logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Bab 7

Suasana kantor yang masih saja membicarakan rumor itu membuatku nyaris gila. Sampai detik ini orang-orang seperti dilanda obsesi. Tidak hanya itu saja, sebagian dari mereka seolah sangat menantikan hal tersebut. Perlahan diriku beranjak dari tempat duduk sambil mengambil secangkir kopi panas. Baru jam segini saja rasanya sudah mengantuk. Tidak seperti diriku yang biasanya walau larut malam pun masih melek. Kali ini terasa berbeda dibandingkan dengan waktu-waktu yang kian berlalu. Andai saja diriku masih sehat seperti di masa itu, kurasa tidak perlu cemas dengan kegiatan sehari-hari yang semakin menanti. Tiba-tiba saja terdengar suara seseorang memasuki ruangan ini dan ternyata benar ada orang itu. Pria senior yang selalu datang mengomeli kami seakan sudah menjadi kebiasaan di hidupnya. Raut wajah yang mencerminkan ketegasannya membuat seisi ruangan menelan ludah dengan gugup. Benar seperti dugaanku sebelumnya, hari ini memang menjadi hari sial untuk kami semua. Bagaimana tidak, baru pagi hari tepat jam sebelas ini sudah mendapati ceramah bertubi-tubi. Kami yang mendengar hal ini sontak merasa takut begitu berhadapan dengannya. Wajar karena semuanya saling mengetahui kepribadian orang itu. Begitu selesai, diriku langsung menghela nafas sambil meneguk secangkir kopi yang tadi kubawa. Rasanya seperti jiwaku baru saja kembali memasuki tubuhku yang dipenuhi dengan rasa takut ini.
‘Tadi itu gila,’ gumamku dalam hati.
Sudah lama sekali diriku tidak bisa membayangkan bagaimana menghadapi beberapa orang yang selalu membuatku berada di dalam zona merah. Sama halnya ketika mengikuti pertemuan dengan yang lainnya di sebuah bar. Meski sebenarnya tidak mau pergi, hanya saja tidak ada pilihan lain karena memang tidak ada yang bisa dilakukan oleh ku begitu sampai di rumahku kecuali rebahan sambil memainkan ponselku. Ingatan itu masih ada di kepalaku sampai sekarang. Saat itu, tepat ketika bersama dengan mereka suasana kembali mencekam seperti berada di kuburan. Tidak ada yang bisa kuperbuat bahkan mau berkomentar juga masih merasa sedikit tidak nyaman. Jujur saja, Owen yang dari tadi menatapku memberikan kode kalau dia juga merasakan hal yang serupa.
“Astaga, bagaimana ini?” gumam Owen. Kali kami berdua berada di sudut berbeda dengan yang lainnya karena berniat mengambil sesuatu padahal hanya alasan.
“Gila. Apa-apaan mereka itu. Kenapa kau tidak memberitahuku sialan,” ucapku yang merasa sedikit kesal dengan suasana di sini.
“Mana kutahu. Yang jelas sebelumnya mereka waras.”
“Tunggu, jangan bilang ada sesuatu yang tidak beres.”
“Apanya?”
“Kalau tidak ada kenapa mereka seperti hewan?”
“Entahlah ini diluar kendali. Wanita-wanita itu juga menghalangi saja. Padahal hanya wanita bayaran.”
“Kalau terus begini. Kurasa sebaiknya kembali ke rumah saja.”
“Hey, kau akan pergi secepat ini?”
“Lagi pula di situ sudah seperti kendang hewan.”
“Oh ya, sebenarnya ada misi lain kenapa kita harus terus berada di sini sampai mereka selesai pestanya.”
“Apa kau sudah gila?”
“Tidak. Ini ada hubungannya dengan rumor itu.”
“Rumor yang mana karena saking banyaknya jadi lupa.”
“Selebriti baru yang terkena skandal. Jangan bilang kau tidak ingat?”
“Ah, bocah itu rupanya.”
“Orang itu bukan bocah. Umurnya sudah dewasa hanya saja skandalnya mengerikan dan di tempat ini.”
“Apa?”
“Pahamkan maksud ucapanku?”
“Ya. Sialan. Malah semakin merembet kemana-mana.”
“Dari tadi juga ingin sekali memaki mereka tapi itu cukup beresiko tahu.”
“Tentu saja tahu.”
“Hey, apa kau tidak mendengar sesuatu?”
“Tidak. Selain suara musik tidak ada yang kudengar.”
“Tidak mungkin. Ini terdengar dari arah sana,” ucap Owen sambil menunjuk ke arah sebelah pintu ruangan yang terbuka.
“Hey, kau mau kemana?”
Tiba-tiba saja Owen dengan cepat pergi ke arah sana. Seketika dirinya langsung menyeret seorang pria muda yang terlihat memukul seseorang. Sontak saja itu juga membuat diriku merasa terkejut. Bagaimana tidak, tepat di hadapan kami seorang pria muda yang terlihat mirip dengan seseorang baru saja memukul temannya sampai babak belur seperti itu. Owen langsung memisahkan mereka berdua saat ini juga. 
“Sialan! Apa-apaan kau!” teriak pria muda tersebut kepada Owen.
“Kau yang seharusnya apa-apaan tadi. Apa kau sudah gila!” Owen juga berteriak kepada pria muda tersebut.
“Ayolah. Kita harus pergi,” ucapku kepada Owen sambil mencoba menyeretnya pergi dari ruangan ini. Tapi Owen malah mengelak dan masih memandang pria muda tersebut dengan penuh amarah. Kepalanya mulai mendidih begitu melihat seorang pria muda yang babak belur itu.
“Kenapa kau menghajar nya sampai segitunya? Apa kau mabuk?” ucap Owen.
“Ah, orang asing yang tiba-tiba ikut campur ini ingin tahu masalahnya rupanya.”
“Sialan. Cepat jawab saja!”
“Itu bukan urusanmu,” ucap pria muda tersebut sambil meninggalkan ruangan ini tanpa rasa bersalah sama sekali.
“Lukamu harus segera diobati,” ucapku pada pria muda satunya. Dia hanya mengangguk saja tanpa berkata apapun.
“Kenapa kau diam saja? Kau tidak melawan?” tanya Owen dengan nada penasaran padanya.
“Itu karena ada satu hal yang jelas,” ucap pria muda tersebut yang sekarang mencoba untuk berbicara. Pasalnya tadi dia hanya korban yang terlihat teraniaya.
“Sudah jelas apanya? Jelas-jelas tadi kau hampir mati.”
“Masalahnya terlalu berbahaya.”
“Hanya karena berbahaya kau rela dihajar orang gila itu? Jangan bercanda.”
“Hey, kau jangan terlalu kasar padanya,” ucapku mencoba untuk tidak memperburuk suasana.
“Lagi pula di sini adalah bar jadi masalah saat ini hanya bisa dibilang karena pengaruh alkohol.”
“Kau benar. Tapi tidak seharusnya kau jadi seperti ini. Katakan saja apa yang sebenarnya terjadi? Dan kenapa kau seakan tidak berdaya menghadapi orang tadi.”
“Itu karena dia anak pemilik tempat terkenal.”
“Apa?”
“Tunggu, tempat terkenal apa maksudmu?” tanyaku dengan penasaran.
“Apa kalian tidak pernah membaca berita?”
“Hah? Kenapa mengaitkan dengan berita?”
“Orang itu cukup terkenal dikalangan para selebriti juga sempat menjadi perbincangan hangat karena seorang anak pemilik Perusahaan hiburan.”
“Astaga. Hanya karena itu rupanya.”
“Ini memang sulit,” ucap ku.
“Lalu, sekarang kau mau apa dengan kondisi yang seperti ini? Kau sendiri tidak mau diobati.”
“Kurasa ini saatnya harus kembali. Terima kasih kalian berdua,” ucapnya sambil pergi meninggalkan diriku dan Owen.
“Apa-apaan itu, dia langsung pergi begitu saja.”
“Biarkan saja. Memang bukan urusan kita juga.”
“Soal status pria pelaku tadi, kenapa tiba-tiba saja kepikiran sesuatu.”
“Sesuatu?”
“Ya. Tunggu, ini mirip dengan yang dibicarakan teman-teman lainnya. Sudah kuduga akan saling terhubung satu sama lain.”
“Kau ini bicara apa?”
“Kartel.”
“Apa kau bilang?”
“Tidak salah lagi. Kartel kekuasaan. Biasanya itu didominasi oleh orang-orang yang punya sedikit power. Kau mengerti maksudku ini mengarah kemana?”
“Sialan. Tidak seharusnya kutebak.”
“Ya. Terserah saja. Tapi kalau terus begini kita juga bisa kena masalah.”
Nyaris saja hilang kendali. Memang ada dimana situasi ini terus menerus membawaku ke dalam lingkup yang sulit sekali. Terakhir melihat korban yang tampak seolah merasa baik-baik saja membuat jantungku terasa tidak nyaman. Ini bukan pertama kalinya melihat orang sedang sekarat lalu bersikap seperti sedang tidak terjadi apapun sungguh membuat diriku berada di dalam neraka. Owen masih terus mencari keberadaan seseorang. Tidak lama kemudian salah satu teman kantorku yang juga teman Owen datang menghampiri kami sambil membawa segelas alkohol di tangannya itu. Pandangan yang seperti sedang merasa kebingungan menyaksikan kami berdua disini membuatnya hanya mengerutkan kening tanpa berbasa-basi lagi.
“Kalian sedang apa?” tanya Marcus.
“Ah, tadi ada perkelahian dua orang pria di sini. Ya, seperti yang kau lihat kami berdua menjadi saksi.”
“Lalu, kemana mereka?”
“Sudah pergi,” sahut Owen singkat.
“Secepat itu?”
“Ya. Tadi sempat terjadi bentrokan juga. Kau tahu kenapa?”
“Entah, memangnya kenapa?”
“Situasinya semakin memburuk dan pelaku terus menghajar korban yang mana nyaris mati.”
“Astaga itu gila. Siapa mereka? Kenapa bisa terjadi perkelahian?”
“Mereka hanya pria muda biasa sama seperti kita. Mungkin masalah yang lebih mengerikan.”
“Begitu rupanya. Ayo kita harus kembali ke lantai atas. teman-teman dari tadi terus mencari kalian berdua.”
“Baiklah. Kau saja duluan nanti kami menyusul.”
“Yasudah.”
Sejujurnya tidak mau kembali ke ruangan itu. Ruangan yang dipenuhi dengan bau alkohol dan berdesakan dengan wanita-wanita bayaran membuatku tidak nyaman. Kali ini diriku memutuskan untuk berada di lantai dasar sambil menikmati suasana yang lebih tenang dibandingkan dengan di dalam ruangan atas. Kurasa diriku memang tidak cocok berada dalam zona yang mengerikan seperti itu. Begitu melihat kenyataannya membuat kepalaku pusing. Bahkan lebih membosankan daripada hanya menghabiskan satu botol alkohol. Sementara itu, Owen malah pergi tidak tahu kemana. Mungkin ada sesuatu yang genting dari tadi seakan tidak yakin dan cemas. Memang itulah sikapnya kalau sudah menghadapi beberapa situasi yang menurutnya harus.
‘Astaga, kepalaku semakin sakit saja,’ gumam diriku dalam hati.
Malam hari itu memang tidak pernah hilang dalam ingatanku. Sekarang jam sudah mau menunjukan pukul enam sore dimana kami akan segera kembali ke rumah masing-masing setelah melalui hari-hari yang melelahkan karena bekerja di tempat ini bahkan harus menghadapi omelan yang tiada henti itu. Sampai detik ini diriku tidak pernah menduga kalau hari sial akan datang secepat itu dan ternyata malah lebih cepat dari yang kukira. Seketika kepalaku terasa sakit. Ini menandakan harus meneguk obat pereda sakit kepala seperti yang biasa dilakukan oleh anak-anak kantor ini. Tiba-tiba Serena datang menghampiriku dengan wajah yang sedikit suram.
“Hey, apa yang kau lakukan?” 
“Apa? Kenapa bertanya begitu?” ucapku yang sedikit bingung.
“Jujur saja, kau menemukan informasi penting bukan? Kenapa tidak membagikannya?”
“Informasi soal apa?”
“Astaga, malah bertanya padaku. Bukankah kemarin malam kau pergi ke bar dan menemukan sesuatu yang menarik?”
“Ah sialan. Kenapa membahas soal masalah itu?”
“Kalau tidak segera ditutup mereka akan menemukannya dan mungkin kita semua bisa tamat apa kau tahu?”
“Tidak. Kita tidak akan tamat.”
“Kenapa kau begitu yakin?”
“Karena tidak ada bukti. Bahkan Owen saja tidak merekam apapun. Apa yang akan dijadikan bukti?”
“Ah, kau benar. Tapi ini membuatku kesal.”
“Sudahlah. Lupakan,” ucapku sambil menepuk bahu Serena.

Komento sa Aklat (20)

  • avatar
    Nilton M Da S

    aplikasi yang menghibur

    25/12

      0
  • avatar
    RizkyWahyu

    bagus seru nyaa

    22/12

      0
  • avatar
    sipengopetsipengopet

    very good, i really like it😍

    22/12

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata