Sudah berapa lama ini terjadi. Kekacauan yang semakin lama semakin membuat kepala terasa sakit saja. Disaat yang sama pula hal ini malah terus berlanjut. Kali ini kutemukan dimana beberapa wartawan yang berdatangan ke depan gedung. Mereka terlihat sangat menantikan artis itu untuk berbicara tepat di hadapan mereka. Namun, saat ini di dalam gedung keramaian yang terjadi hanya semacam perselisihan saja. Disamping itu, banyak juga hal yang memang harus kulakukan. Sampai rasanya tidak sempat walau hanya untuk melirik sesaat. Banyak hal juga yang belum lama ini terjadi padaku. Kurasa ini bukanlah hal yang bagus untuk terus dilanjutkan. Dunia dimana hanya meninggalkan bekas luka saja. Semakin banyak kusadari, ternyata secara tidak langsung kutulis juga dalam lagu. Ini semacam lelucon belaka. Kali ini baru permulaan dari semua hal itu. Ada kalanya hanya diriku saja yang mungkin berpikir kalau ini terlalu buruk untuk dilewati. Tanpa berlama-lama, aku rekaman di studio. Memang setiap hari ada saja yang menjadi karyaku. Tidak bisa dipungkiri kalau kedepannya juga pasti sama saja. Memang itulah kenyataan hidupku. Seakan mengalir begitu saja. Setelah banyak melalui perbincangan dengan orang itu, kurasa memang seharusnya kucoba saja. Tidak ada salahnya kalau kulakukan untuk beberapa waktu ini. Rencananya hanya sedikit saja yang akan aku kerjakan, tapi malah ada banyak. Satu hal lain saat ini yang ada di dalam kepalaku, tidak ada manusia yang akan menghentikanku. Itulah yang kurasakan belakangan ini. Bahkan ketika diriku sudah mencapai batas, rasanya masih bisa kulakukan untuk sementara waktu. Tidak bisa hanya dibiarkan begitu saja. Memang seharusnya kulakukan untuk waktu yang sangat lama. Sampai saat ini ada sebagian orang lainnya yang terlihat sangat menantikan dimana diriku akan membuat karyaku untuk selanjutnya. Andai saja semuanya bisa berjalan dengan cepat tanpa adanya satu hambatan pun. Semuanya mungkin bisa menjadi harapan baru untuk diriku yang malang ini. Tidak lama kemudian, seseorang masuk ke studioku ini sambil membawa sebuah dokumen. “Wah, kau masih berdiam diri di dalam sini rupanya,” ucap orang itu dengan pandangan yang tampak memperhatikanku. “Ya. Seperti yang kau lihat sendiri.” “Ngomong-ngomong, ini ada naskah baru. Mungkin akan berguna nantinya.” “Wah, tidak bisa dipercaya kau membawakanku hadiah semacam ini.” “Ayolah jangan meledek begitu.” “Ini bukan ledekan. Oh iya, apa orang-orang itu masih ada dibawah sana?” “Kau benar. Mereka masih ada didepan gedung. Dari tadi kuperhatikan sepertinya tidak ada niat untuk pergi sampai mendapatkan apa yang mereka mau.” “Mengerikan. Astaga, hampir saja lupa. Bagaimana dengan jadwal selanjutnya? Apa sudah keluar?” “Tidak. Masih juga belum.” “Bagaimana ini? Apa mereka bercanda?” “Entahlah. Sedikit menyebalkan. Sejujurnya tidak ada gunanya menantikan jadwal yang memang pasti terlambat itu. Sebaiknya kau kerjakan saja apa yang menjadi bagianmu Ferell.” “Kau benar. Hanya saja ingin tahu bagaimana rencana untuk selanjutnya dibandingkan hanya dengan berdiam diri begini.” “Itu pasti mengesalkan. Oh ya, bagaimana kalau malam ini ke klub seperti biasa? Sekedar menghilangkan stress saja. Kau bisa?” “Malam ini rupanya. Tunggu sebentar, Bisa. Baiklah jam berapa?” “Tengah malam setelah menyelesaikan pekerjaan saja.” “Oke.” “Jangan lupa kau harus menutup wajahmu. Wartawan mungkin akan menguntit seperti biasanya mereka lakukan.” “Sialan. Ternyata sudah biasa ya.” “Itulah resikonya. Pokoknya jangan sampai mereka lihat.” Saat ini ada begitu banyak hal yang membuat sakit kepala. Setelah semua hal yang bertubi-tubi itu muncul, ada yang lain lagi. Kali ini sungguh menjengkelkan. Sama seperti biasanya, disaat diriku berada di duniaku yang cukup gelap ini tidak lama kemudian ada beberapa yang terlintas dalam pikiranku. Sampai detik ini semuanya menjadi hilang kendali. Disaat yang sama pula ada hal lainnya sedang menungguku. Aku membayangkan mungkin itu akan menjadi imajinasi yang sampai kapanpun akan terus berdatangan. Ternyata memang benar adanya. Selama ini aku hanya merasa itu sebuah halusinasi saja dan memang tidak ada yang lain lagi. Untuk waktu yang sangat singkat ini, setidaknya ada beberapa hal yang memang harus terjadi. Bukan hanya itu saja, sebagian dari kesalahpahaman yang terus berulang. Seakan itu menjadi memori yang semakin melekat. Ketika kulihat dokumen tersebut, baru saja teringat akan hal yang cukup penting. Disaat yang sama pula mereka terus berurusan dengan masalah yang sedang terjadi. Kali ini diriku yang memang cukup tidak mau ikut campur akan hal itu, mulai merasa sedikit frustasi. Memang itulah yang biasanya terjadi. Ada hal baru yang terus menerus mengikis dunia sialan ini. Sudah satu jam lamanya berada di sini sambil mengerjakan beberapa proyek milikku itu. Anehnya aku hanya merasakan desakan yang memang sangat mengerikan dibandingkan dengan apapun. Setelah itu baru saja kusadari lagi kalau semua orang yang ada di Perusahaan ini memang tidak waras. Banyak diantara mereka yang sengaja menggunakan kekacauan ini untuk terus mengundang sensasi. Sejujurnya itu sudah membuatku muak tapi bagaimana lagi harus menangani semua ini. Awal yang begitu mengerikan sekarang semakin menjadi-jadi saja. Disaat mereka mulai menjalankan rencananya, kurasa hanya diriku saja yang sama sekali tidak tertarik akan hal itu dan cenderung terlihat aneh dimata mereka. Bahkan saat ini pun sudah terasa sekali. Ketika hendak menghela nafas, tiba-tiba orang itu datang lagi padaku dengan permintaan yang berbeda. “Kau masih disini?” “Kau bisa lihat sendiri. Kenapa masih bertanya saja?” “Astaga, bukan itu maksudku hanya saja tidak kusangka kalau kau malah lebih suka bersembunyi di tempat ini dibandingkan dengan orang-orang di ruangan sebelah.” “Tolong jangan samakan dengan mereka.” “Baiklah kurasa sudah paham sekali dengan situasinya.” “Ada yang kau butuhkan?” “Ya. Ini ada beberapa naskah lainnya yang mungkin bisa kau gunakan setelah semua itu selesai. Hanya ini saja yang ingin kusampaikan.” “Oke. Simpan saja di situ.” “Ngomong-ngomong apa kau sudah mendengar kabar terbaru dari pihak Perusahaan?” “Kabar apa?” “Belum rupanya. Jadi begini, mereka dalam waktu dekat akan menggabungkan rencana untuk bulan depan dengan beberapa divisi.” “Menggabungkan rencana? Apa maksudmu?” “Mungkin semacam kolaborasi atau semacamnya.” “Ah, begitu rupanya. Hanya itu yang mereka beritahu?” “Tidak. Masih ada beberapa lagi. Salah satunya yang barusan kubilang. Tapi soal yang lain mereka hanya akan mengambil iklan lebih banyak untuk para artis.” “Ternyata itu kabarnya ya.” “Benar. Sejauh ini mereka sudah banyak membicarakan hal itu. Tapi aneh sekali kau baru tahu barusan.” “Sudah lama tidak mengikuti kabar terbaru saking sibuknya.” “Wah, kedengarannya sangat terbebani.” “Apa benar begitu?” “Ya. Itu yang kudengar dari ucapanmu.” “Kalau sudah selesai kau boleh pergi.” “Kau mengusirku?” “Bukan begitu. Bukankah kau juga sedang sibuk?” “Ah, kau benar.” Disaat yang sama ketika semua orang menjadi sibuk, saat itu pula sesuatu mulai terlihat. Ada sebagian orang yang memang merasa sedikit penasaran akan hal itu. Namun, tidak banyak dari mereka juga yang selalu beranggapan hal yang sama. Ada kalanya itu membuat semuanya menjadi tidak masuk akal. Kali ini diriku sependapat dengan opini beberapa staf yang dari tadi terus membicarakan masalah tersebut. Setelahnya aku juga kembali berpikir mengenai beberapa berita yang terus berdatangan tiada henti itu. Sepertinya ada sebagian orang yang memang senang akan hal tersebut. Tidak ada alasan kenapa hanya diriku yang merasa ini tidak normal. Begitu juga dengan hal lainnya. Sampai saat ini ada yang terlihat menghalangi dan pada kenyataannya memang seperti itu. Detik inipun aku membayangkan bagaimana semuanya menjadi terukir dalam memori ini. Sudah lama sejak waktu itu. Rasanya memang sedikit mengerikan. Entah kenapa semua orang selalu ingin tahu akan masalah yang bertebaran. Semacam ada magnet yang menarik ke dalamnya. Kali ini diriku merasa ini memang sebaiknya jangan hanya dibiarkan saja karena akan terus menerus seperti ini. Sama halnya dengan masalah yang lainnya. Satu demi satu memang terlihat sepele namun itu semua memiliki dampak yang sangat besar sekali. Ada sebagian lainnya yang cukup mengagetkan. Kali ini taruhan sedikit meleset. Setelah pulang dari tempat kerja, badanku sudah tidak sanggup lagi memikul beban yang berdatangan. Sekarang waktunya diriku untuk memulihkan diri walau hanya sekedar bersantai saja. Ternyata sebelumnya sudah ada jadwal bertemu di club malam ini. Memang tidak sepantasnya menghabiskan waktu disana, hanya saja tidak ada salahnya walau sekedar minum saja. Sesampainya di dalam club, rupanya di sini masih sama saja seperti terakhir kali datang ke tempat ini. Tidak lama kemudian orang itu melambaikan tangan padaku dan inilah waktu dimana diriku hanya duduk saja sambil minum beberapa minuman. Tidak disangka ini tidak terlalu buruk. “Kau sudah datang dari tadi?” tanyaku padanya. “Ya. Kau benar. Kebetulan sekali beberapa pekerjaanku sudah diselesaikan awal waktu. Kalau saja tidak begitu kurasa sampai sekarang masih ada di ruangan itu.” “Begitu rupanya.” “Ngomong-ngomong, kau sudah menyelesaikan proyek?” “Masih belum tadi kau juga memberikan dokumen naskah lainnya. Jadi sepertinya akan sedikit memakan waktu. Bagaimanapun perusahaan tidak mau rugi.” “Kau membahas soal itu rupanya.” “Kau sudah mendengarnya bukan?” “Benar. Tapi bagaimanapun juga itu bukanlah jawaban. Aneh sekali kenapa mereka hanya membiarkannya saja. Padahal orang itu cenderung merugikan sebelah pihak kalau dipikir lagi.” “Entahlah. Mungkin masih terkesan berguna untuk Perusahaan. Siapa yang tahu soal itu.” “Astaga. Itu mengesalkan sekali.” Sampai sekarang sejujurnya diriku masih tidak bisa percaya dengan kenyataan kalau mereka memang sengaja menjadikannya sebagai umpan. Tidak peduli dengan resiko yang dihadapi justru malah seperti sedang menikmatinya. Ini sangatlah tidak masuk akal kalau mereka sebatas merasa kasihan saja. Tidak seperti orang pada umumnya, artis tersebut juga malah tidak mau mengatakan sepatah kata pun seakan sengaja melakukannya. “Kalau dilihat lagi, keadaannya semakin rumit saja. Bagaimana menurutmu?” “Itu sudah pasti. Bukankah mereka yang sengaja memperumit keadaannya? Kalau tidak, kenapa masih saja terjadi? Ini aneh.” “Ya. Kedengarannya memang cukup masuk akal,” ucapnya sambil meneguk minumannya itu.
Salamat
Suportahan ang may-akda na magdala sa iyo ng mga magagandang kwento
aplikasi yang menghibur
25/12
0bagus seru nyaa
22/12
0very good, i really like it😍
22/12
0Tingnan Lahat