logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

4. KEDATANGAN IBU

"Ma, ini pakaian siapa banyak banget. Mama jualan?" tanya Mas Pras saat mendapati dua tumpuk daster di keranjang baju. Padahal sudah kusembunyikan, tapi dia tetap tahu.
"Punya aku Pa, sebagian dikasih Teh Lina. Sebagian dikirim da-ri I-bu—"
"Alhamdulillah, berarti tahun ini enggak usah beli daster 'kan ya Ma? bisa dialihkan ke yang lain kan?" celotehnya kegirangan, tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Ya ampun Pa, udah beli baju sama daster setahun sekali, masa mau dihapus juga. Berarti lebaran ini, ya aku beli gamis dua dong Pa!" gerutuku sebal.
Kesal sekali dengan sifatnya yang terlalu hitung-hitungan itu. Andai saja dia tahu, siapa yang memberi daster baru itu, apa dia akan sadar, kalau aku lebih berharga di mata lelaki lain?
Kutinggalkan Mas Pras ke dalam kamar. Dia tahu, marahku adalah diam. Jika diganggu, akan semakin lama aku mendiaminya. Makanya, dia tidak akan berani bicara lagi.
Kenapa akhir-akhir ini aku selalu kesal dengan sikap suamiku?
Padahal, dulu aku tak pernah masalah, selama dia tidak mengkhianatiku. Apakah karena sekarang ini ada Aa Hadi sebagai pembandingnya?
💙💙💙
Sudah tiga hari ini, aku tidak bicara dengan Mas Pras. Aku masih terus kesal dengan ucapannya soal daster.
Menurutku, Mas Pras seperti berat sekali bila membeli sesuatu untuk kebutuhanku. Seperti yang kubeli, adalah beban untuknya.
Seandainya dia mengerti bahwa tugas suami adalah mencukupi kebutuhan sandang, pangan dan papan. Itu artinya, baju yang kupakai juga menjadi tanggung jawabnya.
Lain hal jika dia tidak memiliki uang sama sekali. Dia terlalu hemat, karena terobsesi memiliki rumah sendiri. Entah berapa tabungannya sekarang, aku juga tak pernah tahu.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumusalam ...."
Suara yang sangat kukenal berasal dari luar rumah. Bukankah itu suara Ibu? Bagaimana bisa Ibu kesini tanpa mengabari lebih dulu?
Ah iya, sejak kemarin aku sengaja tidak mengaktifkan handphone karena takut Aa Hadi meneleponku saat sedang bersama Mas Pras. Karena dua hari ini, Mas Pras sedang off.
"Ibu? Ibu sama siapa?" tanyaku yang masih terkejut. Mataku meluas mencari tahu, apakah Bapak atau adikku ikut serta bersama Ibu.
"Ibu sendiri Teh, tadi minta dijemput sama Pras di terminal!"
"Ibu enggak ngabarin Teteh?"
"Hape Teteh yang enggak aktif!"
"Ada apa atuh, Bu?"
"Ya Ibu cuma pengen tahu kontrakan kamu yang baru. Lagipula, enggak ada alasan seorang Ibu kalau 'kan kalau kangen sama anaknya ..., " kata Ibu sedikit kesal. Apa aku kentara sekali, kalau tidak suka melihat kedatangan Ibu?
"Iya Bu, maaf, Teteh kaget. Ibu jauh-jauh dari Sukabumi kesini sendirian. Ya udah atuh ibu masuk," kataku mempersilahkan.
Kuraih tas ransel Ibu yang ternyata berat itu. Satu hal yang membuatku menolak kedatangan Ibu, karena beliau mengenal Aa Hadi dan juga sangat dekat dengannya.
