Setelah mendengar pengakuan Mas Damar yang menurutku pengecut, aku rasa perutku lapar. Aku makan menu yang sudah kumasak tadi tanpa mengajak ataupun menawari Mas Damar. Biarlah, kalau dia lapar dia akan jalan sendiri kesini,itupun kalau dia gak punya malu. Aku bukan tipe orang yang yang kalau lagi galau,lantas mogok makan.Bagiku rugi,sudah batin tersiksa,tubuh harus sakit juga. Bagiku, makan ya makan saja. Tapi, betapa bersyukurnya aku,walau banyak makan begini,tubuhku tetap langsing. Sedang asyik menikmati makanan, Mas Damar menghampiriku, lalu ikut menyendok nasi dan lauk yang sudah terhidang. Kami makan tanpa banyak bicara, tak seperti biasanya. Aku selesai lebih dulu, dan segera kucuci piring agar tidak menumpuk. Suara dering ponsel Mas Damar terdengar jelas, dia menoleh ke arahku yang sedang membilas piring. Kubiarkan saja, lalu dia melangkah. Mungkin itu Ibu, atau mungkin saja Reva yang menelpon, aku tak peduli. Sedari tadi, aku sudah menyusun rencana yang akan kujalankan seusai perceraian nanti. Ya,aku tak mau menjadi wanita bodoh yang harus mengemis cinta dengan laki-laki yang tak tau diri. Entah Mas Damar bicara apa dikamar, suaranya sedikit lirih. Mungkin takut aku mendengarnya, aku juga tak kepo.Sama sekali tak ingin tau apa urusanya. Kuhampiri Molly yang sedang bermalas-malasan di sofa. Bulu lembutnya mampu melembutkan hatiku yang sedang meradang. Ah,memang benar.Andaikata aku punya anak, mungkin dialah yang menjadi pengobat hati,tapi tak adil kalau hanya aku yang dihakimi tak mampu memberikan anak. "Sya, Mas boleh pinjam uang nggak, tiga juta saja.Mas ada perlu"ucap Mas Damar tanpa rasa malu. Aku mencebik sebelah bibirku,mentertawai kebodohan dan kerendahan dirinya. "Untuk apa?untuk persiapan lamaran calon istrimu? cari saja sendiri!"ucapku sedikit membentak.Lalu kutinggalkan Mas Damar diruang tamu sendirian.Aku masuk dan berdiam diri dikamar. Dan aku,memilih kamar tamu.Mulai detik ini,aku akan membiasakan tidur sendirian. Karena besok,aku akan langsung mengurus perceraian ku sendiri. Aku masih tak menyangka,tak ada firasat atau tanda-tanda apapun, sedikitpun. Tiba-tiba suamiku mau dikawinkan lagi. Dan bodohnya, dia menurut. Yang lebih membuatku sakit hati adalah, perselingkuhan selama tujuh bulan, yang tak pernah kutahu sama sekali. Tiba-tiba terdengar suara motor berhenti didepan rumah, kuintip dari hordeng jendela kamar ,ternyata Ibu sama Lena. Mau apa mereka kesini? dasar keluarga tak tau diri. "Damaar, buka nak pintunya!"ucap ibu sedikit berteriak dari luar. Aku sendiri enggan menemui. Kudengar Mas Dmar membuka pintu untuk Ibu dan Adiknya. Kamar tamu ini memang berhadapan langsung dengan ruang tamu, jadi bisa kudengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan. "Masak apa istrimu,Mar? lapar Ibu"ucap Ibu mertuaku yang sebentar lagi akan jadi mantan mertua. "Masak ayam kecap,Bu. Makanlah dulu. Lena sudah makan?"ajak Mas Damar pada Ibunya. Kemudian menawari adik semata wayangnya Hemh,benar-benar gak tahu malu.Dia pikir ini rumah siapa?datang seenak hati. "Uang Ibu habis,Mar. Makanya Ibu nggak masak dirumah. Lena juga harus bayar kuliah.Mana uang yang Ibu minta tadi? ada kan?"tanya Ibu sembari berjalan kebelakang. Oh, jadi rupanya uang yang Mas Damar minta tadi adalah uang untuk ibunya? maaf Mas, kali ini aku tak bisa kamu bodohi lagi. Sudah berpuluh kali kamu pinjam uang, untuk ibumu, tapi tak pernah sepeserpun kamu kembalikan. Padahal, jatah uang untuk Ibu dari gajimu, lebih besar ketimbang jatah untuk aku ,istrimu. "Ibu makanlah dulu, uang itu ada nanti Damar siapkan"entengnya Mas Damar berkata. Aku akui, bakti Mas Damar pada Ibunya memang patut diacungi jempol, tak pernah sedikitpun Mas Damar mengecewakan Ibunya, tapi dalam hal ini, aku yang di peras. Mas Damar menghampiriku dikamar, sementara Lena dan Ibu sedang makan di belakang. "Sya, kali ini Mas minta tolong, Ibu lagi butuh uang untuk bayar kuliah Lena, kamu dengar sendiri kan tadi Sya? Ibu sampai datang kesini untuk sekedar minta makan?"ucap Mas Damar pelan, lirih terdengar begitu memelas. Tapi aku tak akan beriba padanya. "Memangnya uang yang Mas kasih tiap bulan sudah habis?bukanya jatah Ibu lebih besar dari jatahku? uang bulanan yang dari kamu aja, Sya masih ada itu setengahnya mas. Ini kan baru pertengahan bulan, masa uang Ibu sudah habis. Makanya jangan boros-boros"ucapku santai. "Sya, iya Mas tau..." "Baguslah kalau sudah tau, kalau memang Ibu butuh uang buat kuliah Lena, suruh Lena kerja apa kek. Kan sudah besar? kuliah juga nggak tiap hari. Jangan bisanya cuma minta. Lagian ya Mas, kemarin malam ibumu bilang sudah nggak butuh menantu kaya aku, jadi kenapa sekarang butuh duit minta sama Sya?"tanyaku sembari mengingatkan Mas Damar pada perkataan Ibu kemarin malam. "Damar..."terdengar suara Ibu memanggil dari luar. Segera Mas Damar menghampiri Ibunya. "Mana uangnya...Ibu mau pulang. Mau Ibu pakai untuk arisan malam ini dirumah Bu RT"pinta Ibu pada Mas Damar. "Maaf,Bu. Uang jatah bulanan kan sudah Damar kasih Minggu lalu.Sekarang Damar nggak ada uang lagi, ada juga untuk beli bensin"ucap Mas Damar perlahan. "Mbak Syafa kan uangnya banyak, pakai uang Mbak Syafa dulu lah,Mas"Sahut Lena tanpa malu."lagian Lena juga butuh buat bayar kuliah"lanjut Lena lagi. "Iya,Mar. Lagian uang istrimu kan uangmu juga. Buat apa disimpan-simpan? kebutuhan juga belum banyak. Kan kalian belum punya anak"ucap Ibu,dan aku tak tahan mendengarnya.Ingin rasanya meremas mulut parasit itu,kuhampiri mereka diruang depan. "Kalau kalian butuh uang, kerja sendiri. Jangan rusuhi uang orang. Emang kalian nggak malu? Nggak suka sama orangnya, tapi mau sama duitnya. Len,kamu itu sudah dewasa, sudah besar. Kamu kerja jangan bisanya cuma minta. Ibu juga ya, pandai-pandailah ngatur uang. Tahu kan kemampuan anaknya menafkahi istri seperti apa? begitu mau Ibu kawinkan lagi? mau dikasih makan apa nanti istri barunya?!"ucapku tanpa rasa takut lagi menghadapi Ibu. "Heh,sudah mulai kurang ajar kamu ya Sya, sama Ibu.Nih Damar, kamu lihat kelakuan istri kamu. Emang lebih baik kamu tinggalin aja perempuan seperti ini"ucap Ibu tepat di depanku. "Nggak usah khawatir Bu,sebelum Mas Damar ninggalin Syafa, Syafa yang akan pergi duluan dari kehidupan Mas Damar. Dan ingat, kalian akan menyesal"ucapku seraya menekan kata menyesal. "Iya, Aku memang sudah menyesal dari dulu sudah menikahkan kalian."ucap Ibu yang tambah membuat kepalaku mendidih. "Sana,minta uang sama calon menantu Ibu"usirku pada Ibu. Mas Damar frustasi melihat perkelahian kami malam ini. Ia terduduk di sofa sembari memijit kepala. Kutinggalkan mereka dan aku masuk ke kamar, ku kemasi beberapa baju dan aku akan menenangkan diri kerumah Sarah. Satu-satunya sahabat yang paling mengerti aku. Sebenarnya, aku punya Abang, tapi dia tinggal jauh di kabupaten lain. Hanya Sarahlah orang terdekatku disini. Abangku merantau bersama istrinya, dulu semasa orang tua kami masih ada, kami tak pernah berjauhan. Aku masih bisa mendengar keributan kecil antara Mas Damar dan Ibunya dari dalam kamar, entah membahas apalagi mereka,dan beberapa saat kemudian aku dengar suara motor Lena meninggalkan rumahku.Mereka pulang dengan tangan hampa,tanpa membawa uang yang Ibu minta tadi. Enak saja, memangnya aku ATM?dengan seenak hati datang minta uang. Kuambil kunci motor matic,memakai jaket dan menenteng tas keluar dari kamar. "Sya,kamu mau kemana?"tanya Mas Damar terkejut melihat aku akan pergi. "Aku mau kerumah Sarah,aku butuh waktu untuk menenangkan diri. Nggak usah halangi aku ya Mas,ingat. Besok Syafa akan urus langsung perceraian kita.Mas urus saja pernikahan Mas dengan Reva"ucapku santai,tetapi dalam hatiku tetap bergemuruh.Tapi,aku tak mau merendahkan diriku dengan menangis dihadapanya. "Sya,siapa yang mau bercerai?Mas nggak akan ceraikan kamu, Mas cinta sama kamu Sya?"ucap Mas Damar berusaha meraih tanganku,tapi segera ku tepis. "Tapi aku nggak Mas, kamu sudah mengkhianati pernikahan ini. Dan aku tak suka dibohongi. Minggir! jangan halangi jalanku!"bentaku. "Sya....!!"Mas Damar memanggil,dan aku, melambaikan tangan tanpa menoleh ke arahnya. Segera ku starter matic yang sejak tadi terparkir di teras depan, aku mau lihat. Kalau dia memang beneran masih cinta dan ingin mempertahankan rumah tangga ini, dia pasti mengejar ku. Nggak cuma teriak-teriak aja. Beberapa saat, sampai aku benar-benar meninggalkan rumah,nyatanya dia tak keluar juga. Dasar lelaki pengecut. Menyesal,bisa-bisanya aku jatuh cinta sama dia dulu,kalau tahu akhirnya harus begini. Segera kupacu motor dengan kecepatan sedang, dan Sarah sudah menungguku di depan ruko yang sudah tutup.Aku tadi memang sempat menghubunginya kalau mau minap disini, dan dia paham. "Sar..."ucapku lirih,ingin rasanya segera kutumpahka air mata kekecewaan ku dihadapanya, aku sungguh tak tahan.Sedari tadi sudah menahan tangis agar tak jatuh di depan Mas Damar. Aku menangis bukan karena menyesal ingin pisah darinya atau sedih akan kehilangannya, tapi naluri sebagai perempuan.Dan, aku menangis hanya sekedar melegakan perasaan mengurai kekecewaan aja. "Masuk dulu,Sya..."ujar Sarah sembari melebarkan rolling door bagian ruko,tempatku akan memasukan motorku. Setelah motor kumasukan,dan rolling door kembali ditutup. Syafa menuntunku duduk di sofa. "Nangis boleh,tapi nggak usah di sesali Nggak ada guna menyesali kepergian laki-laki seperti itu"ujar Sarah seperti memahami apa yang sedang kurasakan. Dan aku,sedang menikmati tangis di hadapan Sarah. "Sar, besok bantu aku urus perceraian ya, kamu kan sudah pengalaman dalam hal ini"ujarku pada Sarah. aku benar-benar tak main-main, karena tak ada lagi yang bisa kujadikan alasan untuk mempertahankan rumah tanggaku. Sudah nafkah lahir saja kurang, ini mau berbagi pula nafkah batin dengan perempuan lain,nggak Sudi aku.Benar kata Sarah kemarin,andaikata aku jandapun, rasanya aku masih bisa hidup. "Tenang aja,Sya.Nanti kubantu, tanpa kamu minta pun pasti akan kubantu. Persiapkan saja semuanya"ujar Sarah sembari mengelus punggung tanganku. "Abangmu sudah tahu masalah ini?"tanya Sarah . Aku menggeleng. Aku bingung mau memberi tahu Abangku, dia pasti marah besar kalau tahu hal ini. "Ceritakan lah Sya, kamu nggak akan bisa menyimpannya sendiri."ujar Sarah menyarankan. "Aku tau, Sar. Nanti pasti aku ceritakan. Hanya saja waktunya belum tepat"sahutku. "Sar, aku nggak nyangka,kalau pernikahanku akan berakhir seperti ini"ujarku lirih memelas pada diri sendiri. Sarah,hanya tertawa kecil. "Udahlah Sya, nggak usah nyesel.Yakin aja,kebahagiaan kita nggak cuma sama pasangan kok. Kami lihat saja aku,kalau ingat dulu betapa sakitnya, suami selingkuh disaat aku sedang membutuhkan kasih sayangnya, dia malah enak-enak sama perempuan lain, bayangkan aku hamil tanpa kasih sayang suami? rasanya seperti apa?tapi, Allaah nggak tidur Sya, semua yang kita lakukan, akan ada balasanya."ucap Sarah, iya benar juga. Semua yang kita lakukan akan ada balasanya. 🌷🌷🌷 Ditunggu like dan komentarnya ya temans 😊
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
sangat bagus ceritanya
15/04
0sangat bagus
22/02
0g ada sepikernya?
18/02
0Tingnan Lahat