logo text
Idagdag sa Library
logo
logo-text

I-download ang aklat na ito sa loob ng app

Ada yang Disembunyikan Baim

Baim semakin panik. Dia pun tak tahu harus mencari di mana keberadaan Azzam. Agar dia bisa tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya itu.
"Kenapa sih kamu, Zam?" gumam Baim sambil berjalan mondar-mandir dengan perasaan tak tentu.
Hingga adzan maghrib memaksa Baim untuk berhenti mencari Azzam. Dia memilih untuk salat maghrib berjamaah di masjid yang letaknya tak jauh dari Malioboro.
Dia berdoa pada Allah agar segera dipertemukan dengan sahabatnya itu. Serta berdoa agar Azzam baik-baik saja. Sungguh, Baim sangat khawatir pada Azzam.
Setelah salat, Baim pun kembali mencoba menghubungi nomor Azzam. Namun, nihil. Nomornya tetap tak bisa dihubungi.
Saat keluar dari masjid, dia melihat motor yang tak asing lagi.
Baim pun menghampiri motor tua yang terparkir di halaman masjid.
"Eh, iya. Ini kan motor Azzam," ujarnya. Pandangannya beralih ke dalam masjid. Mencari pemilik motor tua itu.
Dan benar saja, Azzam baru saja keluar dari dalam masjid.
Mereka salat di satu masjid yang sama. Tapi kenapa Baim tak tahu kalau ada sahabatnya di sana.
"Azzam!" Baim memanggil sahabatnya sambil melambaikan tangannya.
Laki-laki  yang mengenakan baju koko itu pun membalas lambaian tangan Baim. Lalu berjalan ke arah Baim.
"Azzam ... kamu nggak kenapa-kenapa kan? Kamu baik-baik aja kan?" tanya Baim sambil meneliti semua tubuh Azzam dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Nggak papa, Im. Jadi, tadi waktu mau jemput kamu tuh ban motorku bocor. Terus pas aku telepon kamu malah batrai ponselku habis. Jadi memang gawat, aku jadi nggak bisa ngabarin kamu gitu," terang Azzam panjang.
"Ya Allah, Zam. Aku udah khawatir banget sama kamu tahu," balas Baim sedikit kesal.
"Sorry, ya...." Azzam menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Udah lah. Yang penting nggak terjadi apa-apa sama kamu, Zam," tukas Baim.
Sebelum pulang, Azzam terlebih dulu mengajak Baim untuk makan di warung bakso yang tak jauh dari masjid tempat mereka salat.
Tujuannya agar mempermudah mereka untuk salat Isya nanti.
Mereka memesan dua mangkuk bakso pangsit dan dua gelas es teh.
"Kamu kok bisa nyasar ke sini sih, Im?" tanya Azzam penasaran. Apa sih yang sebenarnya terjadi sampai temannya itu bisa nyasar sampai ke Malioboro?
"Salah angkutan aku, Zam. Nggak ngerti deh," sahutnya agak malas menceritakan kejadiannya panjang lebar.
Moodnya sedikit hancur karena kejadian hari ini. Ditambah dia harus berbohong pada Ummi tentang kondisinya di Jogjakarta yang terbanding terbalik dengan apa yang diceritakannya pada Umminya.
Untung saja pesanan mereka cepat sampai. Jadi Baim tak perlu harus berbicara panjang lebar.
Dua sendok sambal dituangkan Baim ke dalam mangkuk bakso yang aromanya sungguh menggugah selera makannya.
Seharian di kampus juga kejadian-kejadian yang lumayan menguras energi juga kesabarannya membuat perutnya baru terasa lapar.
"Kamu nggak salah kasih sambal segitu ke mangkuk bakso?" Azzam memandang heran ke arah sahabatnya itu.
Setahu dia, Baim adalah tipe orang yang tak terlalu suka pedas. Kalau pun makan sambal juga hanya setengah sendok teh. Tak pernah lebih.
Tapi ini malah dua sendok teh sekaligus?
"Lagi pengin ngerasain pedasnya sambal aja, Zam," jawabnya tanpa ekspresi.
Walaupun sebenarnya dia hanya ingin meluapkan kekesalannya pada kejadian hari ini dan hari-hari kemarin.
"What happen, Bro? Ceritalah kalau ada sesuatu!" ucap Azzam sambil memegang bahu Baim. Memberitahu kalau dia tak sendiri. Ada dia di sini.
Namun Baim hanya menggelengkan kepalanya. Dia merasa tak enak kalau harus membebani sahabatnya dengan kegundahan yang sedang dirasakan hatinya.
"Kamu nggak percaya sama aku?"
Baim menghela napas panjang mendengar pertanyaan sahabatnya itu. Dia pun menghentikan aktifitasnya mengaduk sambal pada semangkuk bakso yang ada di hadapannya.
Lalu menoleh ke arah Azzam yang tengah menatapnya dengan serius. "Emang nggak ada apa-apa, Zam. Tadi aku cuma ngerasa ngantuk banget. Sampai ketiduran di bus yang ternyata salah jurusan."
"Makanya aku coba makan sambal ini siapa tahu jadi melek," jelasnya jujur. Meski tak seutuhnya. Dan bukan itu yang sebenarnya dia risaukan.
"Yakin?" Azzam kembali memastikan bahwa sahabatnya itu baik-baik saja.
Baim pun menganggukkan kepalanya mantap. Lalu menyuapkan satu sendok bakso ke dalam mulutnya.
Azzam melihat  gelagat yang tak biasa dari Baim. Seperti ada yang ditutupinya. Tapi dia tetap tak mau cerita juga.
Hingga Azzam memilih diam dan berusaha mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya dirasakan oleh sahabatnya itu.
Satu porsi bakso pun dilahap oleh Baim dan Azzam dengan tandas.
Bersamaan dengan itu, adzan Isya berkumandang dari masjid sebelah. Mereka pun bergegas menuju masjid untuk menunaikan salat Isya berjamaah.
Selesai salat, Azzam mengantarkan Baim pulang ke tempat kosnya dengan motor tuanya yang sudah selesai ditambal bannya.
"Zam!" panggil Baim memecah keheningan.
"Ya, Im. Ada apa?" tanya Azzam sambil sedikit menengok wajah Baim dari kaca spion motornya.
"Aku pengin cari kerjaan yang part time buat mengisi kekosongan waktu. Kira-kira kamu tahu tempatnya di mana?" ungkap Baim.
"Cari kerja? Buat apa, Im? Memang uang saku yang diberikan sama orangtua kamu maish kurang?" Azzam bertanya balik. Heran dengan sikap sahabatnya itu.
Pasalnya, dia kan anak pemilik pesantren terkenal di Jombang dan pemilik tiga gerai boutique besar yang ada di Jawa Timur. Jadi tak mungkin kalau dia sampai kekurangan uang saku.
"Bukan itu. Aku cuma pengin punya penghasilan sendiri tanpa campur tangan orangtua, Zam."
"Ya, paling nggak buat jajan sehari-harilah. Kerja apa aku mau. Asalkan halal."
Inilah salah satu sifat dari Baim yang disukai banyak orang. Meskipun dia berasal dari kalangan orang atas. Namun dia tetap sederhana dan bersikap merendahkan diri di hadapan orang lain.
"Kamu serius mau kerja part time, Im? Kalau orangtua kamu tahu bagaimana?" tanya Azzam meyakinkan Baim atas keinginannya.
"Ummi sama Abi nggak akan tahu kalau nggak ada yang kasih tahu, Zam," jawab Baim.
Kalau sampai orangtua Baim tahu, dia pasti tidak akan diperbolehkan untuk kuliah sambil bekerja. Karena mereka takut akan mengganggu fokus Baim dengan kuliahnya.
Azzam berpikir sejenak. Memikirkan pekerjaan apa yang tepat untuk sahabatnya itu.
Beberapa saat kemudian, motor tua yang mereka naiki itu sampai di depan tempat kos Baim.
"Nanti kalau sudah ada, aku kabari kamu, Im. Aku langsung pamit, ya. Sudah malam soalnya," kata Azzam.
"Oke. Terima kasih, ya. Maaf kalau aku sering merepotkanmu," ucap Baim merasa tak enak.
"Santai saja, Bro. Kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk cerita sama aku." Azzam menepuk bahu Baim pelan. Baim pun mengangguk dan tersenyum tipis ke arah Azzam.
"Hati-hati, Zam. Kalau sudah sampai kabari."
"Siap. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawab Baim. Dia pun masuk ke dalam tempat kosnya setelah Azzam menghilang dari pandangannya.

Komento sa Aklat (537)

  • avatar
    AnabelNasa

    baguss bgt😌

    14h

      0
  • avatar
    GantengDowi

    bagus

    26/01

      0
  • avatar
    Revaangginifebrianti

    good job

    25/01

      0
  • Tingnan Lahat

Mga Kaugnay na Kabanata

Mga Pinakabagong Kabanata