Bagaimana bisa aku menjelaskan sama Ibu dan mencegah Ibu mengatakan hal yang macam-macam tentang Aa Hadi kalau sampai mereka bertemu? Sementara hari ini Mas Pras sedang off.
"Bu, jangan keluar rumah ya Bu!" pintaku dengan suara bergetar. Jujur saja, aku takut sekali saat ini.
"Kenapa Teh?"
"Ibu di dalam aja, 'kan baru sampai. Jani bikinin teh manis dulu ya Bu ...."
"Assalamualaikum, Neeeeng!"
Ya Allah, itu kan suara Teh Lina? Cobaan apa lagi ini?!
Jangan sampai suaminya ikut kesini juga!
"Waalaikumusalam ...," jawabku sambil berlari ke arah pintu. Aku tak ingin Ibu bertemu dengan Teh Lina, sebelum aku menceritakan semuanya.
"Neng, lagi ada tamu ya? Ini Teteh bikin bakwan jagung pakai udang, banyak. Nih Teteh duain sama kamu!" Teh Lina menyodorkan sepiring bakwan, lengkap dengan sambal kacang.
"Aduh Teh, Jani kebagian mulu ini, kan jadi enak Teh?" kataku sedikit mencairkan ketegangan pada diri sendiri.
Ibu lalu muncul dari dalam kamar kedua yang biasa kujadikan tempat menyimpan pakaian. Mau enggak mau aku harus kenalin ke Ibu.
"Bu, ini Teh Lina yang tinggal di sebelah. Teh, ini Ibu Jani, kataku mengenalkan.
"Ibu, mirip sekali ya, sama Jani. Oya, Ibu lama disini?"
Jangan sampai Ibu lama disini, bahaya!
"Mungkin seminggu Neng," jawab Ibu.
"Mampir atuh Bu kerumah Lina, jangan sungkan! Lina senang sekarang ada Jani disini, seperti punya adik!"
Glekk
Kembali aku terhenyak mendengar ucapan Teh Lina. Ya Allah, jahat sekali aku ini. Kenapa harus ada masa lalu diantara hubungan baikku dengan Teh Lina?
Tetapi ... ini kan bukan salahku juga?
"Teh, di kamar tadi ada daster baru banyak banget. Teteh jualan?"
Glekk
Kenapa juga aku harus lupa pindahin baju-baju itu?
Semenjak tinggal disini, jantungku seperti saat naik roller coaster, deg-degan terus.
"Lho, bukannya Ibu yang kirim?" tanya Teh Lina penasaran.
Mas Pras yang ada di kamar, ikut keluar setelah mendengar Ibu bertanya begitu.
Ya Allah, aku harus bagaimana?
"Jadi daster itu bukan Ibu yang kirim?" Pertanyaan Mas Pras semakin membuatku gugup.
"Bukan, Pras!"
"Coba atuh Neng, dilihat lagi nama pengirimnya!" titah Teh Lina.
"Bagaimana ya Teh, mana plastiknya sudah Jani buang?!" kataku beralasan.
"Kalau paket nyasar, bisa bahaya Ma! Bagaimana kalau diminta ganti rugi karena sudah buka paket?"
Lagi-lagi Mas Pras bikin aku kesal. Udah tau aku lagi marah, tetap saja pelitnya keluar!
"Mama 'kan enggak tahu Pa!"
"Makanya Ma, jangan asal buka. Aplikasinya aja enggak punya!"
Ck, lihat aja, setelah Ibu pulang nanti. Akan ku tambah diamku selama sebulan, biar tau rasa! dengusku kesal.
💙💙💙
Gara-gara paket dari Aa Hadi, malam harinya, aku sampai tidak bisa tidur. Selain Mas Pras terlihat curiga, aku juga kepikiran karena belum bisa bicara mengenai Aa Hadi pada Ibu.
Dan Mas Pras, lelaki disampingku itu terus mewanti-wanti agar aku tidak menggunakan daster itu dulu, selama satu bulan.
Huh! takut banget kena denda dan disuruh bayar sepertinya!
💙💙💙
Kulirik jam di dinding yang menunjukan satu malam. Arrgghh, kenapa jam berjalan lambat hari ini???
Aku ingin segera pagi, lalu Mas Pras berangkat kerja. Setelah itu, aku akan mengatakan semuanya pada Ibu dan aku bisa kembali bernafas lega.
Tapi sampai jam tiga pagi, aku belum juga bisa tidur. Ingin pergi ke kamar Ibu, tapi takut kalau Hamdi dan Nindy yang tidur disampingku ikut terbangun.
"Ma, bangun Ma!"
Terasa sekali Mas Pras terus menepuk-nepuk punggunggku.
Aku terbangun dan melihat kedua anakku sudah tidak ada. Lalu mataku beralih ke Mas Pras yang sudah rapi. Saat kulihat jam, ternyata sudah jam tujuh pagi.
"Astaghfirullah, Pa, aku kesiangan, kenapa enggak bangunin?!" kataku pada Mas Pras dengan kesal.
"Ya 'kan Papa lihat kamu enggak tidur sampai pagi. Lagipula kamu juga sedang halangan. Jadi Papa rasa, sekali-kali bangun siang enggak apa-apa. Ibu juga udah masak dan mandiin Nindy sama Hamdi kok!
"Ibu?!"
"Iya Ibu!"
"Sekarang Ibu mana Pa?"
"Tuh, di depan sama anak-anak!"
Duh, jangan sampai Ibu di depan ketemu Aa Hadi!
Segera kususul Ibu yang tengah menyuapi kedua anakku di depan. Tak peduli belum cuci muka dan sikat gigi, aku meluncur ke depan sambil menarik mukena andalanku, kala terburu-buru.
"Bu, masuk Bu!" kataku sambil mengambil Hamdi dari tangan Ibu.
"Kenapa Teh?!"
"Jani enggak biasa suapin anak-anak diluar Bu," bohongku.
"Enggak apa-apa atuh Teh, nanggung ini sedikit lagi!!"
Aku lalu teringat Aa Hadi yang biasa berangkat kerja sekitar jam delapan pagi. Mudah-mudahan saja dia tidak keburu keluar dulu.
Segera ku gandeng Nindy, supaya tidak ada lagi penolakan dari Ibu. Bisa kulihat wajah Ibu yang penuh tanda tanya.
Tapi sebelum Ibu mengekor di belakangku, pintu pagar rumah Teh Lina seperti dibuka.
Gegas aku kembali lagi ke depan dan menarik tangan Ibu dengan paksa.
Duh, Ibu maafkan anakmu ini ....
💙💙💙
Setelah Ibu masuk, bersamaan dengan Mas Pras yang akan berangkat kerja.
Setelah kupastikan aman, buru-buru kukunci pintu dengan rapat, karena Teh Lina suka langsung nyelonong masuk ke dalam. Lalu setelah itu, kuajak Ibu bicara di kamar, dengan membawa kedua anakku serta.
"Teteh kenapa sih?!" dengus Ibu yang terdengar kesal dengan tindakanku sejak tadi.
"Bu, sebenernya suami Teh Lina itu Aa Hadi, mantan pacar Jani dulu, inget enggak Bu?"
Ibu terlihat mengernyitkan dahinya dan mencoba mengingat, lama sekali. Padahal, mantan pacarku 'kan cuma Aa Hadi. Duh Ibu!
"Hah? Hadi? yang bener Teh?!" serunya tak percaya.
"Iya Bu, bener ... makanya, Jani takut Ibu keceplosan. Ibu lihat kan, istrinya baik sama Jani? Jani merasa bersalah Bu!"
"Kok bisa kebetulan begini ya Teh?"
"Enggak tau Bu, mana dia masih nyeleneh seperti dulu. Coba Bu, itu daster, dia yang kirim atas nama Ibu Elvy Sukaesih!"
"Eleuh, si Aa ... masa iya dia masih suka sama kamu? padahal istrinya cetar begitu!"
"Itu dia Bu, Jani enggak bisa tanya sama dia maksud sebenarnya. Waktu itu aja, dia kirim anggur hijau lewat Teh Lina. Jani semakin bersalah Bu, karena dia melibatkan istrinya buat kasih perhatian ke Jani .... "
Ibu tampak sedang berpikir dan mencerna semua ucapanku.
"Ibu ngerti kan, bagaimana perasaan Jani sekarang?"
"Enggak!"
"Ih Ibu, kirain Jani, Ibu mikirin!"
"Mikirin sih mikirin Teh, tapi kalau diingat-ingat, Ibu kangen juga sama si Aa!"
"Dih Ibu, jangan sampai Mas Pras curiga. Teh Lina juga . Si Aa suka enggak mikirin orang!'
"Ibu kangen ngobrol sama dia Teh, enggak kaya suami kamu itu, baeud wae( cemberut aja)!"
Wajarlah Mas Pras yang pelit itu cemberut, karena setiap kali keluarga aku atau keluarganya datang, Mas Pras akan menambah jatah belanjaku dua kali lipat.
Aku sih enggak minta, hanya saja dia enggak mau terlihat sengsara di mata keluarga kami.
Apalagi, Ibu tinggal disini agak lama, sekalian nunggu saudara di Jakarta hajatan. Jadi nanti Bapak dan Anjeli adikku, nyusul kesini menjemput Ibu sekalian kondangan.
Sikap Mas Pras yang jarang bicara selain dengan istrinya, membuat Ibu sungkan mengajaknya ngobrol. Karena itu, Ibu kurang akrab sama dia. Ditegur syukur, enggak ya sudah. Itu prinsip Mas Pras.
Sedangkan dulu, Ibu dan Aa Hadi memang sudah terlanjur dekat. Pokoknya, walau usia kami terpaut jauh, dia tetap terlihat sempurna di mata kami, kalau saja dia tidak berbohong dan sudah memiliki istri.
Aku juga enggak tahu sampai kapan harus menyimpan rahasia ini.
Bagaimana dengan Mas Pras dan Teh Lina? Apa mereka bisa bersikap biasa saja kalau mengetahui yang sebenarnya?
Duh, Gusti, aku enggak sanggup kehilangan orang sebaik Teh Lina. Dan marahnya Mas Pras ... tahulah marahnya orang diam itu seperti apa? Bisa dua kali lipat lebih ganas!
💙💙💙
"Tapi Teh, si Hadi ternyata pintar juga cari uang ya? Rumahnya besar begitu?" tanya Ibu antusias. Sepertinya, Ibu benar-benar rindu sama mantanku itu!
"Kan dulu juga waktu sama Jani dia sudah mapan, Bu! Sudah ah, Jani cuma mau pesan begitu sama Ibu. Kalau bisa Ibu jangan keluar dulu, Jani enggak mau Ibu ketemu dia!"
"Tapi Teh?!"
"Apalagi Bu?"
"Ini kaya bau gosong!"
Kuhirup nafas sedalam mungkin, untuk mencari bau yang Ibu maksud. Lalu mengendus-endus. Tercium bau gosong kabel terbakar yang amat menyengat dan ....
Pet!
Listrik padam!
Ini mah, ada yang korslet pasti.
Duh, bagaimana ini???
Mas Pras sudah berangkat, masa aku harus minta tolong sama suami Teh Lina?
Mau minta tolong tetangga yang lain, belum ada yang ku kenal sama sekali!
💙💙💙

Komento sa Aklat (113)

  • avatar
    Fitri Ajeng

    terimakasih atas karyanya 🤗

    22/05/2022

      0
  • avatar
    Gondo KusumaYuliawati

    bagus banget cerita dan alurnya...

    30/03

      0
  • avatar
    Nrhlz Liza

    keren

    24/03

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata