Di sebuah ruang tunggu dekat dengan ruang kerja Sujati, Ramona masih duduk di sana. Tino menyarankan agar ia tetap menunggu sampai sang direktur memanggilnya. Ia merasakan gugup yang luar biasa, bahkan membuat tubuhnya gemetar. Tidak ada siapapun yang ia kenal, meski beberapa orang berlalu-lalang. Artis-artis yang sering muncul di layar kaca pun sering melewatinya, tetapi tidak ada satu pun yang menegurnya. Ramona bagaikan pasir di tengah-tengah berlian. Ia hanya orang biasa, bahkan sangat berbeda jauh jika dibandingkan dengan mereka. Hal itu membuatnya sedikit merasa minder. Namun, ia tidak bisa mundur begitu saja. Apalagi sudah membuat suatu taruhan dengan sang kakak. Setidaknya, ia ingin memastikan terlebih dahulu perihal panggilan dari agensi besar ini. Avan Bara datang dari arah kanan dengan langkah kaki yang gontai. Kepalanya menunduk, karena perasaannya memang sedang hancur. Ramona hanya diam sembari menatap pria tampan yang berprofesi sebagai aktor itu. Sejujurnya, ia merasa kagum karena ketampanan Avan Bara bukan hanya di televisi atau media lainnya, pria itu benar-benar tampan bahkan lebih. Sudah ganteng, pintar akting pula, batin Ramona. Pandangan Ramona terhenti ketika sang aktor yang ia kagumi masuk ke dalam ruangan Sujati. "Nona Mona." Seseorang memanggil Ramona dari samping kiri. Ramona spontan berdiri. Ia menatap Tino yang sudah tersenyum-senyum menghampirinya. "Iya, Pak," jawabnya. "Ah, jangan panggil bapak dong. Saya, kan, seumuran sama kamu." Tino mengedipkan satu matanya dengan genit. Ya, sejak awal ia memang mengagumi kecantikan gadis di hadapannya itu. "Jadi?" "Kakak saja!" "Menurut saya panggilan itu terlalu muda kalau dilihat dari wajah Bapak." Tino spontan menelan salivanya. Bagaimana tidak, ketika ia sudah sangat percaya diri, Ramona justru bersikap terbuka tanpa basa-basi sama sekali. Bahkan, secara tidak langsung ia dianggap tua oleh gadis itu. Ia mengusap tengkuk belakangnya dengan wajah yang memerah padam. Sementara itu, Ramona tersenyum diam-diam ketika melihat ekspresi Tino yang terkejut dan salah tingkah setelahnya. Ia tahu jika Tino mencoba menggodanya, sehingga dengan berani ia mengatakan apa yang terlintas di kepalanya. "Y-ya sudah. Nona Mona tunggu lagi saja, nanti saya konfirmasi," ucap Tino. Lalu, ia berbalik dan pergi begitu saja. "Ck, Nona itu tidak menyadari ketampananku yang melebihi Avan Bara," gumamnya sembari menyengirkan bibir. Ramona kembali duduk di ruang tunggu tersebut. Kedatangan Tino tadi sempat membuat kegugupannya barangsur hilang. Ya, asisten pribadi dari Sujati itu memang genit, tetapi menurutnya tidak jahat. Tino justru terlihat begitu konyol dan mungkin lucu. *** Avan mendengkus kesal diam-diam ketika baru saja mendapat kabar bahwa akan mendapatkan peran di suatu FTV. Dan peran itu adalah peran antagonis. Ia merasa sangat terhina, setelah sebelumnya selalu mendapatkan peran pertama. Rumor yang sedang santer diperbincangkan, ternyata mampu mempengaruhi karirnya saat ini. Bagaimana ia bisa menerima semuanya dengan ikhlas? Sedangkan, rasanya sama sekali tidak adil. "Pak? Haruskah saya jadi penjahat di FTV itu?" Avan masih mencoba memastikannya lagi pada Sujati, harapannya untuk peran pertama masih sangat tinggi. Sayangnya, Sujati justru menggelengkan kepalanya. "Tidak ada produser yang bersedia menerimamu, Avan. Itu saja, aku dapat dari Ilham, temanku. Memangnya, mudah untuk membujuknya? Skandalmu terlalu buruk," jawabnya. "Ya, tapi masa', jadi penjahat sih?" Avan menghela napas dalam, dengan perasaan yang tidak karuan. Rasanya sulit dipercaya saja, ia ingin mendapatkan apa yang selalu ia terima selama ini. "Sudah, jangan mengeluh. Harusnya kamu bersyukur masih ada yang mau menerima aktingmu." Sujati menatap Avan dengan tajam. "Salahmu sendiri tidak hati-hati." "Itu bukan salah saya, Pak. Mengapa Bapak masih tidak percaya?" "Mau salahmu atau bukan, intinya kamu sudah memiliki rumor tentang skandal perselingkuhan itu. Memangnya siapa yang akan percaya dengan pembelaanmu, hah?!" "Fans, Pak." "Sebagian besar fansmu pun, sudah kecewa padamu." Avan sudah benar-benar tidak bisa menyangkal lagi. Semua sudah terjadi, rumor palsu itu sudah banyak dipercaya oleh masyarakat luas. Bahkan, tadi pagi saja, ia harus mendengar dua wanita penggosip di depan elevator. Benar kata Sujati-yang sudah percaya-tidak akan bisa terpengaruh dengan fakta yang ada. Lea yang baru saja datang dari ambang pintu, kini masuk ke dalam-lebih dekat-dengan kedua pria itu. Ia menghela napas dalam sembari menatap sang aktor yang ia urus. Ia merasa sangat prihatin. Bagaimana tidak, ketika Avan hampir mendapatkan penghargaan besar, bahkan masuk ke dalam nominasi aktor terpopuler malah terjerat skandal palsu. Hatinya turut bersedih, terlebih lagi ketika mndapati Avan sering mengonsumsi obat tidur. Sejauh yang ia tahu, Avan akan melakukan hal itu jika insomnia menyerang diakibatkan oleh stress. "Jadi, Lea, apa kamu juga merasa keberatan jika aktormu mendapat peran antagonis?" tanya Sujati pada manager cantik dari Avan Bara itu. Lea menelan salivanya, tatapannya mengarah ke lantai dengan hati yang kebingungan. Bingung perihal jawaban yang harus diberikan pada Sujati. Terlebih, ketika ia harus memikirkan hati Avan saat ini. Peran antagonis adalah sesuatu yang selalu dihindari oleh Avan. Lantas, bagaimana ia akan memutuskan? "Lea?" Sujati kembali menyebut nama Lea agar wanita itu segera memberikan jawaban. "Apa tidak sebaiknya ditolak saja, Pak?" tanya Lea lirih dan penuh kehati-hatian. Dahi Sujati mengernyit. "Ditolak bagaimana maksud kamu?" "Ka-kalau mendapat peran jahat, bukannya justru menambah nilai buruk bagi Avan? Orang-orang akan semakin gencar menghujat Avan dan mereka akan menilai Avan sangat cocok dengan peran itu karena skandal itupun juga jahat sekali." "Heh, Lea. Kalau saya bisa meminta itu, pasti saya akan minta. Kalian ini tinggal menjalankan saja, susah sekali sih? Kalau saya sudah lepas tangan, saya sudah biarkan si Avan tidak laku! Peran antagonis saja harus dengan usaha. Kalau Avan tidak mendapatkan pekerjaan apa pun, mau makan dari mana? Agensi ini juga tidak bisa memberi dia makan secara gratis!" Avan mengepalkan telapak tangannya, ia menahan segala rasa kesal. Mau manyanggah juga sudah tidak bisa. Lagipula produser dan sutradara mana yang akan menerima seorang aktor dengan skandal menjijikkan? Ia paham betul, tetapi sulit untuk menerima peran tersebut. Perkataan Lea juga benar, peran antagonis justru akan memperkeruh suasana. Namun, jika ia tidak mengambilnya, ia akan kehilangan karir secara sepenuhnya. Sementara, upaya Sujati dalam menyelamatkan karir Avan juga tidak sedikit. Meski terkesan tegas dan galak, sejatinya ia adalah sosok yang peduli dan bertanggung jawab. Semua artis yang berada di bawah naungannya adalah tanggung jawabnya. Terlebih seorang Avan, bukan hanya akting yang bagus, tetapi juga diri Avan yang dinilai mirip dengan almarhum adiknya. Alasan itu juga yang membuat Sujati tidak bisa tinggal diam dengan rumor yang sudah beredar. "Pak?" Tino melongokkan kepala dari balik pintu ruangan itu. "Masuk," titah Sujati pada pria yang berusia 30 tahun itu. Tino melebarkan pintu dan melenggang masuk setelah menutup kembali pintu tersebut. Tatapan pertama ia tujukan pada Lea. Bibirnya kembali menyengir. Kelemahannya adalah wanita cantik. Begitulah sosoknya yang selalu dinilai konyol oleh Sujati. Herannya, justru jabatan ia dapatkan yaitu sebagai asisten dari direktur handal. "Eh, ada Nona Lea," ucap Tino sembari mengedipkan satu matanya sama seperti yang ia lakukan pada Ramona. Lea hanya tersenyum tipis. Meski sebenarnya ia paling malas ketika harus bertemu dengan dengan Tino. "Sabar ya, Nona Lea. Habis ini saya bisa fokus dengan Nona." Lea memalingkan wajahnya dari Tino, ia merasa sangat jijik tetapi Tino tidak pernah menyadari tentang hal itu. Sujati hanya menggelengkan kepala melihat ulah sang asisten, ia sudah malah memperingatkan karena akan sia-sia. Sedangkan Avan memilih diam. Ia menekan keningnya dengan jari-jarinya-pusing-memikirkan nasibnya saat ini. "Di mana gadis itu?" tanya Sujati pada Tino. "Masih menunggu di luar, Pak," jawab Tino. "Suruh masuk. Saya mau lihat kemampuannya." "Baik, Pak." Tino kembali berbalik. Ia mengayunkan kakinya menuju luar demi memanggil Ramona. Mendengar perbincangan Sujati dan Tino, membuat Lea juga Avan mengernyitkan dahi karena heran. Keduanya membayangkan sosok gadis yang sempat mereka lihat di ruang tunggu. Pertanyaan mengenai siapa gadis itu hadir di dalam benak mereka. Dan hanya Sujati yang nanti akan menjawabnya, sebelum itu mereka tidak berani bertanya. Rasa gugup kembali hinggap di diri Ramona. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum masuk ke dalam ruangan Sujati. Dengan sabar Tino memberinya waktu untuk menenangkan diri. Baru setelah itu, mereka masuk ke dalam. Tatapan Sujati, Avan juga Lea, Ramona dapatkan pada saat sudah berada di dalam ruangan itu. Ia menelan saliva dengan susah payah. Tengkuknya terasa kaku sampai sulit digerakkan. Entah mengapa, kepercayaan dirinya tiba-tiba menciut. ***
bagus deh pokoknya aku terhibur looo.mantap
11/12/2023
0nice
30/11/2023
0bagus
20/09/2023
0ดูทั้งหมด