Es melon tersaji di atas salah satu meja di sebuah kafe, pun dengan beberapa buku yang berisikan ilmu-ilmu seputar akting. Dua macam benda yang saat ini menemani Ramona dalam keputusannya untuk santai sejenak, setelah belum lama ini ia menjalani pemotretan untuk produk pakaian. Dan memang benar niat Ramona untuk bisa mengasah kemampuan berakting masih sangat besar. Bahkan meski dalam satu tahun ia telah mengalami gagal casting sampai berkali-kali. Entah karena kalah pamor atau memang bakatnya kurang, beberapa pihak telah menolaknya, padahal ia ingin menjadi seorang aktris besar. Mimpi Ramona untuk menjadi seorang aktris yang melakoni berbagai judul film maupun sinetron memang sangat besar. Sejak dirinya masih kanak-kanak, ia sudah memimpikan tampil di televisi. Ada suatu alasan di balik alasan itu, yakni dikarenakan ibunya yang memang gemar menyaksikan sinetron. Ramona juga ingin disaksikan oleh orang tua tinggalnya tersebut, itu saja. Sehingga sampai sekarang dirinya bisa belum menyerah sama sekali. "Mona!" Seseorang menyerukan nama panggilan Ramona. Gadis seusianya yang bernama Susi mendatangi Ramon dan lantas duduk kemudian berkata, "Kamu masih belum menyerah, Mon?" Ramona tersenyum, lalu menggeleng. "Enggak akan, Sus!" "Hmm ... padahal, kamu sudah cukup baik dalam karir modeling lho, Mon." Ramona menghela napas. "Cukup baik bagaimana, Susi? Hanya model baju online saja, enggak lebih." "Ya, seenggaknya kamu sudah bisa tampil di kamera." "Belum cukup. Aku ingin menjadi artis terkenal!" "Artis terkenal zaman sekarang itu banyak rumornya. Bahkan mungkin kalau tidak ada rumor, mereka malah enggak akan terkenal lagi. Terkadang kalau enggak tahu malu, mereka malah memanfaatkan rumor dirinya sebagai cara untuk menaikkan nama. Sulit, Mon, dan bahaya kalau kamu kena masalah sedikit saja. Kamu bisa dihujat habis-habisan. Akan bagus kalau kamu ingin terkenal jalur masalah, tapi kalau kamu enggak kuat kena hujat, ya kamu bakal selesai, Mona!" "Hus! Enggak semuanya begitu, Susi. Masih banyak yang dimulai dari nol kok, yang citranya benar-benar bagus dan dikenal karena bakat." "Iya, sih." Wajah Susi melemah. Tanggapan Ramona tentang selebriti memang selalu berbeda. Mungkin karena Ramona memang ingin merambah ke dalam dunia itu, sehingga membuatnya selalu memandang dua sisi. Ramona menyesap es melonnya, karena dahaga tiba-tiba datang menerpa tenggorokannya. Rasa segar ia rasakan, sampai tak sebuah senyuman lantas mengembang di bibirnya. Kemudian, ia kembali berfokus pada buku itu. Mencoba menguasai beberapa materi, lalu akan ia akan pratekkan sendiri. Melihat Ramona yang asyik sendiri, membuat Susi jengah. Bagaimana tidak, keberadaannya nyaris tidak terlihat lagi. Ia mendengkus kesal, tetapi sama saja, Ramona tetap terlalu sibuk dengan buku itu daripada memedulikan dengkusan kesalnya. Akhirnya, karena jengkel, Susi memutuskan untuk memesan minuman pada seorang pelayan. Dalam beberapa detik Susi hanya terdiam. Namun, lama-lama oerasaan jengahnya semakin besar. Ia merebut buku yang Ramona pegang. "Bisa enggak sih kamu melihatku dan tidak sibuk sendiri?!" tegas Susi garang. "Haruskah?" Satu alis Ramona meninggi. "Kembalikan buku itu, Susi!" Susi menggeleng. "Jangan abaikan aku, Mona. Aku ini manusia, bukan serangga." Ramona menghela napas dalam. "Baiklah." Akhirnya ia menyetujui permintaan sahabatnya. "Tapi, kembalikan dulu buku itu." "Oke, tapi ingat dengan janjimu." Susi melempar buku tersebut ke atas meja. Selepas itu, Ramona meraih bukunya dan lantas menyimpan benda itu di dalam tasnya. Ia mencoba fokus pada sahabatnya, supaya adegan kesal-kesalan yang akan membuat Susi semakin geram. Dan tak lama berselang, seorang pelayan pun datang dengan membawa pesanan milik Susi. Dengan santun pelayan itu meletakkan pesanan yang berupa segelas milkshake teruntuk Susi yang memesan. Dengan sigap, Susi meraih gelas minumannya. Ia menghirupnya dengan cepat karena dahaga yang sudah tiada terkira. Siang ini memang cukup panas, terlebih berada di waktu tengah hari. Kalau saja kafe itu tidak memiliki beberapa AC, mungkin wajah Ramona dan Susi akan bercucuran peluh. Kafe itu memang terbilang sebagai tempat yang nyaman dan cukup elite, bahkan tak jarang beberapa selebritis sering bertandang. "Sus? Kamu enggak ada kelas hari ini?" tanya Ramona pada Susi yang masih sibuk menyeruput. Susi lantas memberikan gelengan pelan. "Enggak ada. Lagi pula, kalau pun ada, aku pasti malas hadir," jawabnya. "Jangan begitu, orang yang miskin saja pengin banget sekolah, kok kamu malah santai-santai begitu sih?" "Entahlah, Mon. Aku enggak ingin ada di sana, aku ingin jadi penyanyi saja." "Masih?" "Mm ... sama sepertimu, aku enggak akan menyerah." Ramona manggut-manggut saja. Ada beberapa orang yang memang sedang menjalani pendidikan bagus, tetapi hanya setengah hati ketika sedang menjalani. Mereka justru meminati bidang lain, tetapi karena keinginan orang tua, mereka terpaksa menjalani pendidikan tersebut. Sama halnya dengan Susi, yang saat ini terpaksa menuruti permintaan sang ayah. Karena masih belum mampu mencari uang sendiri meski sudah bukan anak SMA, Susi terpaksa mengikuti permintaan orang tuanya, ketika ia pun tetap berambisi untuk menekuni dunia tarik suara. Hal itu pula yang membuat Susi bisa dekat dengan Ramona. Mereka sama, meski sudah mengalami banyak kegagalan, mereka tetap memperjuangkan cita-cita. Memang akan terkesan lucu, ketika seseorang berambisi ingin menjadi seorang artis, alih-alih menjadi pejabat atau profesi lain yang lebih menjanjikan. Namun apa daya, Ramona dan Susi sudah terlanjur terobsesi atas cita-cita mereka. "Lalu, kamu mau melangkah seperti apa lagi?" tanya Susi. "Aku masih mencari kompetisi casting," jawab Ramona. "Kamu?" "Enggak tahu, aku hanya tergabung ke dalam grup band indie yang tidak terkenal. Itu pun tidak ada bayaran apa pun, bisa dibilang untuk senang-senang saja." "Band dari teman-teman kampus?" Susi mengangguk. "Ya." "Sekarang, internet sudah canggih. Kalau kalian bisa membuat lagu sendiri dan tinggal posting, siapa tahu jadi viral." "Sudah dan enggak ada hasil sama sekali." Mendengar jawaban Susi, Ramona hanya bisa menunduk. Ia tahu bahwa itu menjadi hal sulit yang bagi Susi. Perasaan Susi sudah pasti kecewa, meski sudah berkata tidak akan menyerah, eh malah sering gagal lagi dan lagi. Sama seperti Ramona, ingin mencapai sesuatu yang sangat diinginkannya, tetapi tak jarang ia menganggap mungkin keinginannya itu terlalu mustahil untuk ia raih. "Semua butuh proses, Sus. Enggak ada yang simpel, sama kayak Avan Bara. Meski sudah membintangi beberapa judul sinetron, eh dia baru mendapatkan satu judul film saja,” ucap Ramona. "Avan Bara? Yang ganteng itu?" sahut Susi. "Bagiku, biasa saja, enggak ganteng-ganteng bangetlah. Tapi, aktingnya memang sangat bagus." "Apa kamu enggak tahu, Mon, kalau saat ini Avan Bara sedang terlibat skandal? Rumornya menyebar luas dan menjadi bahan pembicaraan warganet." "Aku tahu, Sus. Itu sih urusan dia, aku hanya mengagumi kemampuannya saja. Perihal skandal, enggak ada urusannya denganku ah, jadi buat apa aku ikut mikirin apalagi menghujat?" "Hmm ... aku heran, kamu ini perempuan, tapi sedikit pun enggak doyan mikirin gosip. Seru tahu, kalau diikuti!" "Untuk apa? Mencari keburukan orang lain? Buang-buang waktu saja, Susi. Lebih baik aku memperdalam ilmu untuk mengasah kemampuanku. Lagipula, jika nanti aku berhasil menjadi artis, aku juga belum tentu sanggup jadi bahan omongan orang lain, apalagi jika yang aku terima separah apa yang Avan Bara alami. Makanya, aku enggak mau melakukannya. Takut karma ah!" "Ya deh, terserah Mbak Mona saja!" Ramona tersenyum tipis. "Artis juga seorang manusia, mereka bukan malaikat yang bebas dari dosa. Jangan ikut-ikutan menghujat, kamu enggak lebih dari seseorang yang sedang dalam keadaan terhina, Sus. Hmm ... era sekarang, jempol itu justru lebih jahat dari mulut." Susi memutar bola matanya. Kadangkala sifat Ramona memang sedikit membuatnya tidak habis pikir. Ia menganggap Ramona seperti orang dari dunia lain. Memang cantik, tetapi sifatnya juga menarik. Menarik dalam artian berbeda dan cukup elegan. Untuk beberapa hal, Ramona terhitung sosok yang membosankan. Jika tidak ada kesamaan dalam nasib, mungkin Susi tidak bisa berteman dengan gadis itu. Perbincangan Ramona dan Susi terus berlanjut, meski berisi pembahasan tentang sesuatu yang tidak penting sama sekali. Dan ... Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang memperhatikan mereka dari meja lain. Orang tersebut mendengar dengan jelas setiap penuturan dari keduanya. Ia merasa tertarik dengan sifat Ramona yang terhitung unik baginya, juga ambisi Ramono yang ingin menjadi artis membuatnya diam-diam kepikiran. "Menarik juga," ucap orang itu lirih, sementara matanya masih saja menatal sosok Ramona yang cantik dan memiliki visual yang menjual. Rasa penasarannya perihal bakat akting dari gadis itu kini juga telah mencuat. Lantas, siapakah orang itu? ****
bagus deh pokoknya aku terhibur looo.mantap
11/12/2023
0nice
30/11/2023
0bagus
20/09/2023
0ดูทั้งหมด