logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

manusia gak tahu diri

Sedari tadi,ponselku terus berdering.Berkali-kali Mas Damar menelepon tapi aku enggan mengangkatnya. Sepertinya rasa cintaku mulai pudar karena ulahnya.
"Angkat Sya, berisik tau dari tadi bunyi terus"cerocos Sarah yang sejak tadi menidurkan Alena.
"Males banget mau ngangkat"ucapku cuek.
"Mas Damar ya?"tebak Sarah. "Silent aja kalau gitu"lanjutnya lagi.
Aku meraih ponsel yang tergeletak diatas etalase sejak tadi, kusentuh gambar lonceng sampai ada garis melintang. Lalu,aku bisa melanjutkan kerja lagi.
Sore ini,Sarah mengajaku belanja sekalian jalan-jalan ke Mall.Sekedar mengusir stress.
Aku menemani Sarah belanja mingguan,kudorong baby stroller yang dinaiki Alena,sementara Sarah mendorong troli berisi banyak belanjaan dapur dan keperluan lainnya.
Dan aku, tak belanja apa-apa,karena memang kebutuhanku masih ada persediaan.
"Nggak belanja,Sya?"tanya Sarah tanpa menoleh, tanganya sibuk mengambil minyak kemasan dari atas rak.
"Nggak,aku cuci mata aja"jawabku sambil membetulkan sepatu Alena yang agak mengendur.
Kami berjalan menyusuri setiap lorong rak tempat menyimpan belanjaan. Setelah cukup, Aku dan Sarah juga Alena menuju cafe di mall ini untuk sekedar ngopi dan cari cemilan.
"Sya, Syafa. Liat deh,itu kayak mertua kamu?"ucap Sarah sembari menunjuk ke arah depan, mencoba memperlihatkan seseorang yang dilihatnya.
"Mana Sar?"tanyaku mencoba mencari.
"Itu..."ucap Sarah sambil menunjuk.
Ternyata benar, Ibu ,Lena dan juga Reva sedang berbelanja juga di mall ini. Banyak sekali barang belanjaan mereka.
"Bener kan itu mertuamu?"tanya Sarah.
"Calon mantan mertua"kataku cuek.
"Kayaknya itu Reva deh, Sya?"tanya Sarah lagi.
"Wah,bener-bener ya"ucap Sarah.
Dan aku, masih tak mempedulikan mereka,aku mengaduk-aduk kopi dihadapanku dengan sendok kecil.
"Sya,liat deh.Mereka jalan kesini tu"ucap Sarah lagi.
Aku menoleh, mereka memang berjalan kemari.Kulihat semakin dekat,pantas saja Mas Damar nggak bisa move on, selain cantik,Reva juga modis abis.
Sedangkan aku sendiri,lebih suka tampil natural dan sederhana.
"Tenang Sya, kalem aja. Nggak usah merendahkan harga diri didepan mereka dengan melabrak atau marah-marah sama mereka, sampah itu memang harus dibuang pada tempatnya"ucap Sarah menenagkanku.Sarah pikir,aku akan melabrak Reva dan menjambak-jambak rambutnya karena telah merebut suamiku. Dih, sorry ya nggak level aku bertindak seperti itu.
"Diiiih, sorry-sorry aja nih ya, kalau dia mau sama Mas Damar, ambil aja sana,itu juga kalau dia sanggup hidup sama laki-laki yang nggak pandai kasih nafkah istri"ucapku pada Sarah.
"Bagus,gitu dong"ucap Sarah sembari mengangkat dua ibu jarinya keatas.
Reva,Ibu dan Lena tak melihatku, karena posisi kami tertutup oleh kursi yang di duduki satu keluarga.Mereka terus berjalan ke arah restoran Jepang. Woow, padahal biasanya Ibu dan Lena cuma makan nasi uduk Mak Giyem, kali ini mereka makan di restoran Jepang, cocok nggak tuh dilidah? Lumayan kan, di traktir sama calon mantu kaya. Hih, batinku dalam hati.
Aku dan Sarah keluar dari mall, aku memangku Alena, sementara Sarah mengendarai mobil,dan membawa kami pulang ke ruko. Sebentar lagi pasti Wati,karyawan Sarah yang sedang berjaga ditoko akan menutup toko sore ini,itu sebabnya Aku dan Sarah segera pulang.
"Pokoknya,besok kamu siapkan aja berkas-berkasny,siang aku antar kamu ke pengadilan agama, biar semuanya cepat di proses dan cepet kelar ya,Sya. Aku nggak mau sahabatku satu-satunya ini disakiti"ucap Sarah saat kami hendak turun.
"Makasih ya Sar,malam ini juga aku siapin semuanya"ucapku sembari turun menggendong Alena.
Benar saja, Wati sudah menunggu kami untuk menyerahkan kunci pada Sarah.
"Hati-hati ya Wat"ucap Sarah saat Wati pamit pulang.
"Sya,kamu pulang abis Maghrib aja. Tanggung nih lima menit lagi azan"ucap Sarah sembari menengok arloji di lengan kirinya.
"Iya,Deh"jawabku,kemudian kami berdua masuk.
Sehabis sholat Maghrib aku langsung pamit pulang.Sebenarnya males banget mau pulang kerumah dan bertemu dengan Mas Damar, tapi aku harus menyiapkan berkas-berkas untuk mengajukan gugatan cerai besok.Dan aku,tak mau menunda ,supaya semuanya cepat selesai.
Untunglah hari ini tak turun hujan seperti biasanya, kupacu dengan santai matic kesayanganku ini.
Limabelas menit berada diperjalanan,akhirnya aku sampai juga dirumah.Betapa terkejutnya aku, disana ada mobil Reva,kulihat dari teras,ada sendal milik Ibu dan Lena, juga motor Mas Damar sudah dirumah. Berani-beraninya wanita murahan itu menginjakan kakinya dirumahku.
Kuparkir motor dengan terburu-buru, tanpa salam segera ku buka pintu dengan kasar.
"Dasar manusia-manusia nggak tahu diri!!keluar kalian dari rumahku!!!"bentaku kasar, betapa menjijikanya pemandangan ini. Mas Damar merebahkan kepalanya dipaha Reva, sementara Reva mengelus manja kepala Mas Damar.
Mas Damar yang terkejut sontak duduk dan memandangku gugup.
"Sya..."ucapnya menggantung.Mas Damar gelagapan. Dan Reva,terlihat seperti tak enak hati.
"Dasar wanita murahan."bentaku pada Reva. Perempuan ini memalingkan wajahnya dan menutup dengan kedua tanganya.
"Heh, ada apa ini?"tanya Ibu yang keluar dari kamar depan.Reva segera lari da berlindung dibalik badan Ibu.
"Bu, Reva takut."ucapnya manja pada Ibu.
Ada apa katanya?
"Ibu membiarkan anak ibu mesra-mesraan sama perempuan yang bukan mahram?"
"Kalau sudah nggak sabar, segera nikah sana. Tunggu apalagi?aku juga sudah mengikhlaskan calon bekas suamiku ini kamu ambil,nggak usah buat dosa dirumah orang.
Dasar, lelaki gatal,yang perempuan menggaruk.Jadilah kalian enak-enak, tapi modal dikitlah. jangan dirumah orang, dihotel sana!!!"bentaku kasar pada Reva dan Mas Damar.Ibu merasa tak terima aku bentak-bentak anak lelaki semata wayangnya.
"Sya,kamu pulang nggak bilang sama Mas,kalau gitu biar Mas jemput"ucap Mas Damar mendekat ke arahku sembari mencoba meraih tanganku,namun segera kutepis dengan kasar.
"Terserah akulah Mas,mau pulang kapan aja, Ini rumah-rumahku. Lagian,aku nggak butuh jemputan kamu,aku bisa pulang sendiri"ucapku penuh kebencian pada lelaki bergelar suami yang gak tahu malu ini. Kulihat Reva santai saja di belakang Ibu.Ingin rasanya kuludahi wajahnya.
''Heh,ngaku-ngaku kamu ini rumah kamu,ini rumah anak saya. Sebentar lagi kamu akan ditendang keluar dari rumah ini"sahut Mertua tak tau diri ini.
Rasanya aku enggan melanjutkan perdebatan ini lagi, biarlah sekarang mereka senang-senang dulu disini,nanti kalau sudah waktunya kubuat mereka menyesal.
"Terserah kalian aja deh, aku lelah.Dan aku,nggak mau buang-buang energi untuk meladeni kalian"ucapku sembari melangkah ke kamar.
Ada yang mengganjal di pemandnganku. Ibu dan Lena memakai perhiasan baru. Lengkap di tubuh mereka. Oh, mungkin ini si gundik yang membelikan, masa bodo amat aku gak peduli.Toh sebentar lagi mereka akan jadi gembel.
Aku membanting pintu dengan keras, kuambil buku nikah, foto kopi KK dan KTP kumasukan dalam tas ku.Kuambil juga beberapa baju bersih, untuk sementara aku akan tinggal ditempat Sarah,bisa-bisa kepalaku pecah kalau aku tinggal dirumah ini. Sertifikat rumah,surat-surat kendaraan juga kumasukan dalam tas.
Sekarang, kalian boleh bersenang-senang, nanti kalian akan menangis mengemis padaku, tunggu saja. Akan kubuat kalian menyesal.
"Sya...buka pintunya. Mas mau bicara"kudengar Mas Damar mengetuk pintu dan memanggil dari luar.
Aku menjeling jengah, mau apalagi dia?
"Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi,Mas.Kalau memang mau membicarakan soal pernikahan kalian, urus saja.Aku nggak peduli"ucapku sedikit berteriak.
"Ini semua nggak seperti apa yang kamu kira,Sya..."jawab Mas Damar tak kalah berteriak.
Kuberjalan mendekat ke arah pintu
"Mas,dengar ya! Aku bukan anak TK yang bisa kau bodohi.Dua manusia dewasa,saling merapatka badan, bohong banget kalau nggak ada nafsu dan syahwat. Udahlah Mas, nggak usah ngurusin aku!"ucapku kesal.
"Damar,ngapain si ngurusin wanita mandul itu!"kudengar Ibu membentak Mas Damar. Aku paling nggak suka dibilang mandul,karena memang kenyataanya aku tidak mandul.
"Siapa yang mandul?aku atau anak ibu?"tanyaku pada Ibu sambil menyilang tangan di depan dada. Menghadapi mereka ini jangan pakai otot,bisa capek.Cukup pakai otak saja.
"Kalau kamu nggak mandul,udah bisa kasih saya cucu dari dulu"ucap Ibu dengan melototkan matanya. Dan rasanya,ingin rasanya aku tususk matanya yang melotot itu.
Aku tertawa mendengarnya.
"Bersyukur sih Syafa belum sempet punya anak sama Mas Damar, kalau Syafa punya anak, kasihan anak Syafa, punya nenek kaya Ibu, punya bapak kaya Mas Damar.Lagian ya, aku ini Bu,sudah terbukti sehat. Anak ibu, tuh entah!!"ucapku dan segera aku berlaku. Tak lupa,ku kunci pintu kamarku dan aku kembali kerumah Sarah.
"Kurang ajar kamu ya, beraninya ngatain anak saya!"ucap Ibu sembari mengangkat tanganya hendak menamparku.
Tapi,Mas Damar segera menarik tangan Ibu dan melerainya.
"Sya,kamu mau kemana. Kamu baru aja pulang"ucap Mas Damar mencegah.
Bodoh sekali dia ini, mana mau aku dirumah sedangkan kondisi rumah seperti ini.
"Biarin aja Damar,mau apa lagi kamu kejar perempuan sundal itu"ucap Ibu sedikit berteriak.Kulihat Reva mendekat lagi ke arah Ibu saat aku berjalan keluar,mungkin dia takut aku akan menjambaknya, tapi sorry, aku nggak akan mengotori tanganku dengan bertindak murahan seperti itu.
Ya Allah ya Rabb,dosa apa aku selama ini? sampai-sampai aku diberi ujian seberat ini,tapi aku harus kuat.Aku nggak boleh menangisi lelaki bajingan seperti itu. Didepan saja terlihat manis,rupanya menusuk diam-diam dari belakang. Dasar lelaki pengecut.
Aku lupa, belum mengabari Sarah kalau aku mau kesana lagi.Kepalaku benar-benar sakit.
Segera kupinggirkan motor dan menelepon Sarah kalau aku sedang on the way kesana.
"Bener-bener keterlaluan keluarga suamimu itu Saya,kenapa nggak kau usir aja mereka dari rumahmu?''cerocos Sarah saat aku ceritakan kejadian dirumah barusan.
"Nanti kalau sudah waktunya,mereka akan aku tendang dari rumahku,dan mereka akan keluar dengan terhina dari sana"ucapku sembari memijit pelipis yang terasa sakit.
"kalau aku jadi kamu ya,Sya. Udah aku bejek-bejek tuh perempuan"ujar Sarah dengan geram.
"Aku nggak mau mengotori tanganku,dengan menyentuh wanita murahan itu Sar"ucapku lagi.
Menjelang malam,Aku menghubungi Abangku dan menceritakan perihal rumah tanggaku karena aku juga butuh bantuan Bang Dani untuk mengurus perceraian ku nanti.
Next....?
🌷🌷🌷

Komento sa Aklat (489)

  • avatar
    UkailMirza

    sangat bagus ceritanya

    15/04

      0
  • avatar
    paseknengah

    sangat bagus

    22/02

      0
  • avatar
    JusmanSetyadi

    g ada sepikernya?

    18/02

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata