logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

3. PAKET DASTER PENUH CINTA

"Permisi pakeeeetttt!!!" Suara kurir ekspedisi, membuyarkan lamunanku.
Segera kuintip dari jendela, kalau-kalau dia bukan kesini, melainkan ke rumah Teh Lina. Tapi abang kurir itu, memang berdiri di depan pagar kontrakan.
Segera kuambil mukena supaya cepat, sambil terus berpikir.
Paket? paket apa? Siapa yang pesan paket? Aplikasinya saja sudah kuhapus karena membuat RAM ponselku yang penuh itu lemot.
Mas Pras? Rasanya tidak mungkin. Mas Pras pemegang teguh tidak mau belanja online. Selain takut khilaf, lebih baik beli langsung. Walau harga beda sedikit, kalau tidak puas bisa ditukar lagi katanya.
"Ya Pak?" tanyaku enggak yakin.
"Ibu Anjani?"
"Iya?" Kuterima paket sebesar kardus mie instan itu. Besar sekali, apa isinya?
"Sudah dibayar, Pak?"
"Sudah, Bu!"
"Terima kasih ya, Pak!"
Segera kututup pintu, karena khawatir si abang kurir berubah pikiran, dan mengambil paketku lagi.
Seumur-umur, ini kali ketiga aku dapat paket. Makanya, takkan ku biarkan barang ini berpindah tangan lagi.
Mataku lalu tertuju pada nama si pengirim.
"Elvy Sukaesih?" bisikku.
Sukaesih itu nama ibuku di kampung. Tapi yang suka menambahkan nama Elvy di depannya ...?
Aa Hadi?!
Apa benar, ini paket dari Aa Hadi?
Segera kubuka paket itu, karena penasaran sekali dengan isinya. Setelah dibuka, isinya adalah daster model kekinian. Ada delapan stel daster terusan dengan bau khas pakaian baru.
"Daster? Banyak banget?" gumamku.
Kucari lagi data pengirim pada plastik pembungkus paket. Disana tertera nomor handphone-nya.
Kalau benar Ibuku, mana ada dia punya handphone? Karena dia tetap tidak bisa menggunakannya meski telah diajari adikku, Anjeli, berkali-kali.
Segera kuambil ponsel-ku dan menghubungi nomor itu.
"Hallo?" tanyaku sedikit ragu.
"Hallo, ini pasti Anjani. Sudah terima paket dari Aa?"
Glekk
Benar kan? Aa Hadi pengirimnnya!
"Aa apa-apaan sih?!" tanyaku kesal sambil sedikit berteriak.
"Assalamualaikum ...!"
Suara Teh Lina mengagetkanku, hingga reflek ku lempar ponselku ke atas kasur, hingga membentur tembok saking terkejutnya.
Sebelum membuka pintu, kudorong kardus paket itu dan segera kusembunyikan ke dalam kamar sebelum membuka pintu.
"Ya Teh?" sahutku gugup.
"Teteh punya daster yang sudah kekecilan Neng, ini pasti muat sama kamu!" Setumpuk pakaian dari tangannya kini berpindah ke tanganku.
Duh, lagi-lagi aku jadi enggak enak hati!
"Jangan dipakai lagi daster robek yang kamu pakai beberapa hari yang lalu itu, Neng. Masih muda penampilan harus dijaga, jangan seperti itu. Nanti suami kamu yang malu!"
Enggak mungkin Teh, Mas Pras mana mungkin mikir malu. Yang penting, tabungannya aman dan tidak diganggu gugat, batinku.
"Teteh waktu itu langsung cerita sama Papi kalau daster Neng udah robek masih dipake. Terus si Papi ngingetin, dia pernah ngebeliin Teteh daster, tapi kekecilan. Teteh simpen aja. Jadi ini bukan bekas ya Neng! Teteh baru sempat bongkar tadi," jelasnya.
Oh, jadi begitu ceritanya mantan bisa kirim daster? Berarti, perhatian juga dia sama istrinya sampai ngebeliin si Teteh daster begitu! Sedangkan, Mas Pras ... Ah sudahlah!
"Teh, ini banyak banget lho, Jani jadi enggak enak!"
Lebih enggak enak lagi karena paket yang dikirim suaminya untukku.
"Enggak apa-apa Neng, sayang enggak dipakai. Anak Teteh, mana mau pakai daster!"
Bum
Bum
Bum
Kulihat Nindy mendorong kardus paket keluar dari dalam kamar, seperti main mobil-mobilan. Haduh!
"Nin!" tegurku gemetar. Mana plastik pembungkus berisi data pengirim belum kulepas. Bagaimana kalau Teh Lina kepo?
"Paket yang tadi dateng ya?" tanyanya.
"Iya teh."
"Ini daster?" Dia mengangkat salah satu plastik transparan berisi baju.
"Iya, dari Ibu di kampung," kataku tanpa dia tanya. Daripada dia lihat data pengirim dan menyadari nomor ponsel yang tertera adalah milik suaminya, bisa gawat!
"Eh, kok bisa pas ya? Tuh, Jan, naluri ibu enggak bisa dibohongin. Dia juga sedih liat kamu pakai daster robek begitu!"
"Iya Teh, karena itu Jani ngerasa enggak enak sama Teteh ...."
"Enggak enak kenapa?"
"Engggβ€” ini udah dikirim Ibu!"
"Ya udah enggak apa-apa, biar salinan kamu banyak kaya Teteh. Udah ah, Teteh mau masak dulu!"
Begitu Teh Lina pergi, kuraih ponselku kembali dan menekan nomor tadi.
"Untuk apa kirim beginian? Aa enggak takut ketahuan?" tanyaku khawatir. Sungguh, aku merasa tidak enak hati sama Teh Lina.
"Seneng Jan, denger kamu manggil Aa lagi?"
Glekk
Astaghfirullah, kenapa aku bisa keceplosan?
"Ini gimana Pak, saya takut ketahuan. Enggak enak sama Teteh!"
"Kan disitu namanya Ibu, bilang aja dari Ibu!" jawabnya santai.
"Tapiβ€”"
"Udah ya, Aa kerja dulu. Aa enggak mau kamu ngomongin daster lagi. Yang jelas Aa seneng bisa lihat kamu lagi dan tinggal disini!"'
Tut Tut Tut
Panggilan telepon terputus.
Duh, dasar mantan semprul, bagaimana kalau Mas Pras atau Teh Lina sampai curiga?
πŸ’™πŸ’™πŸ’™

Selesai cuci piring setelah masak, akhirnya seluruh pekerjaanku kelar juga. Kulanjut mandi sebelum menjemput Nindy dan Hamdi di rumah Teh Lina, rumah mantan pacarku.
Kalau aku kesana sebelum mandi, bisa-bisa Teh Lina ngomel-ngomel lagi nanti.
Semenjak tinggal berdekatan dengan Teh Lina, pekerjaanku lebih cepat selesai. Dia akan dengan senang hati menawarkan diri mengajak kedua anakku bermain di rumahnya.
Selain suka anak kecil, Teh Lina juga tidak mengerjakan apa-apa lagi. Karena dia memiliki ART yang pulang pergi untuk membantu tugas beratnya.
Teh Lina hanya masak di pagi dan sore hari.
πŸ’™πŸ’™πŸ’™
Selesai mandi, segera aku bergegas ke rumah Teh Lina untuk menjemput anakku. Tapi baru sampai teras rumahnya, Teh Lina keluar sendiri dan mengajakku untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Hamdi sama Nindy tidur Neng, sini masuk dulu ...," ajak Teh Lina.
Aku mau masuk tapi ragu. Meski sudah akrab dan Teh Lina sering bolak-balik, tapi belum sekalipun aku masuk ke dalam rumah ini, kecuali anak-anakku.
"Disini aja Teh, enggak enak!"
"Masuk aja, Papinya anak-anak kerja, kok Neng! Lagian mereka lagi tidur, kasihan kalau diangkat!"
Akhirnya kulangkahkan kaki ke dalam rumah berlantai dua itu. Rumah yang sangat rapi tanpa debu sedikitpun. Pantas saja, Teh Lina sering menyuruhku membereskan rumah agar terlihat nyaman.
"Sini Neng!" Teh Lina mengajakku untuk duduk di sofa-nya yang empuk itu.
Kuedarkan pandanganku ke seluruh isi rumah. Tidak sopan memang, tapi aku begitu kagum. Rumah yang terlihat biasa dari luar, ternyata sangat mewah dan nyaman di dalamnya. Pantas saja, kedua anakku betah disini. Bagaimana tidak? Di ruangan ini saja, AC terpasang. Bukan hanya di dalam kamar.
"Teteh seneng sekarang punya temen ngobrol, Neng," katanya membuka percakapan.
"Sama Teh, Jani juga. Oya, Teteh udah lama tinggal disini?"
"Belum Neng, dulu mah Teteh di kampung sama anak-anak, Papinya yang tinggal disini."
"Oooo ...."
Aku mulai celingukan sebelum mengutarakan pertanyaan sensitif satu ini.Takut, kalau Teh Lina bohong kalau suaminya kerja dan tiba-tiba muncul disini.
"Teteh sama Pak Hadi mesra terus ya. Kasih tips atuh Teh, buat pasangan muda kaya Jani sama Mas Pras yang masih labil ini," tanyaku kepo.
"Deuh ... Teteh juga bingung itu mah! Namanya pernikahan mah, pasang surut Neng, ujian mah ada aja. Nih ya, dulu kan Teteh itu dijodohin, makanya si Papi jarang pulang ke kampung, disini juga jarang, maunya di Jakarta terus. Kalau kata ponakan Teteh mah, dia punya pacar disana!"
Glekk
Berarti Aa Hadi enggak bohong soal perjodohan itu!
Tapi apa ponakan Teh Lina tau, kalau selingkuhannya itu adalah aku?
Bagaimana kalau tiba-tiba dia berkunjung ke rumah bibinya?
"Terus Teh?"
"Ya Teteh juga disaranin sama orangtuanya, biar ikut Papi kesini, nemenin dia biar enggak kegoda cewek gatel lagi!"
Glekk
"Terus Teh?"
"Terus terus mulu. Ya ini mungkin buah dari kesabaran Teteh selama ini, Jan! Rumah tangga Teteh adem ayem aja sampai sekarang. Alhamdulillah ...."
Hatiku kembali teriris mendengarnya. Bagaimana kalau dia sampai tahu kalau suaminya masih memberi perhatian lebih pada mantan pacarnya, yaitu aku?
Kupandangi potret besar keluarga mereka yang terpajang di dinding. Aa Hadi, Teh Lina, satu anak laki-laki dan dua anak perempuan.
Yang besar katanya, namanya Ranti, baru masuk kuliah. Yang kedua Rasyid, kelas satu SMA. Nah yang terakhir ini baru sepuluh tahun, Dini namanya.Yang sering menggendong Hamdi.
Eh tapi ... apa enggak salah itu nama?
Jangan-jangan nama anak terakhir mereka adalah gabungan nama aku sama dia?
Jangan-jangan dia belum bisa move-on, bahkan saat kelahiran anak ketiganya. Duh, atau hanya aku yang kegeeran?
Ah, sudahlah ... aku enggak mau ambil pusing. Tapi ... ini rumah kenapa bagus banget sih? mana rapi pula!
Aku yakin, Aa Hadi yang rajin membereskan rumah ini.
Dulu saja waktu pacaran sama aku, dia ini memang apik orangnya. Rajin benerin apa saja yang dia bisa terus bersih-bersih pula. Makanya, Ibu sayang banget sama dia. Dan waktu tahu kalau dia sudah menipu kami sekeluarga, Ibu sangat menyayangkan. Bapak pun begitu, dia seperti kehilangan teman. Apalagi, keduanya sama-sama punya hobi memancing.
Kalau Mas Pras mana mau? Kalau libur, yang ada, dia akan tidur seharian. Sama Ibu dan Bapak pun, dia tidak terlalu dekat. Dia tidak bisa mengambil hati Ibu dan Bapak. Jangankan menemani Bapak mancing, mengobrol pun jarang sekali.
Ah, seandainya saja waktu bisa kuputar kembali. Mungkin aku akan lebih selektif memilih pasangan hidup. Tidak seperti Mas Pras yang cuek dan pelit.
Astaghfirullah ... kenapa sekarang aku malah kufur nikmat?
Kenapa sekarang aku mempermasalahkan sikap Mas Pras, padahal dulu tidak.
Apa karena melihat Aa Hadi lagi?
Ya Allah, ampuni Jani ....
πŸ’™πŸ’™πŸ’™

Komento sa Aklat (113)

  • avatar
    Fitri Ajeng

    terimakasih atas karyanya πŸ€—

    22/05/2022

    Β Β 0
  • avatar
    Gondo KusumaYuliawati

    bagus banget cerita dan alurnya...

    30/03

    Β Β 0
  • avatar
    Nrhlz Liza

    keren

    24/03

    Β Β 0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata