Pagi hari ketika semua orang tengah sibuk dengan kegiatan mereka, saat inilah sesuatu terjadi. Tepat didepan gedung media televisi, terlihat seorang pria terbaring dengan luka tusuk di badannya. Dengan cepat seseorang yang menyaksikan hal tersebut langsung menghubungi petugas medis. Tidak lama setelahnya mereka pun datang menembus kerumunan orang yang berada di sekitar gedung. Dalam waktu yang singkat, berita kini sudah menyebar luas. Seorang pria muda menjadi korban pembunuhan yang tidak tahu siapa pelakunya. Detik ini, berita menjadi perbincangan hangat di setiap tempat termasuk di gedung tempat kerja. Mereka yang baru mendengar kabar tersebut sontak merasa tidak percaya dengan fenomena tersebut. Ada beberapa yang memang berspekulasi kalau ini bukan sembarangan pembunuhan. Semakin lama perbincangan itu terus berlangsung bahkan hingga siang harinya. Tidak ada masalah sejauh ini. Anehnya pikiranku yang dari tadi terus terdistorsi oleh percakapan orang-orang yang tiada hentinya membicarakan kasus tersebut. Kali ini diriku hanya fokus dengan beberapa proyek yang akan dilaksanakan bulan depan. Tidak peduli apa yang menjadi trending topik hari ini, kurasa tidak ada untungnya bagiku dan memang itu benar. Sampai sekarang pun kepalaku hanya diisi oleh jadwal yang harus kupersiapkan. Seketika pintu ruangan ini terbuka dan seseorang memasuki tempat ini. Ternyata orang itu tidak lain adalah rekan kerjaku. “Kau masih mengerjakan bagian itu?” tanya orang ini padaku. “Ya. Kau benar. Lalu kau sendiri ada apa datang kemari?” “Astaga. Ini ada beberapa dokumen yang mungkin cukup bagus untuk jadi bagian pekerjaanmu itu.” “Jangan bilang ini jadi tambahan?” “Itu benar. Setelah dipikirkan kembali kurasa akan lebih bagus kalau itu ditambah. Bagaimana menurutmu?” “Sebentar. Ini harus diperiksa dulu.” “Ya. Kau memang harus memeriksanya. Tapi, kudengar artis itu baru saja mendapat skandal. Kalau seperti itu rencananya akan berantakan.” “Itu benar. Saat ini beberapa staf sedang melakukan sesuatu.” “Apa mereka akan membatalkannya?” “Entahlah. Sepertinya itu bisa saja terjadi.” “Bagaimana bisa kau santai begini?” “Astaga, jangan terlalu dipikirkan. Bukankah hal semacam ini memang sering kali terjadi? Jangan khawatir.” “Bukan itu masalahnya.” “Lalu apa?” “Kerugian. Bagaimana kalau projek nya jadi mengalami kerugian? Tidak bisa dibayangkan kalau itu terjadi.” “Ayolah. Kau terlalu cemas. Padahal ini belum dimulai.” “Baiklah. Terserah saja. Ngomong-ngomong, kenapa orang-orang terus membicarakan masalah pembunuhan itu?” “Jangan tanya padaku. Itu bukan urusanku.” “Kau sungguh tidak merasa terganggu?” “Sama sekali tidak. Jangan terlalu dipikirkan.” “Sial. Kepalaku jadi pusing saja.” “Sudah kubilang jangan terlalu dipikirkan. Kau hanya akan gila kalau memikirkan sesuatu yang tidak penting begitu.” “Sudahlah. Ada banyak pekerjaan yang harus kulakukan,” ucapnya sambil meninggalkan ruangan ini. Semakin lama terasa begitu aneh. Seperti ada sesuatu yang mengganjal. Ketika diriku mulai melihat isi dokumen yang tadi diberikan padaku, rasanya ada ide yang tiba-tiba masuk ke dalam kepalaku. Ini semacam kesadaran yang membuatku kembali memutar otak. Seakan satu jawaban yang memang selama ini aku butuhkan. Setelah itu dengan perlahan kubuat kedalam salah satu rencana proyek itu. Mungkin inilah yang harus kuperlihatkan. Meski ada beberapa bagian yang menurutku tidak masuk. Hanya saja setelah melihat beberapa bagian lainnya ini cukup. Kurasa nanti akan menjadi karya yang sedikit emosional. ‘Astaga, sepertinya ada yang kulupakan,’ gumam diriku dalam hati sambil mengecek ponsel sebentar. Hari dimana semua orang sedang disibukkan oleh kegiatan mereka, disaat yang bersamaan muncul seorang pria muda dengan pakaian yang sangat modis. Orang itu berjalan menyusuri lobi kantor dan tidak lama setelahnya dia melihat ke arah seseorang. Mereka saling berpapasan namun tidak ada interaksi di antara mereka berdua. Saat ini diriku masih berada di dalam ruangan ini. Suasana yang sudah mulai terasa membosankan membuatku merasa kalau dunia ini memang sangat brengsek. Bagaimana tidak, semua orang harus menghadapi situasi yang sulit begini. Tanpa berakhir sama sekali. Di luar sana hujan semakin deras menandakan kalau hari ini sepertinya diriku akan berada dalam waktu lama disini. Ketika melihat jam dinding, rasanya waktu lama sekali. Kali ini pun terasa menyesakkan. Suara orang-orang berbincang di dalam ruangan ini malah membuatku merasa tidak nyaman. Hari ini sungguh menjadi kesialan untukku. Proyek yang sedang aku kerjakan juga masih belum selesai. Tidak lama setelah ini baru teringat kalau ada hal yang seharusnya kulakukan. Dengan cepat diriku beranjak dari tempat duduk dan bergegas menuju ke ruangan yang lain. Sontak hal itu membuat beberapa orang melihat ke arahku dengan pandangan yang terlihat heran. Sejujurnya ini sungguh menyebalkan. Hanya diriku yang harus menyelesaikan tugas ini. Begitu sampai di ruangan yang kutuju, rupanya orang itu sudah menunggu kedatanganku. “Wah, akhirnya kau datang juga,” ucapnya dengan nada yang terdengar nyaring. “Ah, sepertinya tidak terlambat ya?” “Tentu saja tidak. Duduklah ada yang harus aku bicarakan.” “Apa ini mengenai projek itu?” “Tepat sekali. Tapi ada sedikit perubahan. Jujur saja ini terkesan sedikit merepotkan hanya saja tidak ada pilihan selain menyetujui perubahannya.” “Semuanya berubah?” “Tidak. Hanya beberapa saja. Kudengar pria itu sudah ada di Perusahaan ini. Jadi jangan terlalu cemas.” “Jangan bilang ada member baru yang akan ikut projek ini?” “Itu benar. Tenang saja orangnya sangat kompeten. Justru itu akan memudahkan kita menangani projek ini.” “Astaga, baiklah kurasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Meski begitu ada sesuatu yang membuat pikiranku tidak tenang. Ini bukan soal bagaimana orangnya tapi ada beberapa hal yang menurutku terlalu dipaksa. Anehnya pikiran yang terus terganggu itu malah membuat mulutku terdiam dan hanya menerima saja. Setelah semua yang dikerjakan selama ini, memang tidak perlu mencemaskan apapun. Hanya saja, pikiranku selalu tidak pernah merasa tenang. Melihat situasi yang cukup terburu-buru, memang tidak masuk akal kalau diabaikan dan tidak memasukan hal yang baru. Tidak lama kemudian, diriku berjalan keluar dari ruangan ini. Masih ada bayang-bayang pertanyaan dalam kepalaku sehingga diriku nyaris menabrak orang ketika sedang berjalan begini. “Astaga, maafkan aku,” ucapku pada seorang pria tua yang tadi ada dihadapanku. Dengan cepat diriku kembali ke ruanganku. Sangat melelahkan ketika harus menghadapi beberapa hal yang menyulitkan. Sekarang aku merasa dunia ini ada yang aneh dan hanya berpihak kepada beberapa kelompok saja. Setelah kuperhatikan lagi memang tidak ada yang benar-benar baik. Semuanya sangat mengerikan. Tidak salah kalau sebagian orang sering mengumpat akan semua ini. Sekarang pun rasanya sama. Tidak ada hal yang menarik. Seketika teringat dengan satu hal. Obrolan seseorang ketika berada di sebuah bar. ‘Sial. Kenapa tiba-tiba kepikiran yang tidak masuk akal begitu?’ gumam diriku dalam hati sambil menepuk pipiku. Suatu saat nanti, seseorang baru menyadari satu hal penting. Tidak hanya itu saja, beberapa hal juga mulai terlihat perlahan. Dari sini, semuanya akan menjadi rumit. Kali ini diriku hanya memikirkan bagaimana caranya keluar dari masalah yang terus datang padaku. Tidak ada nyali untuk melakukannya. Kupikir ini hanya sebatas karena ketakutan saja, ternyata ini lebih dari itu. Bahkan sekarang aku merasa kalau duniaku mulai runtuh. Jam sudah menunjukan pukul 6 sore. Waktu ternyata berjalan terlalu cepat. Sudah waktunya untukku pergi meninggalkan ruangan ini. Ketika hendak pergi, tiba-tiba saja kudengar suara seseorang yang cukup nyaring datang dengan cepat ke arahku. “Sialan. Apa-apan ini?” teriak orang itu yang kini berada tepat di dekatku. Orang ini adalah Owen. Seorang designer di agensi ini. Dia cukup familiar bahkan untuk kalangan para selebriti. “Apa maksudmu?” “Astaga, rupanya kau ada di sini.” “Memang dari tadi juga ada di sini. Kenapa kau tidak lihat?” “Hanya terkejut saja bagaimana tidak kau muncul tiba-tiba.” “Apa yang terjadi?” “Ini masalah besar. Gila kupikir tidak akan merepotkan ini.” “Apa itu? Jangan hanya membual kau sedang membicarakan apa? Jangan bilang soal proyek yang akan dikerjakan beberapa bulan lagi?” “Tepat sekali. Kau juga seharusnya terlibat.” “Ya. Itu benar dan sekarang sudah mulai direncanakan.” “Apa kau tidak mendapat informasi apapun setelahnya?” “Informasi yang kudapat hanya soal pengerjaan saja. Apa ada yang lebih dari itu?” “Entahlah. Kupikir ini hanya kekhawatiranku saja. Anehnya makin kesini malah semakin membuatku frustrasi. Bagaimana tidak, semua desain yang direkomendasikan tidak ada yang berhasil.” “Mustahil. Kenapa sampai segitunya?” “Tidak tahu. Ini juga pertama kalinya. Seharusnya mereka membicarakannya lebih banyak di meeting. Kau tahu apa yang terjadi?” “Lalu apa yang terjadi?” “Mereka tidak ingin menggunakan ide dariku dan menuntut melakukan hal lain saja.” “Apa?” “Aneh bukan? Astaga. Inilah yang membuatku semakin menggila. Hey, apa habis pulang dari sini kau akan mampir ke tempat lain?” “Sepertinya pergi ke bar tidak terlalu buruk.” “Bagus. Ayo kesana.” Kami berdua pun pergi ke sebuah bar yang tidak jauh dari gedung ini. Setelah sampai, kemudian melihat beberapa orang yang sudah meramaikan tempat ini. Rupanya inilah yang kutuju. Sesuatu yang menurutku akan menghilangkan rasa tidak karuan yang semakin lama menggerogoti kepalaku. Owen pun memesan minuman. Sekarang diriku hanya menyaksikan suasana yang terbilang tidak terlalu berisik tapi tidak terlalu tenang. Seakan berada diantara keduanya. Ini seperti bukan diriku saja. Selalu berada dalam ruang yang tidak pernah kubayangkan. Selama ini kupikir semuanya akan berjalan dengan baik ternyata hasilnya belum juga terlihat. “Kau sedang memikirkan sesuatu?” ucap Owen. “Bukan.” “Apa? Jangan bercanda kau. Itu terlintas jelas di kepalamu.” “Entahlah. Terserah kau mau melihat dengan cara apa, kurasa sudah bukan masalah lagi.” “Bicaramu semakin terlihat seperti orang yang mau mati saja. Kau merasa tertekan dengan pekerjaanmu?” “Sejujurnya itu benar. Tapi tidak ada yang bisa kulakukan.” “Sudah kuduga. Semua orang juga sama. Tidak ada yang merasa senang sama sekali. Mereka pun cenderung terpaksa melakukannya hanya karena demi perputaran uang.” “Ya. Kurasa juga begitu. Ngomong-ngomong, kau tahu orang itu?” “Siapa?” “Orang yang banyak dibicarakan para staf lainnya.” “Ah, tidak. Lagi pula itu hanya rumorkan?” “Ada yang janggal.”
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
aplikasi yang menghibur
25/12
0bagus seru nyaa
22/12
0very good, i really like it😍
22/12
0Tingnan Lahat