logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

tikus kepala hitam

Berkali-kali aku menelepon,tak diangkat juga.Mungkin Bang Dani sedang sibuk.
Kucoba menelepon nomor Kak Sari, Kaka iparku atau Istri Bang Dani.
Baru satu panggilan,langsung terjawab.
"Hallo, Assalamualaikum Sya"Sapa Kak Sari dari seberang sana.
"Waalaikumussalam apakabar kak?"kujawab salam kakak iparku.
"Alhamdulillaah Kakak sehat, anak-anak juga sehat.Kamu gimana?kok tumben malam-malam telepon?"
"Sya sehat kak. Tadi Sya telepon ke nomor Abang, nggak diangkat.Lagi sibuk ya Abang, Kak?"tanyaku pada Kak Sari.
"Oh, Abang lagi menghadiri acara sunatan dirumah kawanya, anak kawan Abang ada yang di sunat. Ada apa rupanya ,Sya?"tanya Kak Sari lagi.
"Gini,Kak..."kuceritakan semua kejadian perihal rumah tanggaku pada kakak ipar. Mulai dari rencana Ibu Endah, calon mantan mertuaku sampai perselingkuhan Mas Damar dan rencana pernikahan Mas Damar dengan Reva.
"Yak ampuuuun Syafa,,udah gila rupanya mertuamu itu ya.Kok kamu baru cerita masalah besar kayak gini sekarang,Sya?,kemaren-kemaren kemana aja? terus apa rencanamu sekarang?"tanya Kak Sari, rupanya dia terkejut mendengar ceritaku. Aku sudah menduga, apalagi kalau sampai Abangku tahu, pasti di akan marah besar.
"Besok Sya mau melayangkan gugatan cerai ke pengadilan agama,Kak. Sya nggak mau dimadu,Sya juga nggak suka dibohongi.Biarlah Sya jadi janda, asal terhormat."ucapku tertunduk,membayangkan aku jadi janda.Duh beratnya, ujian menjadi janda itu lebih berat dari seorang gadis perawan.
Kerja malam dikit,jadi gunjingan.Dandan menor dikit jadi omongan, nggak dandan, dibilang mentang-mentang gak ada suami nggak pandai ngurus diri. Begitulah kira-kira pandangan masyarakat tentang janda.
"Halo Sya, masih disana kau? Halo..."ucap Kak Sari memanggil-manggil.
"Iya,Kak..Sya masih disini"
"Sudah kamu pikirkan rencanamu itu,Sya? jangan ambil keputusan saat kamu emosi,jangan sampai kamu nanti menyesal,Sya"Ucap Kak Sari mengingatkan.
"Enggak Kak, udah Sya pikirkan semuanya matang-matang. Justru Sya akan menyesal kalau terus melanjutkan rumah tangga ini sama Mas Damar"kataku pada Kak Sari.
Selama ini,yang Kak Sari dan Bang Dani tahu, Mas Damar menafkahiku dengan cukup lahir dan bathinya. Mereka tak tahu, kalau aku juga banting tulang memenuhi kebutuhan rumah tangga. Karena sebagian besar gaji Mas Damar memang dikuasai Ibu nya.
"Tolong sampaikan ini sama Abang ya,Kak. Kalau Abang sudah pulang nanti,Sya minta doa Kakak sama Abang, besok siang Sya mau ke pengadilan di temani Sarah"ucapku lagi.
"Baiklah kalau memang itu sudah jadi keputusanmu,Kakak cuma bisa mendoakan yang terbaik buat kamu.Nati Kakak sampaikan sama Abang,mungkin kalau besok Abang nggak sibuk, Kakak kesana sama Abang,kalau gitu istirahatlah dulu.Dah malam ini"ucap Kak Sari mengakhiri teleponnya.
"Baik,terimakasih kak.Sya,istirahat dulu ya. Bye..assalamualaikum"
"waalaikumussalam..."
Tut..Tut..Tut..
Telepon dimatikan. Sarah mengelus pundaku,menguatkan ku, sejak tadi dia berdiri di belakangku rupanya.
"Alena sudah tidur?"tanyaku pada Sarah.
"Sudah, Sya nggak nyangka ya kehidupan kita bakal kaya gini. Dari sekolah kita bareng,kuliah bareng.Sampai jadi janda pun kita bareng,lucu banget ya hidup kita"ucap Sarah menghibur. Dan kami berdua tertawa,mentertawai nasib kami.
🌷🌷🌷
Pukul sepuluh pagi, aku ke kantor pengadilan agama ditemani Sarah untuk melayangkan gugatan perceraian.
Awalnya aku ragu,benarkah keputusan yang aku ambil ini?sudah siapkah aku dengan segala konsekwensinya?tapi,bayang-bayang Mas Damar dan Reva yang bermesraan berkelebat di benakku,itu yang membuat aku yakin untuk megambil jalan ini.
Pihak pengadilan menyarankan agar kami mediasi dulu, tapi rasanya itu tak perlu karena aku sendiri enggan untuk kembali rujuk lagi dengan Mas Damar.
Sarah memperkenalkan aku dengan Bu Dara, seorang pengacara yang sudah senior, pengacara yang Sarah sewa dulu saat mengurus perceraian ya.
"Bu Syafa tenang saja, serahkan semuanya sama saya"ucap Bu Dara saat kami sama-sama keluar dari gedung pengadilan agama.
"Terimakasih, Bu Dara. Semoga prosesnya nggak lama dan nggak ribet ya. Saya nggak mau masalah ini berkepanjangan, saya sudah ingin segera lepas dari suami saya"ucapku pada Bu Dara.
"Baik, nanti apa-apa saya kabari"ucap Bu Dara menjabat tanganku dan Sarah.
"Terimakasih,Bu Dara"ucap Sarah
"Sama-sama"jawab Bu Dara. Kemudian kami berpisah dan masuk ke mobil masing-masing.
Kami pulang, karena Sarah meninggalkan Alena hanya dengan karyawan toko.Takut kalau para karyawan keteteran harus melayani pembeli sambil menjaga Alena.
Ponselku berdering,kulirik nama yang tertera dilayar,ternyata Bang Dani,segera aku mengangkatnya.
"Halo Bang, iya Syafa lagi dijalan baru aja dari pengadilan agama sama Sarah ini bentar lagi sampe kok. Oh, Abang udah dirumah Sya?yaudah tunggu ya Bang nanti Syafa segera kesana"
"Kamu jangan lama ya Sya, ini dirumahmu ada mertuamu.Dari tadi nggak mau bukakan pintu buat Abang sama Kak Sari, padahal Abang lihat dari jendela depan, dia ada didalam"ucap Bang Dani.
Duh,berulah apalagi si Ibu mertua itu.
"Yaudah Abang tunggu disana, Syafa segera kesana''ucapku. Telepon kumatikan,dan aku meminta Sarah agar langsung mengantarkan aku kerumahku.
"Ada apa lagi,Sya?"tanya Sarah sembari hati-hati mengemudi karena jalanan menuju tempat tinggalku berlubang sana sini.
"Abang sama Kakak iparku udah datang Sar, mereka udah dirumah.Tapi itu,kata Abangku Ibu mertua nggak mau bukakan pintu begitu tau Abangku yang datang"jawabku pada Sarah.
"Haish, ada-ada aja Mak lampir itu"gumam Sarah.
Sarah membelok, mengambil jalan menuju kerumahku.Tak berapa lama kami sampai.Disana terlihat mobil Bang Dani terparkir di depan rumah,kulihat Kak Sari dan Bang Dani duduk di teras depan.
"Sya,aku langsung pulang aja ya,takut Alena nangis. Salam buat Abang sama Kakakmu ya,lain kali kita jumpa"ucap Sarah pamit.
"Iya, makasih ya,Sar. Titip motorku dulu ya, kalau Yudi mau pakai untuk antar roti,pakai aja tapi cek dulu bensinya,takut kehabisan ditengah jalan"ucapku pada Sarah, dan Sarah mengacungkan ibu jari lalu pergi.
Kuhampiri Abang dan Kakak iparku, kusalami keduanya.
"Udah lama Kakak sama Abang?"tanyaku pada Kak Sari.
"Adalah 30 menit, tadi Kakak udah ketuk pintu Sya, begitu tau kami yang datang, mertuamu itu langsung tutup hordeng dan malah dikunci pintunya dari dalam"ucap Kak sari memberi tahu.
"Damar ada?"tanya Bang Dani.
"Kalau Mas Damar,mungkin kerja, Bang"jawabku.
"Sejak kapan rupanya Damar itu selingkuh Sya? kamu kok nggak bilang dari dulu?"tanya Abangku dengan rasa geram.
"Syafa baru tau akhir-akhir ini Kak,Bang. Mas Damar selingkuh sejak tujuh bulan yang lalu"jawabku pada Kakak dan Bang Dani.
"Cari mati rupanya Damar itu"ucap Bang Dani dengan mengatupkan rahang.
"Sabar dulu,Pa. Kita masuk dulu aja, eh tapi gimana ini?pintunya dikunci dari dalam?"ujar Kak Sari.
"Tenang aja, Syafa ada kunci cadangan"ucapku sambil merogoh tas mencari kunci rumah. Beberapa saat,kunci yang kucari gak ketemu juga. Hingga aku harus menumpahkan isi tasku, dan nah ketemu.
Anak kunci kumasukan dalam lubang kunci, dan segera memutarnya. Kami masuk kerumah, nyatanya sepi tak ada siapa-siapa.Mungkin Ibu dan Lena langsung lari ke kamar.
Aku disambut dengan pemandangan yang bikin mata sakit, bekas pizza ada diatas meja,entah pizza bekas kapan ini, sausnya sampai mengering begitu. Jorok banget sih.
"Masuk Bang, Kak"ajaku pada Kak Sari dan Bang Dani.
"Kemana orang tadi?kok nggak ada?"tanya Kak Sari.
"Ssstttt..."kataku sambil mengatupkan jari telunjuk ke bibirku, lalu kutunjuk kamar tamu. Aku yakin,mereka ada disana.
"Tante, kursinya kotor"ucap Jeny, anak Kak Sari sambil menunjuk sofa yang penuh dengan kulit kacang.
"Sya,kok rumahmu kotor banget, sih kayak rumah nggak ditempatin?"ujar Kak Sari, dia tampak jijik menginjakan kakinya dilantai rumahku,bahkan aku pun merasa merinding.
"Aku udah dua malam menginap dirumah Sarah,kak.Jadi beginilah keadaanya"jawabku.
''Kenapa kamu tinggal begini Sya, keenakan suami sama mertuamu itu jadinya"ujar Bang Dani.
Ku dengar seperti suara benda jatuh dari kamar tamu, aku dan Kak Sari mendekat lalu dengan segera membuka pintunya, bodohnya Lena dan Ibu,mau sembunyi kok dirumahku, ya jelas ketauan lah.
"Ooooh ini rupanya Kak,tikus-tikus yang udah buat rumahku kotor begini"ucapku pada Kak Sari, Kak Sari segera melongok ke dalam.
Lena dan Ibu sedang meringkuk di pojokan kamar,entah ketakutan kenapa.
"Tikus kepala hitam rupanya,Pa. Coba ambil pentungan Pa,perlu dibasmi ini tikus-tikus ini!"ucap Kak Sari sedikit lantang memberi tahu Bang Dani.Matanya tetap mengawasi Ibu dan Lena. Sementara Ibu dan Lena saling berlindung satu sama lain.
"Mana..?"tanya Bang Dani seolah mencari.
"Itu Pa, ada dua tikusnya!"ucap Kak Sari lagi.
Bang Dani memghampiri kami yang sejak tadi berdiri di depan pintu kamar, ingin rasanya aku tertawa terpingkal melihat tingkah konyol Lena dan Ibu.
Bang Dani siap dengan pentunganya.
"Loh,kok ada Ibu sama Lena disini?kenapa nggak bukakan pintu buat kami Bu?"tanya Bang Dani.
"Heh Dani, siapa suruh kamu kesini, datang seenak jidat kerumah anak saya,pergi sana kamu"jawab Ibu.
"Loh,kok Ibu ngusir saya?harusnya Ibu yang pergi,Mana Damar.Biar kuhajar dia yang sudah mengkhianati adik saya"ucap Bang Dani lagi.
"Jangan macam-macam kamu Dani,kalau sampai kamu berani menghajar Damar, saya laporkan kamu ke polisi"ancam Bu Endah dengan menuding Bang Dani seraya perlahan mendekat ke arah pintu keluar.
"Oooh laporkan saja kalau Ibu berani!"ucap Bang Dani menantang.Aku dan Kak Sari hanya menonton sembari menahan tawa.
Setelah sampai pintu, Ibu dan Lena langsung lari keluar,bahkan mereka sampai lupa tidak memakai sandal.
🌷🌷🌷

Komento sa Aklat (489)

  • avatar
    UkailMirza

    sangat bagus ceritanya

    15/04

      0
  • avatar
    paseknengah

    sangat bagus

    22/02

      0
  • avatar
    JusmanSetyadi

    g ada sepikernya?

    18/02

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata