfa. ~~~ 🗼 Tokyo 🗼 Seorang wanita, dengan rambut pendek sebahunya, menunggu antrian pemeriksaannya. Harapannya hanya satu, ingin meminta umur lebih panjang. Masih banyak harapan dan janji yang belum ia tepati, setelah meninggalkan negara asalnya. "Valeria Ara Atmaja!" teriak seorang suster. Ara berdiri dari duduknya, dengan beberapa kertas. Ia masuk kedalam ruangan pemeriksaannya. Sudah sembilan tahun ia melakukan pengobatannya. Semoga kali ini hal yang di tunggu-tunggu oleh semua orang yang mengidap penyakit terwujudkan. Yaitu sembuh. "Bagaimana Dok atas hasil dari pemeriksaannya," tanya Ara tentunya dengan bahasa Jepang. "Dari hasil leb, dan seluruh pemeriksaan, nona Valeri semua normal. Anda dinyatakan sembuh dari kanker, dan HIV. Selamat." Sang dokter itu mengulurkan tangannya berjabat tangan yang langsung dibalas oleh Ara. "Semua ini benar?" tanya Ara. "Kau bisa membacanya sendiri nona." Sang Dokter memberikan kertas pemeriksaannya. Sebenarnya kanker Ara tak termasuk kanker yang ganas, dan kanker itu masih memasuki stadium awal. Namun, yang membuatnya semakin lama di Tokyo, adalah penyakit HIV. Sudah beberapa kali ia melakukan pemeriksaan dan hasilnya selalu sama. HIV itu masih ada. Namun, hari ini dirinya dinyatakan sembuh. Ara langsung menuju kantor papanya, yang memiliki cabang di Tokyo. Ia memeluk papanya dengan sangat erat. "Papa!" teriak Ara sambil jingkrak-jingkrak kesenangan. Hutomo mengalihkan pandangannya kearah wanita berambut pendek yang memanggilnya papa. "Ada apa? Kenapa anak papa senang sekali?" tanya Hutomo yang juga ikut bahagia. "Papa tau?" tanya Ara, dengan nada seorang MC yang akan menyatakan pemenang lomba. "Tidak, kamu tidak memberi tahu papa," jawab Hutomo. Ara mengeluarkan amplop putih dari rumah sakit. "Jeng-jeng-jeng." Hutomo menatap amplop putih itu masih bingung. "Kenapa?" "Ck, papa gak peka," jawab Ara sebal. Ia mengeluarkan kertas dalam amplop lalu memberikannya kepada papanya. "Ara sembuh dari HIV. Yeeeeee." Hutomo langsung berdiri memeluk putri semata wayangnya, yang pernah tak ia anggap. Dirinya senang sekali, akhirnya Ara bisa bebas melakukan hal apapun. "Selamat sayang. Dan terima kasih sudah mau berjuang demi papa." Hutomo membuka pelukannya, ia mencium kening Ara lama.
Ara sangat senang, bukan hanya karena penyakitnya yang sudah dinyatakan sembuh, tapi ia akan kembali ke negara asalnya, Indonesia. Menemui cintanya, yang kini menunggunya. Meskipun Ara tak pernah menghubungi Aldy, tapi ia tau semua yang Aldy lakukan. Ammar sekertaris Aldy, dia juga salah satu teman Ara yang memberi tahu tentang keadaan Aldy. Terkadang ia ingin segera pulang, ia ingin memarahi Aldy yang tak menepati apa yang dia mau. Namun, mengingat penyakitnya yang hampir mustahil disembuhkan Ara mengurungkan niatnya. "Kapan kau akan kembali ke Indonesia? Papa sudah rindu makan rendang, dan juga sate ayam," ucap Hutomo bercanda. Bukan tak ada pria yang mendekati Ara, tapi Ara yang lebih memilih sendiri. Ia sadar jika dirinya adalah wanita penyakitan, yang menular. Bukan hanya itu alasannya, ada cinta yang harus ia jaga. "Aku tidak tau pa, jika papa mau makan rendang, akan aku masakkan," jawab Ara. "Kau tak mau menemui Aldy? Tanya Hutomo lagi.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
Gastos 26 diamante
Balanse: 0 brilyante ∣ 0 Mga puntos
Komento sa Aklat (209)
Kha Thomas
sangat bagus
09/04
0
RendiIndri
menarik
22/01
0
febrianaandita
terharu banget ka😻😻
sangat bagus sekali cerita nya
sangat bagus
09/04
0menarik
22/01
0terharu banget ka😻😻 sangat bagus sekali cerita nya
01/07/2025
0Tingnan Lahat