logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Akbar 2 (Awal Mula Cerita)

-13 tahun yang lalu-
Damaskus, 10 Desember 2009.
Di Kota Damaskus, Syria, saat ini matahari sudah berada di ufuk barat. Sayyid Shahram Alasoad, tetangga apartemenku, sedang menyandarkan bagian depan kakinya di pagar balkon depan pintu apartemennya. Ia menyapu jalanan dengan pandangannya. Matanya agak sayu tak bersemangat. Tangannya menekan bagian atas pagar balkon, menumpukan berat badannya ke siku tangan. Punggungnya setengah membungkuk karena pagar balkon kami tidak terlalu tinggi.
Melihatku berjalan ke arahnya, ia langsung menegakkan punggungnya, berhenti bersandar di pagar. Kedua tangannya hanya diletakkan di atas pagar.
Aku menyapanya dengan bahasa Arab. "Kakek lagi lihat apa? Kayaknya gak ada yang enak dipandang dari sini." Aku ikut menyandarkan badanku ke pagar balkon meski hanya pada bagian kiri kaki dan setengah badanku. Kutumpukan lengan kiriku ke atas pagar dan badanku menghadap ke arah Si Kakek.
"Yah, gak ada pohon, cuma lalu lintas," jawab Si Kakek.
Aku tertawa pelan walaupun sebenarnya merasa kasihan. Sang Pak Tua pasti merasa kesepian lantaran tinggal sendirian karena anak semata wayangnya jarang pulang, menginap di tempat kerjanya di kantor percetakan.
"Kalau ada kesempatan, yuk jalan-jalan ke Norias Park," ajakku.
"Pergi aja kalau kamu mau. Aku cuma pengen anakku cepet pulang," jawab Si Kakek tak bersemangat.
'Mungkin anak Kakek gak pulang karena khawatir Kakek bakal marah-marah lagi sama dia? Bukannya setiap di rumah dia selalu dapet omelan dari Kakek?' ucapku dalam hati. Namun, tatapan kosong Kakek ke arah langit yang menyiratkan perasaan kesepian membuatku serta merta mengubah arah bicaraku.
"Gimana kalau aku aja yang jadi anak Kakek? Kita habisin waktu dan bersenang-senang bersama. Kita buat anak Kakek iri sama aku dan sadar betapa sangat berartinya Kakek buat dia," paparku.
Pak Tua itu melirik sedikit ke arahku seperti sayang kalau harus menolehkan seluruh kepalanya. Aku tahu ia memiliki ego yang tinggi dan selalu merasa ingin dihormati karena ia adalah mantan anggota tentara veteran yang cukup berpangkat dan memiliki banyak pengalaman.
"Gak papa sih kalau gak mau." Aku memutar badanku ke arah jalanan, tidak lagi menghadap ke Si Kakek.
"Menurutmu dia bakal iri sama kamu?" Kali ini ia menolehkan sedikit arah wajahnya ke arahku.
"Yah, mungkin. Kalau Kakek kelihatan menyayangiku dan merasa nyaman denganku, mungkin itu bakal bikin dia cemburu. Lagian, orang tuaku juga udah meninggal. Andai pun anak Kakek gak cemburu, kita tetap jadi bisa saling melengkapi kan? Kakek jadi ayahku dan aku jadi anak Kakek," jelasku panjang.
"Kamu kan punya kampung halaman dan di sanalah tempat berpulangmu? Aku gak akan jadi tempat berpulangmu seperti seorang anak pulang pada ayahnya?" Tampik Sang Pak Tua atau Si Kakek.
"Aku betah banget kok di sini. Lagian, perjalanan kuliahku kan masih panjang? Seenggaknya aku bakal terus di sini sampai lulus S-2. Mungkin gak perlu dianggap terlalu serius, Kek. Cuma ... biarkan itu mengalir aja.
"Kita memang gak akan bisa bener-bener kayak ayah sama anak kandung karena kita gak punya hubungan darah, tapi ... anggep aja aku pelarian. Bayangin aja kalau aku itu anaknya Kakek." Padahal sebenarnya akulah yang sedang ingin menjadikannya sebagai tempat pelarian, karena aku hampir tidak pernah merasa 'pulang' dan tidak pernah merasa diinginkan oleh kampung halamanku.
Ia tertawa berat 'khas kakek-kakek' setelah mendengar ideku. "Haha. Baiklah." Ia menepuk-nepuk punggung kiriku dengan tangan kirinya. Aku tersenyum, tak menyangka akan mendapat sambutan positif darinya.
Sebenarnya ia masih seperti lelaki paruh baya dari caranya berkomunikasi, wajahnya saja yang kelihatan kakek-kakek. Yah, aku belum pernah menemui gejala pikun pada dirinya. Malahan ia suka membangunkanku pagi-pagi ala militer seperti komandan memberi aba-aba pada anak buahnya sambil menggebrak-gebrak keras pintu apartemenku, 'istaiqidh Akbar, istaiqidh! Bangun Akbar, bangun!'. Begitu perhatian memang, walaupun caranya agak kasar.
Malam ini aku menginap di apartemen Kakek. Aku mengajaknya menonton film komedi tahun 90-an yang sudah kupersiapkan tadi. Aku tahu ia pasti sudah pernah menontonnya dulu, tapi ketika kutawari, ia tetap mengangguk semangat. Aku tahu ia akan senang bernostalgia dengan film zaman dulu.
Ia mudah sekali tertawa bahkan di bagian yang menurutku tidak atau belum memasuki bagian lucunya. Mungkin ia ingin menunjukkan kepadaku bahwa ia sudah tahu di mana letak adegan-adegan lucunya. Setelah 45 menit berlalu aku mulai mengantuk dan tidak menikmati film yang telah kupilih sendiri.
"Kek, aku mau ambil handphone dulu ya?" ujarku tiba-tiba.
"Gimana kamu bisa ngelupain handphone-mu, Nak? Aku aja bawa handphone-ku ke mana-mana." Ia menepuk-nepuk saku celananya. 
Aku tidak menjawab apa-apa hanya menampilkan wajah 'biarin ....' dan Kakek hanya tertawa. Mendengar kalimatnya, aku jadi merasa bahwa ialah yang muda dan akulah yang tua.
Setelah memasuki apartemenku, sengaja aku tak lekas kembali. Kuhempaskan tubuhku di sofa dan kuraih handphone, ada sebuah pesan e-mail ternyata. Sudah bisa kutebak e-mail dari siapa. Yah, aku memang rutin bertukar surat elektronik dengan ayah angkatku.
Email dari Bapak:
Assalamualaikum
Bagaimana kabarmu saat ini, Nak? Sehatlah selalu. Aturlah asupan gizimu dengan baik dan jangan memforsir waktu untuk terus belajar.
Saat ini kesehatan bapak sudah semakin buruk. Melalui apa yang disampaikan oleh Dokter, rasanya bapak sudah harus mengurus surat wasiat. Supaya kalau terjadi apa-apa, bapak tidak meninggalkanmu, Mira, dan Fatima tanpa kata-kata terakhir.
Kali ini dokter memarahi bapak terang-terangan soal rokok. Kalau Fatima tahu soal ini, dia pasti bakal marah besar. Untungnya, sampai sekarang bapak masih bisa menyembunyikan soal ini darinya.
Oya, foto-foto yang kamu kirimkan kemarin rasanya semakin menambah rasa kangen bapak sama kamu. Sebenernya, bapak juga punya banyak hal yang pengen bapak pamerkan ke kamu. Tapi ... sepertinya belum ada momen yang cocok dan perlu untuk diabadikan dalam foto.
Kamu tahu? Fatima sudah besar sekarang. Anak yang dulu selalu nempel sama kamu. Kalian udah gak pernah komunikasi lagi kan dari waktu kamu masuk pesantren?
Akbar, bapak dulu bisa terima sama pilihanmu buat sekolah di pesantren waktu SMP. Setelah itu bapak juga ikhlas waktu kamu milih melanjutkan SMA-mu di Gunungkidul. Bahkan ketika akhirnya kamu ngambil kuliah di Syria, bapak ngizinin kamu. Bapak juga rela kamu selalu milih buat tinggal di panti asuhan waktu kamu liburan dikarenakan adikmu.
Akan tetapi saat ini, bapak merasa semakin rindu dan menginginkan keberadaan anak-anak bapak di samping bapak. Bapak merasa sudah tidak cukup kuat untuk merelakanmu lagi.
Begitu juga Mira. Wajar jika dulu dia memilih tinggal di panti asuhan karena dia masih kecil dan merasa asing dengan kami. Tapi sekarang dia sudah besar. Apa kamu tidak bisa membujuknya untuk tinggal dengan Fatima?
Bapak rasa Fatima akan sangat senang kalau dia tahu kalau dia punya dua orang kakak. Namun, sebelum kalian berdua mengiyakan ini, bapak tidak bisa memberitahu siapa kalian. Bapak tidak mau dia merasa kecewa dan berpikiran buruk terhadap kalian.
Ayah angkatmu, Wassalam.
Biasanya Bapak, atau ayah angkatku, selalu mengirimiku pesan-pesan yang berisi nasihat, motivasi, nilai-nilai agama dan kehidupan, walaupun ia sendiri berhadapan dengan banyak masalah. Ia juga sangat mendukung kuliahku.
Akan tetapi akhir-akhir ini, e-mail darinya terasa berbeda. Apakah benar 'waktunya' sudah dekat? Kuharap itu hanya karena ia sedang merindukanku. Aku pun segera membalasnya,
Email balasanku:
Waalaikumsalam
Alhamdulillah kabarku baik. Aku belum pernah sakit di sini, semoga selalu sehat untuk kedepannya. Aku juga selalu berharap semoga Bapak di sana bisa lekas sehat.
Bapak adalah ayah bagi anak-anak yatim-piatu. Nafas dan usia Bapak sangat berarti bagi kami. Dengannya kami sangat berharap Bapak bisa terus semangat melawan sakit Bapak.
Bukan cuma Fatima yang akan marah soal rokok. Seandainya kami semua punya hak seperti Fatima untuk marah, tentu kita juga akan marah soal rokok, karena itu salah satu yang memperparah sakit Bapak. Tentu tidak harus sekaligus, tapi Bapak harus mencoba untuk menghentikannya pelan-pelan.
Oya, semoga aku bisa membuat Bapak gembira dengan kabar yang akan kusampaikan ini. Pihak Universitas akan memberiku beasiswa lagi untuk study S-2-ku tanpa tes jika aku bisa mempertahankan prestasiku.
Semua ini sungguh tak akan bisa aku capai kecuali dengan dukungan dari Bapak. Filsafat benar-benar hal yang sangat kunikmati dan kucintai. Aku belum pernah menemukan proses belajar filsafat dengan model seperti ini di Indonesia.
Soal Fatima, tentu kami menganggap Fatima sebagai adik, walaupun kami tidak bisa seperti kebanyakan saudara pada umumnya yang tinggal bersama sebagai keluarga. Mohon maaf sebesar-besarnya, juga mohon pengertian dari Bapak lagi untuk kesekian kalinya.
Terkait Mira tak tinggal bersama, insya Allah itu bukan karena dia tak ingin tinggal bersama keluarga yang mengadopsinya, tapi dia akan lebih baik tinggal bersama pengasuh-pengasuh panti asuhan supaya tidak merepotkan Bapak. Apalagi Bapak sedang menjalani banyak rehabilitasi dan pengobatan. Akan tetapi tentu aku akan meminta Mira untuk mengunjungi Fatima.
Terima Kasih sudah mengirimiku e-mail.
Wassalam.
°°•°°

Komento sa Aklat (89)

  • avatar
    Intann

    karena seruu bgttt

    17/09

      0
  • avatar
    Jaiza Safika

    bagus

    12/07/2025

      0
  • avatar
    YunitaDestynn

    bagus banget kakkkkk omigatttt aku suka bangettttt

    01/07/2025

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata