logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

sakit

Toko roti Sarah tak terlalu jauh, hanya butuh waktu limabelas menit untuk sampai disana. Kulihat beberapa karyawan sudah sibuk beraktivitas disana, tugasku hari ini packing, memasukan roti ke dalam kotak kue.
"Sya,kamu kenapa?kok matanya sembab gitu?abis nangis ya?atau kamu sakit?"cecar Sarah saat aku baru masuk ke area dapur, Sarah meninggalkan mixernya, dia sedang membuat adonan untuk roti.
"Aku nggak papa, sedikit nggak enak badan aja. Nanti juga sembuh"ucapku berbohong, kuambil apron dan segera memakainya .
"Nggak usah bohong Sya, aku tau ada yang gak beres. Sini!"Sarah menarik lenganku, membawanya ke ruangan pribadinya.
"Aku nggak pernah mempekerjakan karyawan yang sedang sakit, kalau memang kamu nggak enak badan Silakan istirahat dulu disini"ucap Sarah sembari memaksaku duduk diatas sofa dalam ruangan ini.
"Sar...."
"Hemmm,cerita Sya,aku tau ada yang sedang tidak beres. Kenapa lagi?mertuamu minta uang lagi?"tanya Sarah menebak. Aku menggeleng,bukan soal meminta uang,bahkan masalahnya lebih pelik dari itu.
"Lalu apa?"tanya Sarah,mendekat ke arahku.
"Mas Damar mau dijodohkan sama Reva"ucapku tertunduk lirih.
"Ahahahahah"Sarah tertawa begitu renyah. aku tak mengerti,mengapa dia?bahagiakah diatas penderitaan ku.
"UPS,maaf ya Sya,bukan bermaksud mengejek. Tapi, apa aku nggak salah dengar?"tanya Sarah dengan nada meremehkan.
"Serius Sar, semalam Ibu mertuaku bilang. Dan bahkan cincin untuk pertunangannya sudah mereka siapkan"ucapku lagi.
"Oooh. Berapa gram?"tanya Sarah,lagi-lagi dengan nada mengejek.
"Sar, please...aku sedang butuh seseorang untuk menguatkan"
"Sya, aku kan udah bilang dari dulu lagi. Maaf-maaf kata nih ya Sya, bukanya aku mau meremehkan suamimu atau apa. Kamu ini terlalu baik, Sya jadi perempuan, rumah itu rumah kamu,yang biayai kehidupan kalian juga sebagian dari gaji kamu, terus sekarang laki-lakimu mau nikah lagi kamu tangisin? Sya, mumpung kamu belum punya anak, ikhlaskan ajalah sya. Lagian, aku emang dari dulu liat gelagat suamimu itu nggak baik, aku kan udah berkali-kali pergoki dia sama cewek, boncengan, makan bareng. Tapi kamu nggak pernah percaya, kamu bilang mungkin itu rekan kerja dan kamu selalu mempercayai suamimu.
Sekali lagi maaf ya Sya, aku bukan bermaksud nambahin masalahmu,tapi aku sebagai sahabat cuma mau,kamu buka mata kamu lebar-lebar. Hidup kamu nih udah selalu dimanfaatin sama keluarga suamimu, maafnya ngomong, andaikata kamu nggak punya suamipun, kurasa kamu masih bisa hidup Sya.Apalagi kamu masih muda,cantik.Bahagiakan hidupnya Sya"Ucap Sarah panjang lebar.
Sarah memang kerap mengadukan kalau sering melihat Mas Damar dengan perempuan lain, tapi aku gak pernah percaya.
"Tapi Sar, aku masih sayang sama Mas Damar"ucapku mempertahankan.
"Rasa sayangmu itulah Sya,yang membuat kamu selalu dimanfaatkan sama mereka.Udah, ya. Kamu tenangin diri kamu disini dulu, aku nggak mau karyawan lain bertanya-tanya liat mata kamu yang sembab gini, kamu disini aja."ucap Sarah seraya keluar, karena terdengar suara mixer sudah berhenti, adonan sudah jadi dan Sarah akan segera mengolahnya menjadi roti-roti yang sedap untuk dinikmati.
Sarah meninggalkanku sendirian diruangan ini, kubuka apron yang sudah kupasang tadi. Menaruhnya sembarangan diatas meja. Aku merebahkan diri diatas sofa,memikirkan kata-kata Sarah barusan, kadang kufikir ada benarnya juga.
Tapi, disisi lain,aku masih sayang sama Mas Damar. Aku bingung, sakit hati pasti.
Tapi akan kudengar dulu ucapan dari Mas Damar soal rencana ini, karena dari semalam aku belum mendengar reaksi dari dia.
Kuambil ponsel dalam tas, karena terdengar ada nada pesan masuk.
"Iya sayang, makasih ya. Ini Mas udah sarapan, dan udah berangkat. Nanti sore Mas Jemput seperti biasa"kubaca balasan pesan dari Mas Damar, nampak seperti tak terjadi apa-apa. Entahlah aku tak mengerti.
Lama aku menyendiri dalam ruangan ini Berjam-jam, rasanya bosan juga.
Aku keluar, packing kue pesanan hari ini sudah beres bahkan sudah diantar oleh kurir ke tempat sang pemesan.
"Sya, jagain Alena ya. Ada pelanggan di depan, Wati lagi ke WC"pinta Sarah sembari menyerahkan gadis kecil berusia satu tahun ke gendonganku.
Karyawan Sarah belum banyak, hanya ada lima orang, termasuk aku.
Aku menggendong Alena, sambil melihat-lihat lukisan didinding, Alena nampak girang sekali. Betapa senangnya bermain dengan anak kecil seperti ini, akupun rindu dengan hadirnya buah hati.
Kucium pipi Alena berkali-kali. Mamanya sedang sibuk melayani pembeli di depan, tampaknya pelanggan baru, sepertinya bukan orang sini.
Aku berniat mengajak Alena ke depan, tapi langkahku terhenti saat perempuan yang sedang memilih roti di etalase itu menunduk sambil mengibaskan rambutnya,aku pernah melihat perempuan itu.
Aku ingat-ingat, aku pernah melihatnya di Instagram.Ya, itu adalah Reva, mantan pacar Mas Damar. Ohh, ada disini rupanya dia. Ingin rasanya aku melabraknya,tapi aku tahan.
Kuperhatikan dari jauh, banyak sekali roti yang dia beli.
Setelah membayar, Reva pergi dengan membawa begitu banyak roti dari sini.
Aku segera berlari menghampiri Sarah.
"Sar, kamu tau siapa dia?"tanyaku pada Sarah.
"Ya, aku tau. Dia itu Reva kan? perempuan yang mau dijodohkan sama suamimu?"jawab Sarah begitu enteng. Dan aku membelalakkan mata kaget, kenapa Sarah bisatau. Dan aku?
"Sar, kamu tau?"tanyaku penasaran.
Sarah meraih Alena kegendonganya dan mengecup pucuk kepala anak itu.
"Aku kan udah bilang, aku sering liat perempuan itu sama suamimu.Kamu sih nggak percaya"jawab Sarah dengan santainya. Dia berjalan ke belakang, hendak menidurkan Alena yang mulai ngantuk.Aku membuntutinya, ini semua tak masuk akal.
"Sar, berarti selama ini Mas Damar berselingkuh di belakangku?"tanyaku dengan bodohnya.
Sarah hanya mencebik,mungkin mentertawakan kebodohanku yang tak menyadari,kalau suami yang aku percayakan penuh selama ini sudah menggerogoti kepercayaanku diam-diam.
"Sudahlah Sya, sudah kubilang kan dari tadi? apalagi yang mau kamu pertahankan dari laki-lai seperti itu? Aku pernah di khianati, aku tau betapa sakitnya. Tapi aku nggak bodoh Sya, kita nggak cukup cuma makan cinta, move on. ayolah, hidup harus terus berjalan"ucapnya enteng sembari memberi Alena Asi.
Sarah memang pernah dibohongi oleh suaminya saat dirinya baru hamil dua bulan, suaminya selingkuh dengan wanita lain. Dan,Sarah memilih cerai saat Alena lahir. Itu sebabnya ,Sarah begitu enteng merespon masalahku.
Pukul lima sore,Mas Damar datang menjemputku.Aku tak mengerti, mengapa dia masih bersikap manis seperti ini? tapi, aku perlu membuktikan dengan mata kepalaku sendiri kebenaranya.
Aku pamit pulang denga Sarah saat dia memandikan Alena dibelakang, dia gak tau kalau aku dijemput Mas Damar, kalau Sarah tau bisa-bisa aku diomeli.
"Sini,Mas pakaikan"ucap Mas Damar menarik tanganku,kemudian memakaikan helm pada kepalaku.
"Sudah?"tanyanya saat aku duduk dibelakangnya. Aku mengangguk, dan motor melaju. Jalanan sedikit becek, ada genangan air disana-sini, membuat aku harus mengeratkan pegangan pada pinggang Mas Damar.
Sepanjang perjalanan, tak ada obrolan apapun yang kami bahas.Kami diam dengan pikiran masing-masing.Mas Damar masih nampak biasa,ini yang membuat ku tak mengerti dengan semua ini.
Sampai dirumah, aku segera memasak untuk makan malam, hanya menu sederhana karena aku sedang tak ingin berlama-lama di dapur.
"Mas mandi saja dulu, Syafa masak untuk makan malam nanti"ucapku sembari memberikan handuk pada Mas Damar. Mas Damar menarik lenganku saat aku hendak kedapur,hingga aku mendarat di dadanya yang bidang.
"Sya,maafkan Mas..."ucapnya,kedua tangannya membingkai wajahku.
"Kita bahas nanti saja,Syafa masak dulu"kuturunkan kedua tangan Mas Damar, dan aku segera ke dapur. Aku tak mau, semangat memasaku meredup, karena setelah tau kenyataan yang akan Mas Damar ucapkan nanti, aku pasti lapar dan aku tak ingin menyakiti diri sendiri dengan mogok makan.
Mas Damar mendengus,kemudian melangkah dengan gontai ke kamar mandi.
Kutuntaskan kegiatanku di perdapuran sore ini, kemudian gantian. Aku yang mandi. Mas Damar sudah menungguku diruang tengah sembari nonton TV dan main dengan Molly, kucing kesayanganku.
Selesai mandi,tepat azan Maghrib.Kulihat wajah Mas Damar sudah tak sabar ingin menyampaikan sesuatu, tapi segera kusibukan diri menyiapkan alat sholat,tanpa banyak bicara. Mas Damar segera mengimami sholat Maghrib. Mungkin,ini akan menjadi sholat berjamaah terakhir untuku dan Mas Damar.
"Sya, Mas mau bicara"ucap Mas Damar seusai berdoa,bahkan punggung tanganya masih menempel di wajahku,belum aku turunkan sejak aku cium setelah sholat tadi.
"Ya,Mas. Bicara saja, Syafa sudah siap dengar semuanya. Pasti soal rencana Ibu semalam kan?"tanyaku menebak.Mas Damar menggenggam tanganku.
"Kamu tau kan Sya, ibu paling tidak bisa dibantah, Bisa kambuh lagi jantungnya"ucap Mas Dmaar lirih.
Mas Damar begitu memikirkan penyakit Ibunya,lalu bagaimana dengan hatiku? tidaklah dia pikirkan bagaimana perasaanku.
Ibu memang kerap jatungan ketika sesuatu yang di kehendaki nya tak terwujud,terakhir kali kambuh dua tahun lalu, saat harus menjual rumahnya.
"Sejak kapan,Mas dan Reva sering ketemuan?"tanyaku dengan menahan sesak di dada. Tak kuhiraukan alasan Mas Damar tadi, aku tau ia pasti setuju dengan rencana ibu yang satu ini.
"Sya, dengar Mas dulu..."
"Sejak kapan?!"tanyaku lagi dengan sedikit membentak.
"Maafkan Mas,Sya..."ucapnya lirih.
"Sejak Kapan!!"bentaku lagi.
"Sejak tujuh bulan terakhir,Sya. Berawal dari seringnya kami berbalas DM di Instagram"katanya begitu enteng bagaikan kapas.
Oh, rupanya selama ini benar apa yang Sarah katakan. Dan aku kemana saja selama ini?
"Jahat kamu,Mas!"air mataku jatuh dengan sendirinya, tapi kucoba untuk tak menangis. Kata Sarah, perempuan harus menjadi kuat.
"Katamu, Reva tinggal di pulau Jawa. Pulau Jawa mana?"tanyaku lagi.
"Sudah setahun terakhir dia pindah kerja dikota ini,Sya..."
"Oooh, bodohnya aku selama ini Mas. Mempercayaimu begitu saja. Aku yakin,bukan karena kalian dijodohkan Mas menerima ini, tapi karena memang Mas juga mau kan?"tanyaku geram.
"Sya,kamu tau kan aku ini sudah semakin berumur,aku butuh penerus"ucapnya tanpa bersalah.
"Jadi Mas pikir,aku yang tak bisa kasih Mas anak? hah? Mas nggak pernah mau periksa, dan selalu aku yang disalahkan.Sudahlah Mas, kalau memang mau menikah dengan Reva, nikah aja. Nggak usah banyak alasan. Dan aku, akan mengurus sendiri perceraian kita"ucapku sinis.
"Sya, Mas nggak bisa kehilangan kamu..."Mas Damar menggenggam tanganku.
"Mas, yang menginginkan aku pergi"kataku datar.
"Nggak gitu, Sya..."ucap Mas Dmaar menggantung.
"Lalu, aku harus menjadi penonton untuk drama romantis kalian?tidak Sudi,Mas!!"bentaku.
"Aku gak sudi di madu, maka aku yang akan mundur"ucapku.Kemudian kubuka mukena yang sejak tadi membungkus tubuh, lalu kugantungkan dibelakang pintu.

🌷🌷🌷
Teman-teman,mohon dukungannya ya. Jangan lupa like dan komentarnya ☺️😊

Komento sa Aklat (489)

  • avatar
    UkailMirza

    sangat bagus ceritanya

    15/04

    Β Β 0
  • avatar
    paseknengah

    sangat bagus

    22/02

    Β Β 0
  • avatar
    JusmanSetyadi

    g ada sepikernya?

    18/02

    Β Β 0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata