logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Putera Kedua

Lyn terus meringis menahan sakit, bahkan cairan bening kini mulai mengalir dari kedua sudut matanya. Lyn merasa rasa sakit yang dia rasakan saat ini lebih sakit dari persalinan pertamanya.
"Ayo ibu Lyn, jangan patah semangat. Silakan Anda ambil napas dalam-dalam lalu keluarkan, setelah itu ambil lagi napas dalam-dalam dan mengedan sekuat-kuatnya," ucap dokter itu mencoba memberi arahan kepada Lyn.
"Sayang, demi anak kita, kamu harus tetap semangat. Aku akan selalu ada di sampingmu sampai anak kita lahir. Kenzo pasti akan sangat senang saat mengetahui adiknya sudah lahir." Adrian lalu mengecup kening istrinya.
Lyn mengangguk paham, dia juga ingin semua ini cepat berakhir dan segera melihat bayi mungilnya. Lyn mengambil napas panjang lalu mengedan.
"Ayo ibu Lyn, sedikit lagi. Ini kepala bayinya sudah kelihatan." Dokter itu terus memberikan arahan kepada Lyn.
Sedangkan Mikayla dan juga Dimas baru sampai ke rumah sakit, saat Adrian memberi tahu mereka tentang Lyn yang akan segera melahirkan. Mereka sedang berada di Surabaya mengunjungi teman lama mereka. Mereka menanyakan di mana kamar inap Lyn.
Di ruang bersalin, Lyn dengan segenap sisa-sisa tenaga yang dia miliki mulai mengambil napas panjang dan mengedan sekuat-kuatnya. Tubuhnya kini terasa sangat lemah.
“Oek! Oek!”
Lyn dan Adrian akhirnya bisa bernapas lega, buah hati mereka kini telah lahir dengan selamat. Edanan Lyn yang terakhir bahkan dengan sisa-sisa tenaganya berhasil membuat anaknya terlahir ke dunia. Lyn tersenyum bahagia saat mendengar tangisan anaknya yang pertama kali menggema di seluruh ruangan.
Adrian tak henti-hentinya terus mengecup punggung tangan Lyn yang masih berada di genggamannya, bahkan Adrian menciumi seluruh wajah istrinya. Dari kening, kedua mata, kedua pipi bahkan bibir mungil istrinya. Rasa bahagia Adrian saat melihat secara langsung proses kelahiran anaknya tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.
"Selamat ya Pak, Bu, anak kalian laki-laki. Terlahir sehat dan sempurna, tidak kurang satu apapun," ucap dokter itu sambil menjelaskan kondisi anak Adrian dan Lyn.
"Sayang, adik Kenzo laki-laki, pasti Kenzo akan senang saat melihat adiknya nanti." Adrian mengecup kening istrinya. "Terima kasih, Sayang, atas perjuangan kamu dalam melahirkan buah hati kita," imbuhnya.
"Terima kasih juga karena kamu masih setia mendampingiku hingga anak kita lahir ke dunia," ucap Lyn dengan senyuman di wajahnya.
"Aku hanya berusaha untuk menjadi suami dan ayah yang baik untuk kamu dan anak kita. Apalagi saat Kenzo lahir aku tidak ada di samping kamu, aku sangat bahagia karena aku bisa menyaksikan langsung kelahiran anak keduaku." Adrian menatap ke arah bayi mungil yang masih berada di gendongan dokter yang menolong Lyn.
Dokter itu berjalan mendekat, dia lalu menyerahkan bayi mungil yang masih merah itu ke gendongan Adrian.
Adrian mengecup kening putra kecilnya. "Jagoan ayah sudah lahir, selamat datang di dunia, Sayang. Semoga kamu bisa selalu membanggakan kedua orang tuamu. Ayah, bunda, kak Kenzo selalu menunggu kedatangan kamu," ucapnya.
Lyn menyentuh lengan suaminya, dia ingin melihat wajah bayi mungilnya. Adrian mendekatkan putranya kepada Lyn, Lyn mengusap pipi gembul putranya lalu mengecupnya.
"Dia sangat mirip denganmu, Sayang," ucap Adrian sambil menatap wajah putranya.
"Tidak, dia sangat mirip denganmu. Wajahnya sangat mirip seperti Kenzo waktu masih bayi, bahkan semuanya sangat mirip, seperti pinang dibelah dua," ucap Lyn sambil terus membelai lembut pipi gembul putranya.
Adrian menatap lekat wajah putranya, dia dulu tidak tau wajah Kenzo saat masih bayi, karena Adrian bertemu dengan Kenzo saat Kenzo sudah berusia satu tahun. Bahkan saat itu Adrian merasa dirinya mempunyai ikatan dengan Kenzo, dia bahkan tidak menyangka sama sekali, jika anak yang begitu sangat dia sayangi ternyata adalah anak kandungnya sendiri.
Adrian menyerahkan putranya kepada dokter untuk segera dibersihkan, dia lalu mengecup kening istrinya. Dia begitu sangat bersyukur bisa memiliki cinta sejatinya dan kini mereka sudah mempunyai dua orang anak laki-laki yang sama-sama tampan.
"Sayang, aku sangat mencintaimu. Terima kasih kamu sudah mau menjadi istri dan juga ibu dari anak-anakku," ucap Adrian sambil menggenggam tangan Lyn.
"Justru aku yang seharusnya berterima kasih, karena kamu masih mau menerimaku setelah apa yang sudah aku lakukan sama kamu. Selama ini kamu sudah begitu sabar menungguku, kebahagiaan ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan rasa sakitmu selama ini."
"Kita sudah berjanji untuk melupakan masa lalu dan mulai membuka lembaran baru, aku harap kamu bisa bahagia saat bersamaku," pinta Adrian.
"Aku sangat bahagia, aku bahkan tidak rela jika semua ini hanyalah mimpi. Jangan tinggalkan aku apa pun yang terjadi," pinta Lyn.
Adrian menggelengkan kepalanya mengiyakan permintaan Lyn. Sekali pun tak pernah terlintas di pikiran Adrian untuk meninggalkan Lyn, cintanya kepada Lyn bahkan melebihi nyawanya sendiri.
***
Lyn kini sudah dipindahkan ke ruang rawat inap bersama dengan buah hatinya, di sana nampak Mikayla dan Dimas menyambut bahagia kelahiran cucu kedua mereka. Meskipun Lyn masih tampak lemah bahkan ada jarum infus di lengannya, tetapi itu tidak menghalangi rasa bahagianya.
Tetapi ada yang kurang, Kenzo belum hadir di antara mereka. Adrian sudah mengabari kakaknya jika Lyn akan segera melahirkan, tapi sayang saat itu Andre sedang menghadiri rapat penting, hingga membuatnya tidak bisa langsung memberi tahu keluarganya dan langsung berangkat ke Pekanbaru.
"Adrian, apa kamu sudah menghubungi kak Andre? Apa mereka sudah berangkat dari Jogja?” tanya Lyn cemas. Dia begitu sangat merindukan putranya, sudah satu minggu lebih Kenzo tinggal bersama dengan Andre, bahkan itu sudah melewati jangka waktu yang telah mereka sepakati.
"Tadi kak Andre sudah Whatsapp aku jika dia sudah berada di bandara bersama dengan mama, papa, Kenzo dan juga Rafael," ucap Adrian.
Lyn mengangguk, dia merasa sangat lega. Akhirnya dia akan bertemu kembali dengan putra yang sangat dirindukannya. Tinggal menunggu beberapa jam lagi, hingga mereka sampai di rumah sakit.
"Sayang, apa kamu sudah menyiapkan nama untuk anak kamu?” tanya Mikayla sambil menggendong cucu keduanya.
"Lyn belum mempersiapkannya, Ma. Tapi tidak tau dengan Adrian," ucap Lyn sambil menatap wajah suaminya yang kini tengah duduk di tepi ranjang.
Adrian nampak tengah berpikir. "Adrian ingin menamai anak kedua Adrian dengan nama Axel Arlan Ramantha, sedangkan Ramantha itu nama keluarga," ucap Adrian.
"Aku setuju, nama yang sangat bagus. Axel, aku suka," ucap Lyn dengan senyuman di wajahnya.
Saat mereka tengah saling bercakap-cakap bahkan saling mengecup pipi gembul bayi mungil itu, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka.
"Bunda!” teriak Kenzo sambil berlari masuk dan langsung berhambur ke pelukan bundanya. Adrian pun kini juga tengah memeluk putra pertamanya dan juga istrinya.

Komento sa Aklat (192)

  • avatar
    rambealisa

    orang pekanbaru kah author ini

    30/12

      0
  • avatar
    Tharisya Su

    bagus

    30/10

      0
  • avatar
    Hilda yantiNur

    bagus

    16/09

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata