logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Cepatlah Besar Matahariku

Cepatlah Besar Matahariku

Karima N.


Akbar 1 (Prolog)

Bogor, 14 September 2022
Cuaca dingin menyempurnakan kebekuan pikiranku yang sedang dilema dengan posisi sebagai seorang ayah tapi tak bisa bersikap seperti seorang ayah. Sepinya malam pun turut membuatku semakin tenggelam dalam problematika yang sudah lama mengusikku itu. Angin melalui celah-celah ventilasi menyempurnakan suasana yang menyulitkan ini dengan terus menggelitik rambut-rambut halus di kulitku, membuatku merinding.
Seperti inikah kecemburuan seorang ayah ketika seorang lelaki ingin meminang anak perempuan kesayangannya? Atau hanya aku yang merasakannya?
Sebesar-besarnya jasa seorang ayah, ia tidak berhak untuk mengeksploitasi hidup anaknya. Malahan ayah adalah orang yang juga bertanggung jawab untuk memikirkan pernikahan anaknya.
Namun, aku bukanlah ayah dari wanita ini, seharusnya aku tidak menanggung kesulitan seperti ini. Sebenarnya aku juga sudah tidak mau berperan menjadi ayahnya lagi. Ia bahkan tidak pernah memanggilku 'ayah', tetapi kenapa malah dia yang begitu menghayati peranku sebagai sosok ayahnya?!
Bagaimanapun, hal itu hanyalah teriakan di dalam hati. Di luar, aku tetaplah harus bersikap sebagai seorang ayah.
"Keputusannya ada di tanganmu sendiri, Fatima. Lagian, sebenernya kamu gak perlu minta restu dari aku. Aku bukan wali resmimu. Seandainya kamu menikah tanpa izinku pun, pernikahanmu tetep aja sah," ucapku pada Fatima.
"Walaupun bukan wali resmi, aku udah ngehormatin Mas Akbar kayak ayahku sendiri. Aku gak akan berani dong, ngelancangin Mas Akbar? Apalagi ... semua pencapaianku ini kan hasil dari kerja keras Mas Akbar juga ...," balas Fatima dengan tatapan mengiba.
Kuterawang kesungguh-sungguhan dari tatapan matanya. Apakah memahami perasaanku yang sebenarnya mustahil untukmu Fatima?
Fatima kini tersenyum bangga padaku. "Aku pengen ngucapin terima kasih sama almarhum Ayah. Beliau bener-bener udah milih orang yang tepat buat gantiin posisinya. Almarhum ayahku pasti juga pengen banget berterimakasih sama Mas Akbar."
Aku membalas senyumnya. Hanya itu yang bisa kulakukan di luar walaupun sebenarnya di dalam diriku, ingin rasanya kukatakan, kalau memang kamu pengen tahu sebenernya aku bakal ngerestuin kamu atau nggak, maka jelas jawabannya adalah 'nggak', karena akulah yang seharusnya mendampingimu! Namun, lidahku terasa kelu. Sangat tidak mungkin untuk mengatakannya pada Fatima.
Fatima kembali menatapku dengan serius dan tampak sangat menanti mulutku mengatakan sesuatu. Ya sudah, kubulatkan niat. Aku tak boleh menghalangi niat baiknya untuk menikah. Kususun kata demi kata dalam hati berusaha memberikan nasihat yang terbaik sembari menegaskan bahwa sudah seharusnya aku memberinya izin untuk menikah, apalagi dengan lelaki pilihannya yang telah ia pertimbangkan baik-baik.
Kebekuan suasana pecah seketika lantaran suara ponsel Fatima tiba-tiba berdering keras dengan alunan musik bernuansa energik, mungkin sebuah panggilan. Fatima yang tak bereaksi apa-apa, membuatku heran. Hingga aku sudah mulai merasa terganggu dengan bunyi-bunyian itu ia justru hanya menatapku, masih seperti tadi, menanti sesuatu keluar dari mulutku.
"Fat, itu hape-mu ... jangan didiemin aja dong," sungutku. Aku sudah mulai tak tahan mendengarnya.
Fatima menggeleng keheranan. "Nggak kok, itu bukan hape-ku."
"Lhah? Terus?" tanyaku.
Bunyinya semakin memekakkan telinga karena ritme dan nadanya pun semakin tinggi. Kucari-cari sumber suara itu, kuikuti arah sumber suaranya berasal dan suara itu pun semakin jelas, jelas, jelas, dan lebih jelas lagi.
Huft ... aku langsung bernapas lega begitu melihat langit-langit atap kamarku ketika kubuka mata dan tersadar, cuma mimpi ....
Segera aku bangkit dari posisi tidur, bergegas mematikan alarm yang ternyata adalah sumber suara memekakkan di mimpiku tadi.
Mimpi itu lagi ... padahal masa-masa yang memberatkan itu sudah berlalu sejak sangat-sangat lama. Mungkin ini karena dulu aku terlalu berlebihan dalam menyikapi dan memikirkan hal itu?
Bayangan yang terpantul dari cermin tak bisa berbohong bahwa aku sudah tampak semakin tua. Sudah kuputuskan untuk menyisakan sedikit jenggot dan kumis di usia kepala tigaku ini. Sudah lebih dari sepertiga abad. Yah ... tak terasa sekarang usiaku sudah 35 tahun.
Seperti biasa, setelah salat subuh kulantunkan ayat-ayat suci Alquran di sofa ruang tamu sambil kubayangkan sosok yang ingin kuteladani, Nabi Muhammad SAW, sedang duduk menyimak bacaanku. Aku berdebar malu tapi tersipu bahagia. 
Di tengah-tengah keasyikanku membaca Alquran, kudengar suara mobil sedang berusaha parkir di depan rumahku yang kemudian disambung oleh suara bantingan pintu mobil dan tangisan bayi.
"Oeeeek!"
"Cup cup cup, Sayang. Habis ini bobo lagi ya?" Ibu sang bayi menenangkan.
Derap langkah dua pasang kaki merayap mendekati pintu rumahku. Disusul dengan suara bel tingtong dan sebuah seruan salam, "Assalamualaikuum!" ucap seorang wanita.
Aku menuju pintu untuk membukakannya. "Waalaikumsalaam ... siapa ya?" Sebenarnya aku sudah tahu sejak awal siapa yang datang, tapi sepertinya aku tidak bisa menghilangkan kebiasaanku untuk 'iseng' pada adik semata wayangku itu walaupun sekarang usianya sudah hampir tiga puluh tahun.
"Oeeek!" Suara bayi perempuan masih bersahut-sahutan dengan suara ibunya yang berusaha menenangkannya.
"Om ... ini Aisha, Om. Bukain pintunya, Om," celoteh sang ibu mewakilkan anaknya.
"Oke oke. Ciluuuk?" Aku memutar kunci searah jarum jam, membukakan pintu untuk keponakanku dan ayah-ibunya itu. "Baaaa!"
Tepat ketika pintu terbuka bayi itu berhenti menangis walaupun masih tersisa bulir- bulir air mata di kedua matanya yang ke-pink-pink-an itu. Malaikat kecil itu tertegun sejenak memperhatikanku yang mungkin masih dianggap asing olehnya. Tak lama ia pun menangis lagi walaupun tak separah tadi, hanya merengek pelan.
"Sini-sini ... digendong sama om." Kusodorkan kedua tanganku. Almira, ibu dari anak itu melepaskan bayinya dari gendongan dan memberikannya kepadaku. "Kenapa nangis? Bangunnya kepagian ya? He em?" Kuciumi pipi kanan-kiri dan keningnya.
"Mas ...." Mira, nama sapaan adikku, menegurku sambil menyodorkan tangannya sebagai isyarat mengajak salaman yang kemudian disusul ajakan bersalaman juga dari suaminya.
"Gimana kabarnya? Sehat? Keluarga di sana sehat semua?" Aku mengajak mereka masuk ke dalam rumah.
"Sehat, alhamdulillah." Mira dan Bayu, suaminya, menjawab bersamaan.
Sepertinya mereka baru mau menanyakan kabarku tapi aku mendahului mereka bicara, "Istirahat dulu deh, pasti capek banget nih bawa mobil sendiri dari Cirebon. Pada belum sholat juga kan?"
Mereka yang menyiratkan wajah kelelahan meringis. "Belum." Mereka memang lebih memilih perjalanan dini hari dengan berbagai pertimbangan.
"Itu kamarmu dulu udah siap pakai kok, Mir," ujarku, mempersilakan.
"Oh, iya." Mira tanpa basa-basi langsung ngeloyor saja ke arah kamar lamanya. Bayu yang masih malu-malu denganku karena jarang bertemu, mengikutinya dari belakang.
"Eh ini anaknya mau dibawa gak?" tegurku. Aisha, si bayi yang tadi menangis kini diam memandangiku.
"Oh iya, ayo bobo lagi, Nak." Mira berbalik menuju ke arahku dan meraih bayinya. "Seneng ni kalo digendong sama cowok, makanya langsung diem."
"Yee, emang kamu," cibirku. Aku jadi teringat masa-masa playgirl-nya dan ia hanya tertawa.
Menggendong bayi perempuan pasti akan membuatku teringat dengan seorang bayi. Maksudku, dengan seseorang yang kukenal sejak ia masih bayi. Seseorang yang dari dulu hingga kini selalu menjadi seseorang yang sangat berarti di hidupku.
°°•°°

Komento sa Aklat (89)

  • avatar
    Intann

    karena seruu bgttt

    17/09

      0
  • avatar
    Jaiza Safika

    bagus

    12/07/2025

      0
  • avatar
    YunitaDestynn

    bagus banget kakkkkk omigatttt aku suka bangettttt

    01/07/2025

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata