logo text
เพิ่มลงในห้องสมุด
logo
logo-text

ดาวน์โหลดหนังสือเล่มนี้ภายในแอพ

บทที่ 20 Maybe, I like him?

Cuaca panas hari ini semakin membakar hati yang masih diselimuti emosi, belum lagi dengan hawa yang menyesakkan dada karena tidak ada udara yang melintas di rooftop. Sepertinya angin pun takut meski hanya sekadar hinggap, walau tugasnya adalah memberi kesejukkan kepada mereka yang sedang lelah.
Gilang dan Cinta masih terduduk di kursi panjang, teriknya matahari terhalang oleh atap berukuran sedang.
Cinta tidak tahu alasan Gilang yang tiba-tiba membawanya ke sini, membuka mulut pun terasa enggan setelah mengetahui sebuah fakta bahwa Gilang tahu pembullyan Hana terhadapnya. Tapi sungguh, ia sangat penasaran.
Dengan hati-hati, Cinta menoleh lelaki di sebelahnya yang tengah fokus menatap lurus ke depan. "Gilang?"
"Hm?" hanya deheman pelan keluar dari lelaki itu.
"Lu ... Tahu ini sejak kapan?"
"Sejak awal," jawab Gilang cepat. Tatapannya kini beralih kepada Cinta, namun tak setajam yang ia lakukan pada Hana. "kenapa lu gak mau kasih tahu gua? Gua bisa aja kasih Hana pelajaran, karena berani gangguin lu detik itu juga."
Helaan nafas berat terselip dalam pembicaraannya. "Gua nunggu lu ngadu, gua nunggu lu ceritain semuanya. Tapi ternyata gak ada, lu gak ada lakuin itu ke gua." samar-samar Gilang tersenyum, tak bisa dipungkiri jika saat ini ia kecewa karena harapannya tak sesuai keinginan.
"Sorry, tapi gua lebih suka selesain masalah sendiri," jawab Cinta akhirnya, daripada membuat Gilang berasumsi yang lain, lebih baik ia menjawab pertanyaannya supaya tidak berpendapat yang salah.
"Gua ... Gak suka ada orang lain yang ikut campur, alasannya? Karena gua gak mau bikin mereka khawatir, gua juga gak suka dikasihani." Cinta tersenyum getir begitu mengingat hal-hal yang menyesakkan dadanya, masa lalu buruk yang tak ingin ia ingat kembali. Semua itu mengukir luka untuknya, hingga membuat dirinya seperti ini. Namun Cinta segera sadar, ini bukan waktunya meratapi kepahitan hidup yang membekas. Cinta mengalihkan wajahnya berusaha menyembunyikan kesedihan yang terpancar, ia tak ingin Gilang melihatnya.
"Lu kalau mau marah sama gua juga gapapa kok, Lang," sambung Cinta.
Tak ada respon dari Gilang, tapi matanya tak sedetik pun berhenti memperhatikan gerak-gerik Cinta. Sesuatu yang pedih menyayat hati, Gilang merasakan hal itu saat menatapnya.
"Tentang gua yang peduli sama lu, apa bakal dianggap kalau gua lagi ngasihanin diri lu juga?"
Tubuh Cinta mendadak kaku tak bergerak, Gilang selalu saja berhasil membuat dirinya mati kutu. Mati-matian Cinta menelan ludah membasahi tenggorokan yang kering, dadanya pun terasa sesak akibat pasokan udara yang kurang.
Gilang tak mengindahkan jawaban perspektif Cinta, segala pendapat atau prinsip yang gadis itu gunakan tak akan menggoyahkannya. Walau pada akhirnya sebuah penolakan bisa saja ia dapatkan, masih ada waktu berjuang sebelum ada perintah untuk berhenti.
"Semua hal yang mengangkut tentang diri lu, gak akan pernah gua lewatin sedetik pun, Cinta." Gilang menatap dalam gadis di sebelahnya. "Gua harap, lu gak keberatan dengan hal itu."
Perasaan yang tidak dapat dipahami tiba-tiba hinggap membalut hati, hingga pemiliknya sendiri tak mengerti tentang apa yang terjadi. Cinta merasakan teduh sekaligus kehangatan menjalar dalam tubuhnya, kenyamanan ini lain dari yang pernah ia rasakan.
Cinta merasa dirinya dilindungi dan diistimewakan, bagaimana cara Gilang menatap dirinya saat ini mampu mengunci dirinya tak bisa berpaling. Begitu teduh, sampai rasanya Cinta sedang berada di dimensi lain.
Mungkinkah, dirinya menyukai Gilang?
***
Tidak seperti biasanya jemputan Melan terlambat datang, bahkan Cinta yang biasanya pergi setelah dirinya jadi terbalik.
Melihat jumlah siswa-siswi yang mulai berkurang membuat Melan semakin gusar, bagaimana kalau nanti ada jamet jalanan mengganggu, menculiknya, lalu menjualnya ke konglomerat? Halusinasinya mulai lagi.
"Aduh, ini si mamang kemana?"
Beberapa kali matanya menatap layar ponsel dalam genggamannya, berharap ada sebuah pesan muncul memberinya kepastian. Menunggu adalah sesuatu yang menyebalkan, kakinya sudah mati rasa karena sudah setengah jam lebih Melan berdiri seperti pajangan sekolah.
Geng Avenged juga baru terlihat melintas, masing-masing jok motor belakang mereka kosong. Melan mengambil nafas panjang, andai saja ia dekat dengan mereka mungkin bisa menumpang. Mimpi sekali berharap bisa berteman dengan Avenged, ia bukanlah Cinta yang malah didekati lebih dulu.
Kepastian yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga, dengan cepat Melan membuka isi pesan si mamang supir. Tapi wajahnya menekuk saat mengetahui isi pesannya, mobilnya mogok dan ada di bengkel? Jangan bilang kalau ia harus naik transportasi umum?
Ini bukanlah pilihan yang buruk, tapi Melan hanya memiliki sisa uang jajan Rp. 5000,00 saja. Naik busway perlu pakai kartu, pergi ke pangkalan ojek lumayan jauh, naik angkot dua kali tarifnya bisa melebihi ini. Haruskah Melan nekat jalan kaki, menempuh jarak 3 km?
Memaksakan diri keluar pun beresiko, tak akan pernah tahu kapan bahaya akan datang apalagi di jalan raya yang terlalu beresiko. Mau tidak mau, Melan menunggu. Semoga saja mobilnya tidak lama, karena sejujurnya ia sudah mulai lapar.
Tapi pernahkah sebuah penantian yang tidak pasti membuahkan hasil? Nyatanya tidak, sekarang sudah pukul 16.15 sore dan Melan masih mematung di sana.
"Ya Allah, ini si mamang kenapa lama banget. Gua udah laperrrrr." lidahnya sampai bergetar beberapa detik, ia lelah. Mungkin, kalau ia memilih jalan kaki sudah sampai depan rumah.
Melan mengambil langkah gontai pertamanya meninggalkan sekolah, tak peduli dengan nasibnya di jalan nanti bagaimana. Satu hal yang pasti, ia hanya ingin pulang.
Suara klakson motor membuatnya tersentak hampir terjengkang, Melan mengelus-elus dadanya yang sudah berdebar kencang. Padahal ia sudah berada di pinggir jalan, kenapa ada yang membunyikan klakson?
Sebuah motor yang sama sekali tidak terlihat asing parkir di dekatnya, seorang lelaki berhidung mancung dilengkapi wajah datar. Ternyata, itu Reno.
"Ayo naik," ajak lelaki itu tanpa basa-basi terlebih dahulu.
"Hah? Mau kemana?" Melan malah khawatir akan diculik karena tiba-tiba ditawari tumpangan.
"Lu mau pulang kan?"
"Yaa ... Iya sih," jawab Melan dengan nada ragu. "Kok lu ada di sini? Bukannya udah balik?"
"Ada yang ketinggalan, jadi gua balik lagi."
Ketinggalan? Apa yang tertinggal? Melan sampai meneliti barang yang dibawa Reno, tapi tidak ada yang mencurigakan. Hanya ada helm lain dan tas yang masih menempel di punggungnya, Melan jadi penasaran.
"Beneran gapapa?" tanya Melan.
"Gua gak bakal ngomong dua kali."
Tidak habis pikir kenapa banyak wanita yang menggilainya? Padahal sikapnya tidak ada manis-manisnya sama sekali, meski tak dapat dipungkiri jika Melan berhutang budi padanya. Tapi tetap saja, Reno itu menyebalkan.
Meski kesal, pada akhirnya Melan duduk juga di jok motor Reno. Ini yang kedua kalinya mereka boncengan lagi, sebenarnya banyak yang ingin Melan tanyakan perihal helm yang tengah ia pakai. Tapi ia sudah menebak, hanya akan keluar jawaban singkat, padat, dan jelas dari mulutnya.
Dalam kondisi lampu lalu lintas masih berwarna merah, sudah pasti kendaraan bermotor berdesak-desakan saling menyalip. Tiba-tiba Melan merasakan ada yang menyentuh lututnya, ia mencoba menghiraukan barangkali memang tak disengaja karena sedang dalam kondisi ramai. Tapi lama-lama membuat Melan tak nyaman, parahnya semakin merambat ke bagian paha. Melan mencoba melirik ke sebelahnya tanpa membuka kaca helm, ternyata memang ada orang yang sengaja menyentuhnya.
Tubuh Melan langsung terasa kaku, harusnya saat ini ia berteriak dan menepis tangan itu namun tidak bisa. Dalam dunia psikologi dijelaskan karena korban mengalami 'tonic immobility', reaksi yang ditandai dengan hambatan motorik dan relatif tidak responsif. Adapun reaksi alamiah otak dan tubuh mengalami 'freeze respons', inilah yang membuat tubuh tidak bisa digerakkan. Kondisi di mana otak sedang mencerna yang sedang terjadi dan memberi sinyal bahaya.
Tanpa sadar Melan meremas seragam sekolah Reno, rasanya ia ingin menangis karena merasa bodoh tak bisa melakukan apapun. Ia butuh pertolongan.
Reno bukanlah laki-laki yang peka, tetapi kali ini ia merasakan ada kejanggalan. Niatnya yang hanya ingin melihat tangan Melan di pinggangnya langsung berubah, matanya terbelalak saat menyadari ada tangan lain yang tengah menyentuh Melan.
Bersamaan dengan hal itu, lampu lalu lintas berubah menjadi hijau dan orang itu langsung tancap gas melarikan diri.
"WOI ANJ*NG! JANGAN KABUR!!!"
Mendengar teriakan Reno mengejutkan siapa pun yang ada di sana, termasuk Melan. Siapa sangka, jika Reno akan menaikkan kecepatan motornya secara tiba-tiba.
Sementara Melan hanya bisa mengeratkan pegangannya, seperti deja vu tak beda jauh saat ia terjebak jadi bahan taruhan geng motor. Daripada takut karena kecelakaan, Melan lebih takut kalau ada polisi datang mengejar.
Motor incarannya tak kunjung mau berhenti, tapi Reno sama sekali tak kehabisan akal. Begitu motor keduanya bersebelahan, kakinya langsung menendang motor itu hingga oleng terjatuh. Tanpa menunggu waktu lama, Reno memarkirkan motornya sembarang lalu berjalan mendekati pria incarannya. Tak ada basa-basi yang dikeluarkan olehnya, hanya ada pukulan brutal membabi buta menjelaskan bagaimana emosinya seorang Reno Edgian Fahrizal saat ini.
"Ampun! Ampun ... " lirih pria itu, wajahnya sudah babak belur hampir seluruhnya. Ia sendiri tak bisa menghindar atau pun melawan, Reno benar-benar berniat melumpuhkannya.
Untungnya beberapa warga segera datang memisahkan, walau sedikit terlambat. "Udah, Jang. Udah, ada apa ini tiba-tiba main pukul aja?" tanya salah satu warga.
"Dia lecehin temen cewek saya, Pak. Saya harus patahin tangan dia!" Reno sudah mengambil ancang-ancang untuk kembali menyerang, namun niatnya urung setelah Melan menahannya. Tak ada ekspresi yang dikeluarkan gadis itu, sudah jelas karena ia masih syok.
"Udah, Ren. Ayo pulang."
Suara Melan yang terdengar parau menghilangkan emosi yang sempat menggebu-gebu, wajah ketakutannya membuat Reno khawatir. Setidaknya ia sudah memberi pelajaran, ini sedikit lebih baik.
"Oke."

หนังสือแสดงความคิดเห็น (222)

  • avatar
    Chrystian Lomboris

    bagus boss

    25d

      0
  • avatar
    MineBfly

    keren bingit iima

    06/01

      0
  • avatar
    EmeberfellCrystalla

    keren!!!

    09/12

      0
  • ดูทั้งหมด

บทที่เกี่ยวข้อง

บทล่าสุด