logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Belum Sepenuhnya Melupakan

Andre terdiam, dia sekilas menatap Maudy yang duduk di sebelahnya. Dahi Andre mulai mengerut, dari mana Maudy tau? Pikirnya dalam hati.
"Maaf jika pertanyaan aku menyinggung perasaanmu," ucap Maudy merasa tidak hati.
"Dari mana kamu tau?” tanya Andre tanpa menatap Maudy dan tetap fokus menatap ke depan.
"Jadi semua itu benar?!” seru Maudy terkejut.
"Aku memang pernah menikah dua kali, aku juga menjadi duda untuk yang kedua kalinya," ucap Andre sambil menepiskan senyumannya.
"Kenapa kamu sampai bercerai, apa kamu melakukan kesalahan atau istri kamu yang mengkhianati kamu?” tanya Maudy penasaran, jiwa keponya kini sudah mulai muncul.
"Kenapa kamu begitu ingin tau, apa cerita kehidupanku begitu menarik buat kamu?”
Maudy terlihat salah tingkah, dia bahkan merutuki dirinya sendiri, bisa-bisanya mulutnya dengan lancangnya melontarkan pertanyaan itu.
"Maaf," ucap Maudy sambil menundukkan wajahnya.
Dengan arahan dari Maudy, akhirnya Andre sampai di rumah Maudy. Sebelum membuka pintu mobil dan keluar dari mobil, Maudy terlebih dahulu mengucapkan permintaan maaf kepada Andre, dia juga mengucapkan terima kasih karena sudah diantar pulang.
Andre melajukan mobilnya meninggalkan rumah Maudy, sedangkan Maudy terus melihat mobil Andre hingga sudah tidak terlihat lagi.
"Jadi Andre seorang duda, apa aku mempunyai kesempatan untuk mendekatinya?”
Maudy berpikir dengan Andre menjadi seorang duda, dirinya mempunyai kesempatan untuk mendekati Andre. Apalagi setelah pertemuan mereka saat itu, Andre bersikap baik terhadap Maudy. Dia bukan lagi sang pangeran es yang Maudy kenal selama ini.
Setelah mengenal Lyn, Andre menjadi sosok yang hangat dan perhatian. Bahkan dia menjadi CEO yang bisa bersikap ramah terhadap karyawan-karyawannya, tapi sayangnya semua karyawannya malah bergosip ria di belakangnya.
***
"Apa Kenzo sudah tidur, Ma?” tanya Andre sambil membuka lemari pendingin dan mengambil satu botol air mineral. Dia membuka tutup botol itu lalu meneguknya.
"Belum, sepertinya dia masih bermain bersama Rafael di dalam kamar."
Andre berjalan menaiki tangga menuju kamar Rafael, dia membuka pintu kamar dengan perlahan. Andre melihat Kenzo dan Rafael sedang berbicara dengan seseorang lewat telepon.
Andre berjalan berjalan menghampiri kedua putranya. "Sedang bicara sama siapa kalian?” tanyanya sambil melihat layar ponsel yang dipegang Kenzo.
Andre melihat wajah Lyn di layar ponsel Kenzo, dia terlihat sangat gugup. Tiga bulan lebih dirinya tidak melihat Lyn, bahkan foto-foto Lyn yang dulu ada di kamarnya kini telah Andre simpan sebagai kenangan indah masa lalunya.
"Kenzo sedang menelepon bunda, Ayah. Kenzo kangen sama bunda," ucap Kenzo.
Andre mengusap puncak kepala Kenzo. "Hai Lyn, apa kabar?” sapa Andre dengan menampakkan senyuman di wajahnya.
"Baik, Kak. Kabar kak Andre sendiri bagaimana? Maaf ya, Kak, jika selama Kenzo tinggal di situ sudah merepotkan kak Andre," ucap Lyn.
Kenzo memberikan ponselnya kepada ayahnya dan membiarkannya mengobrol dengan bundanya. Kenzo mengajak Rafael bermain.
"Kenzo anak yang penurut, jadi dia sama sekali tidak merepotkanku. Oh ya Lyn, kapan kamu akan melahirkan, kata Adrian dalam waktu dekat ini?” Andre mencoba menenangkan gejolak di dalam hatinya.
"Kalau menurut HPL, sih, satu minggu lagi. Tapi aku juga tidak tau pasti."
"Semoga persalinan kamu lancar ya, anak kamu terlahir dengan sehat dan tak kurang satu apa pun." Andre teringat saat dirinya dulu menemani Lyn melahirkan, tanpa terasa air mata mulai menggenangi sudut matanya.
Andre mengambil napas dan membuangnya secara perlahan, dia tidak ingin Lyn menyadari kondisinya saat ini. Andre mencoba mengusap sudut matanya, saat Lyn memalingkan tatapannya dari layar ponselnya.
"Makasih ya, Kak. Maaf kalau aku sibuk sendiri tadi, habisnya Adrian minta dibuatkan kopi," ucap Lyn.
"Kalau gitu kamu lanjutkan saja membuat kopinya, aku juga mau melihat anak-anak dulu," ucap Andre dengan mencoba mencari alasan untuk mengakhiri panggilan itu.
"Salam untuk Kenzo dan Rafael ya, kKak. Bilang juga sama Kenzo kalau bundanya sangat merindukannya."
"Nanti aku sampaikan, selamat malam Lyn." Andre lalu mengakhiri panggilan.
Andre mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang, dia meraup wajahnya dengan kasar. "Sampai kapan aku akan terus seperti ini? Lyn bahkan sudah bahagia bersama dengan Adrian, apa yang bisa aku harapkan lagi?” Andre menghela napas panjang, dia menatap kedua anaknya yang terlihat sangat akur. Kenzo bahkan sudah menganggap Rafael seperti adik kandungnya sendiri.
Andre keluar dari kamar Rafael dan berjalan menuju kamarnya. Setelah selesai membersihkan diri, Andre membuka lemari lamanya, tempat dia menyimpan semua kenangan-kenangan Lyn. Dari foto, baju bahkan tas yang dia berikan kepada Lyn saat perayaan anniversary pernikahan mereka yang kedua tahun.
Andre mulai membuka album foto pernikahannya bersama dengan Lyn. Tanpa Andre sadari air mata mengalir membasahi kedua pipinya. Rasa ridunya terhadap Lyn kini mulai muncul lagi. Padahal selama tiga bulan ini Andre sudah berusaha untuk mengiklaskan Lyn, tapi karena video call yang tidak dia sengaja tadi telah membangkitkan kembali perasaannya yang sudah dia pendam dalam-dalam di dalam lubuk hatinya yang terdalam.
"Maafkan aku, Dri. Aku masih belum bisa sepenuhnya melupakan Lyn, meski kini dia sudah menjadi istrimu."
***
Ini pertama kalinya untuk Adrian menemani istrinya melahirkan, tentu saja karena saat anak pertamanya lahir yang di samping istrinya adalah kakaknya. Adrian terus menggenggam erat Lyn dan terus memberinya semangat. Sesekali Adrian menyeka keringat yang terus mengucur di kening Lyn.
"Sakit!” pekik Lyn sambil mengusap bagian punggungnya yang terasa sakit. Rasa sakit yang seakan mengaduk-aduk perutnya dan mematahkan satu persatu tulang punggungnya. Meskipun ini bukan yang pertama kalinya untuk Lyn, tetapi rasa sakit yang dia rasakan tetap sama.
Adrian terus menggenggam tangan istrinya, sebenarnya dia tidak tega melihat Lyn yang begitu kesakitan, ditambah lagi wajahnya yang pucat, dan tubuhnya yang terlihat sangat lemah.
"Sayang, tahan sebentar, semua akan cepat berakhir," ucap Adrian lalu mengecup kening istrinya.
Seorang perawat masuk ke dalam rawat inap Lyn, dan mengatakan bahwa dia akan segera membawa Lyn ke ruang bersalin. Adrian meminta izin kepada suster itu untuk tetap menemani istrinya sampai buah hati mereka terlahir ke dunia. Suster itu menganggukkan kepalanya.
Dokter dan para suster yang lain telah selesai menyiapkan alat yang akan digunakan dalam persalinan. Dokter terus membimbing Lyn dalam persalinan normalnya.
"Sayang, aku yakin kamu bisa. Demi anak kita, kamu harus kuat." Adrian bahkan tidak melepaskan genggaman tangannya sama sekali.
Adrian merasa berat perjuangan seorang ibu dalam melahirkan anaknya, mereka bahkan harus rela menahan rasa sakit yang luar biasa. Selain itu, mereka bahkan rela mempertaruhkan nyawa mereka agar anak mereka bisa terlahir dengan selamat.

Komento sa Aklat (192)

  • avatar
    rambealisa

    orang pekanbaru kah author ini

    30/12

      0
  • avatar
    Tharisya Su

    bagus

    30/10

      0
  • avatar
    Hilda yantiNur

    bagus

    16/09

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata