Avan benar-benar terkejut dengan skandal yang melibatkan dirinya. Bukan hanya itu saja, ia bahkan mendapat kecaman keras dari para warganet, termasuk beberapa fansnya. Hal itu membuatnya terpaksa mematikan semua sosial media. Syok berat tentu saja mendera hatinya. Belum lama ini, ia mendapatkan prestasi yang luar biasa dalam film yang baru saja ia lakoni sebagai pemeran utama. Namun, kenyataan pahit justru datang menyertai. Belum lagi, ketika dirinya pun harus menghadapi kemarahan dari Sujati, selaku direktur dari manajemen yang menaungi dirinya sebagai salah satu aktor di negara ini. Sialnya, Benno Alfian justru membuat pernyataan yang bisa menggiring opini masyarakat, tepatnya ketika artis senior itu mendapat undangan ke suatu program televisi. Avan tidak habis pikir saja, mengapa ada orang yang seperti Benno. Faktanya, ia sama sekali tidak melakukan perselingkuhan itu. Ia hanya membantu Risa ketika Risa nyaris terjatuh dari tangga di suatu restoran. Entah suatu kebetulan atau bagaimana, saat itu mereka bertemu di tempat yang sama. Ketika Risa hendak tergelimpang, Avan sontak menangkap tubuh wanita itu. Tanpa ia sadari ada seseorang yang memotretnya dan Risa secara diam-diam. "Menyebalkan!" Avan mengusap wajahnya dengan kasar, ia menjatuhkan dirinya di atas sofa di dalam apartemennya. Lea hanya bisa terdiam untuk saat ini. Manager cantik itu sudah mengupayakan banyak hal untuk menghilangkan rumor yang mencuat serta merusak nama sang aktor. Rumor itu, pastinya tidak hanya merusak nama Avan saja, tetapi juga karier Lea secara perlahan-lahan. Perjanjian kontrak untuk suatu judul sinetron pun, tiba-tiba dibatalkan secara sepihak. Apa yang bisa dilakukan ketika sudah berada di titik paling rendah seperti ini? Sebagian besar masyarakat sudah mempercayai rumor itu, meski masih ada beberapa yang memberikan dukungan terhadap Avan. "Perusak rumah tangga orang? Rumor macam apa itu? Enggak masuk akal sama sekali, Mbak!" ucap Avan tiba-tiba. Lea menghela napas. "Apa kamu benar-benar enggak melakukannya, Van?" tanyanya. "Hah?! Mbak Lea juga mau memercayai gosip sialan itu? Mana ada, Mbak! Aku ini masih laku sama para gadis, enggak masuk akal banget kalau aku yang tenar di kalangan gadis muda justru merebut istri orang!" "Tapi, sebagian besar fans kamu percaya dengan kabar itu. Apa yang bisa kita lakukan?" Avan terdiam. Ketika semua orang justru percaya dengan gosip, ia merasa dirinya tidak bisa melakukan apa-apa? Klarifikasinya pun akan dianggap pembelaan diri semata. Mereka akan memercayai apa yang ingin mereka percayai saja, meski pada kenyataannya hanya percaya pada kabar bohong belaka. Mereka tidak peduli, karena itulah yang mereka cari. Herannya, sebagian besar orang justru gemar memberikan hujatan, seolah mereka tidak pernah berbuat kesalahan. Entah dunia yang sudah terlalu tua, atau orang-orangnya yang sudah mulai gila. Hanya segelintir orang yang bisa berpikir secara sehat, yang berkenan mendengar kedua belah pihak. Avan mencoba membangkitkan tubuhnya dari posisi rebahan itu. "Apa Benno masih menolak untuk bertemu?" tanyanya pada Lea yang juga sedang pusing tujuh keliling. Lea menatap Avan, lalu berangsur memberikan anggukan. "Benno bahkan tidak berkenan berbicara denganku lewat telepon, dia menyuruh managernya untuk melakukan hal itu," jawabnya. "Tapi, kenapa dia justru memberikan pernyataan konyol?" "Ada dua kemungkinan. Pertama, dia pun percaya dengan kabar yang ada. Kedua, dia ingin mencari keuntungan dari masalah ini." "Maksud, Mbak Lea, panjat sosial?" Lea mengangguk. "Ya, Avan. Nama kamu sedang berbinar sekarang. Akan menjadi kesempatan bagus bagi orang lain untuk melakukan hal itu. Meski dia sudah tahu fakta yang sebenarnya, dia bisa saja mencoba memelintirkan fakta tersebut. Aku juga yakin, perceraiannya dengan Risa ada karena masalah lain dan sudah berlangsung lama. Enggak mungkin karena skandal ini, toh, skandal ini baru muncul setelah kabar kemungkinan mereka bercerai sudah mencuat. Aku selalu ada di samping kamu, waktu ke restoran itu pun aku ada. Rasanya mustahil kalau Benno mempercayai gosip ini. Itu artinya Benno memang ingin panjat sosial saja." Avan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Semua ucapan yang dilontarkan oleh managernya itu memang cukup masuk akal. Apalagi di era sekarang ini, sensasi dan numpang tenar sering dilakukan oleh beberapa orang hingga para artis yang tak lagi tenar. Sepi job dan pendatang baru lebih menawan membuat mereka melakukan hal itu. Sialnya, dari sekian banyaknya selebriti, mengapa harus Avan yang terlibat di dalam kejadian tidak masuk akal itu? Malam yang dingin semakin membuat hati Avan gusar. Perasaan yang tidak enak seperti ini akan ia lalui sendiri, ketika Lea sudah pulang. Ia tidak bisa pulang ke rumah orang tuanya, karena pertanyaan-pertanyaan perihal rumor itu pasti akan ia dapatkan dari semua anggota keluarganya. Ia tidak bisa melibatkan keluarganya. Khawatir jika para wartawan justru datang demi mencari info seputar gosip tersebut. "Van, aku sudah enggak tahu lagi harus membantu kamu dengan cara apa. Artikel kamu sudah dimuat dalam beberapa forum di sosial media," ujar Lea. "Ya, Mbak," jawab Avan dengan pasrah. "Tapi pasti ada cara. Kita pikirkan pelan-pelan saja, lagi pula Pak Sujati enggak akan membiarkan semua ini berlarut-larut tanpa solusi. Kamu masih artis di rumah manajemen Pak Sujati. Aku yakin dirimu masih terlalu sayang untuk dibuang, karena akting kamu memang sangat bagus." "Tapi, Pak Sujati marah besar. Bahkan, beliau mengumpat padaku, Mbak.” “Sikap beliau memang cukup keras dan tegas. Kamu juga tahu tentang karakter beliau, 'kan,l? Lagian, bukan cuma kamu yang terlibat dengan skandal, Van. Ada beberapa artis lain juga." Avan menunduk. "Lalu, cara apa yang bisa membuat rumor perusak rumah tangga itu hilang, Mbak? Klarifikasiku enggak akan bikin rumor itu hilang!" "Sudah aku katakan, aku belum bisa banyak membantu. Aku hanya bisa menunggu kabar lebih lanjut dari Pak Sujati. Untuk beberapa hari ke depan, kamu jangan keluar sembarangan. Salah-salah, kamu malah mendapat penyerangan dari haters secara langsung." Avan mengangguk pelan. "Aku paham, Mbak." Kemudian, Lea berdiri dari duduknya. Untuk beberapa saat, ia memandangi wajah sang aktor tampan. Hatinya merasa iba, tetapi semua ini sudah terjadi. Ia hanya berharap semua bisa segera diatasi dan rumor itu bisa mati. "Baiklah, aku pulang dulu, Van,” pamitnya karena waktu memang sudah sangat larut. "Hati-hati, Mbak." "Enggak perlu diantar, kamu istirahat saja." Setelah itu, Lea berlalu. Avan hanya mengantarkan Lea sampai pintu saja. Dan setelah, dengan perasaan gusar yang masih melanda, aktor tampan tersebut berjalan menuju kamarnya setelah Lea keluar. Pertanyaan yang sama masih terus berulang-ulang muncul di benaknya. Bagaimana ini terjadi kepadanya? Setelah semua hal baik sudah ia dapatkan dan ia capai tanpa hambatan sedikit pun. Apa yang salah? Bahkan, ia selalu berupaya untuk bersikap baik. Namun sekarang, semua kebaikannya hanya dianggap sebagai pencitraan belaka. Ia dianggap sebagai sosok manusia yang munafik. Di depan layar bak malaikat, di belakang layar ia begitu tega menghancurkan kehidupan pernikahan orang lain, meski kenyataannya tidak benar sama sekali. Avan menjatuhkan dirinya pada ranjang empuk nan besar. Beberapa hari ini, ia kesulitan untuk tidur. Keadaan itu memaksanya untuk mengonsumsi obat tidur. Ia tahu hal itu akan berakibat fatal jika dilakukan dalam jangka waktu yang panjang. Namun, cara apa lagi yang bisa Avan lakukan agar matanya bisa terpejam? Ia butuh waktu untuk sedikit tenang, tetapi matanya selalu saja enggan diajak menemui alam bawah sadar, kecuali ketika dirinyaa mengonsumsi obat tersebut. Lantas, kapan semua hal buruk itu akan berakhir? ***
bagus deh pokoknya aku terhibur looo.mantap
11/12/2023
0nice
30/11/2023
0bagus
20/09/2023
0ดูทั้งหมด